Pulang, dalam makna kembali ke jalan-Nya. Menemukan kembali arti Ramadhan yang sesungguhnya.
••••
"Nak, bangun!" Di saat mataku masih terlelap penuh, seseorang datang sambil menggoyang-goyangkan badanku. "Rin, sahur, yuk! Masa kamu nggak mau puasa full kayak adekmu?" lanjutnya.
"Enghh ...." Merasa terganggu dengan suara yang terus mengusik itu, aku pun mulai mengubah posisi tidurku. Dengan tangan yang masih menutupi kedua telinga, aku berupaya mengembalikan rasa ngantuk yang telah hilang karena wanita ini.
"Arin, dengerin! Kamu ini, udah sholat nggak mau, ngaji nggak mau, sekarang disuruh puasa susah. Maunya apa, sih?" pekiknya dengan suara yang terdengar semakin mengeras. "Mau masuk neraka kamu?!"
Grhhh!
"Diem ah! Subuh-subuh gini malah nyeramahin orang. Mana dibanding-bandingin sama bocah lagi!" Aku tak lagi dapat menahan rasa terganggu ini. Bunda lagi-lagi memarahiku dengan alasan yang sama. "Bunda selalu bawa-bawa tentang neraka kalo ngomong sama aku! Aku tu capek! Emang salah, ya kalo aku nggak mau percaya sama Allah?!"
Bunda langsung terdiam membisu saat aku mengutarakan seluruh perasaanku. "... lagian, buat apa nyembah Allah yang nggak pernah ngasih kehidupan enak buatku."
"Astagfirullah, RIN!"
"Berisik! Daripada nyerocos mulu di sini, mending Bunda keluar!" teriakku membentaknya. Aku telah mencapai batasku.
Bunda yang mendengar teriakanku hanya menggelengkan kepala sebagi perwujudan reaksi atas tingkah lakuku. Ia lalu berbalik dan berjalan keluar secara perlahan. "Ya udah kalo kamu emang nggak mau puasa, terserah." Ia menyematkan sebuah kalimat sebelum dirinya benar-benar keluar dari kamarku.
Kalimat yang terdengar seolah Bunda telah benar-benar membuangku. Kata 'terserah'-nya membuatku semakin yakin akan suatu hal.
Aku ini memang bukan anaknya.
Ah, aku benci Ramadhan. Selain karena aturan puasa yang menurutku sangat tidak logis, ada alasan lain yang membuatku sangat membenci bulan suci ini.
Yah, Bunda semakin cerewet jika sudah masuk Bulan Ramadhan. Setiap pukul 3 pagi, dia selalu datang ke kamar dan membangunkanku. Dan dia akan selalu menceramahiku yang menolak untuk melaksanakan sholat.
Sungguh, kenapa mereka semua begitu marah saat aku tidak ingin mengikuti mereka. Bukankah kepercayaan seseorang itu adalah kebebasan?
Konsep ketuhanan "Kau akan menerima hukuman, jika tidak melaksanakan perintah-ku!" memang sangat menjengkelkan.
Aku heran, kenapa mereka bisa percaya dengan hal semacam itu.
Singkat cerita, pagi hari telah tiba. Setelah melewati masa tidur yang menyenangkan, aku kembali bangun menyambut hari. Masih dengan langkah berat dan mata yang sarat akan rasa kantuk, kakiku melangkah perlahan menuruni beberapa anak tangga kayu ini menuju lantai bawah.
Sinar mentari pagi mencuat silau dari arah jendela, memaksa mataku untuk sedikit menyipit agar cahayanya tak dapat merusak mata. "Ughh ...." Seraya mengusap-usap salah satu mata dengan tangan kiri, aku membuka pintu kulkas biru ini.
Hawa dingin pun langsung menyerbak. Sensasi nyaman seketika terasa oleh pori-poriku. Senyuman puas terukir tatkala aku melihat sebuah teh kemasan yang tampak masih tertata rapi di bagian dalam. "Nisa nggak tau aku punya teh kotak di sini hihi. Lagian, siapa suruh sok-sokan puasa segala. Caper banget," gumamku lalu mengambil minuman tersebut. "Pasti seger ini mah!" tuturku lalu menutup kembali pintu kulkas.
Inilah kenikmatan orang yang nggak puasa!
"Panas-panas gini, enaknya emang minum teh dingin," gumamku seraya menancapkan sedotan plastik pada tempat yang tersedia. Selepas berhasil membuka segel minuman, aku pun langsung menikmati teh yang telah ku sembunyikan satu malam ini. "Hahh ... pancen sueeeger tenan!"
Hum?
Di saat aku hendak duduk di depan televisi sambil menikmati teh, daun telingaku menerima suara samar-samar dari luar. Seperti suara kedua orang yang sedang mengobrol.
"Nak Alifa, kuliahnya gimana? Lancar, kan?" tanya seseorang dari arah luar. Suara ini, terdengar seperti suara Bunda?
Dan, Alifa? Kak Alifa?!
Karena penasaran, aku pun memutuskan untuk sedikit mengintip dari dalam.
"Lancar kok, Tante," jawab gadis berkerudung itu sembari menebar senyum manis. Benar, sesuai dugaanku, dia Kak Alifa. "Oh iya, ngomong-ngomong, gimana kabar Arin sama Nisa, Tan? Terakhir kali ketemu sama dia kapan, ya? Haha~ jadi kangen!" sambung wanita itu.
Dia membicarakanku? Oh, ku harap Bunda nggak membicarakan yang aneh-aneh.
Mungkin?
"Nisa baik, Nak. Sekarang dia udah lima tahun, mana pinter banget puasanya. Sampe sekarang belum bolong!" puji Bunda, untuk yang kesekian kalinya memuji Nisa.
"Waahh~ hebat!"
Ekspresi wajah Bunda langsung berubah. Ia merunduk sembari memamerkan wajah sendu. Aku rasa, aku tahu pembicaraan ini akan ke arah mana.
"Tapi, Tante justru khawatir sama Arin. Anak itu, padahal udah mau masuk SMA, tapi sikapnya nggak berubah sama sekali dari dulu!" Seperti dugaanku, Bunda pasti akan membicarakan hal buruk mengenai diriku. "Tante bingung, dia itu disuruh sholat, nggak mau. Disuruh puasa, nolak. Padahal udah Tante kasih tahu tentang siksa neraka dan lainnya. Nak Alifa paham, kan?"
Ck! Kenapa itu lagi?
Aku tak bisa tinggal diam. Bahkan bukan hanya padaku, tapi Bunda juga membicarakan keburukanku pada orang lain.
Apa aku seburuk itu di matanya?
"Ah, menurut saya–"
"Bunda kok gitu, sih? Kenapa Bunda ngomongin hal sekejam itu ke Kak Alifa? Haruskah cerita sampe segitunya?" tegurku tiba-tiba. Mengakibatkan dua kepala yang tadinya saling berhadapan, seketika berbalik ke arahku. "Bun, bisa nggak sekaliii aja! Jangan bawa-bawa tentang neraka! Aku gedeg ndengernya, tau!"
Bunda terlihat sangat terkejut. "Astagfirullah! Udah bangun kamu?!"
"Iya! Aku udah bangun!" ketusku, "... Bun, aku udah bilang, kan? Apa salahnya kalo aku nggak mau sholat dan puasa? Emang itu berpengaruh sama Bunda, hah?!"
"Astagfirullah, Rin. Nyebut, Rin, nyebut!"
"Biarin! Emang gitu kok!" balasku lagi.
Bunda beralih menatap Kak Alifa yang masih duduk di sebelahnya. "Nak, kamu liat sendiri, kan? Arin sekarang susah banget diatur! Bikin emosi aja."
"Ya udah! Kalo Bunda nggak mau punya anak kayak aku, aku pergi aja dari sini!"
"RIN! Istighfar! Astagfirullah!" Bunda masih terus berteriak di tengah perdebatan kami. Suaranya semakin meninggi setiap detiknya, bahkan, aku sampai dapat melihat jelas urat-urat lehernya yang tampak mengeras. "Nak Alifa, bisa tolong bantu nyadarin Arin, nggak? Anak ini, Tante nggak tau sejak kapan dia jadi kayak gini."
"Bun! Berhenti!"
"Heh! Kamu sekarang berani bentak Bunda? Masuk neraka kamu!"
Pada saat bersamaan, Kak Alifa terlihat beranjak dari kursinya. Ia menatap kami berdua dengan senyuman teduh. "Ya, gimana ya, Tante. Kalo Arin sendiri nggak mau, saya bisa apa?" ucapnya menerangkan.
"Tuh, Kak Alifa aja bilang nggak papa kok!"
Tunggu, kok respons Kak Alifa begitu, sih?
"Tapi, Nak–"
Sembari mempertahankan senyuman yang masih sama, Kak Alifa memangkas perkataan Bunda yang mungkin berpotensi untuk memicu terjadinya perdebatan lebih besar. "Tante, kita nggak bisa memaksakan kepercayaan seseorang, kan? Seperti yang kita tau, Islam sama sekali nggak mengajarkan tentang hal itu."
"Jadi, menurut saya, sebaiknya Tante jangan terlalu menekan Arin untuk sholat dan puasa. Karena Arin juga pasti tau akan pertanggung jawaban dari pilihannya, kan?" tuturnya lagi menambah serangkaian penjelasan.
Bunda dan aku terdiam seketika. Entah mengapa, hatiku terasa sedikit terpukul oleh perkataan Kak Alifa barusan. Dia memang tidak mendesakku seperti orang lain, tapi... aku tidak tahu kenapa tiba-tiba sebuah rasa bersalah muncul pada lubuk hatiku.
Ah, masa bodoh!
"Ya sudah, Tante. Aku mau nyiapin makanan buat buka di rumah, udah sore banget keliatannya hehe ...." Kak Alifa tertawa kecil. "Terima kasih udah disambut begini dan buat Arin, kalo mau main ke rumah kayak dulu nggak papa kok. Ajak Nisa sekalian, ya! Biar kita bisa main bareng, hihi ...."
"A-ah, iya ...."
"Saya pamit. Assalamualaikum!" Selepas mengatakan hal itu Kak Alifa pun berjalan menjauh dari posisi awal dirinya berdiri. Kembali ke rumahnya, menyisakan kesunyian di antara kami berdua.
"Waalaikumsalam," jawabku tanpa sadar.
Perasaan ini...
Setelah mendengar saran dari Kak Alifa, Bunda memutuskan untuk tidak mengangguku lagi. Dia tidak membangunkanku sahur seperti biasa, tidak meneriaki untuk sholat dan mengaji, dan bahkan menyiapkanku makan saat pagi hari.
Kak Alifa benar-benar mempengaruhi hidupku. Ia adalah satu-satunya orang yang bisa mengerti apa yang ku rasakan.
Jadi, menurutku, tidak ada salahnya, kan kalau aku pergi main ke rumahnya? Hitung-hitung sebagai balas budi.
Siang itu, aku berjalan ke rumah Kak Alifa seraya menenteng sebuah tas berisikan buah-buahan. Hari ini, aku membiarkan rambut panjangku terurai lurus.
Hari ini, aku sangat cantik!
Tok! Tok!
Ku ketuk pintu rumahnya yang bersebelahan dengan rumahku. "Assalamualaikum, Kak! Ini Arin!" teriakku.
Tak berselang lama, terdengar jawaban seseorang dari dalam. "Iya sebentar! Aku pakai kerudung dulu!" sahutnya lalu membuka pintu rumah dalam keadaan rambut tertutup oleh kerudung merah. "Waalaikumsalam, eh Arin? Yuk, masuk dulu ...." Ia kemudian mempersilahkanku untuk masuk.
"I-Iya."
Dengan langkah penuh keraguan, aku mulai menapaki lantai rumah yang sempat ditinggal 3 tahun ini. Hanya decak kagum yang dapat mengutarakan reaksiku saat ini. Sebab, lampu gemerlap dengan corak timur tengah itu tampak sangat menenangkan.
"Duduk dulu, Rin," ujar Kak Alifa seraya berjalan menuju dapur.
Aku mengangguk untuk meng-iya-kannya. Sembari mendaratkan bagian belakang tubuh di atas kursi sofa, ku taruh keranjang yang berisi beraneka ragam buah ini di atas meja.
"Oh iya, hari ini kamu puasa nggak?" tanya Kak Alifa dari dapur.
Apa nih? Jangan-jangan dia mau nyeramahin aku?
"Nggak," ungkapku.
"Ah, ya udah kalo begitu tunggu dulu, ya!" Wanita itu meninggikan suara.
Tak lama kemudian, dia datang menghampiriku sambil membawah sebuah nampan.
Mau diruqyah nih?
Eh?
Di luar dugaanku, Kak Alifa justru membawa nampan berisikan setoples kue dan segelas susu. Tunggu, ia tidak ingin membujukku seperti yang dilakukan Bunda, kan?
"Kebetulan banget kamu ke sini. Arin, ini aku buat beberapa kue lebaran. Karena sebentar lagi idul fitri, kan?" terangnya, "jadi, aku mau minta kamu buat nyoba satu atau dua. Soalnya, aku baru buat tadi pagi. Jadi, takut nggak enak, hehe!" Kak Alifa tertawa padaku.
Oh? Jadi, dia memintaku untuk mencoba kuenya?
"Boleh, Kak! Aku coba, ya?" Tanpa menunggu lebih lama lagi, aku pun segera membuka tutup toples dan mengambil salah satu kue yang berada paling atas. "Uhmm ...."
Satu kali gigitan, aku langsung bisa menjahal sebuah rasa manis dari kue ini. Tapi, ada yang kurang.
"Enak. Tapi, masih sedikit keras di bagian ini," kataku mengomentari kue buatan Kak Alifa.
Masih belum puas, aku lalu mengambil kue kedua. Satu gigitan dan wow! Kue yang ini terasa sangat pas!
"Wahh ... yang ini enak banget, Kak! Lembut!"
"Hihi, ternyata ada yang kurang bagus, ya. Tapi syukurlah." Kak Alifa mengambil posisi duduk di sebelahku. Tangannya menjulur hendak meraih remote televisi. "Oh ya, Nisa nggak ikut?" tanyanya sembari menekan tombol merah.
Membuat layar hitam yang tadinya mati sekarang menyala. Menampilkan sebuah acara televisi tentang ceramah.
"Ah, Nisa lagi bantu Ayah," jawabku.
Kak Alifa hanya menunjukkan reaksi singkat. Dan di sanalah, suasana kembali menjadi sunyi. Aku merasa inilah waktu yang tepat untuk mengatakan alasan kenapa aku pergi kemari.
Yap!
"Makasih, ya, Kak." Aku berterima kasih sembari menyeruput segelas susu yang dibawakan oleh Kak Alifa.
"Hum?" Ia menatapku. "Terima kasih? Buat apa?" tanyanya.
"Ya, makasih. Karena berkat saran dari Kak Alifa waktu itu, bunda nggak lagi nyeramahin aku dan bawa-bawa tentang neraka. Rasanya enak banget, jadi tentram hidupku," ujarku dengan kedua tangan yang menggenggam gelas susu.
"Syukurlah." Kak Alifa tersenyum.
Dia tidak marah?
"Eh? Kak Alifa nggak marah sama aku?" Merasa keheranan dengannya, aku pun langsung bertanya-tanya.
Bukankah sedikit aneh jika seorang wanita yang sangat religius sepertinya tidak marah padaku, meski aku terdengar seperti iblis?
Kak Alifa justru memberikan reaksi yang seolah bertanya-tanya. "Hum? Memangnya kenapa kok marah?"
Dia benar-benar berbeda dari orang lain.
"Yah, soalnya Bunda selalu marah sama aku. Dia nggak pernah mau ngertiin aku yang emang males kalo disuruh ngelakuin perintahnya." Kala itu, aku mulai menceritakan pelan-pelan keluhanku kepadanya. "Maksudku, konsep ketuhanan yang mengatakan 'Apabila kamu tidak melaksanakan perintahku, kamu dihukum' sangat mengangguku. Aku emang iblis, makanya Allah nggak mau bantu hidupku, kan?"
Kak Alifa masih tetap tersenyum. "Arin, apa ada hal yang membuatmu kesal terhadap hidup ini?"
Aku mengangguk. "Iya, karena di tahun ketiga saat SMP, aku selalu belajar keras bahkan sampai siang dan malam. Tapi, aku justru dapet ranking lima di kelas. Mana kalah sama tukang contek lagi. Rasanya kayak nggak adil."
"Ah, begitu. Arin, apa kamu percaya bahwa Allah akan memberi kehidupan yang lebih baik kepada hambanya yang telah merasa gagal?" tanya Kak Alifa.
Aku ingin menjawab, tapi jawabanku tertahan di dalam mulut. Aku bingung ingin menjawab apa. "Ahh ... umm ... itu ...."
"Kalo gitu, Arin percaya nggak bahwa 'habis gelap, terbitlah terang'?" Ia bertanya lagi.
"Percaya," jawabku yakin.
Eh? Aku tidak menyadari bahwa aku akan langsung menjawab iya.
"Hihi ... jadi, begitu, ya?" Kak Alifa menekan tombol volume bagian kiri, mengakibatkan suara dalam televisi mulai mengecil. "Arin, hidup kamu itu ibaratkan kamu yang lagi makan kue tadi."
Eh?
"Saat pertama kali makan, kamu menemukan kue yang agak keras, betul kan?" tanyanya, "lalu, saat kamu mencoba kue kedua, kamu menemukan kue yang tepat dan enak."
AH!
"Itulah hidup. Kita sama sekali tidak bisa memprediksi rencana Allah. Karena bisa saja kegagalan kita itu adalah cobaan Allah?" Ia masih menunjukkan garis lengkung bibir manisnya. "Tapi, percayalah, Allah nggak pernah ngasih ujian yang melebihi kemampuan hamba-Nya. Seperti kata-kata Ibu Kartini, setelah kehidupan yang sukar, pasti akan datang saat di mana kita tersenyum."
"Ah." Aku bahkan tidak bisa mengatakan apapun lagi.
Karena, Kak Alifa benar. Ku rasa?
"Dan, mengenai masalah tentang bunda Arin. Menurut Kakak, beliau tidak bermaksud untuk menyumpahi Arin atau bermaksud buruk lainnya. Beliau hanya ingin agar Arin tumbuh menjadi seorang gadis yang sholehah, iya, kan?"
Tidak, sampai dia menyinggung tentang curhatan pertamaku. "Tapi, Kak! Bunda selalu mencecarku! Dia bukannya mengingatkan, tapi lebih ke memaksa! Beda banget sama Kak Alifa!"
"Yah, kalau itu. Mungkin cara penyampaian agama oleh tante kurang dapat diterima olehmu. Karena, pemahaman agama yang diajarkan oleh Bundanya Arin lebih condong kepada paham lingkungan normal. Dan, Arin pasti udah sering dibilang ini itu, makanya Arin melakukan penolakan."
"Salah sih nggak, cuma kurang tepat. Karena mereka selalu menyisipkan ancaman akan ganjaran mengerikan oleh Allah," lanjutnya, "mereka biasanya beribadah kepada Tuhan karena takut oleh hukuman yang mungkin akan diperoleh. Padahal, akan lebih baik, jika kita melaksanakan ibadah atas dasar ingin menikmati keindahan dari agama itu sendiri."
"Konsep ketuhanan yang terpikir oleh Arin memang masuk akal. Tapi, apa Arin pernah dengar istilah tentang 'Allah bukan cuma tuhannya orang beriman'?" Ia masih terus berbicara. "Kalimat itu memiliki makna bahwa Allah selalu menyayangi seluruh hamba-Nya. Meski kadang, para hamba-Nya lupa akan nikmat yang telah diberikan."
"Seperti contoh, jika memang Allah akan menghukum siapapun yang berbuat buruk, lantas mengapa para pencuri masih tetap bernapas? Lantas mengapa para koruptor seperti di televisi masih larat untuk berdiri?"
Aku mulai mengerti secara perlahan.
"Itu semua karena Allah masih menginginkan mereka untuk kembali kepada-Nya. Ingatlah, Arin, Allah tidak akan pernah menyerah untuk menyayangimu. Karena dia, Maha pengampun lagi Maha penyayang."
Perasaan ini. Entah kenapa muncul sekali lagi.
Detik demi detik yang berlalu saat aku mendengarkan setiap perkataan Kak Alifa, ku pikir itu tak akan menjadi sia-sia.
Hatiku merasa tenang. Mataku pun berbinar.
Aku tidak tahu, apa ini. Perasaan semacam ini.
Perasaan apa? Aku... bingung.
Sore harinya, masih di hari yang sama. Aku duduk termenung di atas kasur sendirian. Sebab Bunda, Ayah, dan Nisa pergi buka bersama dengan para tetangga di luar.
Sedangkan aku, masih teringat akan kalimat yang disisipkan oleh Kak Alifa. Kalimat itu masih membayang-bayangin pikiranku.
Uh...
Ding!
Pada saat bersamaan, terdengar suara notifikasi dari ponselku. Aku ambil ponsel hitam itu dan mengecek apa yang ada di sana.
Alis mataku langsung terangkat, mulutku menganga lebar. Aku terkejut amat sangat ketika membaca sekilas dari bar notifikasi.
'Pengumuman akhir penerimaan siswa-siswi SMAN 1'
Aku pun membuka notifikasi itu dengan segera. Lalu, sebuah fakta berhasil menarik rasa bahagiaku.
No. 56, Arina Putri Permatasari
A-akh!
Tak dapat lagi membendung rasa bahagia ini, kakiku spontan berdiri dan melompat-lompat di atas kasur.
Aku berhasil! Aku berhasil!
Aku berhasil diterima masuk ke SMAN 1! Akhirnya, setelah lama penantian.
Tidak ada kata yang bisa menggambarkan rasa bahagiaku saat ini. Aku melompat-lompat, berguling ke sana ke mari bagai orang gila.
Deg!
Hingga pada saat itu, aku kembali teringat akan perkataan Kak Alifa.
"Tapi, percayalah, Allah nggak pernah ngasih ujian yang melebihi kemampuan hamba-Nya. Seperti kata-kata Ibu Kartini, setelah kehidupan yang sukar, pasti akan datang saat di mana kita tersenyum."
Ah, perasaan ini. Rasa bersalah ini kembali muncul. Aku menghentikan sejenak selebrasi kebahagiaan ini.
Lalu, ku tatap kosong orang-orang di luar yang tampak sedang tersenyum bahagia sembari menanti adzan maghrib.
Apa ini?
Aku justru duduk bersandar di tembok.
Aku bingung. Tidak tahu apa ini, kenapa begini?
Di waktu bersamaan, terdengar suara seorang pria yang melantunkan panggilan pada akhir senja. Adzan maghrib berkumandang.
"Allahu Akbar~ Allahu Akbar~"
Hatiku merasa sangat tenang saat mendengar setiap bait indah yang diserukan. Kedua telingaku seolah hanyut dalam kemerduannya.
Akhirnya, seluruh keraguanku terjawab pada saat itu juga.
Aku memutuskan untuk beranjak dari tempat ini, berjalan menuju kamar mandi dan mengambil wudhu sembari tetap terdiam. Ku buka lemari kayu ini dan mengambil mukena putih pemberian ayah yang sudah lama ku simpan.
Aku mengenakannya secara perlahan lalu mulai mendirikan sholat. Meski sedikit lupa dengan bacaannya, tapi aku memutuskan untuk tetap melanjutkannya.
Hari ini, malam ini, aku bersujud di atas sajadah merah. Mengulur waktu sejenak demi menyamankan diri. Lalu, menumpahkan air mata.
Berisik ah! Bunda nggak pernah ngertiin aku!
Emang kenapa kalo aku nggak mau nyembah Allah?
Aku benci Bulan Ramadhan!
Berbagai ingatan buruk menyatu bagaikan puzzle. Bulir-bulir air mata pun mengalir deras dari sudut mataku. Pada saat aku masih mempertahankan posisi sujudku, aku menangis. Menangis karena sangat amat merasa bersalah.
Maaf...
Air mata ini tak lagi bisa dibendung.
Maafkan aku...
Aku tenggelam dalam isak tangis yang tak kunjung berakhir ini.
Maafkan aku, Ya Allah!
Aku selalu menyalahkan engkau di setiap masalahku. Padahal, engkau telah memberikan nikmat yang begitu banyak padaku.
Aku mengira bahwa tidak ada tempat lagi bagiku yang telah menyerah untuk beribadah kepadamu, tapi ternyata... kau masih menyediakan tempat untukku agar aku mau bertaubat.
Astagfirullah...
Hatiku merasa tenang seketika. Dalam tangisku, aku merasakan sesuatu. Seperti seseorang yang sedang membelai lembut kepalaku.
"Akhirnya, kau kembali," bisiknya dalam keheningan.
Sejak saat itu, aku mulai berubah.
"Kak Alifa!" sapaku sembari melambaikan tangan.
Malam ini adalah sholat tarawih terakhir, jadi tentu saja aku harus menyambutnya dengan suka cita. Aku mengenakan mukena putih yang telah ku cuci susah payah. Berdandan sedikit demi mempercantik rupa agar dapat percaya diri saat menghadapnya. "Ah, Arin? Kamu keliatan beda, ya?"
"Hehe~ iya, Kak! Ini semua berkat Kak Alifa!" Aku merangkul tangannya.
"Eh? Kok aku?" Kak Alifa tersenyum canggung.
"Iya! Gara-gara ucapan kakak waktu itu! Aku jadi bisa pulang!"
7
Kak Alifa lalu tersenyum seperti biasa. "Syukurlah."
"Ayo, kita duduk bareng di sana, Kak!" ajakku.
Kak Alifa mengangguk. Kami berdua pun berjalan bersamaan menuju ke dalam masjid besar ini.
~Tamat~
Selamat berpuasa bagi yang menjalankan!
#Ramadhan