Hari yang cerah namun tak secerah hatiku saat ini. Kesedihan yang aku alami benar benar membuat rasa semangat hidupku hilang entah kemana. Tak kusangka, orang yang amat sangat aku sayangi dan sangat aku cintai tega menghianatiku setelah apa yang aku berikan padanya. Semua yang dia inginkan, aku berusaha untuk memenuhinya. Tapi apa yang aku terima, ia balas rasa kasih sayangku dengan menyakiti hati dan perasaanku. Kenapa ia begitu tega menghancurkan harapan dan impianku?....
Yah, entah angin apa yang bisa membawaku pergi ke rumahnya. Seharian itu, aku merasa sangat gelisah sehingga aku memutuskan untuk pergi ke rumahnya sepulang kuliah. Aku ingin berkunjung ke rumahnya dan melihat keadaanya. Sudah hampir satu minggu ia tak memberi kabar. Aku telphon, tak pernah di angkat. Aku kirim pesan tak pernah ia balas. Aku merasa ada yang di sembunyikan olehnya namun aku tak tau rahasia apa yang ia sembunyikan dariku.
Aku pacaran denganya saat aku masih SMA. Dan kini aku sudah kuliah dan bentar lagi aku akan wisuda. Yah aku sudah tujuh tahun menjalin hubungan denganya. Selama ini aku merasa hubunganku baik baik saja. Bahkan aku sudah berfikir untuk membawa hubungan ini ke jenjang yang lebih serius. Toh dia sudah mempunyai pekerjaan. Dan aku rasa sudah sepantasnya aku membicarakan pernikahan dengannya. Aku tak ingin hubungan tanpa adanya ikatan. Aku takut suatu saat syaitan akan menggodaku, aku takut aku tak mampu mengendalikan diriku. Selama ini aku berusaha untuk bisa menjaga jarak karena aku ingin menjaga kesucian dan kehormatanku. Aku tak ingin jatuh ke dalam jurang yang nista dan hina. Untuk itu aku selalu mempunyai prinsip, aku tak ingin melakukan hal hal yang akan memancing nafsuku. Pernah suatu ketika, dia ingin menciumku namun aku menolak dan mengatakan jika dia ingin menciumku maka dia harus menghalalkanku dulu. Namun ia hanya tersenyum dan berkata, “aku pasti akan segera menghalakanmu jika aku sudah mempunyai pekerjaan yang tetap. Aku tak mungkin menikahimu jika aku masih belum punya pekerjaan dan tabungan yang cukup. Aku tak mungkin membiarkanmu kelaparan setelah kamu menikah denganku. Aku ingin membahagiakanmu”. Aku merasa tersentuh dengan kalimatnya. Akupun membalas, “jika itu yang kamu inginkan, maka aku mohon tolong jangan sentuh aku selama hubungan kita masih belum sah. Kita cukup berpegangan tangan aja dan bertatap muka. Aku tak ingin melakukan lebih dari itu”. Ternyata ia setuju dengan apa yang aku ucapkan. Sejak saat itu, aku dan dia berusaha untuk jaga jarak agar jangan sampai di antara kita tergoda oleh syaitan yang akan menjatuhkan kita ke dalam jurang yang nista dan hina. Namun sebulan ini, aku merasa ia berubah. Bahkan aku merasa dia seperti orang asing bagiku tapi setiap kali aku bertanya ada apa dengannya, ia selalu menjawabnya “aku gak papa”, aku pun tak menaruh curiga dan berusaha untuk mempercayainya. Namun sudah satu minggu ini, ia tak ada kabar dan itu membuatku sangat gelisah.
Sesampai di rumahnya dengan hati yang was was, dengan jantung yang berdebar debar. Aku menekan bell yang ada di dekat pintu. Tak lama kemudian bik shofa (pembantu ryan) keluar membukakan pintu.
“Eh non ayu, mari masuk.” Ucap bik shofa ramah mempersilahkan aku masuk.
“Makasih bik.” Kataku sambil melangkahkan kakiku untuk masuk ke dalam dan duduk di shofa yang sangat empuk.
“Mau minum apa, non?” tanya bik shofa, masih tetap dengan senyuman ramahnya.
“Enggak usah repot repot bik, aku mau minum air putih saja.”
“Oh gitu, baiklah. Tunggu bentar ya non, bibi ambilkan air putihnya dulu.”
“Iya, makasih ya bik.”
Setelah bik shofa pergi ke dapur, entah ada dorongan apa tapi firasatku mengatakan aku harus pergi ke kamar ryan. Dengan pelan dan hati hati, aku mengucapkan basmalah lalu ku langkahkan kakiku untuk pergi ke kamar ryan. Aku tau ini gak sopan. Tak seharusnya seorang tamu bersikap seperti ini. Tapi dorongan dan firasatku begitu kuat hingga membuatku penasaran, ada apa di balik kamar ryan.
Aku mencoba untuk terus melangkahkan kakiku, sesampai di depan pintu kamar ryan, aku berdoa pada tuhan agar tuhan memberikan aku kekuatan dan kesabaran apapun yang akan terjadi nantinya. Dan aku juga memohon ampun karena aku telah lancang dan gak sopan seperti biasanya. Dengan hati yang berdebar debar tanpa permisi dulu, aku membuka pintu kamar ryan.
“Astaga”, aku seakan akan tak percaya dengan apa yang aku lihat. Ryan tidur dengan wanita di sebelahnya bahkan mereka tidur layaknya suami isteri. Ini benar benar kelewatan. Bagaimana mungkin tanpa ada ikatan yang sah, mereka bisa melakukan itu. Dia memang sudah gila.
Aku menangis dan berteriak, “Ryan, kenapa kamu tega lakukan ini?” teriak aku keras. Ryan dan wanita yang di sebelahnya merasa kaget melihatku ada di kamar itu. Dengan tergesa gesa mereka segera memakai baju yang ada di sampingnya.
“Ayu”, hanya itu yang keluar dari mulut ryan sedangkan aku, aku sudah tak tahan dengan semua ini. Aku kecewa, aku marah selama ini aku merasa di bodohi, aku telah mencintai orang yang bermuka dua, seorang bajingan dan seseorang yang tak punya moral. Aku berlari, berlari dan terus berlari tanpa memperdulikan mereka lagi. Ryan berusaha untuk mengejarku namun aku sudah tak peduli padannya. Hatiku sudah teramat sakit karena kelakuannya.
“Ayu, tunggu jangan lari. Aku ingin menjelaskan semuanya.” Teriak ryan sambil terus berlari mengejarku. Tapi aku yan sudah merasa kesal dan emosi sudah tak ingin melihat ke belakang walau hanya sejennak. Ku abaikan kata katanya. Aku tak ingin mendengar suaranya lagi bahkan kini aku sudah tak sudi melihat wajahnya lagi.