Bulan bersinar remang-remang diatas sana. Terlihat seorang gadis terduduk diam di tempat tidurnya. Keindahan malam kini tak dapat lagi dia lihat. Ya, dia kehilangan penglihatannya karena kecelakaan bulan lalu.
Pintu kamarnya terbuka menampakkan sesosok yang tak bisa ia lihat, namun bisa dia kenali baunya.
"Ken?" gadis itu bersuara
"Iya ini aku, bagaimana kabarmu?" tanya pria jangkung yang dikenal dengan sebutan Ken.
"Kau bisa melihatnya sendiri, duduk diam tanpa bisa melihat apapun. Ini menyiksaku" jawab gadis itu.
"Dengarkan aku hei, nanti pasti akan ada pendonor yang dengan baik hati memberikan matanya untukmu. Sekarang kau hanya harus bersabar, biar aku yang mencarikannya untukmu" ucap Ken.
"Aku lelah Ken, kenapa? Apa aku mempunyai salah yang tidak bisa diampuni hingga Tuhan memberikan cobaan yang tak pernah aku duga" lirihnya
"Bukan karena kau mempunyai salah yang tidak bisa diampuni, tapi Tuhan melihatmu lebih kuat dari yang lain, Tuhan ingin melihat sampai mana kau bertahan, Tuhan menyiapkan sesuatu untukmu, sesuatu yang bahkan takkan bisa kau bayangkan" ucap Ken sembari menepuk pundak gadis itu, memberikan ketenangan padanya.
"Kak Valey, ini saatnya kau makan" seru seorang anak yang berkisar 7 tahun membawa nampan yang berisi bubur, obat, dan air minum.
"Kemari kan Leon, biar kakak yang menyuapi kak Valey" ucap Ken, membawa nampan dari tangan anak kecil yang disebut Leon itu.
"Baiklah, Leon pergi dulu, ada tugas yang harus ku kerjakan" Leon melangkah keluar dari kamar kakaknya.
Ken menyuapi Valey dengan telaten, kadang ia melihat Valey melamun dan lalu menegurnya. 20 menit berlalu, Valey sudah selesai makan dan minum obat. Ken menemaninya hingga tertidur. Setelah dirasa Valey sudah tertidur pulas, Ken mencium kening Valey lalu beranjak pergi.
***
Matahari dengan nakal menyelusup kedalam melalui celah jendela. Tak lama, jendela dibuka lebar agar semua cahayanya bisa masuk kedalam.
"Valey nak, bangun" panggil seorang wanita paruh baya, suaranya terdengar serak seperti habis menangis.
"Eunghh, ibu" Valey duduk, lalu meraba tangan ibunya.
"Ibu habis menangis?" tanya Valey.
"Tidak sayang, sekarang mandi dan cepatlah bersiap, kita sudah dapat pendonor untukmu" jawab Maria, ibu dari Valey. Dia berpura-pura semuanya baik-baik saja, tetapi matanya tak bisa menyembunyikan rasa sedihnya.
"Secepat itu Ken menemukan pendonor?" tanya Valey
"Cepat bersiap-siap saja" Maria membantu Valey berjalan ke kamar mandi.
***
Hari operasi tiba, tiba-tiba perasaan tak mengenakan menghampiri Valey. Entahlah rasanya seperti bahagia, sedih, cemas, dan bimbang bersamaan. Namun dia mencoba menguatkan dirinya sendiri agar kuat untuk melakukan operasi.
"Kau bisa nak" Maria mengatakannya dengan mata berkaca-kaca, Valey merasakan bahu ibunya bergetar. Apakah ibunya menangis?
"Ibu, kenapa kau menangis?"
"Tidak ada, namun ibu berharap kamu kuat nanti" Ucap Maria. Dua makna tersirat disana. Yang pertama Maria berharap Valey kuat saat operasi, dan yang kedua Maria berharap Valey kuat setelah operasi nanti, saat sesuatu yang akan menggores hatinya menghampiri Valey.
"Aku kuat ibu, aku bisa, aku akan menjadi orang yang paling bahagia setelahnya, aku merindukan Ken" Valey berkata sambil tersenyum. Senyum yang memiliki sejuta makna.
***
Operasi berjalan lancar, dan hari ini adalah hari dimana Valey akan melihat dunia, dunia yang sangat ia rindukan. Perban yang melilit matanya perlahan dibuka oleh dokter.
Valey mengerjapkan matanya, menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam netranya. Yang pertama ia lihat adalah ibunya. Ibu yang dia rindukan sekarang bisa dia lihat. Dia tersenyum simpul.
"Ibu, dimana Ken?" tanya Valey. Namun setelahnya wajah Maria berubah sendu, air mata sudah menggenang dimatanya. Dia mengambil sebuah cermin.
"Lihatlah, sekarang Ken bisa mengawasimu dengan tenang tanpa rasa sakit" Maria menyodorkan cermin itu ke wajah Valey.
"Apa maksudnya?" Hati Valey mulai resah, mengapa perasaannya tak karuan? Apa yang sebenarnya terjadi?
"Baca surat ini maka kau akan mengerti" Air mata yang tadi Maria tahan mulai menetes di pipinya.
Valey membuka surat itu.
***
Untuk : Valey Cantik
Hai anak cengeng, cieee udah bisa lihat ya sekarang. Hehe
Aku cuman mau minta maaf aja sama kamu, kalau aku gak bisa ada disaat kamu ngelihat dunia lagi. Aku cuman bisa ngasih mata aku, daripada gak berguna sama sekali kan?
Pusing mau ngomong apalagi, yang penting kamu harus sembuh dan kembali sehat, jangan banyak pikiran. Stay alive for me ya, aku jagain dari jauh.
tertanda
Ken ganteng
***
Air mata Valey lolos begitu saja. Sesak dalam dadanya tak bisa ia bantah. Dia terisak, sangat pilu. Maria langsung memeluk putrinya, memberikan ketenangan.
Ya, keadaan Ken tiba-tiba drop karena penyakitnya, dia dilarikan ke Rumah Sakit dan divonis hidup tak lama lagi, jadi dia memutuskan untuk memberikan matanya untuk orang yang dicintainya, yaitu Valey. Ken mendapatkan apa yang dia mau, kebahagiaan Valey, walaupun ada luka yang juga mengiringi langkah Valey.
***
Satu tahun sudah sejak Valey mendapatkan kembali pengelihatannya. Dia terdiam disini, didepan meja riasnya.
"Kau tau Ken? Kau berhasil memberikan satu kebahagiaan yang takkan terlupakan untukku, namun kau juga menghadiahkan sebuah luka yang berbekas, dan tak kunjung sembuh. Setiap aku melihat mataku sendiri, aku hancur" Valey tertunduk dengan air mata bercucuran
"Kau membantuku pergi dari kegelapan dunia, tapi kau meninggalkanku sendiri di Titik Luka"
***
Aaaa, first time aku buat cerpen. Entah kenapa tiba-tiba pengen aja gitu bikin cerpen. Kalo ada typo mohon dimaklum. I hope you like it 🤗