Pagi itu notif di smartphone milik Dean terus berdenting 5 menit sekali. Tanpa harus melihat siapa yang mengiriminya pesan sebanyak itu, ia sudah tahu, pastilah kekasihnya Isabell.
Pemuda yang berusia 22 tahun itu memiliki seorang kekasih yang cantik bawel dan manja serta pencemburu. Namun memiliki sifat seperti itu Dean tetap menyukainya karena dia adalah Isabell.
Isabell, gadis yang berusia 20 tahun memang sangat menyukai Dean kekasihnya. Sifatnya yang pencemburu dikarenakan Dean memiliki wajah yang sangat tampan hingga ia di gemari banyak gadis-gadis lain. Terkadang mereka tidak peduli jika Dean telah memiliki Isabell. Ada saja yang menyatakan cinta atau menggoda Dean di depan Isabell.
"Kamu serius nggak sih sama aku?" Tanya Isabell pada Dean.
"Serius dong Bell"
Terus dan terus pertanyaan itu sering ditanya Isabell jika mereka sedang bertengkar karena Isabell yang cemburu.
Dean yang berwajah tampan banyak di gemari para gadis dikampusnya. Tak heran terkadang mereka menyatakan cinta atau sesekali menggoda Dean di depan Isabell. Dean yang tidak pernah sekalipun menyentuh Isabell apa lagi menggenggam tangannya, membuat para gadis itu berpikir kalau Dean tidaklah serius terhadap Isabell. Mereka pun berasumsi Isabell lah yang terus mengejar-ngejar Dean.
Isabell mulai lelah, apa lagi baru-baru ini ada pemuda yang berusaha mendekatinya. Isabell berpikir mungkin saja pemuda itu akan menjalani hubungan yang lebih serius dari Dean.
"Dean, kita putus saja..."
"Hah...!!"
Dean panik mendengar kata putus dari Isabell. Gadis itu marah atau menghukum dirinya itu lebih baik dari pada mendengar kata putus yang baru saja di ucapkan Isabell.
"Kenapa Bell? Bukannya kita selama ini baik-baik aja?"
"Aku lelah Dean. Lelah harus cemburu berkali-kali"
"Tapi kenapa harus putus?"
"Kamu tidak pernah serius?!"
"Astaga itu lagi. Berapa kali aku harus bilang kalau aku benar-benar serius sih?"
"Buktikan! Aku perlu bukti kalau kamu benar-benar serius sama aku?!"
"Hah?"
Dean bingung, bagaimana dia harus membuktikan. Apalagi setelah itu Isabell hanya diam. Gadis yang biasanya sangat cerewet itu tidak lagi banyak bicara.
Isabell adalah gadis kecil pemberani yang menolongnya 12 tahun silam dari sebuah truk yang hampir menabrak Dean. Isabell menarik tubuh Dean dengan sekuat tenaga hingga mereka jatuh bersama. Wajah cantik Isabell membuat Dean jatuh hati pada gadis kecil itu.
Bertahun-tahun lamanya Dean tidak pernah melupakan wajah Isabell. Hingga suatu hari mereka bertemu kembali di universitas yang sama sekarang ini.
"Hiks..."
Isabell mulai menangis hingga membuat Dean tak bisa berpikir jernih. Ia tak mengerti bukti bagaimana yang bisa menunjukkan ke seriusannya pada Isabell.
"Aarrghh!! Nggak tahu lah?! Besok aku akan bertanggung jawab padamu. Bismillah..."
Dengan gerakan cepat Dean meraih tengkuk Isabell yang sedang tertunduk menangis, ia lalu mendaratkan ciumannya di bibir gadis itu.
Isabell yang tidak menyangka Dean akan melakukan hal itu terkejut dan terdiam mematung. Itu adalah ciuman pertama dirinya.
Dean melepaskan ciumannya.
"Hah, bisa gila aku?! Bukan ini yang aku mau. Seharusnya ini kulakukan setelah kita menikah nanti. Tapi sudah lah..., toh besok aku akan bertanggung jawab atas apa yang aku lakukan. Aku akan membawa orang tua ku untuk datang melamarmu"
Isabell tertegun. Ternyata selama ini ia telah berburuk sangka pada Dean. Kekasihnya itu ternyata lelaki yang sejati yang penuh tanggung jawab terhadap dirinya. Bukan karena Dean tidak serius padanya, namun tenyata pemuda itu menjaga dirinya dan cinta mereka dari sebuah dosa.
Isabell pun menangis haru. Ternyata dirinya seberharga itu dihati kekasihnya.
End.