Bukkkk!!!!
"Putri...." Suara panjang dari seorang perempuan paruh baya yang berlari keluar rumah sesaat setelah mendengar suara pintu mobil yang di tutup kasar.
"Jalan!" Perintah perempuan yang baru duduk di bangku mobil.
"Tapi Put.." Kalimat dari perempuan di balik kemudi mobil mengambang dan seketika berganti anggukan setelah di tatap tajam oleh perempuan yang duduk di sampingnya.
"Putri......." Lirih perempuan paruh baya yang termangu duduk di pinggiran jalan memandang mobil yang makin menghilang dari pandangan. Ia hujamkan telapak tangannya ke dadanya yang terisak oleh tangisan.
***
"Tenangin diri dulu dan nikmatilah suasana disini Put. Ehh kita makan dulu yaa, disana kayaknya ada warung" Tunjuk perempuan bernama Lyra.
Tanpa segurat ekspresi maupun sepatah kata Putri berjalan mendahului Lyra menuju tempat yang dimaksud.
"Selamat datang.. silahkan duduk, mau pesan apa para gadis cantik?" Sapa perempuan dari dalam warung.
Jawaban Putri dan Lyra tersekat oleh suara tangis iba yang tiba-tiba dari seorang perempuan yang sebelumnya duduk di depan warung kemudian pergi.
"Buk, Ibu tadi itu kenapa?" Tanya Lyra yang telah duduk di samping Putri.
Yang di panggil Ibuk tampak meletakkan buku daftar menu beserta kertas dan pena di hadapan mereka lalu berkata,
"Memang begitu, setiap melihat gadis seumuran kalian Ibu tadi itu pasti nangis, sedih teringat anaknya yang di kutuk"
"Di kutuk? maksudnya gimana Buk?" Tanya Lyra kembali.
"Iya. Di kutuk. Jadi, Ibu tadi itu dulu..."
Jawaban si Ibuk terpotong oleh suara Putri,
"Aku kesini untuk nenangin diri bukan dengerin dongeng." Putri menyodorkan secarik kertas ke hadapan si Ibuk. Si Ibuk bersegera menerima kertas tersebut kemudian bertanya canggung pada Lyra,
"Mbak nya, jadi mau pesan apa?"
"Sama aja buk dengan teman saya tadi" Jawab Lyra dengan senyum yang di paksakan.
Putri dan Lyra kini tengah menyantap hidangan yang telah di sajikan. Mereka menikmati sajian tersebut dengan khidmat, tenang, seakan terbuai oleh suasana dan deru suara pantai yang melenakan.
Namun itu tidak berlangsung lama sebab saat ini mereka terusik oleh riuh ramai suara dari arah pantai.
Lyra berdiri lalu meletakkan beberapa lembar uang di atas meja bersiap menuju sumber suara. Putri dengan wajah di tekuk nampak mengekori.
"Maaf, permisi, ini ada apa ya Pak?" Tanya Lyra pada seorang Bapak-Bapak yang tampak keluar dari kerumunan.
"Ohhh.. itu Mbak, ada warga sini yang mau bunuh diri tapi udah di amankan warga lainnya kok" Ujar si Bapak sambil berlalu.
Kerumunan berangsur lengang. Hanya tinggal seorang perempuan berpakaian basah sedang memandang sebuah patung di hadapannya.
"Permisi, maaf Ibu, saya Lyra dan ini teman saya Putri. Tadi di warung depan kita berpapasan. Maaf lagi Bu bukan lancang tapi ini pakaian Ibu basah semua Bu, Ibu kenapa?" Penasaran yang menyeruak dalam diri Lyra berbaur dengan kekhawatiran atas kondisi perempuan tersebut yang nyatanya beberapa waktu lalu berada di tengah laut.
Sementara Putri tengah berdecak kagum mengitari sebuah patung.
"Keren yang bikin patung ini. Persis seperti asli. Benar-benar nyata kayak perempuan jutek berparas cantik. Tapi.. apa ini? air?" Putri mengusap air yang keluar dari mata patung.
"Air Mata Naima". Ibu yang basah kuyup tersebut menjawab dengan tatapan nanar ke arah patung.
"11 tahun yang lalu, saya hidup bersama putri saya satu-satunya yang saya sayangi sepenuh hati, saya cintai melebihi kecintaan terhadap apa pun di dunia ini. Kasih, sayang, cinta dan keinginan untuk membahagiakan putri saya tidak dapat saya gambarkan dengan kata-kata hanya pemilik jiwa ini saja yang tahu bagaimana. Sehingga meski hanya seorang janda miskin, semua keinginan putri saya dengan segenap daya upaya selalu saya usahakan agar terpenuhi walaupun sikap putri saya dari hari berganti tahun tiada perubahan, masih dan selalu sama, egois, keras kepala, angkuh bahkan yang lebih menyakitkan... dia abai, acuh, tidak perduli sama sekali terhadap saya ibu kandungnya yang tulus menghabiskan seluruh hidup ini untuk merawat, mendidiknya dengan harapan Ia hidup bahagia, di sayangi, di hormati oleh sekitarnya berkat sifat dan sikap yang selayaknya manusia seharusnya. Namun suatu waktu sikapnya yang demikian, tiada perbaikan apalagi perubahan membuat saya melontarkan ucapan, sungguh keras kau Nak! bersatulah dengan sikap dingin kau itu!! batu lah seperti es!!! batu lah!!!!! dan semesta berkehendak. Ini lah Putri saya yang sombong itu, yang keras itu, yang acuh itu kini telah membeku, membatu. Seringkali ingin saya tenggelamkan, hilangkan diri saya yang hina ini, tiada sanggup saya sebagai seorang Ibu melihat putri tercinta jadi anak durhaka namun ternyata saya juga tak mampu meninggalkan Ia yang malang kini. Ohhh anak.. anak saya... Naima Putri saya kini menjadi Putri Es" Si Ibu sesenggukan sambil memeluk dan mengusap air yang keluar dari mata patung.
"Lyra, ayo kita pulang. Aku harus ketemu Bunda"
Pinta Putri lirih.
***Selesai***