Berkenalan dengan sosok tinggi. Sosok yang membuat hatiku bergetar. Hubungan kami bernama teman.
Setiap canda membawaku semakin dalam medambanya. Setiap obrolan membawaku ingin selalu ingin mendengar berbagai ceritanya.
"Nes, ada dua ribu"
Tanpa bertanya aku memberinya duaribu itu.
"Makasih" dan dia pergi menyosong seorang gadis di ujung sana yang sedang bercanda dengan temannya. Cintanya.
"Nes kenapa motor lo?" Aku melihat siapa yang mendekat padaku. Dia.
"Mogok nggak tahu kenapa" aku terus memencet tombot starter. Tapi tidak bisa.
"Siniin ke gue" akhirnya dia membantuku.
Sekali mengengkol mesinnya langsung menyala. Aku tersenyum.
Besoknya,
"La gue nebeng ya, motor gue di bengkel" kataku pada Lala yang rumahnya searah denganku.
"Ya sip" aku pulang dengan Lala.
"Nes besok lo berangkat sama siapa?"
Menggelengkan kepala. Tak tahu dengan siapa.
"Yaudah bareng gue aja"
"Oke"
"Yawes gue balik" Lala menjalankan motornya.
*****
"Nes sori ntar gue gak bisa balik sama lo, lupa gue ada janji sama Putri kemarenan"
"Iyo rapopo, Ntar gue cari tebengan lain sabilah"
"Sori ya"
"Hmm..."
Balik sama sapa yak! Coba naik angkot aja. Belum pernah juga. Coba ajalah.
"Gue balik ya guys" aku pamit pada siapapun itu dikelas.
"Yo ati ati"
Berjalan keluar pagar sekolah bersama beberapa anak yang biasa naik angkot.
Menunggu angkot, bengong. Eh itu... yah penuh... Kenapa pulang sekolah pada barengan sih. Ini angkot juga penuh- penuh mulu. Kesalku. Panas, haus, lapar paket komplit buat makin esmosi.
"Woi ngapa lu disini? Kagak pulang" Dia. Aku memutar bola mataku malas.
"Ini lagi nunggu angkot Maliiii... rame terus. Lagian kenapa bel sekolah waktu pulang itu mesti barengan sik, jadi penuh mulu angkotnya" omelku yang salah sasaran.
"Wooo woles pren" Dia tertawa, renyah.
"Yaudah bareng gue aja"
"Ish.. ini orang, dari tadi kek pake basa basi ngobrol segala" Aku tanpa tahu malu langsung mendarat di jok belakangnya.
"Ini cewek! gak tau diri, udah untung gue tebengin" Dia menoyor kepalaku.
"Gak iklas lo?! Gak usah kalo gitu" Ambekku.
"Dih sensi amat" cibirnya.
Aku terbahak "Udeh, ayok! jadi gak lu nebengin gue"
"Jadi ayok" Ucapnya menghidupkan motor.
"Kenapa motor lo?"
"Hah! Ape?" Tanyaku yang tak mendengar dia ngomong apa.
"Budeg elah! MOTOR LO KENAPE?"
"Buset gak pake tereak bapak, malu itu ama sebelah. Terkejoed dia" aku terbahak membuatnya ikut terbahak.
"Lagian" setelah tawanya mereda.
"Masuk bengkel"
"Yaudah nebeng gue aja, berangkat sama pulangnya" tak terasa kami sudah sampai dirumahku.
"Grates kan" teriakku. Dia melaju kencang mau tak mau aku dan Dia mengobrol dalam notasi tinggi.
"Bayar sini" aku berdiri masih meneruskan obrolan kami, aku tak ingin masuk
"Beh sama aja gue ngojek dong" timpalku
"Marebu aja yak" lanjutku lagi menawar.
"Iya dah kagak papa" dia pasrah.
"Gile serius, kan gue becanda kali, tapi boleh deh, maribu, dil" aku mengacungkan tanganku kearahnya. Ia menyambut dan mencium punggung tanganku. Aku terpaku
"Kalo gitu papa pulang ya ma" mataku melebar. Kesadaranku kembali. Ini orang gak tau apa gue baper.
"Njir jijik" aku mengeplak bahunya menutupi grogiku. Ia terbahak sangat keras. Motornya menjauhi rumahku.
Kling!
Aku membaca chat Lala menanyakan apa aku akan berangkat bersamanya besok. Aku menolak ajakannya.
Aku mengirim chat pada Dia, apa akan menjemputku besok pagi. Dan dengan cepat Dia membalas dengan gambar jempol. Hanya itu tapi membuat hatiku berbunga.
Beberapa hari kami semakin dekat. Hingga aku tahu Dia sudah memiliki tambatan hati. Kabar itu membuatku patah hati. Sangat dalam.
"Motor lo gimana?" Tanyanya.
"Besok bisa diambil" harusnya motorku sudah bisa diambil seminggu lalu tapi sengaja, belum aku ambil. Aku masih ingin bersamanya.
"Yaudah besok gue temenin" aku tahu, Dia tak bisa mengantar jemputku lagi. Karena ada yang lain, yang lebih ingin Dia antar jemput.
Dia mengatakan padaku, kalau si pegenggam hatinya. Menerima cinta Dia. Jadi Dia meminta maaf padaku tak bisa lagi mengantar jemputku.
"Gak usah nanti abang gue yang ngambilin." Kataku lemas.
"Besok lo berangkat sama sapa? Kan motor lo baru besok diambil" jangan gitu masee... aku bisa baper gak berenti lho...
"Ya sama abang gue, udeh lo tenang aja, tugas lo ke gue dah kelar, udeh sana pulang lo. Hus.. hus.. hus.." usirku. aku masih terpaku ditempatku melihat Dia hingga punggung beserta motornya hilang di pengkolan.
Bye my love.