Setelah ditinggalkan pacarku, aku menjadi bosnya..
Aku Renata Maheswari Prayoga.
Setelah puas mencari jati diri melepaskan embel embel "PRAYOGA" akhirnya aku kembali pulang, lebih tepatnya pulang setelah di campakkan oleh Pria yang rela ku korbankan semuanya untuk dia, Pria yang selalu ku bela atas nama Cinta.
Cinta? Akh.. aku sudah tak percaya lagi cinta.
Saat ini ku putuskan untuk meneruskan posisi Ayah sebagai pemimpin di Perusahaan yang mulai kacau karena kondisi kesehataan Ayah yang semakin memburuk meskipun belum banyak yang tau akulah CEO itu.
Tidak mudah memang menjadi CEO wanita, namun aku menjadi lebih tertantang setelah mengetahui nama salah satu karyawan di perusahaan yaitu Vino syahputra. Ya, dia mantan pacarku yang tega dan terang terangan meninggalkan ku demi wanita lain dengan mengatakan,
"Maaf, tapi aku sudah menemukan orang yang lebih tepat dan baik untukku"
Cih..sampah. Aku tidak akan melupakan ucapannya setelah apa yang sudah ku korbankan untuknya.
******
"Bu, semua sudah siap" ucap Tia asistenku.
Aku meliriknya dan mengangguk.
"Baik. Ayo kesana" aku bangkit dan membereskan kertas di mejaku dan Tia mengekor.
Hari ini aku mengadakan rapat dengan para dewan devisi, sekalian mengumumkan akulah CEO baru setelah 1 bulan aku bekerja di perusahaan Ayah.
Saat pintu di buka, semua orang berdiri menyambutku tanpa terkecuali. Semua memandangku kagum dan tidak percaya karena selama 1 bulan ini banyak perubahan yang terjadi di Perusahaan, bahkan kasus penyelewengan dana yang selama ini merugikan perusahaan pun terungkap.
"Perkenalkan semua, saya Renata Maheswari Prayoga, anak dari Prayoga Pratama yang sekarang menjabat sebagai CEO di perusahaan ini menggantikan posisi Ayah saya. Saya harap kita semuanya bisa bekerja sama dalam membangun kemajuan perusahaan." Aku mengembangkan senyumku, menatap semua orang di dalam ruangan yang di sambut tepukan meriah.
"Silahkan duduk, mari kita mulai rapatnya" ucapku lagi.
Mereka semua duduk, dan memulai rapat. Ekor mataku menangkap satu orang yang terus menatapku, namun tak ku hiraukan.
Setelah semua divisi menyampaikan hasil satu persatu, kini saat nya mengusut tentang siapa saja yang terlibat dalam penyelewengan dana perusahaan.
"Ibu Jihan, anda sebagai menejer keuangan bisa menjelaskan bagaimana sampai terjadi pembengkakan dana, apa lagi ini terasa tidak masuk akal " Aku membantingkan laporan di meja di depan manager keuangan.
"I itu, saya tidak tau" cicit Jihan gemetar, wajahnya yang di hias dengan makeup tebal seolah tidak bisa menutupi raut pias.
"Lelucon macam apa yang anda buat dengan mengatakan tidak tau" bentakku dengan suara meninggi. Semua orang merinding dengan aura yang ku keluarkan seolah ingin menerkam mereka satu persatu.
"Bu bukan, i itu.. Vino, ya vino yang buat laporannya"Jihan menatap Vino di sebelahnya hingga aku dan semua ikut menatapnya.
Vino yang di salahkan tidak terima "bukan, bukan saya. Saya berani bersumpah jika saya tidak tau apa apa" Vino menatap nyalang pada Jihan.
Aku hanya tersenyum smirk menatap mereka berdua. Aku tau bukan Vino pelakunya.
"Jangan mencoba mengkambing hitamkan orang lain bu Jihan. Anda pikir saya bisa di bodohi?" Ucap ku datar namun penuh penekanan.
"Maaf bu.. maafkan saya, saya khilaf" isak Jihan.
"Tia kamu urus semuanya" ucapku dan diangguki Tia
"Tidak bu, maafkan saya jangan bawa kasus ini ke meja hijau, saya akan berusaha mengganti semua dana yang saya pakai. Asal jangan laporkan saya bu. Kasihani saya dan anak saya bu" isak Jihan semakin kencang, Jihan pun berlari dan bersimpuh di kaki ku.
Deg,
Anak batin ku dan juga Vino.
Aku membubarkan rapat menyisakan Jihan dan Vino serta Tia asistenku karena kondisi jihan yang menangis tak karuan.
Setelah semua pergi, Jihan masih terus bersimpuh memohon ampun, sedangkan Vino masih diam membeku.
"Bu, tolong ampuni saya bu. Saya memiliki anak masih kecil bu, jika saya di penjara tidak ada yang akan menjaganya. Saya sebatang kara" ucap Jihan.
"Jadi selama ini kamu membohongiku Jihan,bahkan ingin menjadikan ku pelimpahan salah mu" ucap Vino yang tak kalah emosi,
Jihan melirik Vino dan mengakatakan "Maaf"
Lalu menunduk dan terus menangis.
"Kamu.." Vino bangkit dari kursinya menghampiri Jihan.
"Diam" teriakku, "apa kalian sedang melakukan pertunjukkan? Bangun!" Jihan pun mengikuti perintahku untuk berdiri.
"Baiklah, aku tidak akan melaporkan mu, tapi kamu harus melakukan perjanjian untuk melunasi semua kerugian perusahaan untuk dana yang telah kamu pakai. Dan satu lagi, mulai sekarang kamu saya pecat, sekarang juga silahkan bereskan barang barang mu" jelas Renata.
"Tapi bu, jika saya di pecat saya kerja dimana?" Cicit Jihan.
Aku menatap tajam Jihan, gila sudah ku beri kelonggaran masih nawar pikirku.
"Itu bukan urusan saya, saya sudah berbaik hati tidak memperpanjang kasus ini, oh atau kamu mau di lunaskan saja dan mendekam-"
"Tidak bu, iya saya akan mensetujui syaratnya"potong Jihan.
Aku tersenyum dan memberikan kode pada Tia agar mengurus semuanya.
Aku hendak melangkahkan kaki ku namun tanganku di cekal Vino.
Tia melotot menatap Vino yang kurang ajar,
"Kamu pergi duluan" titah ku pada Tia dan di turuti Tia.
"Maaf" ucap Vino tiba tiba
Aku berbalik, menepis tangannya.
"Untuk apa?" Tanyaku datar menutupi perasaanku.
Jangan tanyakan perasaan apa, yang jelas bukan Cinta. Cintaku telah mati.
"Maaf aku sudah menyakitimu, menduakan mu dengan wanita yang ku anggap baik nyata nya ia tidak lebih baik darimu" ujar Vino
Aku mengangkat sudut bibirku, aku tau dia meninggalkanku demi Jihan, orang yang memiliki pangkat, tapi sekarang akulah yang pangkatnya jauh dari yang dia bayangkan.
"Baguslah jika kamu sadar." Aku berbalik meninggalkan Vino, tapi Vino malah memelukku dari belakang.
"Jangan pergi, tolong maafkan aku Rena. Aku tau kamu masih mencintai ku" ucap Vino.
Aku tersentak kaget dengan aksi Vino namun segera sadar dan melepaskan pelukannya, aku berputar menghadap nya dan,
Plak..
"Jangan kurang ajar. Saya atasan mu sekarang. Oh, dan jangan pernah mengungkit masa lalu. Kamu bagiku telah mati, sama dengan perasaanku pada mu" ucapku lalu melenggang pergi meninggalkan Vino yang masih diam.
Aku mempercepat langkahku ke ruang kerjaku.
"Si*l, beraninya dia menyuntuhku lagi" pekikku, tak terasa air mata ku pun tumpah. Jijik, satu kata yang bisa ku gambarkan pada Vino saat ini.
Aku mengelus perutku, "maafkan mama nak, karena dia kamu tiada"