Kaya] Jika dalam sekejap aku punya uang 200 miliar...
Senyum menawan dari wajah seorang gadis kota membuatku mematung seketika. Perasaan apa ini, kenapa tiba-tiba jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Senyum yang menyejukkan jiwaku. Seorang bidadari datang menghampiriku dengan senyum merekah. Apa aku ada di kayangan..
"Mas.."
"Mas.." panggilnya sambil melambai-lambaikan tangannya di hadapanku.
Aku masih saja terpaku dengan keindahan parasnya.
"An! Ngalamun aja di panggil cewek cantik tu.." ucap Ardi temanku sambil menepuk pundakku, menyadarkan aku dari lamunan indahku.
"Eh, i iya apa?" Ucapku tergagap karena terkejut sekaligus malu.
Bidadari di hadapanku terkekeh geli melihat tingkahku.
"Apa kami boleh ikut belajar membajak sawah dan menanam padi, Mas"? Tanya gadis itu dengan suara lembutnya. Rupanya ia mewakili sekelompok gadis di belakangnya.
Ngomong-ngomong desaku adalah desa wisata yang memang menyajikan hiburan yang ada di desa kami bagi para wisatawan. Dari mulai kerajinan menganyam eceng gondok, tari tradisional, juga persawahan seperti yang sekarang aku jalankan ini. Aku sedang membajak sawah menggunakan jasa kerbau milik orangtuaku. Dan memang itu menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Tapi aku tak menyangka gadis secantik dia ingin mencoba hal kotor seperti ini.
Aku nampak berfikir sebelum berucap, "tapi nanti kalau pakaian kalian kotor bagaimana?"
"Nggak papa, kami udah pakai kostum khusus buat main lumpur kok, ya kan guys.."
"Yups.." jawab teman-temannya kompak.
Ternyata mereka memang sudah mempersiapkan semuanya, memakai sepatu boot lengkap dengan topi caping di kepala masing-masing.
"Ta sudah kalau begitu, mari.." ajakku pada bidadari itu.
"Oh ya, kenalin nama aku Sherly," ucapnya memperkenalkan diri sambil menjulurkan tangannya yang putih mulus kehadapanku.
"Maaf, tangan saya kotor Mbak.."
"Nggak apa, kan aku juga mau mainan lumpur,"
Aku menerima jabatan tangannya, dan.. jantungku semakin berpacu lebih cepat. Hal itu membuatku grogi dan salah tingkah.
Kamipun mulai dengan membajak sawah, mulanya ia takut-takut dengan kerbau, lama-lama ia tertawa dan menikmatinya. Tanpa malu ia banyak bertanya padaku tentang cara mengolah sawah, dari mulai membajak hingga memanen. Rupanya ia dan teman-temannya sedang menjalankan skripsi dengan tema pertanian.
Aku menjelaskan dengan detail tahap-tahap pengelolaan sawah kami. Dia berencana akan mengikuti setiap tahap itu hingga selesai. Aku dengan sangat senang menyanggupinya.
Hari-hari kami lalui dengan belajar mengolah sawah sambil bercanda dan tertawa. Tanpa kusadari rasa kerertarikanku terhadap Sherly menumbuhkan benih-benih cinta. Entah bagaimana dengannya, aku belum berani mengungkapkan perasaanku terhadapnya. Tapi akan kucoba.
Tak terasa 4 bulan sudah kami menghabiskan waktu bersama, hingga masa panen padi tiba dan iapun selesai mengerjakan skripsinya. Aku memberanikan diri untuk menyatakan perasaanku padanya sebelum ia kembali ke kota. Aku sudah siap jikapun nantinya akan ditolak, yang terpenting aku sudah merasa lega karena sudah mengungkapkan perasaanku padanya.
Siapa sangka perasaanku bersambut, iapun menerima cintaku. Karena kami sudah sama-sama dewasa, aku memutuskan akan segera meminangnya setelah ia di wisuda nanti.
Hari yang kutunggu tiba, setelah semua persiapan demi persiapan matang. Aku dan keluargaku pergi ke kota tepatnya ke kediaman Sherly untuk melamarnya menjadi istriku.
Setelah dua jam perjalanan, rombongan kamipun sampai di sebuah rumah mewah dan tampak asri. Kami disambut oleh dua orang satpam yang berjaga. Salah satu satpam itu memanggil Sherly setelah aku mengatakan ada perlu dengannya.
"Tolong bukain gerbangnya Pak," ucap Sherly pada satpam yang berjaga.
Mobil bus yang membawa rombongan kami masuk ke dalam halaman luas rumah tersebut. Tak lama ada seorang wanita paruh baya yang masih nampak cantik dengan riasan dan penampilannya. Rupanya itu adalah ibu dari Sherly.
"Mi, ini Mas Aan dan keluarganya yang Sherly ceritain semalem." Ucap Sherly pada ibunya. Ibunda Sherliy menatap aku beserta keluargaku remeh, karena penampilan kami yang sederhana, datangpun dengan menggunakan bus, bukannya mobil mewah.
"Jadi kamu yang mau melamar Sherly anak saya?" Tanya Ibu Sherly.
"Iya Bu," jawabku sopan."
"Punya apa kamu? Dateng aja pakai bus bukan mobil mewah, dan mana cincin berliannya?" Aku dan orangtuaku beserta keluarga besarku terkejut mendengar pertanyaan seperti itu.
"Sa.. saya," belum selesai aku beucap, bunda Sherly kembali berkata, " Hey! Sehrly itu putriku satu-satunya. Tentunya akan aku serahkan pada lelaki pilihan, lelaki yang terbaik dari yang paling baik, dan bisa menjamin kehidupan anakku."
Aku langsung tertunduk lemas mendengarkan kalimat itu, apalagi orangtuaku. Mereka langsung memegang lenganku,saat aku menoleh mereka menggelengkan kepala dengan wajah yang tampak sangat sedih.
"Apa Anda akan menyerahkan anak Anda jika saya sudah bisa datang dengan membawa mobil mewah dan berlian?" tanyaku lirih
"Tentu!"
"Baiklah, tepati kata-kata Anda. Jangan dulu Anda menyerahkan putri Anda pada laki-laki lain. Saya akan secepatnya kembali kemari untuk membawa Serli dari Anda." Keluargaku terkejut mKaya] Jika dalam sekejap aku punya uang 200 miliar...
Senyum menawan dari wajah seorang gadis kota membuatku mematung seketika. Perasaan apa ini, kenapa tiba-tiba jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Senyum yang menyejukkan jiwaku. Seorang bidadari datang menghampiriku dengan senyum merekah. Apa aku ada di kayangan..
"Mas.."
"Mas.." panggilnya sambil melambai-lambaikan tangannya di hadapanku.
Aku masih saja terpaku dengan keindahan parasnya.
"An! Ngalamun aja di panggil cewek cantik tu.." ucap Ardi temanku sambil menepuk pundakku, menyadarkan aku dari lamunan indahku.
"Eh, i iya apa?" Ucapku tergagap karena terkejut sekaligus malu.
Bidadari di hadapanku terkekeh geli melihat tingkahku.
"Apa kami boleh ikut belajar membajak sawah dan menanam padi, Mas"? Tanya gadis itu dengan suara lembutnya. Rupanya ia mewakili sekelompok gadis di belakangnya.
Ngomong-ngomong desaku adalah desa wisata yang memang menyajikan hiburan yang ada di desa kami bagi para wisatawan. Dari mulai kerajinan menganyam eceng gondok, tari tradisional, juga persawahan seperti yang sekarang aku jalankan ini. Aku sedang membajak sawah menggunakan jasa kerbau milik orangtuaku. Dan memang itu menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Tapi aku tak menyangka gadis secantik dia ingin mencoba hal kotor seperti ini.
Aku nampak berfikir sebelum berucap, "tapi nanti kalau pakaian kalian kotor bagaimana?"
"Nggak papa, kami udah pakai kostum khusus buat main lumpur kok, ya kan guys.."
"Yups.." jawab teman-temannya kompak.
Ternyata mereka memang sudah mempersiapkan semuanya, memakai sepatu boot lengkap dengan topi caping di kepala masing-masing.
"Uasudah kalau begitu, mari.." ajakku pada bidadari itu.
"Oh ya, kenalin nama aku serli," ucapnya memperkenalkan diri sambil menjulurkan tangannya yang putih mulus kehadapanku.
"Maaf, tangan saya kotor Mbak.."
"Nggak apa, kan aku juga mau mainan lumpur,"
Aku menerima jabatan tangannya, dan.. jantungku semakin berpacu lebih cepat. Hal itu membuatku grogi dan salah tingkah.
Kamipun mulai demgan membajak sawah, mulanya ia takut-takut dengan kerbau, lama-lama ia tertawa dan menikmatinya. Tanpa malu ia banyak bertanya padaku tentang cara mengolah sawah, dari mulai membajak hingga memanen. Rupanya ia dan teman-temannya sedang menjalankan skripsi dengan tema pertanian.
Aku menjelaskan dengan detail tahap-tahap pengelolaan sawah kami. Dia berencana akan mengikuti setiap tahap itu hingga selesai. Aku dengan sangat senang menyanggupinya.
Hari-hari kami lalui dengan belajar mengolah sawah sambil bercanda dan tertawa. Tanpa kusadari rasa kerertarikanku terhadap serli menumbuhkan benih-benih cinta. Entah bagaimana dengannya, aku belum berani mengungkapkan perasaanku terhadapnya. Tapi akan kucoba.
Tak terasa 4 bulan sudah kami menghabiskan waktu bersama, hingga masa panen padi tiba dan iapun selesai mengerjakan skripsinya. Aku memberanikan diri untuk menyatakan perasaanku padanya sebelum ia kembali ke kota. Aku sudah siap jikapun nantinya akan ditolak, yang terpenting aku sudah merasa lega karena sudah mengungkapkan perasaanku padanya.
Siapa sangka perasaanku bersambut, iapun menerima cintaku. Karena kami sudah sama-sama dewasa, aku mmemutuskan akan meminangnya setelah ia di wisuda nanti.
Hari yang kutunggu tiba, setelah semua persiapan demi persiapan matang. Aku dan keluargaku pergi ke kota tepatnya ke kediaman serli untuk melamarnya menjadi istriku.
Setelah dua jam perjalanan, rombongan kamipun sampai di sebuah rumah mewah dan tampak asri. Kami disambut oleh dua orang satpam yang berjaga. Salah satu satpam itu memanggil serli setelah aku mengatakan ada perlu dengannya.
"Tolong bukain gerbangnya Pak," ucap Serli pada satpam yang berjaga.
Mobil bus yang membawa rombongan kami masuk ke dalam halaman luas rumah serli. Tak lama ada seorang wanita paruh baya yang masih nampak cantik dengan riasan dan penampilannya. Rupanya itu adalah ibu dari Serli.
"My, ini Mas Aan dan keluarganya yang Serli ceritain semalem." Ucap Serli pada ibunya. Ibunda Serli menatap aku beserta keluargaku remeh, karena penampilan kami yang sederhana, datangpun dengan menggunakan bus, bukannya mobil mewah.
"Jadi kamu yang mau melamar Serli anak saya?" Tanya Ibu Serli.
"Iya Bu," jawabku sopan."
"Punya apa kamu? Dateng aja pakai bus bukan mobil mewah, dan mana cincin berliannya?" Aku dan orangtuaku beserta keluarga besarku terkejut mendengar pertanyaan seperti itu.
"Sa.. saya," belum selesai aku beucap, bunda Serli kembali berkata, " Hey! Serli itu putriku satu-satunya. Tentunya akan aku serahkan pada lelaki pilihan, lelaki yang terbaik dari yang paling baik, dan bisa menjamin kehidupan anakku."
Aku langsung tertunduk lemas mendengarkan kalimat itu, apalagi orangtuaku. Mereka langsung memegang lenganku,saat aku menoleh mereka menggelengkan kepala dengan wajah yang tampak sangat sedih.
"Apa Anda akan menyerahkan anak Anda jika saya sudah bisa datang dengan membawa mobil mewah dan berlian?"
"Tentu!"
"Baiklah, tepati kata-kata Anda. Jangan dulu Anda menyerahkan Serli pada laki-laku lain. Saya akan secepatnya kembali kemari untuk membawa Sherli dari Anda." Keluargaku terkejut mendengarkan kata-kataku yang tampak yakin. Mereka berpikir mustahil, tapi aku sudah memikirkannya sebelum berucap.
Sekembalinya kami dari kediaman Sherly. Keluargaku ada yang tak terima, ada yang mendumel, ada yang melarang aku kembali kesana dan masih banyaka lagi. Jika difikir memang orangtua Sherly sangat keterlaluan, mereka menolak mentah-mentah kedatangan kami. Boro-boro mempersilahkan kami masuk kerumah mereka, baru masuk halaman saja sudah mengusir kami.
"Memang apa rencanamu, Nak? Sampai kamu bisa seyakin itu?" Bapak merasa khawatir akan diriku.
"Bapak sama Ibuk tenang saja, serahkan semuanya pada Aan. Aan sudah dewasa, sudah bisa dipercaya untuk menyelesaikan suatu masalah,"
"Yasudah kalau begitu, Bapak sama Ibu cuma bisa mendoakan yang terbaik untuk kamu,"
Apa yang harus aku lakukan?
Apa aku harus menjual ginjal?
Atau aku harus menhual sawah yang menjadi mata pencaharian kami?
Aku melamun sambil membajak sawah seperti biasa. Tapi sawah ini yang jauh dari jalan yang biasanya digunakan sebagai tempat praktek para wisatawan, sawah yang sudah lama tak digarap oleh orang tuaku. Ditengah lamunanku, aku merasa menginjak sesuatu, apa ada batu di dalam sawah?
Aku membungkuk untuk mengambil batu itu, tapi sangat sulit hingga aku harus berjongkok dan mulai meraba lumpur dibawahku. Setelah kuambil aku hendak membuangnya ke kali yang ada di bawah sawahku, tapi tunggu dulu. Lumpur yang membaluri batu itu menetes terus dan menampakkan cahaya berkilau. Batu apa yang memunculkan kilau seperti itu, pikirku. Aku berjalan ke sungai untuk mencuci batu tersebut, dan alangkah terkejutnya aku ternyata batu itu bukan batu kali, melainkan berlian. Apa benar ini berlian? Untuk memastikannya aku membawanya ke toko emas yang ada di pasar, panjaga toko twrsebut juga tak percaya hingga ia memanggil bosnya untuk memastikannya.
Setelah di cek sedemikian rupa ternyata benar, itu adalah berlian murni. Sehingga pemilik toko emas tersebut menawarkan untuk memanggilkan kolektor berlian. Tak kusangka sang kolektor itupun menawarkan harga yang sama sekali tak ku bayangkan sebelumnya, yakni 200 miliar. Dalam sekejap aku menjadi miliarder.
Akupun melaksanakan syukuran dengan mengundang warga sekampung. Dan dengan segera aku beserta keluargaku kembali ke rumah Serli untuk mempersunting gadis pujaanku. Kami melangsungkan pernikahan dengan sangat meriah, dengan mas kawin cincin berlian sesuai dengan apa yang diminta calon ibu mertuaku. Lalu kami sekeluarga pergi ke tanah suci untuk umrah dan aku tak lupa mendaftarkan haji kedua orangtuaku.
Aku juga membuat usaha untuk kami kelola kedepannya agar kekayaanku tak habis sampai kepada anak cucuku nanti.
Selesai...