Dia Putri es, itu sebutan seorang gadis dengan gaya kasualnya dan jangan lupa headset yang selalu setia menutupi telinganya. Kenapa di sebut demikian oleh para mahasiswa? Karena dia selalu bicara singkat, padat, dan jelas serta tajam.
Namun herannya, banyak pria selalu mendekatinya. Meskipun mendapatkan jawaban dingin dari gadis itu.
"Rae, kau sudah mengerjakan tugas?" tanya Sarah teman satu kelas gadis itu.
"Sudah," jawabnya singkat.
"Setelah pulang kuliah kau ada acara?" tanya Sarah lagi.
"Ada," jawab gadis itu yang tak lain bernama Raena.
Ingin sekali Sarah marah kepada orang di hadapannya ini. Karena setiap jawabannya selalu singkat, dan dengan nada datar.
"Kau tahu tidak, Bagas dari dulu suka kepadamu?" Sarah mengalihkan topik.
"Oh," Sarah hanya menggendus sebal ketika Raena hanya menjawab dua huruf.
"Kenapa jawabanmu hanya 'Oh' saja, sih?" protes sarah sedikit mulai emosi.
"Terus?" Sarah memutarkan bola matanya, karena dia di buat kesal.
"Begini Tuan Putri es yang cantik. Kau tahu, kan. Bagas itu pangeran Kampus kita? Kau tidak ada secuil sedikit pun kepada dia?" Sarah mencoba bersabar mengahadapi Raena.
"Enggak, buat apa?" balas Raena yang mungkin mendengar pembicaraan mereka langsung melolot kepadanya.
"Ya, Tuhan. Kenapa aku punya teman seperti ini, sih?" Sarah sudah tidak tahan lagi.
***
Keesokan harinya, di kampus yang sama. Raena sedang berjalan menyusuri lorong kampus. Namun langkahnya terhenti, ketika melihat salah satu teman satu kelasnya di seret oleh para geng Ratu kampus ke toilet. Masalah Ratu kampus, tidak ada yang berani menghadapi mereka yang beranggotakan 5 gadis anak pengurus yayasan di Kampus. Sedangkan pemilik Kampus, milik Kakek Raena.
Kembali ke teman Raena yang sudah diseret ke toilet Kampus. Di dalam sana, mereka membully gadis itu sampai kaca mata yang bertengger di gadis bernama Aira, pecah dan patah.
"Ah, kacamataku. Tolong, aku tidak bisa melihat." Aira mencoba meraba - raba lantai toilet mencari kaca matanya. Namun gadis itu terjatuh lagi, setelah di dorong oleh satu geng Ratu kampus bernama Gladis.
"Hei, gadis kutu buku. Aku peringatkan, ya. Kau jangan dekati Bagas. Dia itu milik Chalsea, paham?" ucap Gladis kasar.
"Lagian, aku bisa mencabut beasiswamu. Jika kamu masih mendekati kekasihku." ucap Chalse sinis.
Sementara di dalam Toilet, tidak hanya mereka saja. Entah jurus apa, Raena sudah berada di salah satu bilik toilet merekam semua perkataan mereka.
"A... aku tidak mendekati Bagas. Dia hanya mengajariku beberapa mata kuliah yang belum aku paham." Aira mencoba membela dirinya, dalam keadaan bergetar.
"Wah, berani menjawab dia. Teman - teman, bagaimana kita lucuti saja dia, kemudian kita foto, dan kita sebarkan di medsos. Bagaimana?" Chalsea mengajak teman - temannya untuk membully.
Namun sayang, saat mereka akan melakukan aksinya. Ada yang menyiram mereka, dari salah satu bilik toilet dengan air bekas cucian pel.
"Aduh, kotoran memang haris di bersihkan dengan air." ucap Raena keluar dari bilik itu dengan wajah tidak bersalah.
"Hei! Putri es, kau yang menyiram kami, huh?!" ucap Chalsea marah.
"Oh, ada geng ondel - ondel di sini?" Raena pura - pura tidak tahu, dan melihat penampilan mereka yang basah kuyup serta make up mereka berantakan.
"Wah, itu tampilan make up baru?" ejek Raena dam membuat Chelsea geram langsung mengangkat tangannya akan menampar Raena.
Akan tetapi, bukanya menampar. Justru tangan Chelsea langsung di tangkap Raena dan melintirnya kebelakang punggung Chelsea.
"Raena sakit, bang*sat! Lepaskan!" Chelsea kesakitan karena plintiran Raena.
"Sebentar, tanganmu itu butuh diberi pelajaran agar tidak menjadi pembully di Kampus." ucap Raena santai.
"Awas, kau! Akan aku adukan kepada ayahku agar beasiswamu di cabut!" ancamnya yang membuat Raena terkekeh.
"Tidak salah, tuh? Justru Ayahmu bakalan di pecat dari pengurus yayasan." ucap Raena sisnis, dan melepaskan tangan Chalsea dengan kasar.
"Sekarang kau dan teman-temanmu itu keluar sekarang juga, cepat!" bentak Raena dingin.
"Dan satu lagi, awas saja kalian cari korban mahasiswa lain di Kampus. Bisa - bisa kalian semua di D.O kampus ini." ucap Raena tajam.
Gladis yang ketakutan tatapan tajam Raena, langsung menghampiri Chelsea dan menyeretnya keluar dari toilet.
Setelah semuanya pergi, Raena menghampiri Aira yang sedari tadi ketakutan. Namun saat Raena akan membantunya berdiri. Gadis itu langsung tidak sadarkan diri.
"Lah, pakai pingsan. Segala kau, Aira...," ucap Raena sedikit kesal.
Akhirnya, mau tak mau. Raena dengan cekatan membopong tubuh air ke ruang kesehatan. Saat di perjalanan, semua mahasiswa menatap heran melihat Raena membopong tubuh Aira.
"Bukannya membantuku, kalian asik memandang diriku." ucap Raena sedikit keberatan.
Sesampainya di Ruang Kesehatan, kebetulan dokter yang menjaga adalah Kakak kandung Raena.
"Kak, aku datang membawa wanita pujaanmu." ucap Raena meletakkan tubuh Aira di ranjang Ruang Kesehatan.
"Kau membully dia, Dek?" tanya Raka kepada adiknya.
"Sembarangan kalau nuduh, kak. Tanyakanlah geng ondel - ondel itu yang membully dia." Protes Raena sambil memijit punggungnya yang sakit.
Begitulah Raena kepada Raka, predikat Putri Es langsung mencair bila berhadapan dengan kakaknya.
"Sudah, ya Kak. Aku mau keluar dulu, ada kelas soalnya. Sama sekalian, mencari kacamata buat dia." pamit Raena kepada kakaknya yang masih memeriksa Aira.
"Dasar anak itu, teman sendiri di tinggal." kesal Raka melihat Raena sudah keluar dari ruangannya.
***
Beberapa minggu kemudian, setelah kejadian itu. Aira terus - terusan hampir menabrak orang karena dia tidak memakai kaca mata. Sebenarnya dia masih mencari bangkai kacamata miliknya itu. Namun sayang, kacamatanya itu memang benar-benar hancur. Sehingga, dia tidak bisa membeli kaca mata kembali.
'Brak!'
Aira dan lain terkejut ketika Raena meletakkan sesuatu di meja gadis kutu buku.
"Ini apaan, Raena?" tanya Aira menatap kotak yang di taruh Raena tadi.
"Buka, dan pakai. Tidak usah banyak tanya," jawab Raena datar dan kemudian duduk di bangkunya
Sarah yang di sebelah Aira, hanya menepuk pundak Aira agar bersabar bila menghadapi Raena. Aira hanya mengangguk-angguk kepalanya, dan membuka kotak itu.
"Wah, ini kan. Kacamata minus anti radiasi yang selama aku cari." ucap Aira senang.
"Sudah pakai saja, Ai. Siapa tahu cocok denganmu." ucap Sarah menyuruh Aira.
Dengan hari yang senang, Aira memakai kacamatanya. Dia sungguh sangat senang, ketika pandangannya jelas kembali, dan kali ini lebih jelas dari kacamata sebelumnya.
"Raena, terima kasih kacamatanya!" teriak Aira kepada Raena yang sedang duduk di bangkunya sambil membaca buku.
Raena hanya mengangguk-angguk kepalanya, namun matanya fokus dengan buku yang di baca. Semuanya di dalam kelas, tidak mengira kalau di balik dingin Raena masih ada rasa kepedulian kepada orang lain.
Sarah hanya bisa tersenyum, melihat temannya itu. Memang bukan kali ini saja Raena menunjukkan rasa kepeduliannya. Kucing yang saat ini di pelihara Raena, adalah Kucing yang dia selamatkan di dalam selokan. Sarah juga pernah melihat, Raena sering memberikan bekalnya kepada ibu dan anak yang sedang kelaparan. Sehingga anak itu, sering kena omel Raka karena minta uang jajan terus.
Lalu masalah cinta, Sarah tidak tahu soal itu. Karena hingga detik ini pun, Bagas sang Pangeran kampus masih mengejarnya.
- Tamat-
Jangan lupa Like, Komen dan Share, ya...