Menjadi bos sekaligus pemilik perusahaan, itu sangatlah tidak mudah. Coba kalian bayangkan, setelah lulus kuliah di Universitas ternama di Indonesia. Kakek kalian, langsung menyerahkan perusahaannya yang di pikiran Raena itu hanya satu. Karena semua cucu kakeknya banyak. Tapi ternyata, semua perusahaan milik kakeknya di dalam Negeri maupun dalam Negeri di serahkan kepada dia. Karena cucunya yang lain, tidak mau mengurusi perusahaan Kakek mereka. Sebab mereka memiliki perusahaan sendiri - sendiri.
"Selamat ya, Dek. Jadi Bu Bos sekaligus pemilik perusahaan. Jangan lupa investasi di perusahaanku dan yang lain." Goda kakak kandungnya yaitu Ari, dan berserta sepupunya yang lain.
Memang tidak heran, kalau Raena itu cucu perempuan satu-satunya dan paling bungsu di Keluarga besar Wijaya.
***
"Maaf, menganggu Nona. Ini saya serah beberapa data manajer di semua perusahaan cabang." ucap sang Sekretaris sedikit gugup karena Raena di kenal sedikit galak kepada karyawan.
"Taruh saja di meja, nanti aku baca datanya." ucap Raena datar kepada sekretaris bernama Bayu.
Setelah sekretaris meletakkan, data itu. Raena menyerahkan beberapa map kepada sekretaris.
"Bilang kepada Tim bagian Editor Desain Grafis ada salah satu Desain di Map itu yang harus di perbaiki." pintahnya.
"Baik, Nona. Saya laksanakan...," ucap Bayu undur diri.
Setelah Bayu undur diri, Raena menyandarkan bahunya sebentar karena lelah karena menangani banyak dokumen yang dia tanda tangani. Untung saja hari ini, tidak ada rapat para investor. Karena banyak pemilik perusahaan akan membawa anak laki-laki mereka seumuran dengannya, dan berusaha mendekatkan dia dengan alasan perusahaan bisa kerja sama.
Raena pikir, dia perempuan apaan. Di kenalkan banyak laki-laki ujung-ujungnya hanya menunjukkan harta kekayaan orang tuanya.
Sesaat kemudian ekor matanya, mengarah ke dokumen yang di berikan kepadanya tadi. Karena beberapa waktu yang lalu ada laporan dari salah sepupunya bernama Ardi. Ada salah satu manajer di perusahaan cabang, tingkah lakunya seolah-olah dia Bos di perusahaan itu. Kadang dia mengaku calon suami, Bos di kantor cabang.
Memang, sih. Raena kadang datang ke sana menyamar menjadi karyawan biasa. Agar tahu bagaimana sifat asli para staf di sana. Sementara posisi direktur perusahaan cabang dia serahkan kepada Ardan kakak kembarnya Ardi. Karena Raena cukup repot di perusahaan cabang.
"Rayhan Mardian Wiguna, Manajer bagian marketing." Raena terkejut melihat data yang dia baca. Serta foto yang ada di data itu.
"Dia kan anak pemilik perusahaan Wiguna yang sudah bangkrut itu? Siapa yang menerima pria sombong dan sok kayak itu di perusahaan?" pikir Raena.
***
Rayhan Mardian Wiguna yang di gadang - gadang menjadi ahli waris Perusahaan Wiguna grup sebelum bangkrut karena kecerobohan Wiguna sendiri. Dulunya adalah kekasih Raena Wijaya Putri.
Enam tahun yang lalu, mereka menjalin hubungan selama 2 tahun sebelum mereka putus. Setelah Raena mengetahui Rayhan hanya menjadikannya sebagai bahan taruhan. Entah kenapa dulu Raena cinta mati, dengan pria itu.
"Kau itu hanya seorang cleaning servis, Raena. Jadi, mana mungkin kau bersanding denganku." ucap Rayhan dengan nada mengejek di depan semua teman kampusnya.
"Kau itu juga hanya perempuan miskin yang beruntung mendapatkan beasiswa di Kampus ini. Jadi, kau enak dijadikan taruhan untuk kami para anak orang kaya." ucapnya lantai.
Memang semua tidak tahu, kalau Raena cucu orang terpandang di negeri ini. Karena sejak dulu Raena maupun Ari tidak pernah menunjukkan kekuasaan kakek maupun ayahnya. Karena menurut mereka, kehidupan itu di mulai dari nol. Makanya selama Raena kuliah, perempuan itu bekerja sebagai cleaning servis di salah satu di perusahaan cabang milik Kakeknya.
"Kau memang brengsek, Raeyhan. Selama dua tahun ini, aku percaya kau pria baik di balik kesombonganmu itu. Tapi ternyata semuanya itu hanya kebohongan belaka." ucap Raena kecewa.
"Makanya, kau jangan bergaul dengan bukumu itu. Selama kita pacaran, kau selalu membawa buku itu kemana-mana dan membuat aku risih. Makanya, aku beralih mengajak sahabatmu Rebeca kencan dan menidurinya." ucap Rayhan dan membuat Raena terkejut.
Pernyataan Rayhan benar-benar membuat Raena mengepalkan tangannya dan di layangkan ke wajah mulus Rayhan.
"Bugh!" Raena memberikan bogeman mentah kepada pria di hadapannya itu.
"KAU MEMANG KURANG AJAR, RAYHAN. GARA-GARA KAU REBECA MENINGGAL KARENA KEGUGURAN! MULAI SAAT INI, DETIK INI, DAN HARI INI JUGA KITA PUTUS...!" ucap Raena marah di depan semua orang.
"Oke! Kita putus. Siapa juga mau perempuan sepertimu," balas Rayhan sambil mengejek.
Sejak saat itu, Raena tidak peduli soal Rayhan. Karena saat Raena menghajar Rayhan, banyak berita tidak sedap soal Raena yang berani menghajar pangeran kampus. Bahkan ejekan dari semua mahasiswa di kampusnya sampai terbit di mading kampus. Mereka tidak tahu saja, kalau Raena itu juga master Wushu juga. Dan pembullyan itu terhenti, ketika semua mahasiswa di Kampus melihat Raena menghajar jambret yang berusaha menjambret tas milik salah satu Dosen. Rayhan mendengar hal itu, tetap saja sempet mengejek Raena sebagai anggota Yakuza. Namun tidak di gubris oleh Raena.
Sampai akhirnya, ketika Raena wisuda dengan nilai tertinggi. Ada sebuah berita, mengenai perusahaan Wiguna yang sahamnya mulai turun dalam waktu semalam.
Kata Anton Wijaya ayah Raena, itu semua kecerobohan Wiguna sendiri. Dulu sempat Pak Anton ini, mau membantu perusahaan Wiguna ketika ada tanda - tanda perusahaan itu akan bangkrut. Namun dengan angkuhnya, Pak Wiguna mengejek Pak Anton yang di rasa perusahaannya ada di bawahnya. Padahal, Pak Anton itu adalah Investor terbesar di Asia dan Eropa dengan Perusahaan sendiri.
"Bukannya dulu kau dekat dengan anaknya Wiguna, dek? " tanya Pak Anton kepada anak putrinya itu.
Mendengar hal itu, Raena hanya menghela nafasnya pelan sebelum menjawab.
"Raena sama Rayha sudah putus, yah. Soalnya Raena di jadikan bahan taruhan Rayhan dan pria itu juga yang membuat Rebeca meninggal." jelas Raena sedikit kecewa.
"Syukurlah kau putus dengannya, Rae. Soalnya dari dulu Ayah juga kurang suka dengan pria itu." jawab Pak Anton.
"Tidak hanya itu, yah. Raena juga dihina karena kerja cleaning servis di kantor cabangnya Kakek." tambah Ari.
Pak Anton hanya tersenyum mendengar perkataan anak sulungnya. Kemudian merangkul pundak putrinya itu.
"Biarkan dia seperti itu, Rae. Suatu saat, kau bisa balas dendam kepadanya. Tapi, balas dendam dengan cara positif. Misalnya, tiba-tiba kau jadi Bosnya Rayhan. Lalu Rayhan menjadi bawahanmu suatu saat nanti. Itu cara dendam secara positif, nak." ujar sang Ayah kepada anaknya.
Raena hanya tertawa, dan langsung memeluk ayahnya dengan erat.
"Terima kasih ya, Ayah. Sejak Bunda meninggal, ayah yang menjadi semangat hidupku." ucap Raena.
"Jadi, cuma Ayah di peluk. Masmu yang tampan ini tidak kau peluk juga, hmm...," Ari mulai iri.
"Aku gak mau peluk Mas Ari, soalnya bau dan jarang mandi." ejek Raena dan itu membuat Ari ingin sekali mengelitik adiknya.
Sekarang, kita kembali kepada Raena hanya tersenyum soal tentang itu, dan mungkin inilah saatnya membalas dendam orang yang pernah menghinanya dan menyakiti hatinya dulu.
"Tunggu aku, Rayhan Wiguna. Lihat saja, sekarang posisi kita sudah terbalik." ucap Raena datar.
***
Keesokan harinya, dengan hanya menggunakan motor sport miliknya. Raena datang ke kantor cabang yang di laporan oleh Ardi. Dengan berpakaian kasual dan celana panjanh miliknya. Raena melangkahkan kakinya masuk ke dalam kantor itu di dampingi Mihwan asistennya yang ada di Korea. Ia suruh datang ke Indonesia, mengurus perusahaan cabang bersama Ardi dan Ardan.
"Eit, tunggu. Siapa ini? Datang dengan baju karyawan biasa ke kantor yang mewah ini?" Raena menghentikan langkahnya setelah di cegah oleh seseorang yang membuat Raena ingin segera memecat orang ini.
"Memangnya apa urusannya aku datang ke sini?" tanya Raena datar.
"Eh, Raena. Sudah lama tidak bertemu kau masih tetap saja sama seperti dulu. Kau tahu, aku manajer di kantor ini. Sekaligus, calon suami Presedir perusahaan ini." Sombong Rayhan.
"Rayhan Wiguna, meskipun kau bukan lagi pewaris Wiguna karena perusahaan Ayahmu bangkrut. Kau tetap sama seperti. Sombong, dan seenaknya sendiri di Kantor milik orang. Ingat, posisimu hanya manajer di sini. Jadi, jangan sok berkuasa di Kantor ini, paham?" balas Raena tajam.
Mendengar hal itu, semua karyawan yang melihatnya tidak bisa menahan tertawanya. Karena baru kali ini, ada orang yang berani kepada Rayhan. Semetara Rayhan ingin sekali menampar perempuan di hadapannya. Namun tidak jadi karena Mihwan sudah di sebelah Raena.
"Awas, ya kau. Kalau kau berkerja di sini. Aku akan memecatmu dan menendangmu keluar dari kantor ini." ancam Rayhan.
"Rayhan tutup mulutmu itu, kau tidak tahu dia siapa?" Mihwan mulai kehilangan kesabaran.
"Sudahlah Mihwan, biarkan saja. Jangan di ladenin orang gila seperti dia. Ayo kita temui Pak Ardan," balas Raena penuh penekanan dan melirik tajam ke arah Rayhan.
Kemudian, Raena dan Mihwan meninggalkan Rayhan yang masih berdiri di tempat yang sama.
"Hei, Raena. Perempuan seperti dirimu itu tidak bakal di terima kerja di kantor ini. Paling kau bekerja menjadi cleaning servis lagi." ejek Rayhan namun tidak di gubris oleh keduanya.
Sesaat kemudian, Raena masuk ke dalam ruangannya. Disitu ada Ardi dan Ardan yang sedang menunggunya bersama sekretaris mereka.
"Kau lama sekali datangnya, dek?" tanya Ardan kepada Raena.
"Biasalah, Mas. Ada orang gila mencegahku di depan." balas Raena sedikit sebal.
"Rayhan maksudmu?" tanya Ardi dan mendapatkan anggukan dari Raena.
"Presedir, menurut laporan yang beredar Rayhan memang seperti itu." lapor Mihwan kepada Raena.
"Mas Ardan, kenapa orang gila itu di terima di sini?" tanya Raena mulai to the poin.
"Aku juga tidak tahu, Rae. Mas Ardan dan aku baru datang di kantor ini, orang stress bin gila itu sudah ada di sini." jelas Ardi.
"Apa karena direktur sebelumnya, merekrut dia sebagai manajer?" tanya Raena penasaran.
Karena sebelum Ardan di tugaskan menjadi direktur kantor cabang. Ada orang lain yang menjadi direktur sementara, dan Raena hanya menerima laporan saja ketika direktur itu merekrut manajer baru tanpa mencantumkan nama siapa yang berada di posisi itu. Namun direktur yang dahulu, sudah pensiun setelah Ardan di utus menjadi direktur dan Ardi menjadi wakilnya. Karena dua kakak kembar sepupu Raena ini yang belum memiliki perusahaan sendiri, dan Raena menawarkan mereka membantunya untuk mengurus kantor cabang.
Kita kembali kepada mereka, Raena sedang membaca laporan tentang kinerja Rayhan selama ini. Raeha hanya memangutkan kepalanya melihat kinerja Rayhan sangat bagus dan berkompeten. Namun atitute pria itu, sangat kurang dan banyak laporan negatif tentang dia.
"Jadi bagaimana, Rae?" tanya Ardi.
"Di lihat dari laporannya dia sangat kompeten dan bagus. Namun prilakunya itu, yang sangat kurang. Kalau dia kita pecat, kita akan kehilangan Karyawan yang sangat berkompeten. Kalau kita pertahankan, prilakunya akan semakin gila." jawab Raena sambil berfikir.
"Oh, iya. Mas Ardan, bukannya di sini kekurangan staf bagian tim editor video grafis?" tanya Raena.
"Sebentar, maksudmu kau mau menurunkan jabatan Rayhan menjadi staf biasa begitu?" tebak Ardan dan diangguki oleh Raena.
"Kenapa aku tidak kepikiran kemarin-kemarin saat awal kerja di sini, ya?" ucap Ardi kesal.
"Karena kau itu terlambat berpikir, Ardi. Sampai-sampai Raena yang akhirnya turun tangan." balas Ardan kepada adiknya.
"Mas, aku bukan terlambat berpikir. Tapi aku masih emosi sama manusia stress bin gila itu." sangkal Ardi.
"Eh, sudah... sudah. Kalian itu atasan di sini, jangan seperti anak kecil." lerai Raena karena dua anak kembar ini sudah mulai mengejek.
"Dan kau Bos besar kita di sini, paham?" ucap mereka bersamaan, dan itu membuat Raena menciut.
Sementara Mihwan hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah para bosnya ini.
"Oh, iya. Mihwan, tolong panggil Rayhan ke sini." ucap Raena memerintahkan Minhwan.
"Baik, Presedir." Mihwan membukukan badannya sebelum pergi memanggil Rayhan.
"Kau tidak membalas dendam kepada Rayhan, Rae?" tanya Ardi setelah Mihwan pergi.
"Justru dengan menurunkan jabatannya, aku membalaskan dendamku. Memangnya ini sinetron apa, balas dendam dengan penuh drama." jawab Raena meletakkan map laporan yang dia baca tadi.
"Aku kira seperti sinetron azab, membalas dendam sang mantan dengan penuh kelicikan." balas Ardi.
"Mas, aku tidak suka drama lebai seperti itu. Aku langsung pada poinnya saja. Kalau aku membalas dendam seperti dia dulu. Apa bedanya aku dengan dia, benar enggak?" jelas Raena.
Sementara itu, Mihwan menghampiri Rayhan yang sedang mengerjakan kerjaannya. Mihwan akui Rayhan itu tekun dalam hal kerjaan. Tapi kelakuannya itu, membuat semua karyawan di situ ingin sekali menendangnya.
"Maaf, Rayhan. Menganggu sebentar pekerjaanmu. Kau di panggil Presedir keruangan Direktur." ucap Mihwan sedikit malas.
"Presedir?" tanya Rayhan terkejut.
"Iya, Presedir. Nona pemilik perusahaan ini," balas Mihwan sabar.
Rayhan tersenyum, dan berdiri dari tempat duduknya.
"Hai, kalian dengar tadi? Calon istriku memanggilku. Pasti dia akan mengangkat jabatanku, dan bekerja di kantor pusat." sombong Rayhan dan tidak di gubris semua orang.
"Bukan mengangkat jabatanmu, tapi menurunkan jabatanmu menjadi karyawan biasa. Bodoh..." ucap Mihwan dalam hati.
"Ayo, Mihwan. Aku tidak sabar bertemu dengan Nona Presedir." ucap Rayhan bersemangat.
Memang di kantor ini, tidak ada tahu siapa Presedir mereka. Mereka hanya tahu, Presedir mereka perempuan dan Presedir yang lama sudah pensiun karena sudah sangat sepuh.
"Aku yakin manusia gila itu akan di pecat, atau turun jabatan." cibir salah satu karyawan dari mereka.
"Orang seperti dia mungkin sebaiknya di pecat. Kalau dia turun jabatan, kemungkinan dia menjadi anak buah di Timku menjadi karyawan biasa." balas salah satu ketua Tim Editor grafis.
"Benar juga, di divisimu kekurangan anggota." balas yang lain.
***
Beberapa saat kemudian, Rayhan dan Mihwan sampai di ruang Direktur. Di ruang itu, Rayhan terkejut dengan Ardi dan Ardan yang hanya duduk di sofa menatapnya dengan tajam. Sementara di kursi direktur sedang di tempati oleh orang lain yang sedang menghadap kebelakang.
Rayhan yang awalnya bersemangat, entak kenapa tiba-tiba menjadi perasaan tidak enak dan gugup.
"Rayhan, silakan duduk di sini." ucap Mihwan mempersilahkan duduk Rayhan di kursi yang berhadapan dengan kursi Direktur.
"Rayhan Wiguna, Manajer Marketing di Perusahaan cabang milik Wijaya." suara datar dan penuh penekanan membuat nyali Rayhan tiba-tiba menciut.
"Saya akui, anda sangat bagus dalam hal pekerjaan dan berkompeten. Namun sayang, banyak laporan negatif yang mengenai anda." ucap Raena dingin dengan tatapan tajam di balik kursi itu sebelum dia memutarnya.
"I... iya Nona. Tapi itu hanya rumor belaka." jawab Rayhan sedikit takut.
"Sial, Presedirnya lebih galak dari pak Ardan." batin Rayhan.
"Hmm, benarkah? Wah, sungguh manis ucapan anda ini, tuan Rayhan." ucap Raena sedikit mengejek.
"Namun sayang, saya tidak bisa mentolelir jika ada manajer memiliki attitut kurang seperti anda." ucap Raena membalikkan kursi putarnya.
Seperti slow motion, Rayhan terkejut melihat siapa yang ada di hadapannya saat ini.
"Raena, kau bukannya karyawan biasa. Kenapa kau duduk di kursi Direktur? Mau jadi penguasa, huh?" Rayhan tidak percaya.
"Rayhan, mana sopan santun kamu di hadapan Presedir?!" Ardan marah ketika Rayhan berkata kasar kepada Raena.
"Pak Ardan jangan mengada - ngada. Perempuan ini hanyalah karyawan biasa, Pak. Sejak kapan dia menjadi Presedir?" Rayhan masih berkilah.
"Raena, setelah melihat kelakuan manusia stres bin gila ini. Pantas saja kau ingin menurunkan jabatannya." ucap Ardan dan membuat Rayhan terkejut.
"Kau ingin menurunkan jabatanku, Raena? Tidak bisa seorang Karyawan biasa menurunkan jabatanku seenaknya. Seharusnya Pak Ardan, yang menurunkan jabatanku bukannya kau." Rayhan tidak terima dengan keputusan ini.
"Karena dia yang pemiliki perusahaan ini, Rayhan. Jadi, semua keputusan ada di tangan Raena." balas Ardi mulai kehabisan kesabaran.
"Oh, aku tahu. Kau pasti balas dendam kepadaku, kan? Sampai kau pura-pura menjadi Presedir di sini?" Rayhan mengalihkan pembicaraannya.
"Siapa juga yang pura-pura menjadi Presedir. Memang aku Presedir perusahaan ini, dan ini salah satu cabang perusahaanku." balas Raena datar.
"Masih untung kau aku turunkan menjadi Karyawan biasa di Tim editor Grafis di sini. Dari pada kau aku turunkan menjadi cleaning servis di kantor pusat." balas Raena tajam.
"Aku tidak bisa menerima keputusan ini. Kau pasti membayar Pak Ardan, kan? Apakah dengan tubuhmu yang tidak menarik itu, untuk membayar Pak Ardan." Rayhan mulai merendahkan Raena.
"Brak!" Raena menggebrak mejanya dan tatapannya semakin tajam.
"Hmm, Rayhan sudah membangkitkan singa yang sedang tidur." batin Mihwan melirik Raena yang sudah menatap Raena dengan tajam.
"Sekali lagi kau meremehkanku dan merendahkanku, aku tidak segan - segan menurunkan jabatanmu lebih rendah di kantor pusat! Paham..!Raena benar-benar marah.
"Keputusanku sudah mutlak, dan tidak bisa diganggu gugat. Mulai besok, Rayhan Wiguna menjadi Karyawan biasa di bagian Tim Editor Grafis. Kalau kau masih tidak terima, siap - siap kau menjadi cleaning servis di kantor pusat." putus Raena dengan mutlak.
Rayhan ingin protes keputusan Raena. Namun melihat tatapan Raena sangat tajam. Membuat nyalinya menciut, tidak bisa berkata apa - apa.
"Dan satu lagi, jangan berharap kau menjadi calon suamiku. Karena aku tidak suka memiliki calon suami sombong, dan suka merendahkan perempuan." lanjut Raena dan perkataan itu mengena di hati Rayhan.
Rayhan teringat perkataannya dulu kepada Raena yang merendahkan. Sekarang perkataan itu, berputar balik kepadanya, dan itu sungguh menyakitkan dirinya.
***
Keesokan harinya, berita tetang Rayhan di turunkan jabatan. Sudah meluas di karyawan kantor cabang. Saat Rayhan sampai di kantor semua karyawan yang pernah dia tekan mencibirnya.
"Wah, sekarang kasta kita sama Rayhan." ucap salah satu dari mereka
"Selamat datang di dunia karyawan biasa, Rayhan Wiguna." ejek salah satu dari mereka.
Rayhan yang malu, segera cepat - cepat masuk ke dalam ruangannya yang baru setelah absen. Rayhan mengira di ruangan yang baru dia terbebas dari ejekan karyawan yang lain. Melainkan tambah berat, ujiannya dari teman satu timnya. Bagaimana tidak, saat dia duduk banyak berkas editor yang menggunung di mejanya. Belum lagi ketua timnya, juga menyuruhnya membuatkan minuman. Ini bukan pembullyan, memang Tim Editor Grafis kekurangan karyawan, dan yang di posisi Rayhan adalah pekerjaan mengedit semua Desain grafis yang harus di serahkan ketua Tim. Sementara yang lain, membuat laporan untuk di setorkan ke Perusahaan Pusat.
"Kau masih beruntung masuk Timku, Rayhan. Karena jika kau di Kantor Pusat dan menjadi cleaning servis di sana. Cobaanmu lebih berat daripada di sini. Karena di sana lulusan Universitas Internasional semua, dan Presedir mencari orang-orang yang benar pro di bidangnya." ujar ketua Tim kepada Rayhan.
"Maksudnya, Abang?" tanyanya tidak mengerti.
"Posisi yang kau tempati sekarang, pernah di rasakan Raena setelah putus darimu, dan kami semua belum tahu kalau dia Presedir kita." lanjutnya dan itu membuat Rayhan tercengang.
"Jadi, ini di rasakan Raena dulu? Dan sekarang berbalik kepadaku? Ya Tuhan, ampunilah aku telah merendahkan perempuan itu. Sekarang aku tahu, bagaimana rasanya di posisinya dulu." ucapnya dalam hati karena menyesal
***
- Tamat -
Jangan lupa, share, comment, dan like. Untuk silent reade, biar Allah membalas perbuatan kalian. amin...