Sejak tadi,
langit mulai menampakkan sinar jingganya.
Pertanda senja mulai datang.
Terlihat seorang pemuda sedang merenung didepan jendela balkon yang lumayan besar, sambil memegang buku yang tebalnya tidak seberapa.
Entah apa yang dia renungkan sejak tadi.
Sudah sekitar 1 jam lebih dia berdiri merenung sambil memegang buku yang masih tersegel. Sudah jelas buku itu tidak pernah disentuh apalagi dibuka oleh si empunya buku.
Setelah tersadar dari sesi renungan yang panjang, dia beranjak dari tempatnya berdiri tadi menuju ke mobilnya.
Melesat cepat menuju tempat yang dia sendiri tidak tau akan menempatkan mobilnya dimana.
Setelah merenung disepanjang jalan, akhirnya dia memutuskan untuk memberhentikan mobilnya di suatu rumah sederhana.
Terlihat sepi, namun rasa keberaniannya lebih besar daripada rasa takutnya. Hingga dia nekat untuk mengetuk pintu rumah tersebut.
*tok..tok..tok
Tidak membuatnya menunggu lama, akhirnya si empunya rumah membukakan pintu dengan senyum merekah diwajahnya.
Namun, bukan dia yang pemuda itu harapkan. Si empunya rumah adalah ibu dari orang yang sejak tadi dipikirkan oleh pemuda itu.
Dengan perasaan yang sedikit kecewa, pemuda itu membalas senyuman ramah dari si empunya rumah.
“Loh Ethan?” Ucap sang ibu.
“Hehe.. Iya tante” Jawab Ethan sambil tersenyum kikuk.
“Tumben sore sore kesini? Ada apa hayo?”
“Gaada apa apa kok tante, hehe”
“Seriusan?”
“Iya, btw tan.. Angle mana ya?” Ucap Ethan memberanikan diri.
“Oh.. Kesini nyariin Angle ternyata” Goda sang ibu.
“Ada perlu sih tan”
“Ada apa sih? Kok kaya serius gitu”
“Nggak sih, cuman mau ngasih buku ini aja” Kata Ethan sambil menunjukkan buku yang dibawanya.
“Oh gitu... Yaudah sini kasih tante aja, nanti kalo Angle udah pulang tante kasih buku ini ke dia”
Ethan mengangguk tanda setuju sembari menyodorkan buku kepada ibunya Angle.
“Yaudah tante, kalo gitu aku pamit dulu ya” Ujar Ethan bersiap untuk beranjak pergi.
“Loh? Gamau minum teh dulu?” Ajak sang ibu.
“Makasih tan, tapi hari ini absen dulu ya hehe... Kesini cuman mau ngasih buku aja kok”
“Kalo gitu, hati hati ya Ethan”
“Siap tante”
Ethan melesat menuju mobilnya, dan langsung tancap gas meninggalkan rumah yang akhir-akhir ini sering dikunjunginya.
Dalam perjalanan, dia terus merenung sambil memikirkan 'Apa reaksi Angle saat menerima buku itu?' . Entahlah, tidak ada yang tau.
___________________••••••______________________
Sepulang dari kampus, tampaklah wajah lelah seorang gadis. Walaupun tertutup oleh wajah lelahnya, namun wajah cantiknya tidak bisa ditutupi oleh apapun itu.
Hendak akan pulang kerumah. Ada seorang pemuda tinggi semampai menghampiri gadis itu.
“Angle” Sapa pemuda itu.
“Erzan?” Ucapnya kaget.
“Hei, mau pulang ya?”
“Ya, dan ngomong ngomong mana saudara kembarmu itu?”
“Ethan? I don't know. Mungkin udah pulang”
“Jahat banget ninggalin abangnya disini” Goda Angle dengan suara kawaii nya.
“Iya ya jahat. Tapi mau ga sih Angle yang gantiin nemenin Erzan pulang?” Ujar Erzan membalas godaan Angle.
“Gamau ah.. Kasian abang ojol nya nanti”
“Kok lebih Kasian abang ojol nya sih”
“Bodo amat! Udah ah Er... Aku mau pulang”
“Yah yah yah... Angle! Woi!”
Tidak menggubris ucapan Erzan, Angle pun melesat pergi menuju abang ojol yang sudah dipesannya sejak tadi.
Sesampainya di rumah.
“Mama! Aku pulang!” Seru Angle.
“Hmm kebiasaan deh, teriak teriak gitu” Tegur sang mama.
“Hehe.. Ya maaf deh”
“Buruan mandi sana, bau banget kamu ih”
“Hmm iya iya”
“Oh iya sayang..”
“Kenapa ma?”
“Tadi Ethan kesini, katanya mau ngasih buku ke kamu”
“Eh buku? Buku apa?”
“Mama juga gatau, mama fikir ini buku titipan kamu”
“Emmm... Kayaknya iya”
Sang mama pun menyodorkan buku tersebut kepada Angle.
“Yaudah ma, aku mau ke kamar dulu ya”
“Iya”
Di kamar,
Angle segera bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya yang lengket karena keringat.
Seusai mandi, Angle melihat buku yang diberikan oleh Ethan.
Entah apa yang difikirkan Angle saat ini. Yang jelas Angle merasakan jika buku yang diberikan Ethan bukan sembarang buku.
“Ethan ngapain ngasih buku ini ke aku?” Ujarnya.
“Sorry, I Love You”
“Keren nih kayaknya, keliatan baru lagi”
Setelah bermonolog dengan dirinya sendiri, Angle pun langsung membuka segel dari buku itu dan membukanya.
Terdapat banyak kata kata indah penuh makna didalamnya. Angle dibuat terkesima oleh buku itu.
Namun, sampai sekarang. Angle masih tidak mengerti kenapa Ethan memberinya buku itu.
“Sorry, I Love You” Ucapnya.
“Gila! Nih buku keren juga”
“Tapi ngapain Ethan ngasih ginian?”
“Eh wait...”
“Sorry, I Love You” Lagi lagi Angle membaca judul buku itu untuk yang sekian kalinya.
“Maaf, Aku Mencintai Mu”
Setelah berargumen dengan dirinya sendiri, Angle lagi lagi dibuat bingung dengan judul buku itu.
Ada apa dengan 'Sorry, I Love You'?? Pikirnya.
Dan kenapa juga Ethan memberinya buku yang seperti itu?
Entahlah...
Banyaknya rentetan pertanyaan yang muncul dibenak Angle saat ini.
Lama merenung, tak membuat Angle menemukan jawaban dari banyaknya rentetan pertanyaan itu.
Akhirnya Angle memutuskan untuk menelfon Ethan, dan menanyakan pertanyaan pertanyaan yang sejak tadi tidak bisa dijawabnya.
“Halo Ethan” Ucap Angle.
“Eh ya halo Angle” Jawab Ethan di seberang telfon.
“Btw makasih ya udah ngasih buku tadi”
“Oh iya sama sama”
“Tapi Et.. Aku ga ngerti deh, kenapa kamu ngasih buku itu ke aku?”
“B-buku itu...”
“Pasti ada maksud nih” Goda Angle.
“Emm ya” Lirih Ethan.
“Apa Et? Sedangkan kamu sendiri tau kalo aku agak ga suka buku begituan”
“Yaaa apa yaa”
“Ih tapi bukunya keren juga sih, tapi aku gatau maksudnya apa?”
“Maksud dari buku itu ada diisinya”
“Isi?”
“Ya”
“Tapi aku ngerasa isinya ada dijudul sih”
“Judulnya apa hayo?”
“Sorry, I Love You”
“Y-yaaa bisa jadi”
“Ihh yang bener dong Et..”
“Udah bener”
“Apa ihh?!!!”
Lama terdiam, membuat Angle tidak sabar menunggu balasan jawaban dari seseorang diseberang telepon tersebut.
“Et?” Ucap Angle.
“Ah ya?”
“Kamu gapapa kan?”
“Ng... nggak”
“Kalo ada something wrong cerita aja, tapi kalo gamau cerita dulu ya gapapa”
“Maaf” Ujar Ethan.
“Hah? Maaf untuk?”
“Maaf”
“Untuk apa?” Tanya Angle dengan kening yang berkerut.
“Maaf, Aku Mencintai Mu” Lirih Ethan.