setelah pacarku meninggalkanku, aku menjadi bos nya.
Aku Sahira Syahla, CEO dari restoran bintang lima ternama di kotaku. hari ini aku akan menyeleksi tiga orang koki yang melamar untuk menempati posisi kepala chef di restoran ku.
kepala chef sebelumnya adalah wanita dan karena sudah menikah seminggu yang lalu, suaminya tidak ingin dia bekerja lagi. alhasil aku harus membuka lowongan pekerjaan lagi.
"apa mereka semua sudah siap? " tanya ku pada asistenku Debora.
"sudah bu"
di dalam meeting room, aku menatap satu per satu dari para koki. sampai pandangan ku tertuju pada koki terakhir. pandangan kami bertemu. mata itu sangat aku kenali. dia menatapku dengan tidak percaya. sedangkan aku menatapnya datar.
debora memulainya dengan menjelaskan hal dasar. hingga sampai pada sesi di mana para koki itu memperkenalkan diri mereka masing-masing. sementara aku membolak-balikan lembaran CV mereka.
" saya sangat terkesan dengan pemaparan kalian. tapi sayangnya saya harus memilih salah satu diantara kalian"
ucapku pada mereka.
" hasilnya akan disampaikan Debora. saya masih ada urusan. saya permisi"
ucapku lalu meninggalkan ruang meeting.
selang beberap menit, Debora menemui ku.
"maaf Bu, apa anda tidak salah memilih? " ucap Debora
"kamu ngomong soal apa? "
"head chef yang ibu pilih. karena saya lihat dua chef lainnya lulusan luar negeri sedangkan yang ibu pilih hanya..." ucapnya ragu
"kamu meragukan saya? " ucapku menatapnya
"ah.. tidak bu.. kalau begitu saya permisi"
ucapnya lalu keluar dari ruangan ku.
seminggu kemudian
.....
hari ini aku datang ke kantor pagi-pagi sekali. ada barangku yang tertinggal jadi aku harus mengecek nya.
aku berpapasan dengan head chef yang kuterima di depan pintu. aku hanya menatap nya sekilas dan hendak masuk ke dalam restoran. tetapi ucapannya menghentikan langkah ku.
" long time no see Sahira"
"kamu bicara sama saya? "
"memangnya ada orang lain di depan ku? "
"you right... long time no see Adnan" ucapku
"aku mau ngomong sama kamu Sa"
"saya lagi buru-buru. saya nggak punya waktu buat di buang"
"tapi aku cuma... "
"kalau ada yang perlu ditanyakan, silahkan sama Debora dan jangan lupa di sini saya adalah atasan kamu. berbicaralah yang formal" aku memotong ucapannya dan bergegas ke ruangan ku.
aku memilih pulang lebih awal hari ini. jujur saja aku jadi kurang fokus semenjak kejadian tadi pagi. aku memilih pulang ke apartemen ku dan beristirahat.
ponselku berbunyi, padahal aku baru saja ingin tidur. dengan kesal aku menjawab panggilan telepon itu.
"halo mah.. ada apa? "
"kamu dimana? sudah seminggu kamu gak ke rumah.. ini Dzakir pengen jalan sama kakaknya"
"aku di apartemen mah"
"betah banget kamu disana.. udah kamu kesini sekarang.. "
"iya mah.. aku kesana sekarang" ucapku lalu bergegas keluar. namun saat aku membuka pintu, sosok Adnan sudah berdiri di sana menatap ku dengan senyum manis nya.
"kamu ngapain disini? "
"aku mau bicara sama kamu Sa... sebentar aja"
"tau dari mana alamat apartemen saya? "
"semua karyawan kamu tau itu Sa"
"saya lagi sibuk. saya buru-buru"
ucapku lalu pergi meninggalkan nya. tapi dia malah mengekor di belakang ku.
" bisa nggak kamu jangan ikutin saya? " ucapku menghentikan langkah ku
"aku pengen ngomong Sa, sebentar aja.. aku janji"
"di kafe apartemen" ucapku akhirnya.lalu melangkah menuju kafe apartemen. dan duduk di salah satu kursi
"kamu punya lima menit dari sekarang" ucapku lagi
"apa harus se formal itu sama aku Sa? lagian ini kan di luar jam kerja aku"
aku tidak menjawab dan hanya memandang nya datar.
"aku minta maaf.. " ucap Adnan
"maaf untuk?.. "
"semuanya. aku juga mau bilang yang sejujurnya. kalau aku terpaksa bilang iya saat kamu tanya apa bayi yang dikandung Hana adalah anakku"
aku mendengarkan apa yang dia katakan dengan baik. tapi aku masih enggan berbicara
"dia hamil anak pacar nya. dan pacar nya pergi ninggalin dia. ayahnya yang minta aku buat jagain Hana dan bayi di kandungan nya. Hana itu sahabat ku dari kecil. aku terpaksa menyanggupi keinginan ayahnya.
aku sayang sama kamu Sa, aku cinta sama kamu. dan walaupun sudah lima tahun sejak aku ninggalin kamu, perasaan itu masih sama dan nggak akan pernah berubah"
jelasnya panjang lebar.
"lebih dari lima menit. saya buru-buru, permisi"
ucapku lalu akhirnya pergi.
....
sudah sebulan ini Adnan berusaha meyakinkan ku. dia selalu mencari kesempatan menemui ku di luar jam kerja. bahkan setiap pagi satu set sarapan selalu siap di meja kerjaku.
pagi itu aku menghabiskan sarapan yang dia berikan. setelah itu aku membawa sendiri bekas piring nya ke dapur. aku bertemu dengan nya disana.
"kamu makan sarapan yang aku bikin buat kamu? " tanya Adnan pada ku.
"ini masih jam kerja Adnan" ucapku datar.
"ah.. iya, bagaimana rasanya bu bos? "
aku sedikit terkejut dengan kata di akhir kalimat nya. bu bos?, ada-ada saja.
"tidak mungkin aku mempekerjakan mu disini tanpa alasan"
"tinggal bilang enak saja apa susahnya sih" ucap Adnan
" apa kamu nggak capek seperti ini ke saya terus? "
"tidak bu bos, saya malah tambah semangat setelah bu bos habiskan sarapan nya" ucapnya tersenyum senang.
hah.. senyum nya itu. aku akui dia memang pria baik. hanya saja aku kecewa saat dia lebih memilih wanita itu dan meninggalkan ku.
....
sudah sejam aku menemani Dzakir berbelanja. aku heran dengan adikku ini, biasanya perempuan yang menghabiskan waktu berjam-jam untuk berbelanja. ini malah Laki-laki. anak muda jaman sekarang memang ribet. mau beli kaos saja milihnya sejam.
"kakak tunggu kamu disana ya. kakak mau beli minum"
"jangan jauh-jauh kak.. ntar kalo aku mau bayar susah ni nyari kakak"
"kamu mah urusan bayar aja baru inget sama kakak"
aku lalu pergi memesan minuman dan menunggu di kursi tunggu. namun pandangan ku tertuju pada gadis kecil yang sedang duduk manis dengan lolipop di tangan nya.
"Hai cantik.. namanya siapa? "
"Hai tante.. namaku syahirah"
aku menahan tawaku. apa aku terlihat setua itu sampai anak ini memanggilku dengan sebutan tante?
"wah.. nama kita sama dong"
"nama tante juga syahirah? "
"iya cantik"
"kata ayah yang namanya syahirah itu baik dan cantik. kayak aku" ucapnya tersenyum manis
" oh ya... terus ayah bunda nya kemana? "
" ayah lagi di toilet. bunda gak ada"
"bundanya lagi kerja ya? "
"enggak...kata ayah bunda udah bahagia di Surga"
aku membeku mendengar ucapan nya. anak sekecil dirinya harus kehilangan sosok ibu, aku langsung memeluknya. entah kenapa anak ini sudah menarik semua perhatian ku. seakan aku punya ikatan dengan anak ini.
"syahirah.. "
suara seseorang menarik atensi kami. dan suara itu seperti tidak asing bagi ku. aku dan anak itu otomatis menoleh karena merasa dipanggil.
"Adnan!? " ucapku lirih.
"Ayah!.... " ucap gadis kecil itu langsung lari dan memeluk Adnan.
ayah?.. jadi Adnan adalah Ayah nya? berarti Hana sudah tiada? tapi sejak kapan? dan... nama kita sama.. apa ini kebetulan?
"kamu kesini sama siapa Sa? " tanya adnan padaku
"mm... aku.. aku sama adekku"
aku lalu melihat ponsel ku yang berbunyi. ternyata pesan masuk dari Dzakir yang sudah ingin membayar.
"tante jalan-jalan bareng aku yuk! "
"aduh.. gak bisa cantik, tante lagi ada urusan"
"yah... nggak bisa ya? "
"Mmm... gimana kalau hari sabtu aja... kita ke kebun binatang... oke? " ucapku pada akhirnya
"Oke" jawab syahirah
"Sa.. aku boleh ngobrol bentar... "
"aku buru-buru Adnan. besok diruangan ku"
ucapku langsung memotong perkataan nya.
"hah!? " tanya Adnan lagi
" kita ngobrol besok di ruangan ku. jam delapan pagi. gimana? "
"i- iya! siap bu bos" ucapnya
" tante pergi dulu ya cantik. bye... " ucapku lalu melangkah pergi.
Samar-samar aku masih bisa mendengar pembicaraan ayah dan anak itu.
"Ayah.. tante itu yang ayah tunjukkin fotonya kan? "
" iya sayang.. itu orang nya"
" tante itu nanti jadi bunda ku kan Ayah? "
" kalau syahirah mau nya gitu, syahirah harus do'a in Ayah biar tante nya mau sama ayah"
ucap Adnan pada putrinya itu.
"oke. syahiran nanti berdoa supaya tante itu jadi bunda nya syahirah"
kedua nya lalu tertawa bersama.
aku yang masih melangkah hanya bisa geleng kepala mendengar mereka.
yah.. kita lihat saja. seiring berjalan nya waktu aku juga tidak bisa menjamin tidak tertarik pada pesonanya. tapi akan kupikir-pikir dulu. apa kemauan syahirah bisa terwujud atau mungkin sebaliknya.