"Jika dalam sekejap aku punya uang 200 miliar, apa yang akan terjadi pada diriku nak?" Manan bertanya lekat-lekat kepada salah satu dari tiga anak pamannya yang kini berada dihadapannya.
Fauzan terdiam, dia tidak menjawabnya selain hanya mendongakkan kepalanya menatap birunya langit.
Manan menatap sepupunya dengan sedikit berharap jika kepoakannya itu segera memberikan jawaban.
Tiba-tiba Fauzan menatapnya, dia mulai membuka mulutnya. Manan memperhatikannya.
"Seandainya tuhan menakdirkan engkau mempunyai kekayaan seperti itu, pasti tuhan sedang mengujimu" Fauzan berhenti berbicara sebelum kembali melanjutkan ucapannya.
"Tidak ada kekayaan tanpa usaha, semakin mulia seseorang semakin besar usaha yang harus diraih oleh dia, jika engkau wahai sang paman bertanya kepadaku......."
Manan menghentikan ucapannya lalu menarik nafas pelan kemudian menghembuskannya lewat mulut.
"Maka pasti kau akan di uji dengan pertama ujian dunia, ujian pertama ini bertujuan untuk mengetes engkau wahai paman apakah engkau pantas mendapatkan harta dunia sebanyak 200 miliar tersebut"
Pamannya memperhatika ucapan Fauzan dengan seksama, dia tahu sebab Fauzan bukan orang sembarangan maka dia meminta pendapatnya. Karena sungguh sekarang atau mungkin sebelumnya Fauzan merupakan seseorang yang ahli dalam agama.
Fauzan kembali mengangkat suaranya.
"Mungkin paman boleh berharap andai ataupun berharap dengan angan-angan paman memiliki uang 200 miliar dengan persyaratan yang kedua"
Fauzan memegang erat-erat tangan paman sebelum kembali melepaskannya.
Manan sang pamannya itu mmengangat kepalanya.. berusaha memahami kalimat yang akan diucapkan oleh keponakannya.
"Paman berusaha lah bekerja sekeras mungkin di dunia, jangan lupa bermimpi sebab mimpi itu gratis. Lalu tantangan selanjutnya adalah engkau harus bisa memepertahankan harta tersebut"
Pamannya terheran "Memang nya harta itu bisa di pertahankan? bukannya harta dunia lambat laun termakan waktu akan segera sirna"
Mata Fauzan berubah serius lalu melanjutkan perkataannya "Tentu bisa, dan tidak semua orang bisa melakukannya....."
Fauzan meneguk ludahnya lalu kembali memberikan pencerahan "Pertama dengan cara bersedekah, apa engkau tahu manfaat sedekah tidak hanya mengurang harta jika dipikir secara logis"
Manan menggeleng pelan, Sementara Fauzan tersenyum "Jika kamu pikir lagi mensedekahkan harta kita juga tidak membuat kita semakin miskin, justru membuat kita tidak bisa menjadi miskin sebab, ketika engkau menolong seseorang dengan uang mu lalu kamu jatuh miskin maka orang yang pernah kamu tolong akan iba. Dan semakin banyak orang yang kamu tolong maka sebanyak itulah orang yang akan menolongmu di masa depan"
Setelah mendengarkan hal itu pamannya termenung. Fauzan bangkit lalu membalikkan badan, sebelum dia pergi dia menoleh kearah pamannya yang sekarang termenung
"Tapi alangkah baiknya seperti perkataan pamannya tadi yaitu, harta akan segera sirna, uang 200 miliar akan segera lenyap.. Tapi lebih baik paman melupakan tentang mempunyai impian punya uang 200 miliar semakin banyak paman mempunyai teman bermuka dua, dan kelak semuanya itu alias harta paman akan dipertanggung jawabkan kelak di akhirat"
Fauzan lalu pergi dari tempat itu, meninggalkan pamannya yang terdiam dan tidak bisa berkata-kata.
Manan kemudian berpikir "Bukankah hanya dengan sholat 2 rakaat sebelum fajar lebih baik dari pada mempunyai dunia dan seisinya?"