"Bagaimana kak? kamu mau ikut papa atau mama? ikut papa aja ya, adek biar sama mama aja." Papa menawari ku untuk ikut bersama nya, aku hanya terdiam lesu sambil mencerna semua yang telah terjadi pada ku.
"Pah..." Lirih diri ku memanggil papa
"Iya kak, bagaimana keputusan kamu?" Tanya papa lagi memastikan.
"Papa yakin ingin berpisah sama mama? Memang nya alasan nya tuh apa pah?" Tanya ku lagi, Menatap pada papa dengan tatapan memelas
"Papa dan mama gak bisa memiliki jalan yang sama lagi kak, papa gak punya rasa lagi sama mama. Papa muak, mama setiap hari ngomel sama papa. Papa capek kak, papa udah gak kuat." Curhat nya pada ku, dengan mata yang sedikit berkaca.
Aku tersenyum kecut mendengar nya, ku pegang tangan papa ku lalu bicara. "Kalau ini memang udah jadi keputusan mama dan papa. Luna ikhlas, Luna ingin mama dan papa bahagia selalu. Jika mama dan papa memang benar-benar gak cocok lagi, Luna bakal ngerti kok dan bakal terima perpisahan ini." Ucap ku berusaha untuk menerima dan mengerti perasaan kedua belah pihak orang tua ku, walau bagaimana pun aku tidak boleh egois. Kedua orang tua kami juga memiliki perasaan, bukan kami yang hanya sebagai anak. Orang tua kami juga memiliki cinta, dan hanya bukan KAMI kedua anak nya lah yang memiliki cinta.
Lagi pula aku tahu apa sebenar nya penyebab perceraian ini, mama ku selingkuh bersama pria lain dan sudah jatuh cinta dengan pria itu. Aku juga pernah datang pada pria itu untuk memaki nya, namun mama tidak tahu.
Tapi pria itu tidak mau mendengar dan bahkan mempengaruhi diri ku agar menerima nya sebagai papa yang baru. Aku kesal, lalu aku pulang kembali kerumah mama. Namun disaat aku pulang, aku malah mendapat satu tamparan keras oleh mama ku.
"Kak, apa yang kamu lakukan? mengapa kamu maki maki teman mama?" Hardik nya pada ku dengan mata melotot.
"Teman atau selingkuhan?" Ucap ku dengan tatapan kosong.
Mama ku kesal lalu melayang kan satu tamparan keras lagi ke pipi ku, sangat sakit seperti tersengat listrik. Aku pegang pipi ku, lalu melihat lagi pada mama yang sudah mulai memandang ku dengan perasaan bersalah.
"kak ma-maafin mama," Lirih nya mencoba untuk memeluk ku.
"Udahlah ma, sekarang Luna tahu, bagaimana posisi Luna dan posisi pria itu dalam kehidupan mama. Udah cukup deh mama buat hati Luna sakit, dan sebaik nya sampai disini aja hubungan mama sama pria itu! Jika papa tahu, bakal sesakit apa dia mah? Kurang baik apa lagi sih papa sama mama?" Ucap ku begitu kecewa.
"Mama gak pernah cinta sama papa kamu kak, mama dijodohin! Kamu harus ngerti dong perasaan mama, kamu ngerti yah." Ucap nya lagi sambil berusaha meyakin kan diri ku.
"Gak cinta? lalu mengapa sampai ada aku dan adik di dalam kehidupan kalian? Itu nama nya gak cinta? Omong kosong!" Hardik ku tanpa sadar lalu berjalan meninggal kan mama dan masuk kedalam kamar.
Aku mendengar suara tangis kencang mama ku, aku bersandar di pintu sambil menangis tanpa suara. Aku gigit tangan ku agar tak menimbul kan suara, aku menampar nampar dada ku agar sesak didada ku hilang.
"Sungguh tega mama, aku kecewa sama mama!" Lirih ku begitu penuh kekecewaan yang mendalam.
[Cerita awal]
Aku memeluk papa dengan sangat erat, isakan tangis mulai terdengar.
"Kak kenapa nangis?" Tanya papa ku begitu lembut. "Maaf ya kak kalau papa udah buat kamu sedih, perpisahan ini juga penting kak untuk kesehatan kalian berdua. Papa gak mau kalian berdua selalu lihat papa dan mama perang dingin di rumah." Sambung nya lagi.
Aku mengangguk, dan tak ayal aku menjerit didalam hati. Aku sangat sedih dan sakit, mengapa papa ku bisa sebaik ini? dia menutupi keburukan mama di hadapan anak-anak nya, dan dia memilih alasan jika dia udah bosan sama mama, tapi kenyataan nya dia sudah tahu jika mama selingkuh.
"Luna tahu, Luna juga ingin yang terbaik untuk masa depan papa. Luna yakin, papa pasti bakal dapat cinta sejati papa diluar sana." Ucap ku lagi, lalu diri ku mengecup hangat pipi apa dan menatap dalam.
"Luna bakal ikut papa, Luna janji gak akan pernah pergi dari sisi papa." ..............
BERSAMBUNG