"Sudah tujuh belas tahun lamanya sejak Raha dibuang olehmu hanya karena perintah rakyatmu. Aku bahkan tidak anakku hidup atau mati" ucap seorang wanita berwajah cantik sambil menyisir rambutnya di depan cermin yang besar berlapis emas permata.
"Aku terpaksa, kau pun tahu hal itu. Aku hanya menyelamatkan kerajaan ini dan semua orang" jawab raja pada wanita yang tidak lain adalah istrinya.
"Jawabanmu selalu itu itu saja, apa salah anakku" Air mata ratu mulai jatuh ke pipi putihnya.
"Dia tidak salah, takdir yang membawanya pergi. Sejak dia lahir sudah berada orang mati karena sentuhannya" jawab Raja.
"Hanya karena seorang peramal tua kau biarkan dia pergi mencari seseorang yang mungkin tidak ada. Kita bisa saja menyembunyikannya"
"Itu lebih berbahaya karena jika kerajaan lain tahu mereka akan menyerang kita sebab menganggap anak itu adalah ancaman bagi mereka"
"Maafkan aku" tambah Raja sambil memeluk istrinya.
***
Raha berjalan sendirian di hutan yang lebat dengan baju tebal yang menutup seluruh tubuhnya. Dia tampak sangat ketakutan orang lain mengetahui keberadaannya. Sejak dia hanya tinggal dengan seorang pelayan yang diperintahkan membuangnya dulu. Pelayan itu tidak tega membiarkan Raha sendiri. Pelayanan itu mempunyai cara sendiri agar bisa hidup dengan Raha yaitu dengan tidak bersentuhan secara langsung dengannya.
Raha menatap bunga merah yang menawan di hadapannya. Dia menyentuh bunga tersebut dengan sarung tangannya. Tentu saja bunga itu tidak apa-apa. Raha membuka sarung tangannya dan berniat menyentuh secara langsung, selama tujuh belas tahun dia tidak menyentuh apapun siapa tahu kutukan di dalam dirinya sudah hilang.
Raha hanya menyentuh dengan jari telunjuknya, bunga itu langsung mengeras dan hancur menjadi debu.
"Kau anak yang dibicarakan oleh seluruh penjuru dunia? Kau menjadi incaran setiap Raja untuk dijadikan alat perang dan setelah melihatmu aku tahu alasan mereka mengapa begitu" ucap seorang pria yang sudah memperhatikannya dari tadi.
"Perintahnya hanya dua membunuhmu atau membawamu untuk mereka" tambah pria itu tanpa rasa bersalah.
Pria itu berlahan mendekat, membuat Raha ketakutan. Hidupnya sudah tidak aman lagi. Raha berlari kencang menjauh dari pria tersebut.
"Kejar dia, dia anak yang kita cari" teriak pria itu. Membuat 3 pengawalnya mengejar Raha dan dia berlari mengejar mereka dari belakang.
Raha berlari sejauh mungkin sampai dia dapat tempat persembunyian di belakang batu besar. Tampak para pria itu berpencar untuk mencari Raha. Pria tersebut terus mencari Raha di sekitaran batu besar itu dan dia melihat sedikit kain penutup Raha. Dia tersenyum licik dan diam-diam mendekat kesana.
Raha sadar akan hal itu dan dia kembali berlari kencang.
Sraat.
Kain penutup kepala Raha terbuka karena tertarik oleh pria tersebut. Rambut Raha yang panjang berwarna putih menjuntai ke bawah, sekilas dia menatap pria itu dengan mata indahnya yang di tutup oleh kelopak mata berwarna putih juga, begitu juga dengan alis, serta bulu matanya. Satu-satunya yang berwarna lain di tubuhnya adalah bola matanya itu.
Pria itu tercengang dan menatap Raha dengan saksama. Dia tidak melepaskan pandangannya dari Raha seperti orang yang terbius dan Dia tidak sadar membuat Raha berhasil kabur darinya.
"Dia wanita? bukankah kata Ayahandanya dia adalah pria? Ayahnya berbohong untuk melindunginya" ucap pria itu sendiri.
***
Seluruh penjuru dunia sudah tahu keberadaan Raha sebab ulah tiga pengawal pria tersebut. Mereka sengaja mengirim pesan melalui burung merpati pengantar pesan yang selalu dibawa kemana pun mereka pergi untuk berjaga-jaga jika butuh bantuan. Siapa sangka musuh membunuh merpati itu di tengah jalan dan mencuri pesannya.
Hutan tempat Raha tinggal sudah dipenuhi dengan bala tentara kerajaan yang siap membawa atau membunuhnya jika bertemu. Pria tersebut berusaha sekuat tenaga mencari Raha sebelum orang lain.
Raha yang ketakutan menangis di dalam gua yang dalam dan gelap bersama pelayannya.
"Yang mulia, aku akan menyamar menjadi dirimu untuk mengalihkan mereka. Saat itu terjadi yang mulia harus kabur sejauh mungkin. Yang mulia tidak usah menutupi badan dengan kain tebal agar mereka tidak mengenali yang mulia"
"Aku tidak bisa mengorbankanmu, kau adalah satu-satunya orang yang aku punya"
"Kali ini mohon untuk menurut yang mulia putri Raha"
Pelayan itu berganti pakaian dan keluar dari gua. Seseorang yang melihatnya langsung mengikutinya diikuti oleh beberapa orang lagi. Setelah semua pergi Raha keluar dari gua tanpa sadar pria tersebut melihatnya, tentu saja dia sudah mengenali Raha.
Para tentara mengejar pelayan itu, walau pelayan itu berlari sekuat tenaga dia akhirnya terkepung oleh ratusan dari mereka. Sekarang dia ada di tengah tentara-tentara tersebut dan siap untuk mati.
Panah dan pedang siap untuk menembus kulitnya saat itu. Raha yang sedari tadi mengikuti pelayannya karena tidak tega melihat kejadian itu. Dia ingin menolong pelayan itu segera mungkin.
Tampak seorang membuka kain penutup kepala pelayan itu.
"Jadi kau wanita, Ayahmu sengaja berbohong untuk melindungimu" ucap salah satu dari mereka dengan kasar sambil menyingkap kain tersebut dengan pedangnya.
"Jadi ayah masih saja melindungiku walau dia membuangku" ucap Raha dalam hati.
Raha semakin tidak tahan dengan apa yang dia lihat. Pelayannya semakin tidak berdaya karena dipukuli oleh orang tersebut.
"Kabarnya kau bisa melenyapkan siapapun yang menyentuhmu. Buktinya tidak, sia-sia saja aku datang jauh-jauh untuk mencarimu" ucap orang itu sambil menendangnya kasar.
"Bukan dia tapi aku, apa kau masih bisa bicara setelah melihatku" ucap Raha yang tiba-tiba masuk ke dalam kepungan mereka.
Semua orang mulai menjadi siaga. Penampakan Raha begitu membuat mereka takut. Semuanya serba putih bahkan jejak langkahnya meninggalkan jejak putih seperti es. Apapun yang dia sentuh akan membeku dan hancur menjadi debu.
"Bunuh aku! Sungguh hina kerajaan kalian semua yang takut hanya pada seorang wanita yang mungkin tidak sanggup menyentuh kalian. Apa yang kalian tunggu. Bunuh saja" teriak Raha sambil menutup tubuh pelayannya dengan tubuhnya sendiri.
Seorang menarik anak panahnya.
Sheet.
Anak panah melaju ke arah Raha, Raha menutup matanya dan bersiap untuk mati. Hanya benda hidup yang menyentuh tubuhnya yang akan hancur jika bersentuhan dengan tubuhnya beda halnya jika itu benda mati.
Seorang pria paruh baya melaju secepat kilat dan berhenti tepat di depan Raha. Panah itu menembus kulitnya untung saja bukan di tempat yang fatal.
"Apa yang kau lakukan" teriak Raha.
"Dia Ayahmu yang mulia" bisik pelayan itu.
Raha mendekati orang itu yang tidak lain adalah Ayahnya. Dia hampir menyentuh Ayahnya kalau saja dia tidak ingat dengan kutukan pada tubuhnya itu.
"Ayah tidak perlu melakukan itu, bukannya ayah sudah membuangku? Biarkan aku mati untuk apa aku hidup" teriak Raha sambil menangis. Air matanya jatuh bercucuran dan berubah menjadi es begitu menyentuh tanah.
Mengambil kesempatan yang ada, seorang dari mereka lagi menarik anak panahnya dengan cepat.
"Lari Raha" ucap Ayahnya lirih.
"Tidak, biarkan aku mati"
Kali ini pria itu yang menyelamatkan Raha dengan cara menarik tubuh Raha. Semua terkejut termasuk Raha. Pria itu baik-baik saja dan tidak membeku apalagi hancur menjadi debu.
"Kau tidak boleh mati, karena aku butuh dirimu" ucap pria itu sambil menatap mata Raha.
Seketika langit mengeluarkan cahaya yang silau dan menimpa tubuh Raha. Saat itu juga tubuh Raha bereaksi dan berubah menjadi orang seperti biasa. Berkulit putih layaknya wanita lain, berambut panjang yang kecoklatan dengan balutan gaun putih yang berkilauan.
"Apa ini, kutukan itu sudah hilang" ucap Raha pelan.
"Siapa kau" tanya Ayah Raha.
" Itu tidaklah penting dan aku juga bingung dengan apa yang terjadi, yang terpenting untuk kalian semua sampaikan pesanku pangeran Mories pada Raja kalian masing-masing bahwa anak itu sudah tidak berbahaya lagi dan dia akan jadi istriku. Siapa yang berani menyentuhnya akan berhadapan denganku"
"Kalian pasti sering mendengar kekuatan dari kerajaan timur" tambahnya dengan rasa percaya diri.
Ayahnya mendekati Raha dengan susah payah dan memeluk putrinya itu dengan erat.
"Maafkan ayah putriku"
Kutukan itu sudah hilang, sesuai dengan ucapan peramal tua itu. Hanya orang yang jatuh cinta pada pandangan pertama yang bisa menghilangkan kutukan pada tubuh Raha dan pangeran Mories jatuh cinta pada pandangan pertama padanya.
Mories memerintah agar pengawalnya menjemput kuda mereka di tempat persembunyian mereka dan mereka akhirnya akan kembali kerajaan. Raha dan Mories menaiki kuda yang sama, dikuti oleh pelayannya dan ayah serta pengawal Mories.
"Kau belum minta izin padaku" ucap Raha
"Apa"
"Untuk menikahiku"
"Aku tidak perlu izinmu, karena aku adalah penyelamat hidupmu dan takdirmu adalah bersamaku"
Akhirnya Raha tersenyum setelah sekian lama.
Tamat