Jika dalam sekejap aku punya uang 200 miliar, aku akan mengubah hidupku menjadi lebih baik dari sekarang!
Aku akan membeli rumah yang layak, pakaian elegan, dan membangun panti asuhan untuk adik-adikku. Dengan uang itu, aku ingin makan enak dan hidup berkecukupan. Eh, tunggu sebentar!
Apa kalian berpikir aku ini gadis matre yang gila harta?
Hah! Buang jauh-jauh pikiran itu dari otak kalian. Aku bukan gadis yang seperti itu, kok.
Namaku Ellena Wardhana. Sejak kecil, aku tinggal di panti asuhan yang dikelola oleh Bunda Jen. Begitu kami memanggilnya. Bunda Jen menemukanku yang berumur satu tahun di depan panti dan merawatku sejak hari itu. Nama yang aku punya memang sudah ada sebelum Bunda Jen menemukanku. Dia bilang, ada kertas bertuliskan “Ellena Wardhana” di sebelahku waktu itu.
Aku memiliki kemampuan mengingat sesuatu dengan cepat. Karena kemampuan ini, aku bisa mendapat—hei, bukan ini yang mau aku ceritakan. Aku lanjutkan, ya.
Saat umurku 18 tahun, aku keluar dari panti asuhan. Aku merasa cukup telah membebani Bunda Jen. Maka dari itu, aku memutuskan untuk keluar dan hidup mandiri. Aku tinggal di sebuah kost-an yang jauh dari kata layak. Namun, apa dayaku? Dengan ekonomi terbatas yang aku miliki membuatku tidak bisa memilah-milah mana yang aku mau.
Yang penting punya tempat tinggal dulu. Layak atau tidaknya urusan belakangan.
Hidupku cukup berwarna selama dua tahun terakhir. Aku memilki Mas Rian, sosok lelaki yang mau menerimaku apa adanya. Dia baik sekali. Kadang, Mas Rian membantuku membayar tagihan kost, padahal aku tidak pernah memintanya melakukan itu.
Sayangnya, hidupku yang semula berwarna, kini berubah suram ketika Mama Mas Rian datang dan mengetahui hubunganku dengan putranya.
•••••
“Jadi, kamu berhubungan dengan gadis ini, Rian?” tanya Tante Rosa murka seraya menunjukku. Dia mama dari Mas Rian, kekasihku.
Mas Rian mengangguk. “Iya, Ma. Ini Ellen. Kami saling mencintai dan berniat untuk menikah,” katanya.
“Apa?! Menikah?! Dengan gadis miskin ini?!” teriak Tante Rosa.
“Ma, come on, aku tidak peduli soal itu. Ellen gadis yang baik dan lembut, sesuai dengan kriteria yang aku mau.” Mas Rian membelaku.
Sementara aku berdiri di belakang Mas Rian. Bukan atas keinginanku untuk bersembunyi di sana. Mas Rian-lah yang menarikku ke belakang tubuhnya, seolah ingin melindungiku dari amarah Tante Rosa. Padahal, aku juga ingin berjuang untuk hubungan kami.
“Tidak, Rian! Mama tidak akan pernah merestui kalian!” bentak Tante Rosa. Suaranya yang tinggi dan kencang menggelegar di kost-anku yang kecil ini. “Mama sudah memilihkan calon yang ‘lebih’ dari dia, Rian! Ayo kita pulang!”
“No, Mom. Aku tidak menyukai Renata. Aku mencintai Ellen.”
Mendengar semua pembelaan Mas Rian, rasanya aku ingin menangis kencang karena terharu di sini. Tidak pernah kurasakan cinta yang sebesar ini dari siapa pun. Hanya Mas Rian.
Aku menatap Tante Rosa tegar. Aku tidak ingin diam saja. “Tante, saya—”
“Stop it! Putraku menjadi pembangkang seperti ini karena ulah kamu, Gadis Miskin!” bentak Tante Rosa padaku.
Refleks aku memejamkan mata mendengar teriakannya. Tidak, El! Kamu bukan gadis lemah yang mudah tertindas. Kamu gadis yang kuat dan tahan banting!
“Ma!” seru Mas Rian.
“Rian, kamu pulang dengan Mama sekarang dan menikah dengan Renata atau Mama akan mencoret nama kamu dari KK!” ancam Tante Rosa tak main-main.
Aku bisa melihat bagaimana tubuh Mas Rian menegang. Namun, hanya beberapa detik. Ia meraih tanganku dan menggenggamnya erat. “Silakan saja, Ma. Aku tetap memilih Ellen.”
Bukan hanya Tante Rosa yang terkejut mendengar hal tersebut, namun juga diriku. Ini terlalu berlebihan, Mas. Aku tidak akan membiarkan Mas Rian-ku menderita hanya karena aku. Mungkin, memang aku-lah yang harus berkorban di sini.
“Mas,” panggilku lembut.
Mas Rian menoleh. Tatapannya melembut ketika ia melihatku. “Tenanglah, El. Aku sudah berjanji akan selalu bersamamu. Aku pasti menepati janji itu. Kita akan menikah, seperti yang kita impikan bersama.”
Demi Tuhan, hatiku menghangat mendengar kalimat Mas Rian. Bagaimana dia memperlakukanku, bagaimana dia menatapku, bagaimana dia menjagaku selama ini selalu membuat hatiku berdebar. Aku sangat mencintai lelaki ini. Sangat!
Sayangnya, takdir tidak berpihak kepada cinta kita, Mas.
“Pergilah, Mas,” pintaku.
Mas Rian terkejut mendengar perkataanku. Ia ingin protes, namun aku memotongnya dengan penjelasan. “Aku tidak mau Mas juga merasakan bagaimana hidup tanpa orang tua. Pergilah, Mas. Aku akan baik-baik saja.”
“Dengar, kan? Ayo kita pulang, Rian,” ajak Tante Rosa.
Mas Rian menatapku sendu. “Tapi, aku tidak bisa hidup tanpa kamu, Sayang. Aku akan meyakinkan Mama dan Papa. Tolong, percayalah padaku.”
Aku menggeleng pelan. Aku sangat mempercayaimu, Mas. “Tidak, Mas. Pergilah, aku akan baik-baik saja. Mungkin jodoh kita cuma sampai di sini,” kataku lagi.
Tante Rosa sepertinya jengah mendengar drama yang kulakukan bersama Mas Rian. Ia langsung menarik lengan Mas Rian, keluar dari kost-an dan masuk ke dalam mobil. Aku hanya bisa menatap nanar mobil yang semakin menjauh itu. Namun, inilah pilihanku. Lebih baik seperti ini bukan?
“Aku juga mencintaimu, Mas Rian. Semoga kita bertemu di lain waktu dengan cara yang lebih baik.”
•••••
Setelah kejadian hari itu, Tante Rosa mendatangiku. Ia memberiku uang—sekitar 2 juta—agar aku mau meninggalkan Kota Magelang. Aku menurut saja padanya. Mungkin dengan begini, aku bisa move on dari Mas Rian dan menjalani hidupku tanpa gangguan dari Tante Rosa.
Sudah satu bulan ini aku tinggal di Jakarta. Aku memilih kota ini karena ingin mengubah nasibku menjadi lebih baik. Hanya mengandalkan ijazah SMA dan kemampuan mengingat yang cepat membuatku sulit mendapat pekerjaan. Karena itulah, aku ingin sekali masuk kuliah dengan jalur beasiswa.
Memang tidak semudah itu, sih. Tapi, apa salahnya mencoba, kan?
Sudah kubilang! Aku ini gadis yang kuat dan tahan banting!
Akan kubuktikan pada semua orang bahwa gadis miskin sepertiku berhak bahagia.
•••••
“Ellen!”
“Iya, Kak! Sebentar!” balasku. Aku segera merapikan seragam dan menghadap seniorku. “Ada apa, Kak?”
“Tolong antarkan ini ke meja 6, ya. Uh, perutku mulas, nih.”
Aku terkekeh melihat ekspresi Kak Felin. Karena kasihan, aku mengiyakan permintaannya. Usai menerima nampan berisi pesanan meja nomor 6, Kak Felin langsung ngacir ke toilet. Aku hampir terbahak melihatnya.
Saat ini, aku bekerja part time di sebuah restoran ternama di Jakarta. Aku berhasil masuk ke sebuah universitas satu tahun lalu menggunakan beasiswa. Sayangnya, beasiswa tersebut hanya berlaku hingga 4 semester. Jadi, 4 semester sisanya harus aku biayai sendiri. Sekarang aku berada di semester 2.
Itulah mengapa aku harus bekerja. Aku ingin membiayai kuliahku dan mendapat predikat sarjana.
Ah, ya, kita kembali ke pesanan meja 6. Aku melangkah keluar ruangan menuju meja 6 dengan senyum ramah. “Halo, selamat siang. Ini pesanan Anda, Tuan, Nyonya.”
Meja 6 berisikan seorang lelaki muda, satu wanita, dan satu anak kecil. Hm, sepertinya mereka pasangan suami istri beserta anak mereka.
Ah, aku jadi teringat Mas Rian. Bagaimana kabarnya, ya?
“Iya, terima kas—”
Deg!
Napasku tercekat ketika mataku dan lelaki itu saling bersirobok. Bahkan, wanita yang berada di meja yang sama tak kalah terkejutnya. Suasana hening seketika. Sampai akhirnya, lelaki itu membuka suara.
“Ellen?” sebutnya.
Aku terpaku. “Anda.. tahu nama saya?”
Lelaki itu tersenyum lebar. Ia bangkit dari duduknya dan memelukku erat. Tunggu, tunggu! Ini kenapa?! Siapa lelaki ini?! Dan, KENAPA WAJAH LELAKI INI SANGAT MIRIP DENGANKU?!!
“Tu–Tuan, tolong lepaskan saya.” Aku berusaha mendorong tubuh lelaki itu menjauh dariku. Namun, sia-sia. Tenaganya terlalu kuat.
“Ellen, ini aku, Allan. Kamu tidak ingat?” ucap lelaki itu setelah melepas pelukan kami.
Wanita yang datang bersama lelaki bernama Allan ini tertawa kecil. “Mas, kamu dan Ellen terpisah sewaktu masih bayi. Bagaimana bisa dia mengingatmu?”
“Ah, iya, itu benar juga,” gumam Tuan Allan yang masih bisa kudengar. Ia kembali menatapku dengan senyum lebarnya. “El, ini aku, Allano Wardhana, saudara kembarmu!” serunya girang.
Mataku membulat kaget. “HAH?! APA?! SAUDARA KEMBAR?!” pekikku tak percaya.
Mendengar teriakanku, beberapa pengunjung yang ada di restoran nampak menoleh ke arahku. Aku tersenyum kikuk pada mereka dan meminta maaf. Aku menoleh kembali ke arah Tuan Allan. Lelaki itu tengah menahan tawa hingga sudut bibirnya berkedut. Aku melotot tak terima. Aku berteriak seperti tadi karena Anda, Tuan Allan!
“Mas Al, suruh adikmu untuk duduk dulu. Kita bicara baik-baik sambil makan, hm,” kata wanita yang kuyakini adalah istri si Allan ini.
Nah, kalau sambil makan, kan, enak. Soalnya, aku juga lapar, haha.
Tuan Allan mempersilakanku untuk bergabung. Aku menurut padanya karena aku juga penasaran dengan lelaki ini. Masa iya dia saudara kembarku? Kok, aku tidak tahu? Bunda Jen tahu tidak, ya?
“Baiklah, sebelum Kakak bercerita, Kakak perkenalkan dulu, ya. Ini Arin, istri Kakak, dan Vano, anak kami. Umurnya 7 bulan,” ucap Tuan Allan.
Nah, kan! Mereka benar-benar suami istri! Dan, ya ampun! Si Vano ini menggemaskan sekali, sih.
“Dulu, Mama menitipkan kita pada pengasuh waktu umur kita satu tahun, El. Sayangnya, pengasuh itu malah membawamu kabur dan tidak pernah kembali. Sedangkan aku dirawat oleh suami pengasuh itu.” Tuan Allan mulai bercerita. “Mama Papa terpaksa menitipkan kita karena rumah kita sedang diserang, El.”
Aku terkejut. Diserang? Memangnya ini masih zaman perang?
“Diserang?” ulangku tak paham.
Tuan Allan tersenyum. “Ya, diserang. Papa memiliki perusahaan besar di bidang industri dan pariwisata. Kesuksesan Papa membuat beberapa pihak iri. Jadi, beberapa dari mereka nekat menyerang keluarga kita,” jelasnya.
Aku manggut-manggut. Persaingan bisnis rupanya.
“Kami mencarimu ke mana-mana, El. Suami pengasuh itu juga tidak tahu ke mana istrinya pergi. Istrinya pergi dengan membawa semua tabungan mereka. Informasi terakhir yang kami dapat adalah.. pengasuh itu terakhir terlihat berada di Magelang.” Tuan Allan menatapku lekat. “Apa kamu ada di sana?”
Aku mengangguk. “Aku diasuh di panti asuhan di Magelang, Tu—”
“Apa-apaan kamu memanggilku dengan sebutan itu?! Panggil aku Kakak! Aku lima menit lebih tua darimu!” protes Tuan Allan.
Aku tertawa pelan. Ternyata kami hanya berbeda lima menit? Tapi, melihat ekspresi seriusnya yang ingin sekali dipanggil kakak membuatnya terlihat lucu.
“Iya, Kak Allan.”
•••••
Begitulah cara Tuhan mengubah hidupku. Hanya dengan satu insiden, hidupku berubah total!
Aku yang semula tinggal di kost yang tak layak tinggal, kini tinggal di rumah besar yang mewahnya sudah seperti istana. Wah, aku terkagum-kagum melihat rumah ini.
Sayangnya, Mama dan Papaku sudah meninggal empat tahun lalu karena sakit. Aku menyesal tidak bisa bertemu dengan mereka untuk menunjukkan baktiku. Kak Allan dan Kak Arin mengajakku ke makam Mama Papa. Aku hampir menangis di sana. Tetapi, aku menahannya. Aku ingin menyapa Mama Papa dengan senyuman, bukan air mata.
Dua tahun berlalu dengan cepat. Sekarang aku sudah menjadi sarjana di jurusan IT. Kemampuanku dalam mengingat benar-benar dibutuhkan di sana, jadi aku mengambil jurusan itu.
Hari ini aku dan kakakku berkunjung ke Magelang. Kak Allan ingin bertemu dengan Bunda Jen untuk berterima kasih. Dan, aku juga ingin tahu soal Mas Rian. Apa dia baik-baik saja, ya? Semoga, sih.
“Tidak apa-apa, Nak Allan. Bunda ikhlas merawat Nak Ellen. Dia anak yang baik,” ucap Bunda Jen lembut, seperti biasa.
Sebagai bukti rasa terima kasih Kak Allan, dia merenovasi besar-besaran panti asuhan yang dikelola oleh Bunda Jen. Kak Allan juga mendaftarkan diri menjadi donatur tetap di sana. Aku bahagia sekali mendengarnya. Impianku terwujud berkat Kak Allan.
Usai dari panti asuhan, aku pamit sebentar untuk pergi ke suatu tempat. Kak Allan mengizinkan. Aku pergi ke rumah Mas Rian dengan supir. Rasanya jantungku berdebar karena tak sabar dengan pertemuan ini. Pasti Mas Rian semakin tampan, kan?
Aku turun dari mobil setibanya di rumah Mas Rian. Melihat pemandangan di depan, mataku terbelalak. Aku menyaksikan Mas Rian tengah.. MENYAPU HALAMAN RUMAH DENGAN PAKAIAN KUCEL!
Apa yang terjadi di sini sebenarnya?
Aku mendekati sosok yang berdiri membelakangiku itu. “Mas Rian,” panggilku.
Mas Rian berbalik. Ia terkejut melihatku. Matanya berkaca-kaca seketika. Sorot penuh kerinduan terpancar dari matanya. “El, ini kamu?”
Aku mengangguk. “Ini Ellen, Mas. Mas kenapa jadi seperti ini?” tanyaku seraya mengusap rahangnya.
Ia menghela napas berat. Tangannya menggenggam erat tanganku yang berada di pipinya. “Aku menolak untuk menikah dengan Renata, El. Mereka marah. Tiba-tiba Papa Renata datang dan menunjukkan bahwa rumah dan perusahaan kami telah berpindah kuasa. Ternyata, Papa Renata menjebak Mama untuk mendapatkan tanda tangan di surat kuasa tersebut. Aku sekarang hanya...” Mas Rian menatap penampilannya yang kucel dan tersenyum miris. Lalu ia menatapku teduh, sama seperti dulu. “Syukurlah, kamu hidup dengan baik, El.”
“Lalu... Tante Rosa?”
“Mama meninggal karena serangan jantung, El.”
“Astaga,” gumamku prihatin. “Papa Mas?”
Mas Rian tersenyum. “Jadi karyawan biasa di perusahaan.”
Aku menatapnya sendu. Kupikir, Mas Rian hidup baik selama tiga tahun ini. Ternyata sebaliknya. Hidupnya hancur. Apalagi Tante Rosa. Aku belum sempat minta maaf padanya.
“Kenapa Mas tidak terima saja, sih, pernikahannya? Kalau Mas terima, mungkin tidak akan seperti ini,” ucapku kesal. Aku berkorban agar melihatmu bahagia, Mas. Bukan seperti ini.
Mas Rian menggeleng. “Aku tidak mau menikah dengan gadis yang tidak aku cintai, El.”
Ah, kata-kata itu. Sial, hatiku berdebar senang mendengarnya.
“Mas, aku—”
“Hei, kamu! Siapa kamu di rumahku ini?”
Aku dan Mas Rian menoleh ke asal suara. Seorang gadis berpakaian glamour berdiri di dekat gerbang. Di belakangnya ada sosok pria yang aku tahu bernama Om Reza, Papa Mas Rian. Gadis itu berjalan mendekat hingga berdiri di hadapanku dan Mas Rian.
Baru saja aku ingin mengucapkan sesuatu, Mas Rian menarikku ke belakang tubuhnya. Sama seperti tiga tahun dulu, dia masih melindungiku dengan caranya. Ya ampun, jadi pengen peluk, deh.
“Bukan siapa-siapa, Ta,” kata Mas Rian.
Ta? Renata? Jadi ini Renata?
Renata menatap Mas Rian tajam. “Berani sekali kamu menyebut namaku seperti itu.”
Mas Rian menunduk hormat. “Maaf, Nyonya.”
“Hei, Gadis Tengik, siapa kamu? Untuk apa kamu datang kemari?” tanya Renata angkuh.
Mataku terbelalak. “Hei!” seruku tak terima. “Kata-katamu perlu diperbaiki, Nona. Tidak sopan sekali, sih.”
Renata mendelik ke arahku. “Kamu!”
“Stop! Aku ke sini untuk membawa Mas Rian pergi, bukan untuk berdebat denganmu,” kataku. Aku berdiri di sebelah Mas Rian dan menggenggam tangannya. “Mas mau, kan, ikut aku?”
“Ke mana, El?” tanyanya.
“El? Oh, ini Ellena, gadis yang selalu kamu sebut-sebut itu, Rian?” ketus Renata. Ia menatapku sinis, meneliti penampilanku. “Gadis miskin ini?” ejeknya.
Hah.. julukan itu lagi. Aku bosan mendengarnya.
Aku memang terbiasa hidup sederhana, jadi pakaian yang aku pakai memang tidak menunjukkan kemewahan sama sekali. Tapi, Kak Allan malah bangga, kok.
Aku memilih untuk tidak menghiraukan perkataan Renata. “Ke rumahku, Mas, di Jakarta. Om Reza juga ikut, kok.”
“Kamu yakin, El?” tanya Mas Rian ragu. “Aku nggak mau kamu terbebani karena kehadiranku sama Papa.”
“Sama sekali nggak, Mas. Aku senang, kok, ka—”
“Aku tidak mengizinkannya!” seru Renata emosi. “Rian dan Om Reza adalah karyawanku. Aku sudah membeli mereka!”
“Membeli?” ulangku tak mengerti.
Mas Rian menghela napas. “Setelah rumah dan perusahaan menjadi milik mereka, aku, Papa, dan Mama hidup di jalanan, El. Sampai akhirnya, Renata dan keluarganya memberi kami 200 miliar dengan syarat kami harus menjadi budak mereka. Mama setuju waktu itu,” jelasnya.
Aku menggeleng pelan, prihatin dengan kondisi keluarga Mas Rian. “Akan kukembalikan!” seruku tanpa ragu.
Renata tertawa remeh. “Dari mana kamu punya uang sebanyak itu, heh?”
“Tentu saja dia punya!”
Hei, bukan aku yang mengatakan itu.
Dari arah gerbang, aku melihat Kak Allan tengah
menggendong Vano di sana. Haish.. dia memang penyelamatku.
“Ellena Wardhana adalah pewaris sah harta keluarga Wardhana, keluarga paling kaya di negara ini,” seru Kak Allan. Ia melangkah lebih dekat dan berdiri di sampingku. “Atas dasar apa kamu mengatainya seperti itu, Nona Renata?” sarkasnya.
Mas Rian terkejut melihat Kak Allan. Mungkin heran dengan wajah kami yang memiliki kemiripan 95%.
Kak Allan memanggil seseorang dengan ponselnya. Mobil hitam tiba di depan gerbang. Sosok manusia tampan lainnya datang dengan tas besar. “Beri uang itu padanya!” suruh Kak Allan.
Manusia tampan tadi memberikan tas besar itu kepada Renata. Renata mengambilnya dengan ragu dan membuka isinya. Matanya terbelalak ketika melihat tumpukan uang berwarna merah di dalamnya. “I–ini—”
“Ayo pulang, Dek,” ajak Kak Allan.
Aku tersenyum lebar. Kepalaku menoleh ke arah Mas Rian. “Ayo ikut, Mas. Mas tidak mau menepati janji Mas?”
Mas Rian tertawa renyah. Ia mengangguk pelan dan balas menggenggam tanganku erat. Aku dan Kak Allan berhasil membawa Mas Rian dan Om Reza pergi dari sana.
Setelah itu apa yang terjadi? Aku yakin kalian tahu.
Aku dan Mas Rian menikah tentunya. Kak Allan meminta Mas Rian untuk mengelola perusahaan cabang milik keluarga Wardhana. Om Reza juga ikut bahagia melihat kami. Memang sejak awal hanya Om Reza yang setuju dengan hubunganku dan Mas Rian.
Eh, sebentar. Bukan Om Reza, tapi Papa Reza.
Kisahku berakhir bahagia. Benar kata Bunda Jen.
“Hidup seseorang akan berakhir indah pada waktunya. Kita hanya perlu berusaha untuk bertahan dan tidak menyerah.”
–End–