"Mbak ini mau pasang paesnya" Mua ku berkata.
"Iya silakan, aku mah pasrah aja diapa-apain" kataku
"Iya mbak lha wong sekali seumur hidup, sekalian bahagiain mertua ya mbak," aku tertawa kecil mendengar tanggapan muaku ini.
I'm sorry
Don't leave
I want you here with me
I know that your love is gone
I can't breathe,
I'm so weak,
I know this isn't easy
Don't tell me that your love is gone
That your love is gone~
(Love is gone-SLANDER ft. Dylan Matthew)
Aah lagu ini. Membawa kembali sekelebatan tentang Dia. Yang hanya menjadi satu kenangan indah dihidupku.
Flasback
Setelah Dia resmi memiliki pacar. Dari situ aku memberi jarak pada kami. Dan berusaha tak berpapasan dengan Dia yang bersama kekasihnya.
Berat. Sangat. Pada saat Dia mempertanyakan kenapa aku menjauh? Aku hanya terdiam. Tak memberikan alasan apapun.
Setelah itu aku mendengar kabar Dia putus dengan kekasihnya. Itu tidak membuatku mendekat lagi pada Dia. Kami sempat berpapasan. Hanya saling tatap lama. Diam, hingga aku melewatinya.
Itu terakhir aku melihat Dia. Aku pernah mendengar dari teman sekelasnya, Dia, jarang masuk sekolah. Banyak yang menyangka bahwa Dia despresi putus dari kekasinya. Dan membuatku makin sakit hati.
Secinta itu Dia.
Hingga akhirnya kelulusan SMA, dan aku melanjutkan kuliah diluar kota. Setelah setahun, SMAku mengadakan bukber bersama sekalian reuni.
Aku datang, aku melihatnya. Dia tertawa seperti biasa. Sehat, segar bugar. Tanpa berani menyapa. aku menyibukan diri, Sampai nanti ada kesempatan menyapa Dia.
Aku sempat mendengar Dia memanggil namaku. Aku berbalik. Dan kekecewaan yang aku dapat. Melihat Dia bergandengan dengan mantan kekasihnya. Disitu aku menghindarinya sebisaku dan memutuskan pulang.
Dan keesokkan harinya aku mendapat kabar yang membuatku tak percaya dan menyesal hingga saat ini.
Dia meninggal. Karena penyakit yang selama ini dideritanya. Disinilah aku melihat nisan dengan namanya terukir disana. Air mataku deras mengalir. Memandangi pusarannya.
"Nesyakan?" Perempuan cantik didepanku ini, mantan kekasih Dia, Marwah. Aku mengusap air mataku. "Hai" aku tersenyum gamang.
"Aku dulu cemburu banget sama kamu" Ia memulai ceritanya,
"Dia selalu menyebut namamu disetiap ceritannya. Aku lalu menyuruhnya menjauh darimu, lalu kau tahu, Dia bilang tak bisa, dan kami putus hanya tiga hari pacaran." Untuk apa menceritakannya padaku sekarang,
"Dia memutuskanku lebih tepatnya" Ini berita baru dan mengejutkanku tentunya.
"Tapi kalian baru putus setelah 3 bulan" aku mencoba menyangkal kabar baru itu.
"Aku yang minta. Karena Dia bertanggung jawab. Dengan perasaanku" perempuan itu menerawang jauh.
"Kamu tahukan gimana Dia kalau sudah peduli" ucapanya lagi yang aku angguki.
"Ini" perempuan itu menyerahkan amplop padaku. Amplop pink dengan pita imut.
"Isi hatinya, harusnya dia berikan padamu waktu kelulusan Sma"
Aku menerimanya dengan tangan bergetar. Aku membukannya disitu juga. Membaca kata demi kata yang Dia tinggalkan untukku. Air mataku merebak.
"Kenapa kamu egois?" Wajahku berantakan oleh air mata, melihat Marwah dengan tampang menyesal.
"Harusnya kamu berikan padaku, setidaknya aku bisa membahagiakannya walau sebentar" Aku meraung, menguncang bahu perempuan egois itu.
"Kenapa menyalahkanku, kenapa kamu menghindarinya, jika kamu cinta kamu bisa cari Dia" Perempuan tak tahu diri ini menyalahkan ku. Aku tertawa miris.
"Kau menyuruhku menjadi orang ketiga, pada hubungan kalian yang tak kutahu sudah kandas, HAH!" Sinisku
"Sekarang kamu puas?" Lanjutku.
"Karena keegoisanmu itu, harusnya aku buat Dia bahagia di akhir hidupnya" perempuan itu menangis keras. Menyesal.
"Harusnya aku rebut saja Dia darimu dulu, terserah orang mau bilang apa, harusnya ia bersamaku" teriakku pada perempuan itu.
Sesak. Tapi semua sudah terlambatkan. Aku megusap kasar air mataku.
"Buat apa kamu kasih tahu aku, harusnya kamu simpan sendiri saja rasa penyesalanmu itu"
"Kenapa kamu kasih tahu aku, ingin membuat hatimu lega? Gitu? Jangan harap! Kamu akan menanggung penyesalan itu seumur hidupmu" Aku kemudian mendekat pada pusarannya, menaburkan bunga-bunga. Memakinya dalam hati yang tak mengejarku. Malah pasrah.
Aku menangis sejadi jadinya sambil memukul nisannya.
Hai, Nes...
Apa kabar? Buset baku bener gue. Haha
Ini mungkin surat pertama dan terakhir gue tulis. Apa ya malu gue kalo harus ngomong sama lo.
Gue kangen lo.
Gue kangen kita.
Gue sadar gue bego. Kesenengan di tembak sama orang yang gue suka. Tapi... yang gak gue tahu ternyata hati gue udah keisi sama yang lain tanpa gue sadar.
Dan itu elo Nes, jangan hujat gue karna cuma berani lewat surat ya...
Yang lebih bodohnya lagi gue tahu perasaan lo ke gue... tapi gue nyakitin elo dengan nerima Marwah makanya gue gak berani negur lo waktu kita papasan.
Hai Nes, apa kita bisa ngobrol kayak kemaren-kemaren? Rasanya sakit ya diabaikan sama lo. Tapi ternyata Tuhan memang gak menjodohkan kita. Gue divonis kanker otak Nes, stadium akhir.
Dan ya makasih ya Nes pernah menjadi memori indah buat gue. Gue akan inget lo, sampe ingetan gue diambil, Nes... Dan gue berdoa semoga lo akan selalu bahagia, selalu tersenyum Nes.
Love you always till the end,
Dito Pradana.
Flashback off
Seminggu sebelum aku menikah, aku izin pada calonku untuk berziarah pada Dia.
"Hai Dito Pradana, sekarang gue bahagia. Makasih menjadi kenangan indah buat gue"
Aku meletakkan surat lecek yang selalu kubaca berulang-ulang itu dibawah nisannya. aku elus perlahan. Beranjak pulang. Angin lembut menerpaku. "Terima kasih telah bahagia" lirih terbawa angin.
Aku menengok lagi kepusarannya. Surat itu hilang. Aku tersenyum dan lanjut melangkah pulang.
*****TamaT*****
Guys ini lanjutan cerpen Dia ya, kalo mau baca silakan ceki ceki di akunku ya... boleh di like, boleh dikomen
Terima Kasih^^
Lazyafternoon