Musim dingin berganti menjadi musim semi. Burung-burung berkicau di ranting pepohonan. Tanaman bersemi kembali mentari pagi hari bersinar terang, di kerajaan Matahari disibukkan dengan kegiatan perayaan musim semi.
Berbagai persiapan untuk perayaan musim semi nanti malam di awali dengan pelepasan lampion terbang dan wisata air yang dimanjakan dengan berbagai hiburan tarian dan nyanyian. Serta aneka jajanan kuliner di kerajaan itu.
Dari sisi barat kerajaan Matahari ada banyak rombongan orang-orang berbondong-bondong ingin meraih keuntungan dengan berjualan, ada juga hanya wisata melancong, dan salah satunya sebuah kereta sederhana yang hanya satu penumpang perempuan dan kusir nya. Wanita penumpang itu menutupi wajahnya dengan sebuah cadar hitam. Dan hanya menatap ke sekeliling jalanan yang dilewatinya.
"Nona kita sudah sampai di kerajaan Matahari. Apakah kita akan terus berjalan ataukah menginap ?" Tanya sang pengawal pribadi yang juga merangkap kusir kereta.
"Kita menginap saja, sepertinya si hitam kecapekan", Jelas Xiang Qin, Lang Xia menjalankan perintah tuan putri nya. Mereka menuju ke penginapan terdekat serta menyewanya. Mereka beristirahat dengan memesan makanan di dalam kamarnya. Xiang Qin membuka cadarnya saat mereka di kamarnya, dan Lang Xia hanya tersenyum tipis melihat ekspresi Xiang Qin yang duduk-duduk di pinggiran ranjang. Nona nya tadi terkagum-kagum melihat keindahan kerajaan Matahari. Sementara mereka sebenarnya hanya tinggal berdua di lereng gunung jauh dari pemukiman penduduk. Keduanya hidup sederhana sebagai tabib di pedesaan sekitarnya yang ada di lereng gunung tersebut. Namun karena kejadian itu dia di usir warga desa yang tinggal di sekitarnya untuk pergi dari sana. Rumahnya dirusak dan dibakar, obat-obatan tertentu saja yang dapat diselamatkan oleh mereka berdua disela-sela kericuhan amukan warga.
Saat itu dia menolong warga yang diserang binatang buas di gunung tersebut, waktu itu dia sedang mencari daun obat-obatan, Karena mendengar suara permintaan tolong ia pun tanpa pikir panjang segera berlari menuju sumber suara. Xiang Qin berlari cepat karena memiliki tenaga dalam maka ia seperti terbang diantara rerumputan dan ranting pepohonan. Hingga dia melihat seorang laki-laki di kejar beruang madu mengamuk. Ternyata dia adalah seorang yang suka mengambil madu di hutan untuk dijualnya ke kota.
Wanita itu mengalihkan perhatian si beruang madu, dengan kecepatan tinggi dia juga mengamankan lelaki itu. Setelahnya ia pun bertarung melawan berjuang tersebut namun hanya ingin menakuti saja, ternyata si lelaki itu bermaksud menyakiti beruang dengan kata lain ingin membunuhnya.
Tentu saja dia sudah terbiasa hidup damai dengan penghuni hutan dan lainnya tidak mengizinkan. Karena terkejut dengan serangan lelaki itu ke beruang maka tanpa sengaja ia mengerahkan sebagian tenaga dalam nya untuk menangkis dan menghalau serangan ke arah beruang. Dan menyebabkan lelaki itu membeku seperti batu es. Karena ilmu tenaga dalam yang di pelajari dari kakeknya mengeluarkan hawa dingin, jika berlebihan akan menyebabkan kebekuan seperti balok es. Lelaki itu tangan satunya yang memegang alat tombak tadi beku seperti dibalut dengan es. Karena ketakutan dia kabur dan menceritakan pada warga desa dengan versi dia. Maka terjadilah pengusirannya.
Xiang Qin sebenarnya hanya hidup berdua dengan kakeknya, setelah kematiannya dia sendirian berjalan sendirian mencari obat-obatan lalu dia bertemu Lang Xia yang hendak diperkosa perampok, wanita itu ternyata adalah rombongan pengantin, yang dibegal dan seluruh rombongan dibunuh dan di jarah hartanya. Xiang Qin menolongnya dan bermaksud mengantarnya pulang namun. Lang Xia tidak mau karena takut dihujat diberbagai masyarakat Sebagai pembawa sial. Semenjak kejadian itu mereka hidup berdua.
"Nona perayaan musim semi akan dimulai. Apakah nona ingin melihat?" Tanya Lang Xia. Gadis itu mengangguk setuju saja, kemudian mereka keluar. Lagi-lagi Xiang Qin mengenakan cadar. Kata kakeknya wajahnya akan menyebabkan masalah di kehidupannya maka harus ditutupi.
Mereka terpesona pemandangan dimalam hari dan keramaian pestanya.
"Copet ..Copet ... Uangku."
Pencopet itu kebetulan melewati mereka dengan tangan kosong dia mencegat dan meringkus pelaku pencopet hanya dua tiga jurus silat.
"Terimakasih atas bantuannya nona." Kata wanita paruh baya itu. Tak jauh dari mereka ada seorang pemuda duduk di serambi dengan teh ditangannya melihatnya. Bagaimana Xiang Qin meringkus pelaku. "Aliran kutub Selatan. Sudah lama pemilik aliran itu menghilang. Dan pengikutnya sudah tidak ada kabarnya. Dia masih muda namun tenaga dalam boleh juga." Gumamnya.
"Nona lihatlah banyak sekali permainan" Lang Xia begitu antusias. Namun Xiang Qin yang biasa hidup tenang sendiri hanya tersenyum melihat pemandangan itu.
Keesokannya mereka melanjutkan perjalanan, mereka hendak mencari tempat yang terpencil dan tinggal yang nyaman. Dan mereka menemukan tempat yang dijual di pinggiran kota dan tempat itu luas sangat pas untuk menjemur dedaunan obatnya nanti. "Semoga kita dapat hidup tanpa gangguan orang jahat lagi" gumamnya. Menurut ceritanya sang Kakek di dunia ini banyak sekali orang saling membenci dan iri tanpa sebab, mereka bahkan tak segan-segan akan menghancurkan semua milik ataupun membunuh orang yang tidak disukainya.
Xiang Qin berpamitan mencari obat-obatan yang dapat di jumpai di sekelilingnya. Sementara Lang Xia memasak bahan makanan dan membersihkan rumah semampunya. Karena tempat itu kotor dan kumuh karena sudah terlalu lama kosong dan tak berpenghuni.
Xiang Qin berjalan menyusuri jalanan di pinggiran kota dekat dengan hutan. hingga ada lima orang menghampirinya dan langsung menyerang. Dia membela diri dengan ketrampilan ilmu beladiri yang kali ini dia berusaha berhati-hati agar tidak terjadi peristiwa seperti waktu itu.
"Rupanya kau dari aliran kutub Selatan. Siapa gurumu?" Teriaknya lantang, Xiang Qin hanya memandangi pria berbaju hitam itu.
"Kita lihat sampai kapan kamu membisu !" mereka kembali menyerangnya bersamaan. Ditengah pertarungan ada sosok lelaki membantu Xiang Qin. "Seorang wanita di keroyok lima lelaki apakah pantas?" Pemuda itu menggunakan kipasnya sebagai senjatanya untuk menghalau mereka.
"Tuan muda Huan jangan ikut campur. Ini adalah harga diri aliran kami." Hardiknya memelototi lelaki itu. "Temanmu itu mencopet. Dan nona ini hanya memberikan pelajaran saja tanpa menyakiti. Apakah kamu tidak malu ?" Tanyanya.
"Apa ? Para pengikut aliran kami bukan seperti itu!" lelaki itu terbelalak terkejut.
"Aku melihatnya dari tempat aku minum teh semalam. Bukan begitu nona ?" Xiang Qin hanya mengangguk.
"Kalau begitu saya mohon maaf. Karena salah dan gegabah. Kami akan menghukumnya sesuai aturan. Mohon maaf merepotkan." Lelaki berbaju hitam itu menjauh diikuti temannya. kini tinggallah mereka berduaan.
"Tuan tidak pergi?' Xiang Qin mengambil keranjang obatnya dan berjalan menyusuri jalan setapak mencari dedaunan obatnya.
"Aku tertarik padamu nona. Kau begitu tenang dan ilmu aliranmu sangatlah langka dan sudah lama tidak terdengar lagi." Serunya. Gadis itu hanya tersenyum tipis dan tak menghiraukan ucapannya. Hingga akhirnya mereka tiba di kediamannya Xiang Qin.
"Apakah kamu tidak menawarkan minuman? Aku sudah menemani seharian nona ?" Tanya Huan.
Xiang Qin menghela nafasnya kemudian mempersilakan dia masuk. Mereka minum dan makan bersama. Semenjak saat itu mereka akrab. Dan Xiang Qin selalu menjaga jarak dengan cara sedikit mengobrol dan lelaki itu membawa pasien ke sana tidak lama banyak yang datang berobat. Bahkan dia tidak mengambil biaya yang mahal. Kebanyakan yang datang adalah orang-orang rakyat jelata yang hanya membayar dengan sayuran atau hewan ternaknya seperti ayam atau ikan hasil tangkapannya.Sejak saat itu mereka dikenal dikalangan para rakyat jelata. Bahkan ada yang membayar dengan tenaganya, membantu memperbaiki pintu atau bagian-bagian rumah yang rusak. Xiang Qin merasakan kebahagiaan karena akhirnya rencananya hidup tenang tanpa menyakiti orang sekitar berhasil. Dia selalu takut ada yang tersakiti karena ilmunya yang menyebabkan beku seperti es batu. Karena dia juga tidak pernah tahu bahwa. cara menetralkan kembali seperti semula.