Setelah ditinggalkan pacarku, aku menjadi boss nya !
Ya, dan disinilah aku. Didepan laptop sedang menulis cerpen tentang diriku sendiri.
Namaku Chathrine orang-orang biasa memanggilku Caca. Saat ini umurku 26 tahun dan tentu saja aku belum menikah. Kalau ditanya kenapa, jawabannya karena aku trauma akan namanya lelaki.
Flashback 2017
Taman Kota Cattleya
"Ah, lelahnya" ucapku lirih. Selesai jogging, aku memutuskan duduk disalah satu kursi dekat dengan air mancur. Mendengarkan musik, sambil melamun adalah hobi baruku sejak tiga bulan yang lalu, ketika aku dilema ingin melanjutkan kuliah S2 ke luar negeri tapi kekurangan biaya.
Tiba-tiba..
"Hai, boleh kenalan ? Aku Rafael. Nama kamu siapa ? Boleh aku duduk disini ?" Sapa seorang lelaki sok akrab padaku. Aku hanya melirik sekilas, lalu melanjutkan lamunanku. Mungkin dalam benaknya, aku adalah wanita yang sombong, tapi sejujurnya karena aku tipe orang yang tidak suka berbasa-basi tentang hal yang tak penting.
Aku diam, tapi nyatanya dia masih menunggu jawabanku. Hm, mungkin seharusnya aku jawab saja, pikirku. "Hai, aku Caca. Boleh"
Dia menatapku intens, aku pun masa bodoh. "Aku ingin berkenalan denganmu, siapa tahu bisa berkenalan lebih dekat kalau tidak keberatan" jawabnya.
Aku memutar bola mataku jengah, tapi demi sopan santun aku pun tetap mencoba merespon dengan baik. "Oh ya" jawabku sambil tersenyum. Dan benar saja, mulai saat itu kami berdua sering bertemu di taman, entah itu kebetulan atau disengaja.
Pertemuan yang intens, akhirnya membuat kami bertukar nomor telepon dan berkomunikasi hingga akhirnya memutuskan berhubungan.
Sampai pada waktunya, setahun hubungan kami.
"Aku ingin kita berdua menikah tahun depan, apakah kamu mau ?" Tiba-tiba dia bertanya, dan ya tentu saja langsung aku jawab IYA! karena memang kami berdua berhubungan selama setahun, banyak hal baru yang aku ketahui, mampu mengubah caraku menilai dunia dan dirinya. Tapi setiap hubungan memang tak pernah berjalan mulus, ada banyak sekali suka duka yang kami alami bersama selama setahun. Sampai suatu waktu, aku yakin dan percaya bahwa dia memang terbaik untukku.
Waktu pun berlalu.
Setelah aku lulus kuliah, sebagai anak perantauan tentu saja aku harus bisa mengatur keuangan. Aku fokus bekerja mengumpulkan pundi-pundi rupiah demi rumah tanggaku kelak. Wah, rasanya sangat menyenangkan bila apa yang akan aku nikmati nanti adalah hasil jerih payahku sendiri.
Di tahun kedua hubungan kami, aku maupun dia bersama-sama berjuang untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan rumah tangga yang kamu idamkan ketika akan menikah nanti. Oh iya, karena dia memiliki rumah dinas jadi rencananya memang kami akan menetap disana.
Ah, akhirnyaaaa...
Semua persiapan untuk rumah tangga sudah selesai. Tinggal menunggu keputusan akhir kapan waktu pelaksanaan pertunangan kami dan pernikahan kami.
Tentu saja keluarga kami sangat mendukung hubungan kami sampai kejenjang yang lebih serius.
TAPI.....
"KITA PUTUS"
Dua jam sebelumnya
"Ca, hari ini datang ketempat pertama kali kita bertemu pukul 6 sore ya" sebuah pesan masuk di handphoneku.
Aku berdandan dengan sangat cantik, memakai dress biru langit. Rambutku dikuncir dengan manis, serta lipstik pink merekah. Ah, rasanya sangat menyenangkan ketika akan bertemu dengan pujaan hati. Dalam otakku, sudah tersusun rencana apa saja yang akan kita lakukan berdua hari ini.
Taman Kota Cattleya
"Ah rasanya sudah lama tak bertemu, padahal tiga hari yang lalu bertemu di mall ya sayang" ucapku ceria. Tapi berbeda halnya dengannya, wajahnya muram dan menyimpan sejuta misteri.
"Ca, aku akan selalu merindukan senyummu dan tawamu ini" ucapnya sendu.
"Kenapa ? Bukannya kalau rindu bisa langsung video call ? Oh iya, besok aku ikut workshop di Jaksel jam 4 sore. Kamu mau temani aku ?" ucapku mengalihkan pembicaraan yang mulai terasa aneh.
"Ca, besok dan seterusnya tak ada aku lagi, tak apa-apa kan ? Kamu bisa sendiri kan ?" ucapnya sambil memegang tanganku yang mulai terasa dingin. "Haha kamu bicara apa? Tentu saja aku bisa sendiri, kan aku mandiri. Kalau kamu memang sibuk dengan pekerjaanmu, aku tidak masalah" ujarku tersenyum padanya.
"Bukan itu maksudku Ca" ucapnya lagi dengan mata berkaca-kata. "Lalu apa maksudnya Fa?" ucapku dengan tatapan kebingungan.
"KITA PUTUS"
DEG !
Waktu terasa berhenti.
Sepuluh menit berlalu dengan keheningan.
Aku menarik nafas dalam-dalam lalu bertanya dengan hati yang sangat sesak, "Kenapa ? Apakah aku memiliki kesalahan ? Kenapa tiba-tiba seperti ini ?" Tapi dia diam saja dan hanya memandangku dengan mata yang penuh dengan sejuta penyesalan.
Dan itulah keputusan akhir yang aku dengar.
Sakit, kecewa, terluka ? Oh tentu saja. Bahkan rasanya aku ingin mengakhiri hidupku. "Apa salahku?" Satu pertanyaan yang bahkan sampai sekarang tak kunjung dijawab olehnya. "Pokoknya aku ingin kita putus, TITIK" jawabnya.
Dan ya, ketika senja berakhir, hubungan kami pun berakhir.
Dua minggu setelah kami berpisah.
Kos Eyang Putri.
"Ca, kamu tahu tidak kabar terbaru dari Rafael ?" temanku bertanya. Aku diam, bingung karena sejujurnya setelah kami berpisah, kami hilang komunikasi atau lebih tepatnya aku diblokir dari semua sosial medianya. "Tidak" jawabku lesu.
"Coba kamu lihat ini baik-baik Ca" ucapnya sambil menyodorkan teleponnya.
HENING
HENING
HENING
Seketika air mataku jatuh.
TES
TES
TES
KENAPA !
KENAPA !
KENAPA !
Hanya itu yang ada dipikiranku. Tanganku releks menjatuhkan handphonenya dan menangis histeris.
Apa yang aku lihat itu ?
Benarkah ?
apakah itu Rafael yang sama ?
Sampai akhirnya aku tidak bisa merasakan apapun, dan dunia berubah menjadi gelap.
"Mama, papa maafkan aku telah mengecewakan kalian dan membuat kalian menangis. Maafkan aku telah membuat hati kalian sakit. Aku merasa menjadi anak yang sangat durhaka pada orangtuanya. Mama, Papa tolong ikhlaskan hubunganku dengan Rafael harus berakhir seperti ini" aku berbicara sambil sesegukan lewat video call.
"Tak apa nak, memang kalian tidak berjodoh. Kami sudah ikhlas biarkan nak Rafael menjemput kebahagiaannya sendiri ya nak" jawab Mama dan papa sambil menghapus air mata mereka yang jatuh.
DEPRESI !
DEPRESI !
DEPRESI !
Tiga bulan lamanya aku depresi. Mungkin orang lain berpikir, aku terlalu alay hanya karena ditinggal pacar, langsung depresi.
Wah bapak ibu, saudara sekalian.
Mungkin belum pernah merasakan rasanya kalah setelah perjuangan yang sangat berat. Ada orang yang mungkin bisa menerima hasil akhir dan ada pula yang tidak bisa. Dan ya, aku termasuk digolongan kedua.
Tok... Tok... Tok...
"Ca, ada tante yang cariin kamu didepan" teriak temanku dari luar kamar.
"Iya" sahutku malas.
DEG !
"Nak" ucap mama Lena yang biasa aku peluk dan bercanda denganku ada dihadapanku sekarang. "Eh, mam kenapa jauh-jauh kesini mam ?" ucapku grogi. "Iya nak mama ingin bertemu kamu langsung supaya bisa berbicara lebih leluasa" ucap mama Lena, atau lebih tepatnya mantan calon mama mantu.
"Iya mam, silahkan duduk. Mau minum apa mam ? Sudah makan ?" ucapku tersenyum hangat. "Nak, mama kesini hanya mau bicara soal masalah kamu dan Rafael. Maafin mama ya nak, mama tidak bisa mendidik anak mama itu dengan baik, sehingga dia menyakiti kamu dengan cara seperti ini. Mama ingin kamu yang jadi menantu mama sayang, tapi mama juga tidak bisa terbuat apa-apa. Kamu tahu masalah yang sebenarnya nak?" tanyanya. "Ah, tak apa-apa mam, aku ikhlas yang penting dia bahagia" ujarku menahan air mata yang hampir jatuh. "Nak, maafkan Rafa ya sayang, semoga kamu mendapatkan kebahagiaan kamu sendiri. Sampai kapanpun kamu akan selalu mama anggap anak mama. Anak mama yang cantik dan sangat baik hati. Mama tidak bisa berbicara banyak, biarlah nanti Rafa yang jelaskan ya sayang" ucap mama Lena sambil menghapus air matanya. "Iya mama tenang saja, aku baik-baik saja" balasku tersenyum miris.
KRING.. KRING.. KRING..
Pukul 12 malam, teleponku berdering.
"Halo, siapa?" aku menjawab.
Tidak ada suara..
Hening
"Halo" sahutku lagi.
Tidak ada suara..
Hening
"Kalau tidak ada keperluan, saya matikan" jawabku kesal.
"Halo Ca"
Hening
Hening
Hening
"Caca, kamu dengar suara aku kan? Masih kenal suara aku kan Ca ?"
Hening
"Ok aku anggap kamu dengar aku. Maaf aku mengganggu kamu malam-malam begini. Aku cuma mau bilang terima kasih dan maaf. Terima kasih karena pernah menjadi orang yang sangat sabar terhadap sikapku dahulu, terima kasih sudah berjuang buat masa depan yang sempat ingin kita tata berdua. Dan maaf, aku menghianatimu. Maafkan aku belum bisa menjadi yang terbaik buat kamu selama kita bersama dulu, tapi satu hal yang harus kamu tahu Ca, bahwa sampai kapanpun kamu akan selalu menjadi satu-satunya sosok wanita terbaik buat aku. Dan sekali lagi maaf, aku meninggalkan kamu demi dia. Aku harap kamu menemukan kebahagiaan kamu, dan biarlah aku hidup dalam rasa bersalahku selama sisa hidupku. Jauh dalam lubuk hatiku aku mencintai kamu Ca, maafkan aku bermain dibelakang kamu. Dan ya, inilah hasil yang harus aku terima. Menikah dengan orang yang tak sepantasnya aku nikahi hanya karena telah ada sosok mungil dalam rahimnya. Aku sangat sangat sangat menyesal Ca" ucapnya padaku sambil menangis.
Manado, tahun 2022
Aku tersenyum didepan laptopku, sambil melihat senja yang akan berakhir. Tapi bukanlah hari-hari selanjutnya akan ada senja lagi ?
Mengingat masa lalu hanya akan membuat kita berjalan ditempat. Dan itulah yang aku pegang teguh, bahwa tak akan pernah ada akhir untuk senja, sama seperti semangatku yang tak akan ada habisnya.
Keterpurukan mengajarkan aku banyak hal, bahwa adakalanya Tuhan memberikan kita kesakitan luar biasa sebelum Tuhan memberikan kebahagiaan berkali lipat.
Aku menjadi manusia yang jauh lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya, sehingga pada tahun 2021 aku berhasil mendirikan Butik Chathrine dengan desain pakaian hasil dari rancangan tanganku sendiri.
Dan kabar baiknya juga, aku berhasil mendapatkan beasiswa full S2 di salah satu kampus terbaik di Jepang.
YEAY !🥳
YEAY !🥳
YEAY !🥳
AKHIRNYA CITA-CITAKU TERCAPAI !
TAMAT
Terima kasih teman-teman semua yang udah mau baca cerpenku ini, mungkin kurang sesuai sama temanya ya 😅 Tolong dimaafkan dan dimaklumi ya. Karena aku gak ada basic dimenulis, ini pertama kalinya😂😅 Silahkan dikoreksi 🙏😊😚
Arigatou gozaimasu minna san
Ja, mata ne.
❤❤❤