Jika dalam sekejap aku mendapatkan uang 200 miliar...
Malam yang tenang menemani Fani diperjalanan menuju kosan sepulang kerja. Rambut kepang yang tertata rapi pagi tadi kini sudah berantakan.
Fani telah sampai di kosannya yang hanya kuat untuk satu orang. Mendudukkan diri dikasir lantai yang bahkan hampir tidak terasa busanya.
"Hah!" helanya.
"Andai aku punya banyak uang, aku bisa membeli rumah yang nyaman, kendaraan yang memudahkan aku dan usaha sendiri serta pakaian yang lebih banyak," keluhnya dengan bergumam.
Fani yang kelelahan kini tertidur dengan tanpa membersihkan diri sebelumnya.
Pagi telah tiba Fani bangun dan segera menyiapkan diri untuk kembali bekerja dan sebelumnya berniat untuk mencari makan guna mengganjal perutnya yang berbunyi.
Fani dengan rambut kepang khasnya kembali menyusuri trotoar untuk kesekian kalinya. Fani bukannya tidak bisa menaiki angkutan umum namun dirinya berpikir agar lebih baik menyimpan uangnya dari pada menggunakan angkutan umum untuk jarak yang tidak jauh.
Dari belakang tiba-tiba seseorang menarik dirinya dan mengangkatnya seperti mengangkat beras. Dipanggul. Fani tersadar dari rasa kagetnya lantas berteriak sekencang-kencangnya.
"Hei! Siapa kamu!?" teriaknya dengan menendang-nendangkan kakinya serta memukul punggung orang itu dengan kepalan tangannya.
"Lepaskan aku! Tolong!"
"Tolong aku!" teriaknya terus-menerus. Namun, tak seorangpun menghiraukan itu.
Fani kini didudukkan dikursi penumpang sebuah mobil. Fani berusaha keluar dari mobil itu namun dirinya tidak bisa.
Orang-orang yang menculiknya berjumlah 4 orang dengan topeng yang menutupi wajah mereka.
"Apa masalah kalian denganku, heh!?"
"Aku tidak punya utang dengan siapapun!"
"Lepaskan aku!" teriaknya terus-menerus namun keempat orang itu hanya diam.
Mobil itu kini berhenti disebuah mansion mewah dan megah bergaya Eropa. Fani sejenak terperangah sebelum akhirnya tersadar.
Fani yang diseret untuk masuk berusaha melepaskan cekalan tangan itu.
"Lepas! Lepaskan aku!" berontaknya.
Krak
Krak
Dua kali injakan Fani berikan pada kaki kana dan kiri dua orang yang memegangi dirinya tadi. Fani berlari sekuat mungkin menjauh dari kejaran orang-orang aneh itu. Dirinya terus berlari hingga tanpa sadar kini berada diare taman belakang mansion itu.
"Aku akan menikah dengan dia!" teriakan seseorang membuat Fani berhenti dan terdiam.
Apa ini!?, batinnya.
Seseorang tadi yang tentunya laki-laki menggaet tangan Fani dan menyeretnya menuju area pernikahan.
"Ed! Apa-apaan kamu ini! Kamu harusnya menikah dengan aku!" teriak perempuan yang memakai gaun pengantin tak terima.
"Ed! Siapa dia?" tanya laki-laki paruh baya.
Tak memperdulikan orang-orang yang berteriak tak terima pernikahan terus dilanjutkan dengan Fani dan laki-laki yang dipanggil Ed.
"Jon! Bubarkan semuanya!" perintah Ed mutlak.
Pernikahan telah usai dan tamu-tamu menjadi urusan Jons pengawal pribadi Ed. Ed pergi dengan menggeret tangan Fani yang masih belum sadar untuk menuju kamar miliknya.
Mereka telah sampai dikamar Ed.
Cup
Sebuah kecupan mendarat dibibir Fani dan menyadarkannya dari lamunannya tadi. Ed pergi berlalu dari hadapan Fani.
"Apa maksudnya ini!?" tanya Fani.
"Kau istriku," ucap Ed tanpa beban.
"Tidak! Aku bukan istrimu!"
"Kau istriku."
"Kita baru saja menikah kau lupa?" tanyanya setelah kembali berdiri dihadapan Fani dengan membawa sebuah kertas cek bernominal Rp.200.000.000.000,00.
"Apa maksud dari cek ini?"
"Kau jadi istriku dan terima cek itu."
"Aku tidak mau!"
"Ini sangat mudah Fani. Kau cukup berakting menjadi istriku didepan umum dan tentunya ketika bersamaku selain itu kau bebas melakukan apapun dengan uang itu atau kalau kurang kau bisa memintanya."
Ucapan Ed terdengar sangat menggiurkan bagi Fani.
Uang sebanyak ini dan kau kehilangan kebebasanmu? atau kembali sengsara?, tanyanya dibatin.
"Aku tau kau sangat tergiur dengan cek itu. Terima saja, bukankah ini sangat mudah?"
"Hanya dihadapan umum, oke aku menerimanya," ucapan Fani mengundang senyum penuh makna dibibir Ed.
"Oke deal?" tanya Ed dengan menjulurkan tangan kanannya.
"Deal!" ucap Fani dengan menjabat tangan Ed.
Fani memang terdengar seperti perempuan matre, namun siapa peduli ini hubungan mutualisme bukan?.
Cup
Kecupan kembali mendarat dibibir Fani. "Welcome Fani," ucap Ed lalu pergi menuju kamar mandi.
"Mesum!" geram Fani.
Hari ini berjalan dengan lancar semuanya baik sesuai dengan perjanjian tadi namun sedikit masalah untuk tempat tidur. Bukankah pernikahan ini sebut saja dengan pernikahan kontrak hanya bersifat sementara? Lalu mereka harus tidur diranjang yang sama sebagai orang yang baru kenal? Namun, Ed menutup perdebatan itu dengan memilih tidur disofa yang cukup luas. Fani yang melihat itu hanya acuh.
Pagi telah tiba dan Ed sudah tidak ada dikamar, Fani keluar dengan pakaian biasa yang tersedia dikamar itu lalu pergi untuk sarapan. Maid disana memberitahu bahwa Ed ada urusan mendadak dan Fani hanya mengangguk.
Fani telah selesai dengan urusannya lalu pergi keluar untuk mencairkan cek miliknya dan melakukan segala hal yang sudah dibayangkan sejak dulu.
Membeli rumah, mobil, membangun usaha sendiri dan berbelanja untuk kebutuhan Fani lakukan.