Pagi hari yang cerah, suara ayam jago terdengar nyaring di telingaku, seperti biasa, aku membantu kedua orang tuaku menata sayur di warung. Namaku Nara, orang tuaku pedagang sayur di perumahan sederhana, walau begitu mereka berusaha menyekolahkan aku sampai ke perguruan tinggi.
"Pagi Nara", sebuah suara menyapaku.
"Pagi Kak, mau beli apa?", tanyaku kepada Kak Hardy.
"Gula 1kg dan kopi 1/4kg, berapa semuanya?".
" Rp. 31.000,00 , Kak", kataku sambil memberikan pesanannya.
"Kamu tidak kuliah hari ini?", tanyanya lagi
"Kuliah Kak, jam delapan nanti", jawabku
"Kakak antar ya, kebetulan Kakak nanti mau beli buku di toko yang dekat kampus kamu", ujarnya
"Boleh Kak, terima kasih sebelumnya".
"Sama-sama", sambil tersenyum ia meninggalkan warung.
Sudah selama setahun ini kami berpacaran, Ayahnya Kak Hardy adalah seorang pekerja bangunan, tapi prinsipnya sama dengan ayahku, berusaha untuk membuat anak-anaknya sekolah tinggi.
Tanpa terasa Kak Hardy sudah menyelesaikan pendidikannya dan bekerja di sebuah perusahaan. Sedangkan aku masih harus menyelesaikan skripsi ku. Hubungan keluarga kami pun semakin erat, sampailah akhirnya pada pembicaraan mengenai pernikahan kami.
Orang tua Kak Hardy sudah melamar ku, tanggal pernikahan pun telah ditentukan, dan setelah itu undangan telah disebarkan.
Siang itu setelah ujian skripsi, aku bersama Kak Hardy sedang makan mie ayam di tempat langganan kami.
Terdengar suara menyapa," Hardy, kamu kemana aja sih, dari kemarin aku hubungi kok tidak bisa?". Kami berdua langsung melihat ke sumber suara. Aku melihat perubahan wajah Kak Hardy.
"Aku kemarin sedang sibuk, duduklah, kamu mau aku pesankan apa?", tanya Kak Hardy.
"Seperti biasa", kata wanita itu tanpa menoleh padaku.
Deg, entah mengapa perasaanku tidak enak, masih dengan tatapan bertanya aku memandang interaksi antara mereka berdua.
"Siapa dia", wanita itu bertanya kepada Kak Hardy sambil menunjukku.
"Oh, dia tetanggaku, orangtuanya yang punya warung sayur di tempat aku tinggal", dengan santainya Kak Hardy menjawab.
"Kak, apa maksudnya Kakak bicara begitu?", aku bertanya sambil menahan tangis.
"Oh ya Nara, ini Sheila calon istriku yang sebenarnya", Kak Hardy memperkenalkan wanita itu.
"Maksud Kakak apa?, bukankah kita sebentar lagi akan menikah dan undangan sudah disebarkan, apa kata orang tua kita nanti", kataku sambil terisak.
"Hei kamu, jaga sikapmu, jangan bikin malu, semua orang sedang memandang kita sekarang, dasar perempuan kampung", perempuan yang bernama Sheila itu berkata sambil berbisik.
"Kak, tolong jelaskan padaku, ada apa ini?", aku menyeka air mataku yang sudah tidak terbendung lagi.
"Sudahlah, sebaiknya kamu pulang, tunggu kabarnya di rumah, setelah ini aku akan membawa Sheila menemui kedua orang tuaku dulu", sambil memegang tangan Sheila, Kak Hardy mengusirku.
Dunia terasa hancur di hadapanku, aku sudah tidak merasakan lagi dimana kakiku berpijak saat ini, terbayang dimata ku wajah kedua orang yang saat aku kasihi apabila mereka mendengar berita ini.
Kak Hardy sama sekali tidak perduli, dengan naik angkot aku pulang, tadinya aku pergi naik mobilnya Kak Hardy.
Sesampainya di rumah, aku masih melihat kedua orang tuaku masih melayani pembeli. Setelah mengucapkan salam aku masuk kekamar ku. Air mata sudah tidak dapat aku bendung lagi, dadaku sakit sekali, rasanya perih sekali.
"Ya Allah, berilah hamba mu ini kekuatan, setidaknya demi kedua orang tuaku, hamba rela apabila ini semua memang sudah suratan takdir mu, tapi tolong jangan biarkan mereka menyakiti hati kedua orang tuaku, hamba mohon keadilan dariMu, Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim". Dalam sholat dan sujud ku aku berdoa.
Setelah selesai sholat, aku berbicara dengan kedua orang tuaku, secara perlahan aku menceritakan semua kejadian tadi. Cepat atau lambat mereka akan mengetahuinya, aku tidak ingin mereka tahu dari keluarga Kak Hardy. Setidaknya aku ingin kedua orang tuaku mempersiapkan mentalnya.
Ibuku menangis, ayahku mengepalkan kedua tangannya, sudah terbayangkan apa yang akan mereka hadapi nanti, yang pasti rasa malu. Ayahku menatap wajahku, wajah anak perempuan satu-satunya yang sangat ia sayangi.
Aku berusaha menahan air mataku. Didepan kedua orang tuaku aku harus terlihat kuat. Dengan tetap tersenyum aku berkata bahwa aku tidak apa-apa. Melihat ketegaran hatiku ayahku hanya bisa tertunduk, ibuku tiba-tiba pingsan. Aku dan ayahku panik, kami berdua membawanya ke rumah sakit terdekat. Kata dokter Ibuku shock, untuk sementara beliau tidak boleh banyak pikiran.
Keesokan harinya, ayahku tetap berjualan seperti biasanya, hanya guratan letih semakin jelas terbayang di wajah tuanya, sedangkan Ibuku sedang terbaring di kamar. Karena aku tinggal menunggu hasil dari ujian skripsi ku, aku membantu ayah di warung melayani pembeli.
Sebuah mobil mewah melintas didepan rumah kami, lalu berhenti, dari dalamnya keluarlah seorang wanita yang aku kenal, dengan santainya ia memasuki warung kami dan memandang dengan sinis.
Aku bertanya," mau beli apa?".
"Hanya mau lihat saja, ternyata benar, kamu itu cuma anak tukang sayur", dengan sinis Sheila menjawab.
Seketika warung itu menjadi sepi, pembeli melihat ke arah Sheila.
"Anak ini siapa ya, kok bicara seperti itu, Nak Nara memang anak tukang sayur, terus masalahnya dimana?", tanya Bu Marni sahabat Ibuku.
"Tidak ada, saya hanya membuktikan saja", Sheila berlalu begitu saja.
Ayah sedari tadi hanya memperhatikan saja, terlihat jelas di wajahnya sedang menahan marah.
Malamnya keluarga Kak Hardy datang, berbeda dengan kedatangan pertama kali ketika melamar ku, orang tua Kak Hardy datang dengan angkuhnya, tanpa ada rasa penyesalan, mereka mengatakan alasannya mereka memilih Sheila adalah karena mereka merasa berhutang budi dengan Ayahnya Sheila yang sudah membantu Kak Hardy mendapatkan pekerjaan.
Dengan tenang Ayahku mengatakan bahwa ia bersyukur tidak jadi menikahkan anak perempuannya dengan anak mereka. Lalu dengan tegas pula ia mengusir mereka pulang.
Paginya suasana di perumahan tempat aku tinggal heboh dengan pembatalan pernikahan kami. Banyak yang menyayangkan dan banyak pula yang tidak perduli. Ayah dan Ibuku lebih senang menutup telinga dan tidak menanggapi omongan mereka.
Sebulan berlalu, aku di wisuda dengan nilai yang sangat memuaskan, air mata bahagia membasahi pipi kedua orang tuaku. Aku kemudian melamar di perusahaan kecil dan diterima, uang hasil kerjaku, kupakai untuk mengambil gelar S2. Aku tidak mau menyusahkan mereka, di waktu senggang aku tetap membantu kedua orang tuaku berjualan sayur.
Tidak tahu apa yang terjadi, aku sudah tidak memperdulikan tentang Kak Hardy dan keluarganya. Aku fokus dengan kerja dan pendidikan ku. Alhamdulillah, aku berhasil menyelesaikan S2 lebih cepat dari yang seharusnya.
Berbekal pengalaman bekerja di perusahaan kecil dan gelar S2 ku, aku melamar di sebuah perusahaan besar yang kebetulan membutuhkan seorang Manajer Keuangan. Dari hasil wawancara aku diterima di perusahaan itu. Bisa dibayangkan betapa bangga dan bahagianya kedua orang tuaku.
Pada hari pertama aku diperkenalkan siapa saja yang akan menjadi bawahan ku, pada saat itulah aku bertemu dengan Kak Hardy, dia hanya mematung menatapku, aku tidak memperdulikannya, dimata ku dia hanyalah masa lalu dan juga bawahan ku.
Mengetahui bahwa aku adalah atasan dari anaknya, kedua orang tua Kak Hardy mulai mendekati keluargaku lagi.
Aku merasa tidak nyaman, karena mengkhawatirkan keadaan kedua orang tuaku, aku membelikan mereka rumah, di rumah yang baru aku menyiapkan sebuah toko sayur yang sedikit lebih besar dari yang lama, dengan di bantu dua orang pegawai, orang tuaku menjalankan toko sayur tersebut. sedangkan rumah yang lama dikontrakkan.
TAMAT
Janganlah pernah memandang rendah pekerjaan kedua orang tuamu, selama itu halal syukuri lah.