Dengan membawa tas ranselnya yang terasa berat, Nana berjalan sambil menggerutu, bagaimana tidak, hari ini hidupnya apes sekali, dikeluarkan secara tidak hormat dari tempat kosnya hanya gara-gara terlambat bayar uang kos, padahal hanya nunggak tiga hari lebih satu bulan. Belum lagi ia belum menemukan tempat magang yang sesuai dengan keinginannya yaitu tidak jauh dari kosannya, sekarang jangankan tempat magang, tempat kos aja dia masih nyari.
Fuih, malang benar nasibku ini, pikirnya. Nana berjalan sambil menundukkan wajahnya, sibuk dengan pemikirannya yang ruwet, seruwet benang kusut. Tanpa ia sadari kakinya tersandung sesuatu.
"Apalagi sih ini, dasar batu ga ada akh...lak", ia melihat seseorang tergeletak tidak sadarkan diri. Bajunya semerawut menandakan orang itu baru saja habis di rampok.
"Aduh, duh, duh, duh, Ya Allah, ada apa lagi ini?", ujarnya sambil mengelap keringat di keningnya.
Nana menoleh ke kiri dan ke kanan, dengan maksud apabila tidak ada yang melihat ia akan kabur secepat kilat. Tapi tiba-tiba kakinya dipegang dengan sebuah tangan.
"Tolong aku", kata orang itu dengan nada yang memelas.
Nana meletakkan tas ranselnya di sebelah kanan, ia lalu menanyakan kepada orang itu apa yang harus ia lakukan. Orang itu lalu meminjam hp Nana untuk menghubungi seseorang. Nana dengan santainya meminjamkan hpnya kepada orang itu tanpa ada rasa curiga sedikitpun.
Karena haus Nana membeli dua botol air mineral, satu untuk dirinya dan satu lagi untuk orang itu. "Namaku Satya", kata lelaki itu.
Karena Nana sedang memikirkan akan tinggal dimana malam ini, ia tidak begtu mendengarkan perkataan Satya.
"Hei, kamu sedang memikirkan apa?", katanya lagi.
"Hidup", kata Nana, tanpa melihat wajah Satya.
"Nama kamu siapa?", tanya Satya lagi.
"Nana", jawabnya singkat.
Satya memperhatikan wajah Nana, wajah yang imut dan cuek pikirnya, sedikitpun gadis itu tidak melirik kepadanya, seakan apa yang ada dipikirannya itu lebih penting.
"Maaf Om, Om namanya siapa?", tanya Nana lagi, karena sudah malam Nana tidak begitu jelas melihat wajah Satya. Waduh, wajah ganteng dan masih muda begini dipanggil Om, pikir Satya.
"Nama saya Satya", dengan sabar menjawab pertanyaan Nana.
"Sekarang sudah malam, kamu mau kemana?", melirik ke tas ransel yang dibawa Nana.
"Ke rumah teman", jawab Nana acuh.
"Nanti kalau mobil yang menjemput saya datang, kamu saya antar ke rumah teman kamu ya", kata Satya kemudian.
"Tidak perlu Om, tuh mobil jemputan Om sudah datang, Nana akan melanjutkan perjalanan, Om juga jangan suka keluar malam sendirian, sekarang yang namanya penjahat tidak pilih-pilih mangsa", Nana mengambil tas ransel dan pergi dari tempat itu. Tujuannya adalah rumah Ita sahabatnya.
Di mobil, Satya melihat Nana yang berjalan dengan tenang tanpa ada sedikitpun rasa takut. Satya tanpa sadar tersenyum melihatnya. Cuek dan ga jaim katanya dalam hati.
Sesampai di rumah Ita, Nana disambut dengan gembira oleh orang tua Ita. Mendengar cerita Nana, kedua orang tua Ita dan juga Ita menerima Nana dengan senang hati. Sebelum tidur, Nana menceritakan kesulitannya mencari tempat magang, Ita pun mengusulkan untuk mencoba magang di perusahaan Dirgantara.
Keesokan harinya setelah menyiapkan surat-surat izin magang, Nana menuju ke perusahaan itu, bersama peserta magang lainnya Nana dikumpulkan di satu ruangan. Hari itu mereka semua dipertemukan dan diperkenalkan dengan pemimpin perusahaan.
Sesosok wajah tampan, berkarisma dan juga muda memasuki ruangan, seketika wajah peserta magang terutama perempuan langsung merona melihat senyum manis Bos mereka itu, berbeda dengan Nana yang dalam keadaan setengah mengantuk, ia tidak begitu memperhatikan.
Satya yang sudah terbiasa dengan pandangan memuja dari lawan jenisnya secara tidak sadar memandang ke sebuah sosok yang memperlihatkan wajah mengantuk. Deg..deg..deg.., Nana? batinnya. Ia lalu memberi isyarat kepada asistennya yang bernama Rian, untuk mengikutinya meninggalkan ruangan itu.
Ketika berada dalam ruangannya Satya meminta Rian untuk menempatkan Nana di bagian pengetikan file penting di bantu oleh salah satu teman magangnya yang dipilih secara acak. Rian mengangguk dan mempersiapkan semuanya.
Tak berapa lama Nana beserta temannya memasuki ruangan Satya. Nana dengan wajah bingung dan penuh tanya menatap Satya tanpa rasa takut. Nana bingung mengapa harus dirinya yang ditempatkan di bagian sepenting ini. Satya yang melihat kebingungan yang terlukis di wajah Nana, hanya tersenyum dalam hati. Hatinya bahagia sekali melihat wajah itu.
Waktu tanpa terasa berlalu, hari itu Nana diberikan tugas yang bisa dibilang banyak bagi pemula seperti dirinya. Temannya setengah jam lalu sudah pulang, sementara dirinya masih bersama dengan Bosnya. Satya berpura-pura tidur padahal sudut matanya dari tadi memperhatikan wajah Nana yang terlihat letih. Hatinya bahagia, sepertinya Satya jatuh cinta untuk yang pertama kalinya kepada gadis ini.
Aku sudah menetapkan siapa yang akan jadi pendampingku di kemudian hari katanya dalam hati.
Setelah semua pekerjaan selesai dengan hasil yang memuaskan, Satya menawarkan diri untuk mengantarkan Nana pulang, lagi-lagi Nana menolaknya. Ia beralasan tempat tinggalnya tidak jauh. Dengan santainya Satya mengatakan ia akan menemani Nana jalan.
Akhirnya dengan berat hati Nana menyetujuinya
di jalan Satya menanyakan apakah Nana kos atau tinggal bersama dengan sahabatnya. Nana berhenti sejenak, ia merasa mengenali suara itu, wajah Nana seketika pucat, ia ingat lelaki yang dibantunya dan dipanggilnya Om pada malam itu ternyata adalah Bosnya.
Satya tertawa dengan puasnya. Betapa gemasnya ia melihat wajah imut yang sedang memandangnya saat ini. Dengan tenang ia lalu berkata," Nana ku, maukah kamu menjadi pendamping hidupku?".
Mata Nana membulat dengan sempurna, dari mulutnya terdengar suara," Heh.....APAAA?".
TAMAT