Film drama yang diangkat dari true story ini telah menjadi inspirasi dan penyemangat bagi seorang pria bernama Langit Indrawan.
"Kamu gak bosan nonton film itu terus bahkan hampir tiap hari?" tanya Lenka, istri Langit.
"Gak lah, gimana aku bisa bosan sama cerita tentang tokoh yang ketegarannya sangat menguatkanku. Sosok seorang ayah yang berusaha sekuat tenaga menciptakan kebahagiaan untuk keluarganya. Lenka, kamu jangan seperti Linda, ya."
"Hah, Linda yang mana?"
"Tokoh yang jadi istri Chris Gardner di film itu, Linda tidak kuat hidup susah, terlebih karena himpitan ekonomi terus menekannya, sehingga dia meilih pergi dan membuat Chris harus berjuang sendiri membesarkan anaknya yang masih kecil dalam kondisi uang yang minim, tidak punya rumah dan tidak punya pekerjaan."
"Kok bisa begitu?" Lenka mengomentari paparan singkat dari suaminya.
"Kalau gak percaya, ayo temani aku menonton film itu," ajak Langit yang bersiap memutar ulang dvd-nya.
"Sebentar, aku mau ambil tisu dulu. Kayanya tu film bakalan bikin termehek-mehek deh."
"Haha, sebenarnya cerita di film itu bukanlah sesuatu yang menyedihkan, tapi perjuangan Chris Gardner itulah yang membuat kita trenyuh."
Gambar bergerak yang tokoh utamanya diperankan oleh Will Smith dan putranya itu kembali diputar, menampilkan kisah seorang ayah yang rajin, pintar, semangat kerja tinggi dan punya impian yang besar untuk keluarganya. Dengan latar belakang seorang sales dan memberanikan diri menjadi distributor sebuah alat kedokteran yang baru dan canggih, ia mengambil hampir semua tabungannya untuk membeli stok alat tersebut namun seetelah beberapa kali mencoba menawarkan, Chris sadar, alat yang ditawarkannya itu memang canggih tapi akan jarang digunakan jadi sepi peminat.
Chris kehabisan uang, ia pun diusir oleh pemilik rumah karena tidak membayar biaya sewa berbulan-bulan. Dia dan anaknya akhirnya sampai harus tinggal di toilet dan kamar mandi di stasiun Kereta Api dan mengunci pintunya agar bisa tidur di dalamnya dan kemudian mereka tinggal di penampungan untuk tuna wisma.
Chris yang tidak kenal putus asa itu tetap optimis dan terus menjual sisa alat kedokteran yang dimilikinya, hingga pada suatu ketika ia bertemu dengan seseorang yang memarkirkan Ferrari merah dan Chris yang terkesan itu mencoba bertanya apa pekerjaan orang itu sehingga bisa punya mobil Ferrari. Orang yang ditanya itu mengatakan bahwa dia adalah seorang pialang saham. Hal itu membuat Chris juga berkeinginan untuk meraih harapannya, ia kemudian melamar di sebuah perusahaan sekuritas untuk menjadi seorang pialang saham dan mengikuti pelatihan selama 6 bulan untuk bisa menjadi calon pialang saham. Setelah 6 bulan pendidikan, hanya 1 dari 30 orang peserta untuk diterima menjadi pialang saham. Chris yang gigih itu pun mengikuti proses seleksi yang berat, sebab selain ia tertantang untuk mempelajari hal baru tersebut, dia juga harus mengurus anaknya dan sering tidak makan untuk nenghemat uangnya belum lagi dia harus mencari calon pelanggan untuk perusahaan pialang saham. Usaha memang tidak mengkhianati hasil, singkatnya Chris akhirnya menjadi seorang pialang saham yang sukses, ia kemudian mendirikan perusahaannya sendiri dan menjadi seorang Milyarder yang dermawan dalam membantu menyediakan tempat penampungan bagi para tuna wisma, mengingat dia pernah mengalami hal tersebut.
Lenka memeluk Langit yang duduk di sebelahnya, wanita itu tahu apa yang menjadi kesedihan suaminya setelah mereka kehilangan banyak uang akibat kesalahan berinvestasi. Lenka tahu Langit juga dia sendiri perlu teladan seperti Chris Gardner yang gigih berupaya itu untuk membakar semangat mereka mewujudkan impian.
.
.
-TAMAT-