Daniela terduduk tegab saat Danis menyusulnya duduk di sampingnya. Pemuda tanggung itu selalu saja menempel padanya semenjak pertama kali masuk sekolah ini. Apalagi mereka bertetangga sungguh dunia sangat sempit bagi gadis itu. Karena ada saja tingkahnya bahkan pernah suatu malam menyelinap masuk lewat jendela kamarnya.
"Kamu melarikan diri dari rumah ?" Pekikan Daniela mendengar suara lirih pemuda itu.
"Ya aku akan mandiri dan tak ada pengaruhnya juga bagi aku." Jawabnya sambil memainkan game.
"Apa kamu serius ?" Daniela masih terperangah.
"Iyalah. Malas saja tiap hari hanya sendiri." Jawabnya menatap gadis dihadapannya.
"Apa yang harus kujelaskan kepada paman ?"Tanyanya lagi.
"Jangan katakan apapun padanya." Lanjutnya.
"Tidaklah kau tahu itu sangat berbahaya untuk mu ?" Daniela berusaha memberikan saran.
" Aku anak laki-laki tenang saja." Jawabnya enteng.
"Bukannya begitu. Ini masalah besar." Gumamnya.
"Tenanglah semuanya akan baik-baik saja." Sekali lagi dia menegaskan.
"Kita masih anak-anak. Jadi bertindak sebagai usia kita saja. Jangan menambahkan masalah." Saran gadis itu lagi.
Pemuda tanggung itu hanya menatap kosong kedepan. Baginya ada tak ada orang tuanya tidak ada pengalaman baginya. Ia selalu sendiri dan melakukan apapun juga sendirian.
"Ayahku juga ayahmu juga. Kita kan selalu bersama. Ayolah jangan sampai nanti kamu menyesali keputusan ini." Gadis itu berusaha untuk membujuknya.
"Kalau kesepian datang ke rumah saja. Kita bisa sama-sama, mhm ?" Gadis itu menatap ke arahnya lagi. Ha, kenapa juga kamu membujuknya ? Toh jika dia tak ada tak akan ada yang menjahilimu. Batinnya bermonolog gadis itu bingung mesti bagaimana lagi. Disisi lain dia kesal karena Danis suka menjahili dia disisi lain dia menjadi pelindung dirinya karena tak ada yang memaksakan kehendaknya kepadanya. Seperti harus memberikan contekan sewaktu ulangan. Dan masih ada lagi. Tak ada lagi yang memanggilnya mata empat. Atau si kutub (kutu buku). Tetangganya itu tidak hanya tampan, namun juga pintar namun ia anak badung di sekolah. Sering ditegur guru karena kerapian, membolos kelas. Tidak mengumpulkan tugas. jika dia pergi maka akan kembali seperti semula dunianya nantinya.
Mereka terdiam. Pemuda itu hanya bermain game saja. Tanpa mengajaknya bicara sepatah kata pun. Dan fakta bahwa dia hanya duduk dan tak melakukan apapun. Dia bahkan juga tidak melakukan rencananya seperti yang dikatakan padanya siang tadi saat mereka di sekolah. Semuanya masih sama seperti kemarin. Dan gadis itu hanya menjalankan rutinitas sehari-hari secara umum bedanya sekarang ini dia selalu ditempel tetangganya yang badung.