Selepas putus pacaran, aku menjadi Bossnya ? Ini gila apa karma ? Batin Amalia. Gadis itu membaca email nya hingga berulangkali benar adanya itu surat perintah dari atasannya. Mungkinkah dia yang salah melihat nya. Atau ada masalah dengan penglihatannya ? Bagaimana cara mengatasi ini besuk saat mereka bertemu ? Di pijitnya pelipisnya pusing iya, takut ? Enggak. Aku tidak bersalah ! Malu ? Kenapa harus aku yang malu ? Mereka yang melakukan itu santai saja. Tiga tahun kebersamaan berakhir dengan rasa sakit di dada.
Amalia berjalan tergesa-gesa di sepanjang peron stasiun kereta dia sengaja mengambil cutinya untuk kejutan sang kekasih yang akan berulang tahun akhir pekan ini. Dia memanggil taksi di depan stasiun kereta api.
Hanya memakan waktu kurang lebih lima belas menit ia sampai di apartemen nya. Saat ini dia bilang tidak akan lembur jadi dia bisa memberikan kejutan. Sampailah dia di gedung apartemen segeralah masuk ke lift dan bergegas menuju ke unit apartemen nya. Mas Raditya kamu pasti terkejut jika aku datang mhm, akan ku serahkan semuanya. Aku sudah mantap akan menjadi kekasih mu seutuhnya dan kita akan langsung menikah. Tabunganku sudah cukup kita akan saling bahu-membahu untuk mahligai tangga kita nantinya, Gumamnya sepanjang jalan menuju ke arah unit apartemen. Dipindai nomor PIN dan dibukanya pintu masuk. Matanya terbelalak melihat pakaian berserakan, dan tak lama terdengar suara-suara laknat itu.
Tidak ! Tidak mungkin Raditya kekasihnya, batinnya. Pasti ada temannya yang menginap dan mengajak pacarnya enak-enakan. Karena kamarnya disini ada dua buah. Tapi itu kan kamarnya...
Dengan jantung berdegup kencang ia mencoba mendekati pintunya yang sedikit terbuka.
"Please faster....Radit...aakkhh .."
"Iyaa...akhh...bersama....akhh..."
Brukk. Tas wanita Amalia terjatuh dari tangannya. Sedangkan tangannya yang lain berpegangan pada handle pintu.
"Raditya kamu ! Akh.. Vanessa !" Pekik gadis itu terkejut. Matanya menatap ke duanya yang bertelanjang bulat memekikkan kepuasan bersama. Raditya berdiri dengan tersenyum miring ke arah Amalia dan Vanessa dengan santai mengambil piama pendek terbuka bahkan wanita itu tanpa rasa bersalah melewatinya bahkan dengan sengaja menendang handbag Amalia.
Sedangkan Raditya mengenakan boxer kemudian dia ikut keluar dari kamarnya melewatinya dengan santainya. Amalia menunduk, jijik, marah, rasa bencinya muncul. Inikah balasan cintanya ?
Di helanya nafas panjang kemudian bangkit setelah dirasa cukup lama dia melangkahkan kakinya menuju ke tempat mereka duduk, sebelumnya dia menghapus jejak-jejak air matanya.
"Berapa lama kalian berhubungan ?"
"Tiga tahun." Jawaban Raditya seperti tamparan muka di wajahnya. Itu berarti semenjak dirinya di mutasikan di kota B. Apa ini ? Siapakah yang menjadi orang ketiganya?
"Jadi ?" Amalia menatap keduanya yang duduk bersama begitu intimnya.
"Sejak dari dulu sampai sekarang kamu kan tahu semua milik kami adalah milik ku?" Jelas Vanessa.
"Begitukah ?" Tanya Amalia dengan hatinya linglung.
"Kita sudahi saja lagi pula aku sudah malas bermain-main lagi dengan mu. Wanita yang membosankan." Kata Raditya dengan datar.
"Jadi begitu rupanya? Baiklah. Selamat ! Semoga bermanfaat barang bekasku Vanessa" Amalia pun bangkit dan menyeret kopernya keluar dari ruangan itu. Gadis itu langsung menuju ke hotel terdekat dan meledaklah tangisnya begitu dia menutup pintu kamar. Badannya luruh bersamaan air matanya menetes. Bukannya mereka bersahabat sejak high school hingga university ? Diingatnya kata-katanya Vanessa, iya benar adanya bahwa dia selalu mengikuti dan mengambilnya, bodoh nya baru sekarang ia mengerti tentang hal itu.
Satu bulan berikutnya, disinilah dia berdiri di parkiran gedung tempat kerja yang baru. Dengan penampilan yang baru kurasa ini sudah cukup menunjukkan bahwasanya dia tidak ada artinya lagi bagi dirinya. Semangat Amalia dia bukan satu-satunya lelaki di dunia ini.
Dengan mantap ia berjalan menuju ke arah lobi perusahaan besar itu.
"Pagi mbak,maaf saya ada janji bertemu.." Belum selesai Amalia berbicara sebuah suara mampir ke telinga.
"Amalia ? Apa yang menyebabkan kamu kesini ? Mau ngajak balikan?" Suaranya sengaja di nyaring kan sehingga beberapa orang lain yang lewat agak memperlambatnya ingin curi-curi mendengar.
"Mhm,ya ?" Alis mata Amalia terangkat melihat ekspresi Vanessa yang datang bersama Raditya.
"Asal tahu saja walaupun kamu memohon sampai berdarah sekalipun Raditya tidak akan mudah berpaling dari aku." Katanya mengejeknya. Amalia tersenyum tipis melihat ekspresi wajah Vanessa.
"Ibu Amalia ?" Sebuah sapaan dari arah luar lobi bersamaan mendekat ke arah mereka. Keduanya berpakaian rapi formal yang satu dengan jas mewah, Amalia mengetahui merk pakaiannya yang dikenakannya demikian juga yang ada disampingnya. Wanita itu hanya tersenyum menunduk hormat.
"Bryant, saya CEO di perusahaan kita. Dan Aswin assisten," Katanya memperkenalkan dirinya sebagai pimpinan. Mereka berjabat tangan. Vanessa dan Raditya melongo dibuatnya.
Karena setahu mereka sang CEO bermuka datar sama juga sang asisten. Sekarang keduanya menyalaminya dan tersenyum manis.
"Ibu Amalia mengenal salah satu karyawan di kantor Pusat ? Bukannya Bu Amalia belum pernah kesini ?" Tanya Aswin sang asisten. Karenanya dia mencurigai gelagat kedua orang disampingnya.
"Mereka saya kenal. Yang satu sahabat saya dulu dan yang satu.." Kalimat Amalia menggantung sambil menatap wajah keduanya dengan senyuman remeh.
"Sahabat ? Itu berarti dia.." Bryant bergumam tidak jelas memandangi mereka.
"Salah ! Mantan sahabat lebih tepatnya. Bersama mantan pacar ?" Terimakasih sudah mencuri barang-barang bekasku. Jadi aku tak perlu susah-susah membuang!" Sakars Amalia menatap tajam ke arah keduanya. Bryant tersenyum miring.
"Mari kita kedalam ada yang saya diskusikan." Bryant memberikan jalan agar mengikutinya. Amalia tersenyum manis pada Bryant, tangan kirinya yang menggenggam kunci mobil dengan cincin berlian hadiah dari kakaknya tahun lalu dia pamerkan dengan cara menyisir rambutnya sambil berjalan melalui mereka.
Aswin yang hendak berjalan mengikuti ditahan Vanessa.
"Maaf, Pak Aswin. Dia itu..?" Belum selesai dia berkata sudah di hardiknya ketus.
"Yang sopan kamu ! Beliau adalah Kepala Divisi keuangan dan merangkap Kepala Divisi Manajemen Pemasaran. Beliau lah yang membawa rekanan dan mendatangkan keuntungan perusahaan kita di kota B. Tentu saja itu karena dia lulusan di jalur istimewa dari universitas terkemuka dikota LN, dia mengambil dua title waktu itu. Jadi wajarlah jika CEO kita tertarik padanya. Cantik, pintar dan dia juga merupakan putri kedua pewaris Groub C. Apakah kamu tidak mengenali dia ?" Ujarnya sambil lalu.
Pantas saja pakaiannya dan aksesoris yang dikenakan biarpun sederhana namun mirip dengan barang-barang limited edition. Namun dia selalu pintar berdalih, batin Vanessa. Jauh dalam hati Raditya juga kesal. Dia membuang permata untuk batu kali, pikirnya. Keduanya saling menatap satu sama lainnya melempar senyum. Namun pikiran mereka tetaplah kotor. ( Keserakahan dan ambisi terkadang lebih menggoda daripada kesabaran yang membuahkan hasil yang maksimal).