Ini kisah flash-back, peristiwa yang dialami Irma sesaat setelah ditinggal Weli yang bersekolah ke lembah Manglayang, Jatinangor. Biar kita bisa sedikit lebih paham latar belakang perubahan sosok Irma, yang dari anak baik-baik jadi aga sedikit terganggu jiwanya. Harap menggunakan kedewasaan juga dalam membaca cerita ini dan semoga tetap enjoy ya guys..
***
Sebesar apapun rindu ini, aku tetap menahan diri untuk menghubungi Weli. Aku mau menuruti saran teman-teman untuk menghukum Weli dengan menjauhinya beberapa saat, walau kini terasa seperti aku yang sedang dihukum. Teman-teman bilang, aku terlalu murahan di mata Weli, terlalu menuruti dan memaklumi apapun yang Weli inginkan. Bahwa aku perlu memberikan Weli pelajaran, mengingatkannya kalau aku bukanlah perempuan murahan yang mau saja menerima diperlakukan sesuka hatinya Weli. Aku mengikuti saran mereka dan di sinilah aku berada. Di atap rumah sepupuku yang berada di tengah-tengah perkebunan yang luas, yang konon sudah ada sejak jaman Hindia Belanda duluk, di bagian selatan kota Banyuwangi.
Aku duduk di genteng sambil memandangi langit yang luas berhias bintang-bintang.
Ketika terdengar suara dari arah samping, aku mendapati sepupuku yang sepuluh tahun lebih tua dari diriku sedang menatapku dengan pandangan yang sulit dimengerti artinya. Aku hanya tersenyum dan dia bergerak mendekat sambil membawa semacam kemenyan berbau harum di tangannya dan meletakkannya pada buku genteng, lalu duduk di sebelahku tanpa suara, sontak suasana sekitarku semakin terasa magis dan hening.
Tiba-tiba aku merasa agak kegerahan, tanpa sadar aku membuka sweter yang ku gunakan, padahal udara tetap dingin seperti sebelumnya. Ada semacam desakan pada diri ini yang sulit ku jelaskan, namun aku semakin mendekatkan tubuh ini ke arah sepupuku.
Sepupuku pun melingkarkan tangannya ke bahuku yang kini hanya menggunakan kaos oblong tanpa lengan. Kami masih duduk bersebalahan dan sama-sama memandang ke arah langit, namun tangan kanannya mulai membelai bahuku lembut. Ketika tangan kirinya mulai meraba pahaku yang berselimut celana jeans, aku menepisnya halus, namun ia justru menggenggam tanganku itu dan memposisikan duduknya ke belakangku. Kini punggungku melekat di bagian depan tubuhnya, dadanya terasa kokoh dan sesuatu seperti terasa mengeras di bagian bawah tubuhnya.
Aku tetap diam dan menikmati keindahan langit ketika tangannya mulai menyusup ke dalam kaosku, membelai kulit perutku dan semakin naik ke arah payudaraku.
Hembusan nafasnya mulai ku rasakan di tengkuk ini. Namun aku tetap diam seperti tersihir dan terlalu malas untuk menggerakkan badan.
Jauh di dalam pikiranku ada sesuatu yang mengingatkan kalau yang sepupuku lakukan padaku ini adalah hal yang tidak baik dan aku seharusnya memberontak. Tapi seperti sedang mengalami kram otak, aku hanya tetap terfokus pada pemandangan langit yang kini seakan bintang-bintang itu memperlihatkan gambar dua sejoli sedang berciuman memadu kasih.
Ketika kedua tangan sepupuku terasa meremas kedua payudaraku tanpa penghalang apapun, aku hanya bisa melenguh dan menikmati. Ciuman-ciuman sepupuku di tengkuk ini juga semakin menambah kenikmatan yang ku rasakan. Aku memang belum pernah bermesraan seperti ini dengan lawan jenis. Laki-laki yang pernah ku kenal dekat hanya Weli, namun kami hanya pernah berciuman sekali dan bergandengan tangan dalam beberapa kali kesempatan langka. Namun sepupu yang baru 3 hari ini aku kunjungi rumahnya ini mampu memberikan rasa mesra dan seakan dibutuhkan seperti ini. Hal yang baru kali ini ku alami dan aku ingin merasakannya lebih dan lebih lagi.
Tanpa ku sadari, tangan sepupuku kini mulai bergerak ke arah bawah. Ia membuka kancing dan risleting celana jeansku dengan perlahan. Lalu menyentuh bagian sensitifku dan membelainya, mulai dengan gerakan lambat dan semakin cepat yang semakin memacu andrenalin dan pelepasan ormone oksitosin dalam diri ini. Ya ampyun aku mengerang dan bertanya-tanya apakah ini yang disebut sebagai orgasme?
Lalu ia menarik tubuhku ke atas dan seketika aku telah berada dalam pangkuannya. Dengan pakaian atas tertarik ke arah dada atas dan celana jeans (juga celana dalam) yang telah terlepas di bagian kanan. Tangan kirinya memeluk tubuh atasku dan telapaknya masih meremas payudara kiriku, sementara tangan kanannya berada di bagian bawahku, masih membelai dan sesekali memasukkan jarinya ke dalam area sensitifku. Dengan bodoh aku hanya memandangi wajah kerasnya dan menerima saja ciuman dan pagutan dari bibir dan mulutnya, lidahnya bergerak lincah menjilat dan menghisap sekujur kulitku, mulai dari wajah, payudara, perut dan bahkan daerah sensitif itu, membuatku menggelanyar dan ingin merasakan lagi dan lagi. Inikah namanya desakan gairah, entahlah batinku berdialog sendiri.
Akhirnya sepupuku melepaskan tubuhku, namun hanya sesaat dan bukan untuk mengakhiri siksaan nikmatnya, namun hanya untuk membuka celananya dan memasukkan benda tumpul miliknya itu ke daerah sensitifku, hentakan pada awalnya terasa nyeri namun pergerakannya yang berulang keluar dan masuk itu membuatku dan sepupuku tersebut mendesah penuh kenikmatan, sampai akhirnya kepuasan itu tereguk bersama dan kami terkulai di atas genteng ini.
Entah berapa lama aku tidak sadarkan diri. Namun ketika membuka mata ini, bintang-bintang sudah tidak lagi menghiasi langit dan aku kembali sendiri dengan pakaian yang sudah lengkap terpakai. Hanya nyeri di bagian bawah tubuh ini yang menguatkan dugaanku bahwa apa yang baru saja terjadi bukan mimpi semata.
Akal sehat menyentak di depan mataku. Tulang punggung ini menegak menjadi garis kaku dan aku bergegas turun mencari sepupu bajingan-ku itu untuk minta penjelasan dan pertanggungjawaban. Bukan ini yang diharapkan orang tuaku ketika menitipkan diriku ke tangan sepupuku ini. Mereka hanya ingin aku menenangkan diri dan secara logis mempertimbangkan untuk menentukan akan melanjutkan sekolah ke mana pasca ditinggal Weli. Aku tidak menyangka akan mengalami apa yang baru saja aku alami. Bukannya merasa terlindungi, aku merasa sedang dimanfaatkan. Ini seperti pagar makan tanaman.
“Hei apa yang baru saja terjadi?” ujarku ke arahnya, yang tampak sedang menambahkan beberapa bahan dan membakar kembali kemenyan dari atas genteng tadi.
“Apa? Kalau saya dapat memuaskanmu dan kamu terkejut karenanya? Mau lagi?” tanyanya dengan senyum lembut yang mengingatkanku terhadap sosok malaikat iblis. Namun otakku kembali kram dan tidak bisa berpikir secara logis lagi ketika menghirup aroma dari kemenyan itu. Dan ketika tubuh sepupuku kembali mendekat dan mencopoti pakaianku satu demi satu, aku hanya menurut dan mengikuti permainannya, walau kini tidak ada lagi bintang yang bisa ditatap seperti waktu di atas atap tadi.
***