Bermulai pada malam ketika kami sedang saling membalas chatingan melalui Via Whatsap, sebenarnya itu memang sudah biasa. Karna, dia adalah sahabat ku, kami berteman sudah cukup lama, dia sosok pria yang aneh, kadang baik, kadang cuek, kadang juga jahat.
Dia bisa di katakan musuh atau juga bisa di bilang sahabat yang baik. Bagaimana tidak, tidak melihat tempat dan keadaan, setiap bertemu, kerap kali kami menjadi kucing dan tikus, yang selalu berdebat, mengejek bahkan yang menjadi kebiasaan nya adalah memukul kepala ku.
Tapi dia juga bisa bersikap baik padaku, selalu mendengarkan keluhan atau curahan ku. Tapi itu wajar, karna aku juga selalu menjadi pendengar baiknya di saat dia curhat tentang perselingkuhan nya atau saat hatinya patah, karna mantan pacarnya telah bersama lelaki lain, sungguh aneh bukan?.
Dia punya pacar, dan aku tau dia begitu mencintai wanita nya itu, meski yang satu ini tidak pernah dia bahas. Tapi aku tau, dialah wanita yang kelak akan dipersunting oleh nya. Karna aku dan pacar nya itu juga menjadi teman baik, jadi tak ayal dia selalu bercerita tentang sahabat ku itu dan aku menjadi pendengar yang setia.
Mulanya persahabatan kami baik-baik saja, tidak ada yang berlebihan ataupun kesalahan. Tapi, seiring nya berjalan waktu, dia berubah kata-kata nya menjadi lembut, sikap dan perlakuan sudah mulai menuntut lebih, sering menghubungi ku, chatingan setiap hari, hingga malam itu dia mengatakan untuk ingin bersama ku.
Hanya ingin bersama, tidak mengatakan jika dia mencintai ku, tapi ntah mengapa aku menganggap nya serius, padahal jelas ku tau jika sahabat ku adalah lelaki brengsek yang selalu mempermainkan wanita, tapi aku ini sahabatnya, tega kah dia menyamakan ku dengan wanita lain?.
Aku masih berusaha menyangkal, karna ada teman ku yang menjadi pacarnya sekarang ini, tapi dia lagi-lagi meyakinkan ku bahwa hubungan mereka telah tandas sejak tiga bulan lalu, dan sialnya ... aku tidak bisa menanyakan itu kepada pacarnya itu, karna sudah sangat lama kami tidak bertemu.
Dengan janji dan harapan yang dia berikan, kami menjadi lebih dekat, tapi tidak bisa di katakan hubungan pacaran, dan juga tidak bisa lagi di katakan sebagai sahabat, karna semuanya sudah berubah.
Hingga suatu hari dia mengajak ku untuk berkencan, sampai umur ku 19 tahun, aku belum pernah merasakan yang namanya berkencan. Padahal sudah banyak lelaki yang mengajak ku, tapi aku selalu menolak mereka. Tentu saja, meski tidak terlalu cantik, tapi aku juga tidak tergolong dalam kategori jelek, karna banyak yang mengatakan jika aku itu gadis yang manis.
Tapi, ntah apa yang Riyan mantrakan kepada ku, hingga aku dengan patuh, mau pergi bersama nya. Mulanya biasa saja, kami hanya duduk dan bercanda, aku yang memang wanita periang, tidak pernah bisa untuk menahan tawa, apalagi kala dia membuat lelucon, gelak tawaku terus saja pecah, hingga dia melototi ku, mungkin karna dia malu sebab semua orang menyaksikan kami.
Tangan nya perlahan terangkat, mengelus lembut puncak kepala ku, aku kira dia ingin memukul ku seperti yang biasa dia lakukan, tapi ini beda, dia membelai dengan penuh kelembutan.
Ada apa ini ... kenapa perubahan sikapnya begitu mendadak, apa dia kesurupan saat di jalan tadi. Perlahan tangan nya yang di kepala ku turun, menyentuh sudut bibir ku yang merah muda, ku pegang tangan nya, agar dia berhenti dari kegiatan nya itu, karna aku sudah mulai merasa gugup.
Tapi, dia malah memegang kedua tangan ku yang kecil ini, mencengkeram lembut dengan sebelah tangan kirinya yang besar. Tangan kanannya kembali menyentuh wajahku, dan akhirnya hinggap lagi di bibir ranum ku yang belum pernah di sentuh oleh siapapun.
Dengan kelembutan, dia menarik tengkuk leher ku, lalu mengecup bibir ku dengan begitu pelan, mataku seketika membulat, apa yang dia lakukan, sungguh tidak bisa aku terima, dengan sekuat tenaga aku berusaha melepaskan kedua tangan ku, lalu ku pukul dada nya yang bidang hingga penyatuan singkat itu terlepas.
Aku marah, nafas ku menderu hebat, dia tau karna melihat dada ku yang naik turun, Aku ingin protes dan juga ingin menampar wajah yang sudah sayu itu. Tapi, belum sempat aku berkata satu huruf pun, dia kembali melumat bibir ku, kali ini dengan sedikit agresif, aku lagi-lagi tidak menyangka, kenapa dia jahat, kenapa dia tega, bahkan first kiss ku di ambil oleh sahabat ku sendiri.
Aku masih memberontak, tapi dia sudah tidak lagi melepaskan ku, hingga pertahanan ku runtuh sudah, aku tidak melawan juga tidak membalas, perasaan ku campur aduk, sedih, merasa bersalah, hingga dia mulai melepaskan ciumannya.
Setelah itu, aku hanya diam ... tidak berani menatap wajahnya, bagaimana ini semua bisa terjadi, padahal aku tau, jika dia bukan lah lelaki yang baik, dia sering bermain dengan perempuan. Itu hal yang wajar, karna dia seorang lelaki yang cukup tampan dan juga dari keluarga berada, kenapa aku sangat bodoh dan ceroboh, hingga membiarkan sahabat ku sendiri mengambil ciuman pertama ku.
Setelah pertemuan kami pada hari itu, aku mulai merasa wanita yang paling jahat, dan dia hanya bersikap biasa saja, sama sekali tidak merasa bersalah atas apa yang dia lakukan terhadap ku, hingga suatu hari, aku mendapatkan pesan dari dirinya.
"Mengapa kamu mengumbar kan tentang hubungan kita kepada orang lain, hingga Divia tau kalau kita pernah pergi bersama, Riska?
Aku terbelalak, jantung ku berdegup kencang, nafasku tercekat, suaraku hanya sampai di tenggorokan. Bukan kah dia yang mengatakan jika mereka memang tidak memiliki hubungan apapun lagi. Dan anehnya, kenapa dia menuduh ku membocorkan hal yang aku tutupi. Aku memang takut jika Divia pacar nya yang sudah lama putus tau, karna kami adalah teman, meski mereka sudah putus, bukan berarti aku harus bersama Riyan, bukan?.
Aku marah, setelah ku cari tau, ternyata Riyan sendiri lah yang mengumbar semua nya, dia mengatakan pada semua teman lelakinya jika kami pernah berkencan. Dan parahnya, dia mengatakan jika kami pernah berhubungan.
Aku emosi, aku marah, aku malu, tapi aku tidak bisa mengatakan itu kepada siapapun, tidak ada yang mau mempercayai ku, setelah semua orang tau jika aku merebut pacar teman ku sendiri.
Ya, itu yang mereka pikirkan, bahkan semua orang yang ada di kampus, menganggap remeh, menganggap ku hina, dan menganggap ku penghianat, semua cibiran di lontarkan untuk diriku, bahkan aku malu hanya untuk mendongak kan wajahku. Padahal tanpa mereka tau, jika yang terjadi bukan karna kesengajaan, karna yang aku tau mereka sudah putus, meskipun tetap salah, tapi setidaknya aku tidka terlalu di pandang hina seperti yang aku rasakan saat ini. Bahkan teman lelaki ku mengirimkan pesan untuk mengatai ku, menghina ku.
Salah kah aku, karna telah melakukan sesuatu yang tidak aku tau kenyataan nya, salah kah aku, karna aku melukai hati wanita lain karna di bohongi oleh lelaki jahat itu, pantas kah aku menerima hinaan ini sendiri? sungguh, aku juga ingin mendapat keadilan.
Divia, dia adalah korban, semua orang berpihak kepadanya, menguatkan dirinya, dan berusaha agar ada untuk Divia. Dia mempunyai banyak pendukung, karna ketidak berdayaanku untuk membela diriku sendiri. Jika aku mengatakan semuanya, percuma saja, tidak akan ada yang percaya. Karna Riyan, terlebih dahulu menceritakan semuanya.
Bagaimana dengan Riyan? heuh, jangan tanya, dia lepas tangan, tidak mau membantu ku atau menyelesaikan masalah ini, aku harus sendiri, berusaha tegar dan bangkit.
Untung nya Divia masih mau memaafkan ku, ntah itu karna terpaksa atau mungkin dia memang sudah tau watak lelaki nya itu seperti apa.
Saat ini kedua nya hidup bahagia, sahabat ku bahagia setelah membaca luka dan malu pada diriku. Bahkan sampai sekarang pun, aku masih sangat sakit mengingat jika mereka tidak pernah putus, dan aku hanyalah di manfaatkan oleh sahabat ku sendiri.
Bukan karna cinta, ntah apa yang membuatku begitu patuh saat itu kepada nya, aku merasa diri ini begitu bodoh, padahal aku juga tau, jika dia tidak mungkin mencintai ku, tapi aku tetap mendengar kan apa yang dia katakan, dan mempercayai nya, dan berakhir menyakiti hati Divia yang begitu baik kepada ku.
Tapi setidaknya aku merasa lega, karna mereka tetap bersama, dan kini sudah sah dalam sebuah ikatan pernikahan, biarlah ini menjadi sebuah pelajaran untuk ku, jika seseorang yang kita percayai belum tentu akan baik kepada kita.
Persahabatan kami, sekarang hanya lah tinggal kenangan, tidak mungkin aku bersahabat dengan suami yang istri nya sudah aku lukai bukan.
Biarlah aku pergi mencari kebahagiaan ku sendiri, mencari seseorang yang mungkin telah di siapkan untuk diriku.
~TAMAT~