Nirmala, sebuah nama yang memiliki arti suci atau bersih tanpa ada noda, namanya sama cantiknya dengan parasnya, wajahnya yang cantik disukai oleh para manusia-manusia yang menyukai pemandangan yang indah.
Tapi, keadaan keluarganya tidak secantik namanya ataupun parasnya, keadaan keluarganya begitu rapuh, sedikit percikan api keadaan keluarganya akan sangat runyam, membuat gadis tersebut tertekan dan menumbuhkan luka dalam dirinya.
Sebuah luka yang tidak diketahui oleh orang-orang disekitarnya, ia menyembunyikannya begitu baik, atau topeng wajahnya yang begitu tebal? membuat orang-orang tidak sadar, betapa rapuhnya gadis itu.
"Tak! Tak! Tak!"
Suara langkah kaki menggema di koridor sekolah, suasananya begitu sepi, membuat gadis itu merinding seketika, ah! dia memang penakut, begitulah Nirmala seorang gadis yang takut akan tempat-tempat sunyi, apalagi yang tidak ada tanda-tanda kehidupan, ah jangan deh!
Nirmala menggelengkan kepalanya untuk membuyarkan halusinasinya yang terlalu berlebihan.
"𝘔𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘣𝘦𝘭 𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘣𝘶𝘯𝘺𝘪?"
Melihat kelasnya yang tidak jauh dari jangkauannya, Nirmala mempercepat langkahnya, saat berada di pintu kelas Nirmala terdiam sejenak, ia sudah terlambat!
"Hoy! Ngapain diam aja?"
Nirmala melirik kearah samping kanan, ia mendapati seorang cowok yang menatap dirinya dengan bingung.
"Gapapa."
Sebelum Nirmala membuka pintu, cowok tersebut sudah membukanya terlebih, terpampanglah seorang guru perempuan sedang mengajar.
"Kamu murid baru?"
Guru perempuan tersebut menatap Nirmala dengan bingung, gadis yang ditanya menjawab dengan anggukan singkat.
"Biru, kamu terlambat lagi?!"
Cowok yang berada di samping Nirmala, meringis kecil, ia lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Seperti biasa Bu, kesiangan."
"Sudahlah, kembali ke tempat duduk kamu Biru! Dan kamu, silahkan untuk perkenalan."
Nirmala menghela nafasnya melihat teman sekelasnya yang begitu antusias, Nirmala mengangkat dagunya angkuh dan mulai memperkenalkan dirinya.
"Nirmala!"
Warga kelas melongo melihat Nirmala yang hanya memperkenalkan namanya saja, hei! bukankah itu terlalu lugas?
"Hanya nama saja? Tidak ada yang lain nak?"
"Selebihnya tidak penting."
Sekali lagi warga kelas dibuat tercengang dengan jawaban Nirmala, mereka menarik nafas pasrah, sepertinya kelas kami memiliki ratu lugas pikir mereka.
"Baiklah, silahkan kamu duduk disamping Biru ya."
"Biru?"
"Disini, hei! Kau melupakanku terlalu cepat!"
Biru mengangkat tangannya tinggi-tinggi dengan ekspresi riang, Nirmala mengangguk singkat, lalu duduk disamping Biru, mereka semeja!
Nirmala tidak mengharapkan ini, tapi ia tidak memperdulikannya, sepertinya tidak buruk duduk bersamanya pikir Nirmala.
Hari telah berlalu dengan cepat, Nirmala diterima baik oleh para warga sekolah, ia mendapatkan julukan Ratu lugas, karena ia menjawab yang penting saja.
Dikala senja mengeluarkan sinarnya, langit datang untuk melengkapi indahnya, netranya yang menikmati suasana senja membuat ia sejenak lupa akan kesedihannya.
"Mas! Kita udah sepakat, kenapa kamu mengingkarinya!"
"Siapa yang mengingkari janji? Jaga ucapan mu!"
"Kamu bohong mas! Kamu bohong!"
Nirmala melirik kearah pintu kamarnya yang tertutup, ia menghela nafas lalu menarik tirai agar jendela kacanya tertutup.
Nirmala menyetel musik kesukaannya, ia lalu mulai menulis di buku hariannya.
ᴰⁱ ˢᵒʳᵉ ʰᵃʳⁱ ᵐᵉⁿⁱᵏᵐᵃᵗⁱ ˢᵘᵃˢᵃⁿᵃ ˢᵉⁿʲᵃ
ᴰⁱᵈᵃᵐᵖⁱⁿᵍⁱ ʰᵉᵐᵇᵘˢᵃⁿ ᵃⁿᵍⁱⁿ ᵐᵉⁿᵉʳᵖᵃ ʷᵃʲᵃʰᵏᵘ
ᴺᵃᵐᵘⁿ, ⁱᵗᵘ ᵗᵉʳᵍᵃⁿᵍᵍᵘ ᵈᵉⁿᵍᵃⁿ ⁿᵃᵈᵃ⁻ⁿᵃᵈᵃ ᵏᵃˢᵃʳ ʸᵃⁿᵍ ᵈⁱᵈᵉⁿᵍᵃʳⁿʸᵃ
ˢᵉᵐᵉˢᵗᵃ jahat! dia mengganggu ketenangan ku
Nirmala menyobek kertas, ia lalu mengubahnya menjadi pesawat, gadis itu menyimpan pesawatnya dalam tas, ia akan menerbangkannya saat berangkat sekolah pikir gadis itu.
Suasana pagi hari seperti biasa, matahari memancarkan sinarnya, angin berkesiur menarikan membuat udara terasa dingin, dan bumi masih basah di pagi hari.
Kelas lumayan tenang karena sebagian warga kelas belum berangkat, Nirmala duduk dengan tenang di kursi.
"Membosankan!"
Nirmala membatin dengan malas, kehidupan sekolahnya ini tidak semenarik sekolahnya dulu yang penuh akan drama.
"Hei Mala!"
Nirmala memutar bola matanya malas mendengar teriakan Biru yang menurutnya memekakkan telinga.
"Berisik!"
"Jangan terlalu galak, Mala."
"Bukan urusanmu!"
"Yah, seperti biasa kau akan menjawab seperti itu."
Nirmala tidak menjawab keluhan Biru, ia berjalan keluar kelas diikuti oleh Biru, para warga sekolah sudah biasa melihat hal ini, seorang Biru yang selalu mengikuti kemanapun Nirmala pergi kecuali ke toilet.
Mereka sampai di roof top, Biru mengernyitkan keningnya.
"Ngapain kita kesini?"
Nirmala tidak menjawab pertanyaan Biru, ia mengeluarkan pesawat dari sakunya, itu adalah pesawat kertas yang ia buat kemarin sore.
Ia lalu menerbangkan pesawat kertasnya, pesawat itu meluncur dengan perlahan-lahan lalu menghilang mengikuti semilir angin.
Biru tercengang melihatnya, tidak terpikirkan di benaknya bahwa seorang Nirmala bisa seperti itu.
"Sering ngelakuin hal begini?"
"Hum, dan didalamnya ada beberapa kata."
"Kata apa?"
"Pikir sendiri!"
Biru tersenyum tidak berdaya, apa seorang gadis sangat moody-an? Baru saja tadi ia melihat sisi lembut dari seorang Nirmala, kenapa jadi galak lagi!
Sebelum melangkah pergi ponsel Nirmala bergetar, menandakan telefon masuk, Nirmala segera menerimanya.
"Halo?"
"Baik, saya akan segera kesana!"
Raut wajah Nirmala menjadi pucat pasi dengan kegelisahan yang tidak bisa disembunyikan, Biru ingin bertanya tapi ia menelan kata-katanya melihat Nirmala berlari melewati dirinya.
Biru segera menyusul Nirmala namun ia tidak bisa menemukannya! Biru tidak berdaya, ia segera kembali ke kelas dan mulai membuat absen untuk Nirmala.
Di depan ruangan Unit gawat darurat Nirmala mondar-mandir dengan gelisah, beberapa kali ia melihat ke pintu ruangan tapi belum satupun ada yang keluar!
Setiap detik, menit, dan jam telah berlalu begitu lambat bagi Nirmala, detak jantungnya semakin berdebar kencang ketika seorang dokter keluar dari ruangan di depannya.
"Bagaimana keadaan kedua orangtua saya dokter?"
"Orangtua kamu mengalami kecelakaan yang fatal, kami sudah melakukan yang terbaik tapi tuhan berkehendak lain, pasien telah dinyatakan meninggal."
Seakan waktu berhenti, Nirmala terduduk dengan pandangan kosong, air matanya yang sudah berkumpul akhirnya menyerah untuk tidak jatuh.
"Kami turut berdukacita, silahkan menemui kedua orangtua kamu sebelum kami--"
Nirmala langsung menerobos masuk ke dalam ruangan, ia tidak mau mendengar ucapan doktor lagi.
Di dalam ruangan unit gawat darurat terpampanglah kedua orangtuanya yang tertutup kain putih, melihat itu air mata Nirmala semakin banyak untuk jatuh.
"Ini pasti mimpi kan? Gak mungkin mereka ninggalin aku sendirian kan? Apa mereka sejahat itu sama aku?"
Berbagai penyangkalan terkumpul di otaknya, ia tidak mau menerima takdir kejam ini, ia sungguh tidak mau!
Nirmala berjalan kearah sisi ibunya, terlihatlah wajah pucat ibunya dengan mata yang sepenuhnya tertutup.
"Ibu! Bangun ibu! Bangun! Nirmala gak mau sendirian disini, ibu boleh pukul Nirmala, ibu boleh marahin Nirmala sepuasnya, apapun untuk ibu Nirmala bakal lakuin, bangun ya bu, bangun!
Siapa yang rela orang yang dekat dengan kita pergi menghadap Tuhan? Walaupun itu sudah kodratnya, rasa tak rela akan selalu ada di dalam diri kita, apalagi itu ibu kita sendiri! Ibu yang telah mengandungnya, merawatnya, mau bagaimanapun caranya merawat dia tetap adalah seorang ibu!
Nirmala kembali mengingat perlakuan ibunya, ibunya yang sering memukuli dirinya jika ia tengah marah karena bertengkar dengan ayah, ibunya yang menghukum dirinya ketika nilainya tidak sesuai harapannya, walaupun ibunya tidak seperti kebanyakan ibu pada umumnya, mau bagaimanapun ia tetap menganggapnya sebagai ibunya! Kemarin, hari ini, dan selamanya.
Nirmala beralih ke sisi ayahnya, ayahnya yang tidak pernah peduli kepada dirinya, ayahnya yang gila kerja, ayahnya yang selalu menatap tajam dirinya, dan ayahnya yang tidak pernah berkomunikasi dengan dirinya.
"Ayah! Kita memang gak pernah berkomunikasi satu sama lain, tapi bagaimanapun Nirmala selalu menerima Ayah di hati Nirmala, Ayah bangun yah, jangan ninggalin Nirmala sendirian disini! Nirmala gak punya siapapun selain kalian!"
Nirmala menangis histeris dengan menggenggam tangan kedua orangtuanya masing-masing, kepergian kedua orangtuanya menyakiti dirinya, itu sangat menyakitkan!
"Permisi, jenazah sudah mau dibersihkan kak."
Seorang suster memberitahu dengan sopan, Nirmala dengan enggan berdiri melangkah meninggalkan kedua orangtuanya, saat mencapai pintu Nirmala berbalik melihat kedua orangtuanya.
"Semoga kalian bahagia disana, tunggu Nirmala ya!"
Nirmala membatin dengan tidak berdaya, mau disangkal apapun ini adalah takdirnya, kematian sudah diatur jika tidak mau menerimanya, ia harus menerimanya secara paksa!
Alam yang tadinya tenang menjadi ribut, buliran air hujan mulai membasahi bumi, bunyi petasan besar-besaran mulai terdengar dari langit, itu adalah petir! Dan angin yang berhembus kencang membuat pepohonan bergoyang kesana-kemari seakan mau jatuh.
Mungkin orang lain akan ketakutan dengan fenomena alam, tapi tidak bagi Nirmala yang baru kehilangan kedua orangtuanya, ia menatap dua gundukan di depannya dengan pandangan kosong, kedua orangtuanya telah dimakamkan.
Saat Nirmala kembali ke rumah, ia melihat dua polisi sedang berdiskusi dan sepertinya mereka sedang menunggu seseorang.
"Ada yang bisa saya bantu?"
Suara Nirmala serak karena habis menangis semalaman, ia sangat terpuruk dengan kejadian dialaminya.
Kedua polisi tersebut langsung melihat kearah Nirmala, mereka menghampiri Nirmala dengan ramah.
"Kami turut berdukacita atas meninggalnya kedua orangtua kamu, kami disini cuman melapor kepada anda."
"Melapor apa? Apa ini ada hubungannya dengan kedua orangtuaku?"
Nirmala sedikit mengernyit, mereka lalu masuk ke dalam rumah, sepertinya ini adalah hal penting!
"Kami memberitahu kamu bahwa, kedua orangtuamu melakukan korupsi, dan uang yang hilang akan dibayar dengan penyitaan fasilitas!"
"Orangtua anda memiliki rumah di beberapa daerah, itu akan dilakukan sebagai penebus sedangkan rumah ini, tidak kami sita hukum mengambil keputusan rumah ini sebagai tempat tinggal anda, sebab anda tidak memiliki satupun kerabat dekat dan alasan lainnya anda masih dibawah umur!"
Punggung Nirmala bergetar mendengar ini semua, ia lalu menghela nafas dalam.
"Berapa lama mereka melakukan ini?"
"Sekitar 10 tahun lebih!"
Nirmala mengangguk mengerti, ia lalu mengantar para polisi untuk pergi, melihat punggung para polisi yang perlahan-lahan menghilang Nirmala terjatuh duduk.
Ia tidak kuat menerima fakta ini, kejadian ini benar-benar membuat mental Nirmala serasa sedang diuji.
"Kau benar-benar mengujiku, haruskah kabar menyakitkan datang bertubi-tubi? Disaat yang lainnya belum terselesaikan!"
Nirmala berkata dengan senyuman getir, ia lalu menutup pintu dan mulai menangis dengan sepuasnya, biarlah dia melampiaskan semua yang ia tahan bertahun-tahun, ia tidak sekuat itu untuk tidak menangis!
Karena kedua orangtua Nirmala terkenal, berita itu masuk ke televisi termasuk berita kematian kedua orangtuanya, membuat orang-orang yang mencemooh sedikit merasakan kasihan akan nasib Nirmala.
Karena keadaan mental Nirmala sudah mulai membaik, ia berangkat ke sekolah, beberapa hari ini ia tidak sekolah untuk menenangkan dirinya, beruntung mental Nirmala kuat ia tidak akan ke psikiater.
Nirmala berangkat lumayan siang dengan bel sekolah yang sebentar lagi berbunyi, saat ia mencapai koridor sekolah banyak yang mencemoohnya.
"Lihat, dia anak koruptor!"
"Jangan dekat-dekat nanti ketularan kayak kedua orangtuanya!"
"Padahal kelihatan kayak anak baik-baik tapi kedua orangtuanya, ups!"
Nirmala mencengkeram erat pada tasnya mendengar berbagai cemoohan ditujukan kepada dirinya, ia menghela nafas lalu menatap lurus dengan ekspresi datar, aura dingin disekitarnya terasa!
Setiap ia melewati siswa-siswi yang bergosip tentang dirinya, ia akan menatap tajam kearah mereka, itu membuat mereka merinding dan terdiam.
"Lebih baik menjadi seperti ini!" Batin Nirmala dengan penuh amarah.
"Brak!"
Nirmala membuang tasnya penuh emosi kearah mejanya, ia tidak peduli sekitarnya dengan segera berlari keluar kelas.
"Mala!"
Biru mengejar Nirmala, sedangkan para siswa-siswi di kelas saling pandang mereka mengerti kenapa Nirmala emosi.
Disebuah taman sekolah, terdapat sepasang manusia sedang duduk dibawah pohon yang rindang, mereka adalah Nirmala dan Biru.
"Ngapain?"
"Mal, turut berdukacita atas meninggalnya kedua orangtua kamu, dan soal itu--"
"Nggak butuh, udah deh pergi aja sana! Ngapain kesini sih!"
Nada Nirmala membentak penuh amarah, Biru terdiam menatap dalam kearah Nirmala.
"La, aku akan selalu untuk kamu, kita sahabat Mala! Lagipula yang ngelakuin itu orangtua kamu bukan kamu, aku percaya sama kamu."
Nirmala terkekeh geli mendengar ungkapan dari Biru, ia mengalihkan pandangannya kearah depan.
"Sejak kapan kita jadi sahabat Biru? Udah deh Biru! Sana pergi, aku gak mau lihat muka kamu!"
"Mala, tatap mataku."
Nirmala menatap mata Biru dengan pandangan kosong, ia masih memikirkan tentang cemoohan orang-orang.
"Aku udah anggap kamu sebagai sahabat aku, kita selamanya jadi sahabat Mala, Mala sahabat itu akan menerima apapun sahabatnya tanpa syarat, jadi jangan usir aku dari kehidupan kamu Mala, aku ingin jadi sahabat kamu."
Kata-katanya membuat Nirmala meneteskan air matanya, Biru segera menghapusnya dan menatap Nirmala dengan penuh senyuman.
"Mala, biarkan aku berada di cerita mu, dan biarkan aku mengajarimu apa itu persahabatan tanpa syarat."
Nirmala terisak, Biru membawanya ke dalam dekapannya untuk menenangkan, Nirmala tidak menyangka orang yang tidak dianggap olehnya sangat tulus kepada dirinya.
Bertahun-tahun Nirmala tidak mempunyai seorang teman ataupun sahabat yang tulus, mereka selalu memandang kedua orangtuanya karena martabat orangtunya yang tinggi.
Dengan dekat kepada orangtuanya, orang itu akan berhasil dalam bisnisnya karena koneksi kedua orangtuanya, mereka memiliki koneksi yang banyak!
Persahabatan tanpa syarat, Biru menempati kata-katanya, Nirmala dapat merasakan ketulusan Biru dalam membantu dirinya.
Nirmala merobek kertas, ia lalu menulis beberapa kata diatasnya.
"ᴷᵃᵘ ᵐᵉⁿᵍᵃʲᵃʳⁱᵏᵘ ᵃʳᵗⁱ ᵏᵉᵗᵘˡᵘˢᵃⁿ, ᵏᵃᵘ ᵐᵉⁿᵍᵃʲᵃʳⁱᵏᵘ ᵃʳᵗⁱ ˢᵉˢᵘⁿᵍᵍᵘʰⁿʸᵃ ᵈᵃʳⁱ ˢᵃʰᵃᵇᵃᵗ, ˢᵒˢᵒᵏ ᵈⁱʳⁱᵐᵘ ʰᵃᵈⁱʳ ᵈᵃˡᵃᵐ ᶜᵉʳⁱᵗᵃᵏᵘ, ᵐᵉᵐᵇᵘᵃᵗ ʰⁱᵈᵘᵖᵏᵘ ʸᵃⁿᵍ ˢᵉᵖⁱ ᵐᵉⁿʲᵃᵈⁱ ᵇᵉʳʷᵃʳⁿᵃ, ᵀᵉʳⁱᵐᵃᵏᵃˢⁱʰ ᴮⁱʳᵘ."
Seperti biasa Nirmala merubahnya menjadi pesawat dan mulai menerbangkannya, ia tersenyum tipis melihat pesawatnya yang terbang menjauh.
"Mala, ayo pergi!"
Biru berteriak keras, Nirmala tersenyum dan menghampiri Biru, mereka mulai pergi dari rumah Nirmala menggunakan mobil, Nirmala mengikuti Biru dan dia akan menempuh perjalanan yang baru.
ᴛᴇʀᴋᴀᴅᴀɴɢ sᴇᴍᴇsᴛᴀ ʙᴇʀʙᴀɪᴋ ʜᴀᴛɪ ᴍᴇᴍʙᴇʀɪᴋᴀɴ sᴇsᴇᴏʀᴀɴɢ ᴜɴᴛᴜᴋ ᴍᴇɴʏᴇᴍʙᴜʜᴋᴀɴ sebuah luka, ᴅᴀᴛᴀɴɢ ʟᴇʙɪʜ ᴀᴡᴀʟ ᴀᴛᴀᴜᴘᴜɴ ᴛᴇʀʟᴀᴍʙᴀᴛ sᴇᴍᴇsᴛᴀ ᴀᴋᴀɴ ᴍᴇɴɢɪʀɪᴍᴋᴀɴ ᴏʀᴀɴɢ ɪᴛᴜ, ᴅᴇɴɢᴀɴ ᴀᴅᴀɴʏᴀ ᴏʀᴀɴɢ ʙᴀʀᴜ ᴅᴀʟᴀᴍ ᴋᴇʜɪᴅᴜᴘᴀɴ ɪᴀ ᴀᴋᴀɴ ᴍᴇɴɢᴇʀᴛɪ ᴀᴘᴀ ᴀʀᴛɪɴʏᴀ sᴇʙᴜᴀʜ perjalanan ʙᴀʀᴜ. Perjalanan menyakitkan, menyenangkan, itu adalah siklus kehidupan dan semua orang mengalaminya.