“Kita terlahir dengan satu cara, namun kematian akan menjemput kita dengan berbagai cara.” Ujar Abah sore ini sambil menyeruput kopi dalam cangkir kaleng-nya.
Weli mendengarkan dengan takjim dan mencatatnya dalam note pada HP-nya. Weli berpendapat bahwa setajam-tajamnya pikiran, masih lebih tajam pena, jadi ia selalu mencatat hal-hal yang dirasa penting agar jika suatu saat ia memerlukannya namun telah kesulitan mengingat kembali, ia tinggal membaca apa yang telah ia tulis sebelumnya.
“Menurut nak Weli ini, hari yang paling penting dan tidak boleh dilupakan dalam hidup ini hari apa?” tanya Abah sambil menatap Weli serius.
“Hm, entahlah Abah, saya belum pernah memikirkan hal ini sebelumnya, mungkin hari saya dilahirkan dan hari kematian saya nanti..” jawab Weli mengingat kalimat bijak Abah sebelumnya.
“Yah kalau kita sudah meninggal, kita tidak akan bisa mengingatnya lagi kan?” senyum Abah terkembang saat berkata. Batinnya kembali mengingatkan betapa anak laki-laki yang sedang mendekati anak bontotnya ini berupaya sangat maksimal untuk menyenangkan hatinya.
“Saya paham kalau nak Weli ini termasuk pemuda yang sedang memperjuangkan pasangan hidupmu. Yah kalau memang ada seseorang yang bersamanya kita merasa semakin dekat dengan Surga, kita wajib memperjuangkan kebersamaan dengan orang tersebut. Namun jangan pernah lupa untuk tetap menjadi diri sendiri ya Weli. Hidup hanya satu kali. Jalani dengan segala sesuatu yang membuatmu bertumbuh. Isilah hidup dengan sesuatu yang berarti. Jangan biarkan apapun atau siapapun membuatmu tidak menjadi diri sendiri.” Abah mengingatkan Weli.
“Tidak ada manusia yang ingin menghabiskan hidupnya dalam penyesalan. Karena menyesal merupakan perasaan yang menyedihkan, penuh kekecewaan dan tentu saja dibumbui dengan perasaan gagal. Nak Weli pastinya punya mimpi, harapan, rencana, atau tujuan hidup kan? Kalau ada yang tidak tercapai pasti akan ada penyesalan ya? Karena itu selagi masih ada kesempatan dan kemampuan, alangkah baiknya menjalani hidup dengan lebih bijaksana, demi masa depan yang lebih baik.” Abah kembali berkata.
“Kembali ke pembahasan terkait hari yang penting. Samuel Langhorne Clemens atau yang lebih dikenal dengan nama Mark Twain, pernah berkata: 2 hari yang paling penting di dalam hidup Anda adalah hari Anda dilahirkan dan hari Anda mencari tahu mengapa anda lahir.” Abah menghela nafas dan kembali berkata, “Hari sebagai salah satu penanda waktu, juga memiliki makna penting dalam Islam. Buktinya ritual ibadah seperti hari-hari berpuasa dan sholat mengacu pada waktu.”
(Mark Twain -lahir 30 November 1835 dan meninggal 21 April 1910 pada umur 74 tahun- adalah seorang novelis, penulis dan pengajar berkebangsaan Amerika Serikat).
“Kita mungkin berpikir bahwa kita memiliki waktu yang lebih banyak dari yang kita miliki. Pemikiran ini membuat kita cenderung menunda melakukan sesuatu yang penting. Padahal menunda akan membuat pekerjaan atau tujuan yang kita kejar sulit untuk tercapai. Jadi kalau nak Weli sudah memiliki tujuan hidup, kejar itu sekarang juga. Mimpi-mimpi hanya bisa tercapai kalau kita tidak menunggu lama, tetapi memulainya sekarang juga! Jadi kalau ada yang bertanya pada Abah hari apa yang paling penting, maka Abah akan menjawab hari ini, bukan kemaren-kemaren apalagi besok atau lusa. Hari ini adalah hari yang paling penting, sekarang, saat ini. Jangan pernah lupakan hal ini ya nak!” kata Abah akhirnya, yang membuat Weli kembali menuliskan kata-kata bijak itu di note-nya.
“Tapi Abah, kalau Abah sampai melupakan hari Ulang tahun Nyak, Abah pasti akan masuk dalam masalah besar kan?” tiba-tiba Chalik muncul dari arah dalam rumah membawa nampan berisi gorengan. Keharuman pisang goreng dan gandasturi menggugah senyum bahagia di wajah mereka semua.
***