~ "Pacarku Bukan Manusia" ~
"Mayra, sudah Mama bilang, 'kan? Jangan melukis manusia dengan tubuh sempurna!" Suara keras dari arah pintu, mengagetkan seorang gadis berambut hitam sebahu. Sebuah palet warna dan kuas jatuh ke lantai. Membuat isinya menciprat ke mana-mana.
"Memang kenapa, Ma?"
"Kalau mereka hidup, bagaimana?"
"Nggak masalah kok, Ma. Ntar biar jadi cowoknya Mayra." Gadis muda tadi tersenyum, lalu berjongkok. Ia memunguti barang yang terjatuh tadi.
Sedangkan di sisi lain, sang ibu mengamati lukisan putrinya. Sejenak, wanita paruh baya itu bergidik.
"Mama merasa aneh dengan lukisan ini, May. Benar-benar seperti hidup. Siapa modelnya?"
"Entah, Ma. May nemu di alam mimpi."
Mayra meletakkan palet dan kuas miliknya di meja, lalu mengelap tangan dengan celemek yang menempel di tubuh. Beberapa menit kemudian, tangan berjari lentik itu membetulkan ikatan rambut.
"Ngawur aja kalo ngejawab. Apa ada pameran lagi?"
Mayra mengangguk.
"Tapi sayang, Ma. Kalo May pamerin lukisan ini. Ntar kalo ada yang naksir dan beli, gimana?"
Sang ibu menggelengkan kepala sambil berdecak.
"Ya nggak apa-apa, minta harga yang mahal, gitu."
Kemudian wanita berdaster tadi keluar dari ruangan penuh lukisan tersebut. Sebuah galeri kecil.
"Jangan lupa makan siang, May!" Teriakan lembut terdengar dari luar ruangan.
Mayra mengamati lukisannya tadi. Seorang laki-laki berkulit cerah, bola mata berwarna madu dengan rambut hitam kelam. Perempuan muda itu berdecak kagum. Entah kenapa, ia benar-benar tidak menyangka hasil karyanya kali ini di luar ekspektasi. Jemari gadis berusia dua puluhan tadi mengelus wajah pria yang ada dalam lukisan.
"Seandainya kamu hidup, aku tentu mau jadi kekasihmu!" ungkap Mayra penuh ketulusan dan kekaguman. Kemudian, ia keluar dari ruangan.
Saat malam tiba, Mayra mengerjakan beberapa tugas kuliah. Kemudian ia berjalan masuk ke ruangan galerinya. Bermaksud menyelesaikan beberapa lukisan, tetapi kantuk mulai menyerang. Gadis bertubuh semampai itu duduk di sebuah sofa. Matanya mengamati lukisan-lukisan di sekeliling. Sesaat kemudian, ia merosot dari duduknya dan tertidur.
Sebuah tepukan halus di pipi, membangunkan Mayra. Gadis itu terperanjat saat melihat seorang laki-laki berjongkok di hadapannya. Senyum merekah di bibir sosok tadi.
"Hai, mau jadi pacarku?" Pria dengan bola mata berwarna madu tadi mengedipkan sebelah mata. Menggoda.
Alis Mayra bertaut, mulutnya terbuka lebar. Tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Kepala gadis itu menengok ke arah sebuah kanvas berbingkai. Kosong, di sana hanya ada gambar ruangan perpustakaan.
"Ba—bagaimana mungkin?" Jemari Mayra mengelus wajah di hadapannya, lalu mencubit di hidung.
"Aw!" Teriak laki-laki tadi.
"Gilaaaaa! Ini benar-benar ... apa aku sudah gila?" Sekarang gadis itu pun mulai mencubiti pipinya sendiri. Kemudian mengaduh.
"Ayo, ikut aku!" Laki-laki tadi berdiri dengan gerakan cepat lalu menarik tangan Mayra. Ia berjalan ke arah kanvas bergambar perpustakaan tadi. Tangannya masih menggandeng tangan Mayra.
Mayra semakin terkejut saat melihat laki-laki itu masuk ke dalam lukisan kembali. Seperti ada lubang di sana. Gadis tersebut tertegun. Langkahnya terhenti.
"Kenapa? Ayo, ikut aku! Aku tidak akan mencelakaimu." Senyum kembali terulas di bibir laki-laki tadi.
Betapa takjubnya Mayra saat masuk ke dalam kanvas. Ia melihat sebuah ruangan bergaya klasik dengan rak buku yang antik. Ratusan buku dengan berbagai ukuran tertata dengan rapi. Ruangannya begitu luas, tetapi sepi.
Tak hanya itu, sosok laki-laki tadi mengajak Mayra keluar dari ruangan tersebut. Yang merupakan bagian dari sebuah bangunan.
Rumah-rumah bergaya eropa kuno berjejer dengan elegan. Pria maupun wanita berpakaian gaya abad 15-an berseliweran di jalanan.
"Dimana aku?" tanya Mayra.
"Selamat datang di duniaku, Nona cantik. Aku, Daniel. Si Pustakawan tampan. Seperti nama yang kamu berikan kepadaku. Tanyakan apa saja padaku, aku akan menjawabnya."
Berjam-jam Mayra menghabiskan waktu di dunia antah-berantah itu. Daniel bersikap sangat santun. Tak jarang ia menggunakan tubuhnya untuk melindungi "gadisnya" saat di tempat ramai. Ke mana pun mereka berdua berjalan, obrolan hangat dan tawa ringan terlontar dari bibir-bibir tersebut.
Seperti sepasang kekasih yang sudah sangat lama berhubungan. Mereka terus berjalan, hingga suasana mulai gelap.
"Saatnya kita pulang," ucap Daniel, masih dengan senyuman di bibir. Mayra mengangguk patuh saat laki-laki itu kembali menggandengnya pulang ke perpustakaan tadi.
"Bolehkah kita mengobrol sedikit lama?" pinta Mayra sambil meletakkan pant*tnya di sebuah sofa berbahan kulit.
Daniel mengangguk. Kemudian, obrolan kembali mengalir di antara keduanya. Lagi-lagi Mayra merosot dari duduknya dan tertidur.
Daniel tersenyum lalu menggendong gadis cantik itu. Ia keluar dari lukisan, meletakkan tubuh Mayra kembali di sofa. Kemudian ia masuk ke kanvas lalu berpose.
***
"May! Mayraaaaaa! Kamu nggak kuliah hari ini?" teriak sang ibu dari pintu galeri.
"Ya, Daniel. Aku akan bangun, sebentar lagi."
"Daniel? Siapa?"
Ibu Mayra berjalan cepat ke arah jendela lalu membuka korden. Sinar matahari menerobos masuk. Membuat gadis tadi mengerjapkan mata.
"Hmmm. Nggak ada. Cuma mimpi mungkin, Ma."
Mayra beringsut bangun dengan malas. Kemudian mengangguk.
"Makanya, jangan mikir yang nggak-nggak, sampai terobsesi sama lukisan sendiri."
"Tapi dia benar-benar nyata, Ma!" Mayra mengusap punggung tangannya sendiri.
"Dah, sana mandi! Sarapan, berangkat!"
Mayra melongok lukisan bertuliskan "Daniel", mata dalam lukisan itu mengedipkan sebelah mata dan tersenyum.
"Ma, itu ... Daniel nyata!"
Mata Mayra membelalak, masih tidak percaya.
Sang ibu sangat kesal, menempelkan punggung tangan pada dahi anak gadisnya. Menggelengkan kepala. Kemudian menyeretnya keluar dari ruangan tersebut.
"Cukup halunya!" sergah Mamanya Mayra.
Daniel melambaikan tangan dengan senyum nakal di bibir, saat mata Mayra memandang lukisan bertajuk "Daniel, Pustakawan Tampan" kembali.
***