Keluarga kami adalah pecinta olahraga, terutama beladiri. Ayahku adalah seorang pelatih silat di sebuah padepokan silat, sedangkan kakakku lebih tertarik ke karate, adikku memilih taekwondo sebagai olahraga kesukaannya, dan aku lebih memilih untuk mengikuti jejak ayahku yang memilih silat.
Oh ya... kenalkan namaku Nia atau Pradnya Paramita lengkapnya. Dari SD aku sudah mulai berlatih silat karena sejak kecil ayah selalu mengajak aku kalau sedang latihan. Walaupun aku tidak pernah mengikuti kejuaraan karena aku berlatih silat hanya sekedar hobi, tapi aku berlatih dengan giat sehingga akhirnya aku bisa meraih sabuk putih. Karena menurutku beladiri itu sangat penting untuk kami para wanita, selain tentu saja sehat tetapi bisa juga untuk melindungi diri apabila ada kejahatan, karena berdasarkan survei yang kulihat di TV kejahatan semakin meningkat dari waktu ke waktu dengan modus yang berbeda beda pula.
Saat ini aku sedang bekerja sebagai staff administrasi disalah satu perusahaan ternama di kotaku. Alhamdulillah selesai kuliah aku bisa langsung mendapatkan pekerjaan. Yah... lumayanlah dari gajiku aku bisa membantu biaya kuliah Galuh, adikku dan sisanya aku tabung untuk masa depanku kelak.
Pagi itu ketika aku sedang ke pantry untuk membuat secangkir kopi susu, aku mendengar Lia temanku sedang bercerita atau lebih tepatnya sih... bergosip dengan temanku lainnya Yuki hehehe... Aku hanya tersenyum melihat mereka berdua.
"Yuki, kamu tahu nggak kalau ternyata Pak Mahesa bos kita itu ternyata masih single lho, duh...sempurna banget ya...sudah cakep, tajir, orangnya ramah lagi, mau dong aku diperistri hahaha, " celoteh Lia sambil tertawa. Oh ya... yang benar Lia Pak Mahesa masih single, siapa juga yang nggak mau kalau diperistri high quality jomblo kayak Pak Mahesa gitu, aq juga mau kali, " jawab Yuki dengan semangat 45 nya. "Siapa ya orang yang beruntung bisa diperistri Pak Mahesa, " kata Lia sambil matanya menerawang membayangkan dirinya diperistri Pak Mahesa. "Pastinya bukan kita, " celetukku sambil berjalan meninggalkan mereka berdua yang masih melongo hehehe.
Sehabis Maghrib aku mengajak adikku untuk berbelanja ke sebuah mall di kota kami. Kebetulan aku habis gajian dan ingin membeli beberapa kebutuhanku sekaligus cuci mata. Tanpa terasa karena saking asiknya berbelanja, ternyata jam sudah menunjukkan angka 10, pantas saja para pegawai toko sudah banyak yang bersiap siap untuk menutup tokonya.
Akhirnya kami berdua pulang, aku membonceng adikku menggunakan motor matic kesayanganku, karena hanya itulah yang aku miliki sekarang hehehe. Karena sudah malam jalanan terlihat cukup sepi, untunglah kami sudah dibekali ilmu beladiri, jadi kami tidak begitu khawatir. Tapi dari kejauhan kami melihat ada dua orang terlihat sedang menyerang seseorang, dan kelihatan orang itu sudah kewalahan melawan dua orang itu. Tanpa pikir panjang kami berdua membantu seseorang tersebut, Alhamdulillah akhirnya mereka berdua bisa kami taklukkan dan lari terbirit-birit.
Setelah aku amati ternyata orang yang kutolong tadi adalah bosku sendiri. Iya, Pak Mahesa sekarang sudah berdiri dihadapanku, aku merasa gugup sekali karena sebelumnya belum pernah berhadapan langsung dengan beliau. "Terimakasih ya, kamu sudah menolong saya, kalau tidak salah bukankah kamu karyawan saya ya, tapi maaf saya nggak tahu nama kamu, " tanya Pak Mahesa. "Benar Pak saya Nia staff administrasi di perusahaan Bapak, jawabku sambil tersenyum, senyum paling manis yang pernah kubuat, siapa tahu aja akan berakhir seperti dalam novel novel yang pernah kubaca hehehe.
Tapi ternyata beliau seperti akan mengambil dompet dan mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah, dan memberikannya padaku sambil berkata, " Ini Nia terimalah sebagai ucapan terimakasih karena kamu dan adikmu sudah menolong saya". Cukup menggoda sih tapi aku tahan. "Nggak usah pak, kami senang kok bisa menolong orang, apalagi anda adalah atasan saya, " kataku dengan penuh percaya diri. Setelah adegan saling tarik menarik diantara kami, akhirnya Pak Mahesa menyerah dan berkata, "Baiklah kalau kamu tidak mau menerimanya, saya akan saya naikkan jabatan kamu menjadi kepala administrasi." Duengggg... aku sih seneng banget ya bisa naik jabatan, tapi ternyata kalimat itu juga yang memusnahkan impianku menjadi istri seorang CEO. "Jangan terlalu berharap esmeralda hehehe," bisik batinku. Akhirnya setelah mengucapkan terimakasih aku dan adikku bergegas meninggalkan tempat itu beserta segala impianku.
Keesokan harinya di kantor, pagi-pagi sekali Bu Yuni manager HRD di tempatku bekerja memanggilku. Lia dan Yuki yang selalu kepo bertanya padaku ada apa sepagi ini aku ke HRD, tapi aku hanya menaikkan pundakku, sebagai jawaban kalau akupun tidak tahu.
Setelah sampai di ruangan HRD, barulah Bu Yuni menerangkan kalau mulai hari ini, aku diangkat menjadi kepala administrasi menggantikan Pak Erick yang sekarang menjadi manager keuangan. Aku sangat bersyukur sekali karena tentu saja gajiku akan naik juga. Sudah banyak impianku yang ingin aku wujudkan kalau aku sudah terima gaji nanti, biarlah tak jadi istri CEO pun tak apa, yang penting aku bisa membahagiakan seluruh keluargaku.
Setelah sampai di ruanganku akhirnya Lia dan Yuki memberondongku dengan pertanyaan-pertanyaan. "Nia ada apa kok kamu ke ruangan Bu Yuni, " cecar Lia yang tidak sabaran. Akhirnya aku ceritakan kalau aku bertemu dengan Pak Mahesa dan menolong beliau, sehingga beliau menaikkan jabatanku. "Harusnya kamu jangan mau Nia, harusnya kamu minta dinikahin aja hahaha, "kelakar Lia sambil tertawa. " Inginku juga begitu tapi apa daya, mungkin aku bukan type Pak Mahesa kali hehehe, "jawabku sambil tersenyum. "Jangan khawatir meskipun aku bukan istri CEO bulan depan kalau sudah gajian aku pasti akan traktir kalian, " janjiku pada mereka berdua.