"Jika dalam sekejap saya dapat uang 200 miliar, ala maaak mimpipun rasanya gak mungkin. Tapi gak ada hal yang mustahil jika Allah berkehendak hal itupun mungkin saja terjadi." Begitu pikir Amran sambil berjalan tertunduk menahan lapar dan haus.
Dia sudah berjalan entah berapa kilometer.
Memang jika orang sedang susah dan kekurangan pikiran liar akan menelisik begitu saja.
"Bang, anda Amran bukan?" tetiba seorang berbaju hitam mendekatinya sambil terlihat memegang foto lusuh.
"I..iya bang, kok anda kenal saya."
"Mari ikut saya. " Amran dituntun masuk mobil mewah.
" Beginilah rasanya menumpang mobil orang kaya, gak apa-apa terus keliling di mobil tanpa berhenti juga" Amran bicara sama orang yang mengajaknya.
"Panggil saya Robi." Dia menengok jok belakang sambil tersenyum melihat tingkah Amran.
Mobil berhenti setelah memasuki gerbang rumah yang sangat mewah. Mulut Amran sampai menganga.
"Ayo bang kakek anda sudah menunggu."
"Kakek? maaf bang saya sebatang kara." Amran menahan langkahnya.
Dia senyum-senyum membayangkan kakeknya mewariskan uang 200 miliar. Pasti sangat banyak jika dia jadikan alas untuk tidur mungkin tidak harus pake kasur sudah nyaman rasanya.
Dia akan pergi keliling dunia dengan jet pribadi. Dan membawa Nuri istrinya belanja perhiasan.
"Bang Amran, berliannya yang ini ya? satu set aja."
Nuri memperlihatkan perhiasannya.
"Borong saja sayang, belikan juga buat ibumu." Amran dengan bangganya mengeluarkan uang untuk membayar perhiasan yang dibeli istrinya.
"Bang sekarang kita beli rumah dulu ya!"
"Tentu saja sayang kita cari kompleks perumahan paling mahal di Jakarta ini." Amran memerintahkan sopirnya.
Tatkala mobil hendak berbelok kearah perumahan tiba-tiba.
"Brak!!" Amran tersadar karena kepalanya menabrak kaca.
" Bang...bang jalannya jangan ke sana, itu kaca bang!"
Amran mengucek matanya berkali-kali, karena yang berada dihadapannya adalah seseoranag yang selama ini dia hindari.
" Akhirnya anda saya temukan juga Amran." Kakek tua itu bicara sambil tersenyum.
"Bawà dia pak polisi,"
" Saudara Amran, silahkan ikut kami ke kantor polisi."
Amran tidak berkutik melihat kedua tangannya di borgol.
Karawang, Maret 2022