"Pagi semua" ucap Raya saat masuk ke dalam kelas dengan nafas yang tak beraturan. Dia langsung menuju tempat duduknya.
"Kamu kenapa Ra, nafas sampe ngos-ngosan gitu" tanya Sinta teman sebangkunya.
"Aku kesiangan Sin" jawabnya sambil menaruh tas diatas meja. "Padahal sudah pasang alarm jam 5 pagi, tetep aja aku kesiangan"
"Kebiasaan kamu Ra, pasti baca novel online sampe malem lagi" kata Sinta yang tahu hobi sahabatnya ini. Sinta adalah sahabat Raya, mereka sudah saling kenal sejak SMP. Dari sanalah mereka berteman dan bersahabat sampai sekarang.
"hahaha soalnya seru banget ceritanya Sin, apalagi visualnya ganteng banget" jawabnya dengan antusias. Raya memang hobi membaca dan dia gemar membaca terutama novel online. Dia punya pemikiran jika bisa dibaca gratis kenapa harus beli bukunya yang harganya puluhan sampai ratusan ribu. Mending uangnya buat beli kuota.
"Trus gimana, Emak marah lagi?" tanya Sinta.
"Pastilah, Emak gitu loh. Tadi aja ceramahnya ga habis-habis. Harusnya Emak jadi guru Bahasa Indonesia, keren banget kalau lagi pidato hahaha".
"Husss, kamu ini Ra ga baik ngomongin orang tua".
"Becanda Sin" jawab Raya sambil membuat kode peace dengan tangannya.
"Oiya Sin, Bu Mar masuk ga hari ini" tanya Raya sambil mengeluarkan buku pelajaran.
"Oh Bu Maria, kayaknya masuk deh. Tadi aku liat Beliau di ruang guru, emang kenapa Ra" tanya Sinta yang juga mengeluarkan buku pelajaran.
"Jadi ulangan Matematika dong kita" keluh Raya karena belum belajar materi untuk ulangan.
"Jadilah, kan sudah di infoin seminggu yang lalu. Kamu ini Ra, kan udah biasa ngga belajar kalau mau ulangan. kenapa sekarang ngeluh sih"
"Ga enak aja sama Bu Mar kalau nilaiku ga bagus Sin, kan aku asisten beliau hahaha" jawab Raya sambil tertawa terbahak-bahak.
"Aduuhhh" jerit Raya saat lengannya dipukul Sinta.
"Becanda aja kamu Ra, udah diam bentar lagi Pak Darto Dateng nih"
Dan benar saja Pak Darto masuk kelas untuk memberikan pelajaran Biologi.
"Sin, coba tebak dari sekian banyak mata pelajaran yang ada kira-kira catetan yang paling sedikit mapel apa hayoo" tanya Rara saat Pak Darto keluar kelas setelah selesai memberikan materi pelajaran.
"ehmm, Bahasa Indonesia lah"
"Salah. mau tau ga apa jawabannya?".
"Emang apa Ra" tanya Sinta penasaran.
"Biologi" jawab Raya. " kok bisa" tanya Sinta dengan heran.
"Nih buktinya, buku aku cuma beberapa lembar aja catetannya" sambil menunjukan buku catetannya ke Sinta.
"Kok dikit banget sih Ra, punyaku aja sudah mau habis 1 buku" tanya Sinta sambil membolak balikkan buku catatan Raya.
"Karna aku tuh ga mudeng apa yang dijelaskan Pak Darto, makanya catetan aku dikit Sin hahaha" jawab Raya sambil tertawa.
Pak Darto dikenal ahli dalam mata pelajaran biologi, saking ahlinya beliau ngga pernah bawa buku saat memberikan materi pelajaran. Dan menurut Raya, cara mengajar Pak Darto terlalu berputar-putar. Kalau diumpamakan kita mau pergi ke stasiun, tapi kita diajak ke bandara dulu terus mampir ke pelabuhan, jajan di terminal baru sampailah ke stasiun. (Ini sih pemikiran Raya ya).
"Dasar Raya gesrek" gumam Sinta sambil geleng-geleng kepala
====================
"Hai Adek Ray"
"hemmm" jawab Raya ogah-ogahan karna sudah tau siapa yang datang.
"Dek Ray"
"Hemmm" masih sibuk membolak-balik buku dan ngga mau menoleh.
"Dek Ray" panggil Bima agak keras.
"Apa sih Pak Raden, Ray Ray Ray Ray. Nama aku itu Raya bukan Ray. Kebiasaan banget sih" sungut Raya dengan kesal tapi masih melanjutkan kegiatannya.
"Eh maaf maaf, jangan marah dong" jawab Bima sambil cengengesan
"Eh Pak Raden, ngapain baru masuk kelas. Darimana saja" cecar Raya sambil menelisik tubuh Bima dari atas sampai bawah. Bima memakai Hoodie hitam, rambutnya agak acak-acakan karena habis memakai helm dan ada tas punggung di belakangnya.
"ish kamu juga, disuruh manggil Mas Bima malah manggil Pak Raden"
"Nama kamu kan Raden Bima Arya, ga salah dong kalau aku panggil kamu Pak Raden" jawab Raya sambil menjulurkan lidahnya.
"Terserah kamu aja lah, tapi aku pengen kamu manggil aku Mas Bima bukan Pak Raden" sambil menghela nafas. "Emang aku sudah tua terus berkumis apa sampai dipanggil pak Raden" gumam Bima pelan tapi masih bisa didengar Raya.
"Kamu ga tua kok Bim, tapi lagi otw kesana hahaha". Bima memutar bola matanya mendengar pengakuan Raya. Tapi di dalam hati dia senang bisa membuat Raya tertawa.
"Kita itu cuma beda 4 bulan lho dek, kalau aku otw tua berarti kamu juga dong hahahaha" balas Bima. Dan hal itu membuat mereka tertawa bersama.
Bima adalah teman sekelas Raya sejak 1 SMA, dan sampai kelas 2 pun mereka masih satu kelas. Bima berperawakan tinggi, kulitnya coklat, kalau senyum ada lesung pipinya dan dia orangnya ramah. Saking ramahnya banyak adik kelas bahkan kakak kelas yang baper sama dia. Dan jangan lupakan gebetannya ada berapa. Dia itu tipe setia, setiap tikungan ada hahaha.
Raya dan Bima mulai dekat karena saat kelas 1 mereka berdua mengikuti ulangan susulan untuk mata pelajaran kimia di ruang guru. Dari sanalah mereka mulai ngobrol tentang banyak hal dan nyambung. Raya jadi tempat curhat Bima sampai sekarang. Bisa dikatakan mereka ini sahabatan. Banyak teman sekelas yang mengira mereka pacaran, tapi hal itu langsung di tepis oleh Raya.
==============
Saat ini tahun ajaran sudah memasuki semester 2, bagi anak kelas 2 diwajibkan untuk memilih jurusan IPA atau IPS.
"Sin, kamu milih jurusan apa IPA atau IPS?" tanya Raya sambil mengisi formulir untuk dikumpulkan ke wali kelas
"Kayaknya IPS deh Ra, aku kan ga bisa rumus matematika dan teman-temannya. Apalagi Fisika, aku angkat tangan deh bikin stres ngitungnya". " Kalau kamu pilih apa Ra". tanya Sinta yang sudah selesai mengisi formulir.
"Aku masih bingung nih Sin, kalau aku pilih IPA aku ga begitu suka Biologi gara-gara Pak Darto. Tapi kalau pilih IPS aku lemah sama hafalan" jawab Raya sambil menghela nafas. Raya juga tidak menyukai mata pelajaran Sejarah dan Geografi, alasannya karena gurunya bikin ngantuk saat menjelaskan pelajaran. Haduh Ra, ada ada saja kamu.
Brak
Tiba-tiba Raya menggebrak meja dengan keras. Hal itu membuat Sinta kaget dan langsung memegangi dadanya.
"Aku sudah tahu Sin mau milih jurusan apa, aku milih IPA saja. Soalnya nilai matematika, Fisika dan Kimia aku lumayan. Apalagi Kimia, aku pernah dapet nilai 9 di raport". ucap Raya bangga. Sinta yang mendengar hal itu hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Yaudah cepetan isi, biar aku kumpulin ke Wali kelas sekalian" ucap Sinta
"Dek Ray, kemarin pulang sekolah dijemput siapa" tanya Bima yang tiba-tiba duduk di sebelah Raya. Sebenernya Bima ingin menanyakan hal ini dari pagi, tapi belum sempat.
"Oh yang kemarin, itu saudara aku. Emang kenapa Bim?" jawab Raya sambil menghadap kearah Bima dan menatapnya. Bima yang ditatap seperti itu jadi salah tingkah.
"ehemm" Bima berdehem untuk mencairkan suasana. Tangannya dia garukan ke rambutnya yang tidak gatal.
"Gapapa kok, cuma nanya aja. Soalnya aku belum pernah lihat dia sebelumnya" ucap Bima sambil memainkan pulpen diatas meja.
"oh kirain ada apa. Btw gimana gebetan kamu yang anak kelas 1 itu, sudah sampai mana perkembangan nya" tanya Raya penasaran. Karena terakhir kali Bima curhat sedang pedekate sama anak kelas 1.
"Ga gimana-gimana, biasa aja" jawab Bima dengan malas. Bima merasa ada yang aneh dengan dirinya. Dulu dia suka sekali pedekate sama anak baru bahkan sengaja bikin baper para siswi. Tapi sekarang hal itu sudah ngga menarik lagi.
"Aneh banget kamu Bim, kemarin aja semangat banget pedekate. Eh sekarang malah memble" cibir Raya dengan sengaja. Bima tidak menanggapi ocehan Raya, dia malah sibuk memainkan rambut raya dengan jarinya.
Hubungan persahabatan Raya dan Bima baik-baik saja, malah semakin dekat. Ada pepatah yang mengatakan tidak ada persahabatan yang murni antara laki-laki dan perempuan. Pasti salah satu atau salah keduanya memendam rasa. Tapi untuk Raya dan Bima kita tidak tahu, karena kita tidak bisa membaca hati mereka.
Pada saat mata pelajaran Matematika, seperti biasa Bu Maria akan menunjuk Raya maju kedepan untuk mengerjakan soal. Saat Raya selesai menulis jawaban di papan tulis, dia pun berbalik dan akan kembali ke kursinya. Namun terhenti ketika Bima berdiri.
"Bu Mar, mohon ijin berbicara" pinta Bima kepada Bu Mar dan dijawab beliau dengan anggukan.
"Raya I Love You" suasana tiba-tiba hening. Semua orang langsung menatap Raya menunggu jawaban.
Raya yang mendengar itu tiba-tiba blank pikirannya. Dia bingung. Tapi dia langsung sadar, dalam pikirannya Bima pasti sedang bercanda.
" I hate You" jawab Raya sambil berjalan ke arah tempat duduknya. Suasana pun menjadi riuh, ada yang tertawa, ada yang memukul-mukul meja. Pokoknya sudah seperti pasar.
Raya menjawab seperti itu bukan tanpa sebab. Tapi karena saat ini sedang demam lagu Slank yang judulnya I miss you but i hate you. Jadi dia jawab dengan spontan karena ingat lagu ini.
Sejak kejadian itu hubungan Raya dan Bima agak renggang, malah Bima seperti sengaja menghindari Raya. Raya pun tidak ambil pusing karena dia tengah sibuk untuk persiapan kenaikan kelas 3.
Hari demi hari pun berlalu dan bulan pun telah berganti. Akhirnya tahun ajaran baru dimulai. Sinta berhasil masuk IPS 1 sedangkan Raya masuk IPA 2. Entah ini jodoh atau apa Bima juga masuk IPA 2, mereka dipertemukan kembali dalam kelas yang sama.
Apakah dengan sekelas lagi bisa membuat hubungan mereka kembali baik dan dekat lagi?.
Ternyata tidak. Selama hampir 1 tahun duduk di kelas 3 mereka jarang ngobrol layaknya teman, mereka hanya say hello bila berpapasan di koridor. Mungkin bisa dihitung dengan jari mereka duduk bersama itupun karena diskusi di kelas, selain itu mereka seperti orang asing.
Sinta sering bertanya kepada Raya sebenarnya apa yang telah terjadi antara dirinya dengan Bima, mengapa yang dulunya dekat layaknya sahabat sekarang seperti orang asing. Raya pun tidak bisa menjawab nya.
"Ra, kamu kenapa sih sama si Bima. Apa kalian ngga bosen diem-dieman terus. Apa ngga sebaiknya kamu ngomong berdua, terus clearin deh masalah kalian. Kita bosen tahu liat kalian saling menghindar kayak gitu" ungkap Sinta dengan serius.
Raya diam mendengar pertanyaan Sinta. Sebenernya Raya juga ngga tahan sama keadaan kayak gini.
"Dulu aku pernah mau ngajak Bima ngobrol berdua pas jam istirahat Sin, tapi sebelum aku sampe ke mejanya dia udah keburu pergi kayak ngehindar gitu" keluh Raya sambil menghela nafas.
"Salahku dimana ya Sin, apa gara-gara kejadian pas pelajaran Bu Mar itu ya?. Aku kira dia becanda ngomong kayak gitu buat seru-seruan aja, makanya aku jawab gitu" ucap Raya sedih. Raya pun menyadari sikap Bima mulai berubah sejak kejadian itu.
"Ya sudah, kalau dia ngehindar terus biarkan saja. Kita fokus dulu untuk ujian kelulusan. Kalau sudah beres semua, baru cari dia" usul Sinta yang disetujui Raya.
Singkat cerita, ujian Nasional sudah selesai diselenggarakan satu minggu yang lalu. Dan minggu ini diadakan ujian praktek. Hari ini hari terakhir ujian praktek. Semua anak IPA 2 sudah berada di laboratorium untuk ujian praktek mata pelajaran Fisika.
Raya telah menyelesaikan ujian prakteknya dan meminta ijin untuk keluar sebentar. Raya menuju ke belakang ruang laboratorium yang juga bersebelahan dengan parkiran motor. Dia berdiri sambil melihat motor siswa siswi yang ada di parkiran. Tiba-tiba ada yang memegang kedua lengannya dari belakang.
"Dek lagi ngapain" suara yang dulu sering ia dengar sekarang ada lagi. Ya dia Bima, hanya Bima yang memanggil Raya dengan sebutan Dek dan hanya Bima yang berani memegang tangan dan lengannya. Raya tersenyum tipis dan membalikkan badannya.
"Wah, mas Bima sudah kembali" ucap Raya seraya tersenyum tipis. Bima yang dipanggil dengan sebutan "mas" sempet kaget, diapun ikut tersenyum.
"Sudah lama ya kita ga ngobrol bareng kayak gini" ucap Bima sambil memegang kedua telapak tangan Raya. Mereka masih berdiri berhadapan di belakang ruang laboratorium.
"Iya lama banget". Raya terdiam sambil menunduk.
"Salah aku apa sih Bim sampai kamu ngehindarin aku terus" tanya Raya sendu sambil menatap manik mata Bima.
Bima menatap mata Raya yang sudah berkaca-kaca. Dia tidak sanggup melihat seseorang yang dia sayangi meneteskan air matanya. Bima langsung menarik Raya kedalam pelukannya sambil berbisik.
"Kamu ngga salah Dek, kamu ngga salah apa-apa. Aku yang salah sudah ngehindarin kamu. Maaf ya, maafin aku" bisik Bima di telinga Raya. Raya yang mendengar itu langsung terisak di pelukan Bima.
"Eh jangan nangis, udah cup cup cup. masak asisten Bu Mar nangis sih" canda Bima dan berhasil membuat Raya tertawa walaupun air matanya terus mengalir. Bima mengusap air mata di pipi Raya sampai bersih dan diakhiri dengan mengusap rambutnya.
"Dek, rencananya aku mau kuliah di Jogja. Doain aku ya semoga diterima" ucap Bima sambil memainkan jari tangan Raya.
"Pasti, kita saling mendoakan ya. Dan jangan pernah menghindari aku lagi, janji" pinta Raya.
"Iya Janji" ucap Bima serius. Mereka saling senyum sambil berjalan untuk kembali ke ruang laboratorium.
~END~