"Aku bertemu denganmu itu takdir," ucap Joshua.
"Aku rasa tidak. Aku bertemu denganmu itu karena temanku," jawab Hana.
"Kita menikah itu juga takdir."
"Kita menikah karena aku mencintaimu."
"Apa kau benar-benar tidak percaya takdir?"
"Iya. Takdir bisa kita rubah jika kita menginginkannya."
"Seperti apa?"
"Jika kita miskin, kita bisa berusaha dengan bekerja keras dan tekun. Jika kita bodoh, kita bisa belajar dari buku, media atau orang lain."
"Itu memang betul. Tapi aku tetap percaya takdir."
"Dan aku tetap tidak percaya takdir."
"Walaupun kita sudah suami dan istri, kita boleh berbeda pendapat."
"Terima kasih, suamiku karena telah memahami diriku. Di dunia ini tidak ada orang yang lebih mengerti diriku melebihi diriku sendiri."
"Aku juga berterima kasih. Terima kasih karena telah menjadi istriku yang akan selalu menemani hari-hariku."