Suaminya sudah meninggal 1 bulan lalu, hal yang maaih membuat Aluna bertahan adalah mertuanya yang begitu mengasihinya.
Aluna tahu diri, statusnya hanyalah menumpang di rumah besar itu, maka Aluna berusaha melakukan sesuayu yang membuatnya sedikit nyaman, agar tidak terkesan merepotkan di keluarga Aditama.
"Walaupun suamimu sudah tidak ada, bukan berarti kamu jadi pembantu di rumah ini," suara berat itu begitu dekat di indera pendengaran Aluna.
Aluna menoleh dan ... Settt.
Bibirmya bertemu dengan pipi kiri lelaki yang berbicara padanya.
"Pa-papa ... mohon jangan begini," elak Aluna berusaha menjauhkan diri saat merasa gundukan padat berisinya diremas oleh Aditama, ayah dari Ryan, papa mertuanya.
Bukannya menjauh, lelaki itu malah mendekap tubuh Aluna lebih erat sambil terkekeh.
"Jangan sok jual mahal begitu, cantik. Kamu pasti haus belaian lelaki, bukan? Ryan sudah pergi satu bukan yang lalu dan sebelumnya dia sakit-sakitan selama 4 bulan, tentu tidak bisa menafkahi batinmu." Lelaki paruh baya itu membalikan badan Aluna sehingga mereka berhadapan sekarang. "Aku bisa memuaskanmu," bisik lelaki itu.
"Papa, tolong hentikan," mohon Aluna sambil meronta.
"Haha ... sudahlah, kamu tidak perlu mengambil tugas asisten di sini, karena aku bisa menjadikanmu nyonya rumah, jika bersedia menjadi istri ke duaku,."
"Tidak, aku tidak mau, Pa."
"Lho, kamu hanya mantan menantu, apa tujuanmu masih di sini kalau tidak karena ingin menggodaku, hm? Kalau kamu tidak mau jadi istri kedua, aku tidak keberatan jika kamu memilih jadi simpananku saja. Kamu manis, cantik, sexy ... pastinya lebih mampu memuaskanku ketimbang ibunya Ryan."
"Tidak, pa. Aku tidak mau. Pergi!"
"Hei, kamu nerani mengusirku dari rumahku sendiri?" Mata Aditama berkilat memancarkan kemarahan atas penolakan Aluna.
"Ada apa ribut-ribut?" Hardik nyonya Aditama yang sudah berada di area ruang makan.
"Eh ... ini, menantu kita, dia sedang berusaha menggodaku," adu Aditama sambil menaikkan kancing celananya dan berbalik.
"Dasar perempuan tidak tahu diuntung! Sudah bagus aku menampungmu di rumah ini, sekarang malah berani-beraninya menggoda suamiku yang adalah mantan mertuamu sendiri," luap nyonya Aditama marah.
"Ma-mama ... ini tidak seperti yang terlihat," Aluna membela diri.
"Tidak perlu! Kamu tidak bisa mengelabuiku, dasar perempuan nakal, angkat kaki dari rumahku!" Tegas nyonya Aditama yang langsung bergegas meninggalkan Aluna diikuti suaminya yang sempat mengedipkan sebelah matanya pada Aluna.
Aluna masuk ke kamar menyiapkan beberapa barang pribadinya, beberapa potong pakaian, foto dan dokumen pernikahannya dengan Ryan juga perhiasan dan sedikit uang peninggalan almarhum suaminya itu.
"Maafkan aku mas Ryan, bukannya aku tidak mau menjalani amanatmu untuk tetap berada di rumah ini, tapi, aku tidak mau jadi benalu di rumah ini hiks ... apalagi papamu bermaksud lain padaku, hiks," tangis Aluna semakin menjadi. "Mas aku janji akan selalu menjaga buah hati kita," gumam Aluna sambil mengelus perutnya yang mulai membuncit.
Meskipun tidak tahu bagaimana kehidupan di luar sana, tepat tenngah malam Aluna memilih melarikan diri dari rumah sejuta kenangan itu.