"Lun, mertuaku sakit. Aku minta tolong gantikan aku besok mempersiapkan pelatihan petani, ya. Tolong cek tempat, keperluan nara sumber juga kelengkapan peserta," pinta Kezia pada Aluna, rekan sekerjanya.
"Ah, baiklah," jawab Aluna malas.
"Hei jangan lesu begitu, ingat pelatihan ini penting untuk petani dan kemajuan usaha tani di kecamatan kita. Jangan sampai terlambat, datanglah paling tidak 1 jam sebelum kegiatan itu dimulai," imbuh Kezia lagi.
"Memangnya mulai jam berapa sih, kegiatannya?"
"Jam 8 WIB, teng."
Aluna lalu menghitung-hitung jam berapa ia harus berangkat keesokan harinya. Perjalanan menuju lokasi pelatihan yang berada di aula kantor desa memakan waktu hampir 2 jam jika mengendarai mobil, itu jika tidak ada jalan yang amblas.
'Hufff, sepertinya aku harus menempuh jalur alternatif dan mengendari sepeda motor saja, biar lebih cepat," gumam Aluna. Pilihannya pun jatuh pada rute yang membuatnya harus melewati jalan milik perusahaan sawit. Tidak beraspal, jalan itu hanya berupa timbunan tanah merah dan bebatuan kecil tapi tidak ada kemungkinan amblas karena pihak perusahaan selalu menjaga jalan yang biasa digunakan untuk mobilitas pengangkutan hasil panen, tidak ada kendala.
Keesokan hari, saat matahari masih malu-malu bersinar, Aluna sudah siap menjalankan sepeda motornya menuju lokasi pelatihan, memasuki kawasan perkebunan sawit. Memang agak sepi, karena hanya sedikit kendaraan yang juga melintasi jalan itu, tapi Aluna cukup senang, sepagi itu ia dapat menikmati udara segar dan sejuk dari tumbuh-tumbuhan di sepanjang jalan.
Sambil bersenandung kecil Aluna melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Ini bukan kali pertama Aluna lewat jalan itu tentu dia sudah sangat hapal tiap simpang dan juga belokan yang harus dilintasinya.
Setelah motornya turun dari jembatan tinggi ke tiga, Aluna dihadapkan pada persimpangan, Aluna tanpa sadar malah memilih jalan yang lurus dihadapannya. Sekitar 100 meter, Aluna merasa sedikit heran saat motornya mengarah pada jalan yang makin sempit dan tampaknya jarang dilewati.
Tin ... tin ... .
Suara klakson cukup keras itu membuyarkan lamunannya. Aluna melirik sekilas ke spionnya, tampak seorang polisi mengendarai motor gede dibelakangnya sedang turun dari jembatan ketiga dan berbelok ke kanan.
'Astaga, ngapain aku malah lurus? Harusnya turun jembatan langsung ambil kanan,' benak Aluna yang langsung memutar arah.
'Wah, syukur ada pak polisi yang mengingatkan,' gumamnya.
Saat motornya sudah berbelok ke jalan yang seharusnya, Aluna tercekat ketika tidak mendapati pengendara motor gede tadi yang seharusnya berada di depannya. Sekencang-kencang motor itu, harusnya masih kelihatan atau paling tidak debu jalanan dari tanah merah kering yang dilalui pengendara sebelumnya masih kelihatan.
Anehnya, sejauh matanya memandang ke depan tidak ada tanda-tanda seseorang telah mendahului Aluna melintasi jalan itu.
Aluna berhenti sejenak dan meminum air mineral yang selalu dibawanya di kantong ransel. "Hah, jika pak polisi itu memberi kode, aku bisa tersesat, tapi ... siapa lelaki bermotor gede itu? Apapun, terima kasih pak polisi," ujar Aluna yang kembali melanjutkan perjalanannya dengan perasaan heran.