Siapa yang tidak akan marah, jika saat kembali ke kamarnya yang selalu terlihat rapih kini di lihatnya lagi dalam keadaan ruangan yang berantakan?
"Panggil semua pekerja yang ada di rumah ini!" titah Pram dengan wajah merah menahan amarah.
Semua pekerja berkimpul di depan kamar Pram, mereka menatap lantai, ngeei menghadapi bosnya yang dalam keadaan marah, pasti akan ada yang kehilangan pekerjaan, itu pikir mereka.
"Bi, jawab aku... siapa yang masuk ke kamar ku tadi?" tanya Pram dengan intonasi yang mereda.
"Emmm." bi Ijah ragu untuk mengatakannya.
"Katakan saja bi!"
"Nona muda, Tuan."
"Apa yang dia cari di kamar ku?" Pram bertanya atas sikap istri nya.
"Jepit rambut, Tuan."
""Dasar bocah nakal. Sekarang dia kemana?"
"Ada di ruang baca,.Tuan."
"Kalian, rapihkan kembali ruangan ini, jangan sampai ada debu yang tersisa, ingat itu!"
Pram pergi meninggalkan semua pekerja yang tampak pucat menghadapi kemarahan Pram.
Brak.
Pram mendorong keras pintu ruang baca, hingga membuat orang yang berada di dalam ruangan tersebut terhentak kaget.
"Pram, kau membuat ku kaget." ucap Mia.
"Kenapa ruangan ku berantakan?" Pram duduk di sisi istrinya.
"Aaah itu, aku mencari ini." Mia menunjuk jepit rambut yang terpasang di rambutnya.