Lia,gadis berusia 16 tahun, seorang gadis pintar,disiplin dan pekerja keras. Dia gadis sederhana yang terlahir dari keluarga sederhana, di masa remaja yang seharusnya bermain dengan teman seumurnya tapi ia justru tidak melakukannya. dia selalu ikut bekerja d kebun dengan ibunya, saat usianya masih duduk di bangku smp saat teman temannya bermain ia menghabiskan waktunya di rumah. hari ini dia ikut ibunya ke kebun
"Ibu, lia mau ikut ibu cari rumput"dengan tatapan nya yang polos ia memohon pada ibunya
"Baiklah lia boleh ikut, tapi lia nggak boleh nakal ya" jawab bu Siti sambil mememgang dagu lia
lia hanya mengangguk saja
setibanya di kebun yang masih banyak pohon pohon besar, bu Siti menyuruh lia duduk di sebuah batang yang kering lalu beliau mencari rumput yang tak jauh dari tempat duduk lia
"Lia... Lia....Nak kamu di mana" bu siti bingung menatap di sekeliling tempat duduk lia tidak ada. dengan perasaan yang tak menentu bu siti terus mencari
"Ya alloh lia.. kamu ngapain di sini nak, buang buah itu" bu siti marah ketika melihat lia remaja yang masih polos duduk santai sambil memakan buah mangga
Ya di dekat tempat duduk lia, ada banyak batang pohon mangga buahnya terlihat segar apalagi di waktu panas yang mentengat
lia pun terus memakan mangga itu tanpa memperdulikan ucapan sang ibu
"Lia kamu dengar ibu tidak,ayo buang mangga busuk itu. kamu bisa sakit perut kalau makan mangga itu" bu siti menghampiri lia dan mengambil mangga yang d tangannya
Dengan menahan air mata yang hampir terjatuh karena melihat putri yang sangat ia sayangi memakan buah mangga busuk. bu siti memeluk lia sambil menangis dan terus menangis
"Ibu, kenapa ibu menagis? apakah lia menyakiti hati ibu? maafkan lia karena sedari tadi lia tidak menuruti ibu"
" Tidak nak, ibu tidak menangis ibu hanya kelilipan tadi ada debu masuk" jawaban sang ibu
" ibu... ibu... tunggu ibu, jangan tinggalin lia, lia takut. maafkan lia tadi lia tidak menurut sama ibu" sambil menangis lia terus mengejar ibunya yang terus berjalan
" Lia anak nakal lia nggak sayang ibu, lia makan saja buah itu tidak usah perdulilan ibu" sambil menangis ibu terus berjalan tanpa menengok sedikitpun
Sampai di sebuah gubuk yang kecil bu siti berhenti dan merebahkan tubuhnya yang lelah dan marah. Lia yang berlari mengikuti ibunya d belakang terus menangis, hingga sampai di depan ibunya
"Ibu maafkan lia, lia salah tadi lia tidak dengarkan ucapan ibu. kalau ibu mau pukul lia bu tapi ibu jangan tinggalkan lia. lia takut sendirian bu, lia janji lia nggak akan mengulanginya" dengan suara yang masih terisak lia memeluk ibunya dan memegang kedua telinganya
' Maafkan ibu nak, karena kehidupan yang sulit ini sampai sampai ibu tidak mampu membelikan kamu buah buahan dan makanan yang enak' ucap bu siti dalan hati sambil memeluk lia dengan erat
"Ayo kita pulang, hari sudah mulai gelap. lia tolong bawakan air minum dan bekal ini ya nak, besok kalau ibu ada uang kita pergi ke pasar beli ikan ya" bu siti tersenyum hanya untuk membuat putrinya tidak sedih lagi
lia hanya mengangguk dan berjalan di belakan ibunya sambil sesekali bernyanyi, entah apa yang d nyanyikannya namun dia terlihat ceria kembali. sesampai di rumah mereka pun langsung membersihkan badan, dan melihat di meja sudah tersaji nasi dan lauk. meskipun hanya berlauk ikan asin dan sambal tapi mereka bersyukur karena masih bisa makan,dengan lahapnya lia makan sampai nasi terjatuh di mana mana
"Pelan pelan makannya dek, kakak tidak akan meminta lauk lia kok" goda Ana ke adiknya
Ana adalah anak pertama bu siti dan pak Sayuti, dia lebih pendiam tak banyak bicara jika tidak penting. dia cuek di sekolah maupun di rumah, dia banyak menghabiskan waktunya dengan membaca buku dan belajar. tidak pernah bermain dengan teman temannya, dia membantu ibunya menyelesaikan pekerjaan rumah setelah pulang sekolah
"Ana bagaimana sekolahmu hari ini" tanya sang ibu
"Alhamdulillah lancar bu, tadi di sekolah guru ana meminta supaya kami belerja kelompok bu, tapi..." Ana menghentikan ucapannya
"Sudahlah bu ana ingin belajar di rumah aja sendirian, nanti kalau ana pergi belajar kelompok dengan teman teman pasti ana nggak bisa konsentrasi dan malah mengganggu belajar ana" dengan tersenyum ana mencoba menutupi kesedihannya karena tidak bisa berkumpul dengan teman temannya
Bu siti hanya tersenyum,meskipun ibu tau apa yang di fikirkan anaknya, namun apa yang bisa di lakukan nya. sedangkan untuk makan dengan lauk seadanya saja mereka sudah bahagia namun kebersamaan dengan keluarga sangatlah berarti
"Assalamualaikum" seorang lelaki paruh baya tiba di rumah sambil tersenyum
"Wa'alailumsalam, ayah sudah pulang"Ana terlihat bahagia ketika membukakan pintu dan ternyata adalah ayahnya
"Ayah..Ayah... lia kangen lia mau di gendong ayah" dengan manjanya lia langsung berlari dan memeluk sang ayah, meskipun sudah remaja tapi lia tidak malu untuk memeluk sang ayah, berbeda dengan sang kakak. melihat ayahnya ia hanya tersenyum sambil mencium punggung tangan sang ayah
"Ana ini ambil nak bawa ke dapur bersihkan dulu baru di goreng, nanti kita makan sama sama" kata pak sayuti sambil memberikan kantong plastik berwarna hitam
"Yea hari ini makan sama ikan, masak yang enak ya kak biar lia makannya banyak trus gendut hihiii"celotehan lia membuat semua keluarga tertawa tapi tidak dengan ana, dia hanya tersenyum sinis pada lia
dengan cepat ana berjalan menuju ke dapur, setrlah membersikan dan menggoreng ikan dia langsung memanggil ayah, ibu, dan juga adiknya lia
"Makanan sudah siap, ayo kita makan sama sama mumpung masih hangat" dengan cepat ana mengambil piring dan di berikan ke ayah tercintanya
"Ayah kapan mau berangkat kerja lagi"tanya lia yang langsung bertanya
"mungkin besok ayah berangkat, ada apa?"
lia menggeleng dan melanjutkan makan. Sesudah makan kami bercerita banyak pada ayah karena ayah jarang pulang. ayah selalu bekerja dan tidak kenal lelah,ayah sangat menyayangi kami berdua
Pagi hari kami terbangun ayah sudah tidak di rumah,begitulah setiap kali ayah pulang cuma benerapa hari menginap di rumah. beliau bekerja d peternakan udang jadi tidak bisa berlama lama mengambil cuti
Ayah pulang kerumah hanya memberikan beberapa uang ke ibu, hasil kerja ayah merantau
uang itu di belikan beras dan kebutuhan yang lainnya. tidak lupa ibu membeli lauk untuk kami makan, meskipun tidak setiap hari menikmati makanan enak tapi kami selalu bersyukur atas nikmat yang di berikan alloh
"ibu hari ini kita makan apa?" tanya lia sambil nyengir
"Hari ini kita masak ikan lele dan sambal terasi, ini ibu juga membelikan kalian mangga. nanti kita makan sama sama ya"
kami mengangguk bersama dan melanjutkan pekerjaan rumah masing masing, lia menyapu halaman rumah, sedangkan ana membantu ibu di dapur
Rumah yang masih terbuat dari anyaman bambu yang sudah tua di situlah kami tinggal tanpa ada listrik,cuma lampu sumbu sebagai penerangan rumah kami waktu itu
Terlihat lia menangis namun tidak bersuara, entah apa yang ada di fikirannya tapi aku yakin dia sedang memikirkan sesuatu
"Dorr.. hayo lagi mikirin apaan siy kayaknya serius banget" aku langsung duduk di sebelahnya sambil memberikan mangga yang ibu beli di pasar pagi tadi
" Nggak ada, hanya melihat keadaan rumah kita. kasihan ibu kalau malam hujan selalu terjaga buat menampung air yang menetes dari atas" jawabnya dengan masih menitikkan air mata
Aku menghembuskan nafas kasar aku mengerti dan sangat mengerti dengan kondisi kami, namun pikiran kami berdua sama. kami ingin merubah kehidupan kami dan membahagiakan orang tua kami
"Lulus sekolah nanti aku nggak mau lanjutin ke SMA kak, aku mau kerja aja, iya nanti kita kerja sama" ya. sekarang kita makan mangga dulu" sambil nyengir aku menyodorkan piring yang berisi buah mangga
Waktupun begitu cepat berlalu. Ana lulus sekolah smp terlebih dahulu,sedangkan lia masih 2 tahun lagi menunggu lulus
" Bu, ana mau kerja boleh nggak?"
"hmmm, terserah ana saja tapi nak kerja ikut orang itu tidak enak. pasti di marahin kalau salah pasti d crewetin juga"
"iya ana tau bu,tapi ana pengen kerja ana pengen bikin ayah dan ibu bahagia" pintanya lagi
"Baiklah ibu mengijinkan ana kerja tapi hanya satu tahun saja"
"lo kok setahun bu memang kenapa bu" tanya ana sambil mengerutkan keningnya
" Karena akan ada orang yang melamarmu"
Degg
aku terkejut dan masih bingung kenapa harus secepat itu dan siapa orangnya, malam menunjukkan pukul 3 pagi mata ini masih tidak mengantuk
di hatiku belum siap menikah muda,akhirnya ku putuskan untuk menerimanya dan aku harus menunda cita cita yang terpendam di hati
Satu tahun setelah ana lulus sekolah,pria yang di maksud bu siti datang ke rumah untuk melamar. sepanjang obrolan ana hanya terdiam tidak sepatah katapun dia bicara hanya menganggukan kepala saja di hatinya perih dan penuh tanda tanya
Kenapa harus begini? semua yang di cita cita kan hilang sudah hanya harapan dan angan angan saja
Enam bulan saling mengenal, pernikahan pun berlangsung meriah. banyak keluarga yang datang tapi ana masih kaku dengan pria itu
"Ana tenanglah jangan grogi, aku mengerti kamu belum siap maka aku tidak akan menyentuhmu sampai kamu sendiri yang mengikhlaskannya. aku akan sabar menunggu mu ana" suara pria yang sekarang sudah sah menjadi suami ana, dia lembut dan baik tapi ana masih saja belum bisa menerima kehadirannya
Satu bulan menikah ana belum terlihat tanda tanda bahwa ana sudah membuka hatinya namun, suaminya tetap bersabar
"Ana aku akan pergi bekerja dengan ayahmu juga kalau kamu mau menginap di rumah ibumu aku mengijinkan" ucap Andi, dialah suami ana
"Iya mas,terimakasih aku akan menginap di rumah ibuku saja"
" baiklah mas akan mengantarmu besok" jawabnya lagi dengan lirih
Di pagi hari pasangan pengantin baru itu tiba di rumah bu siti, Andi langsung pamit bekerja sedangkan ana tidak bisa menahan air matanya lagi
"Ada apa ana kenapa kamu menangis nak, apakah andi kasar padamu" tanya bu siti
ana hanya menggeleng matanya mulai sembab karena menangis terus
"kenapa kamu nak,menangis sampai tertidur" ucap ibu sambil membelai rambut ana sehingga ana terbangun
"Ibu, kenapa masa remaja ini ana tidak bisa membahagiakan ibu dan ayah? kenapa harus secepat ini meninggalkan rumah yang membesarkan ana bu?" semua pertanyaan itu hanya di jawab dengan air mata ibu cukup lama ibu menjawab
"Nak ibu hanya ingin melihat anak anak ibu hidup bahagia, ibu pikir dengan menikahkanmu dengan orang yang baik kehidupanmu akan berubah. kamu tidak akan sedih lagi karena keadaan kita"
ana menggeleng dan menangis lagi
"Jangan menangis lagi nak, sudah banyak air matamu yang tumpah. sekarang mulailah kehidupan barumu dengan suamimu" ucap ibu lagi
Dua hari setelah menginap di rumah ibu akhirnya aku pulang ke rumah suamiku, meskipun hati ini belum siap namun aku tetap menutupi,berpura" menjadi istri yang baik meski tanpa ada cinta di hati
ana melayani suaminya dengan baik
Hari kelulusan yang di tunggu lia akhirnya tiba juga lia lulus dengan nilai yang hampir sempurna, sepulang dari sekolahan lia langsung menunjukka hasil rapor ke ibu siti. beliau senang dan bangga karena anaknya lulus sekolah
"Ibu, lia kan sudah lulus sekolah dan lia nggak mau lanjutin sekolah. lia ingin bekerja bu" tanpa berbasa basi lia langsung mengungkapkan keinginannya, sambil memeluk sang ibu tercinta
Bu siti hanya mengangguk tanpa bicara lagi beliau langsung pergi ke dapur. beliau tau pasti anaknya sangat lapar setelah pulang dari sekolah
"Bu do'akan lia agar lia jadi orang sukses. supaya lia bisa membahagiakan ibu dan ayah" ucap lia sambil memcium punggung tangan dan pipi ibunya
" Jaga dirimu di sana nak, jangan lupa makan dan jangan tinggalkan sholat. sering sering kasih kabar ke ibu ya nak, ibu pasti akan sangat rindu. ooo ya apa kamu sudah bilang sama kakak mu" tanya ibu siti
"Tidak bu sebaiknya kakak jangan di kasih tau dulu, biarkan kakak menjalani rumah tangganya yang baru di mulai. nanti kalau lia udah kerja baru lia kasih tau kakak" lia pun tersenyum dan berlalu menaiki mobil yang akan mengantarnya ke kota
"Lia pamit bu jaga kesehatan ibu, jangan lupa makan. assalamualaikum"
"Waalaikumsalam, hati hati nak ingat pesan ibu" dengan suara yang agak keras ibu melambaikan tangannya
Setelah lima bulan lia bekerja, dia membelikan ibunya hp untuk berkomunikasi. ibunya sangat senang bahkan ibu siti sampai menangis sesenggukkan
"Ibu kenapa nangis kan lia telpon ibu pengen liat wajah ibu yang cantik tersenyum. bukannya nangis hihiii" lagi lagi lia menggoda sang ibu yang membuat ibunya langsung tertawa
hampir dua tahun lamanya bekerja di kota, lia pulang karena rindu pada sang ibu juga keluarga. dengan diantar mobil travel di antar sampai depan rumah dan suara klakson mobil yang berisik membuat semua orang bingung
"Assalamualaikum ibu ku sayank, gimana kabarnya" dengan santai nya lia mengucapkan salam pada ibu sambil mencium pipi nya
" waalaikumsalam nak, ibu tidak baik karena kuping ibu mau pecah dengerin klakson dari tadi" jawab ibu ketus sambil mencubit pinggang lia
"Ibu sakit, lia nggak pulang aja kalau cuma di cubit terus" dengan bibirnya yang manyun karena di cubit dan langsung masuk ke rumah lia langsung menuju dapur dia sangat merindukan masakan ibunya
"Bu lia lagi deket sama seseorang, apa ibu mengijinkan kalau dia main ke rumah" tanya lia sambil mengunyah makanannya
"Siapa namanya nak dan darimana asalnya"tanya ibu yang penasaran
"Namanya Avrian bu, kami baru mengenal belum lama siy. baru sekitar dua bulanan bu" jawab lia
ibu hanya mengangguk mendengarkan lia yang terus bercerita, sampai selesai makanpun lia masih bercerita. hingga malam dan ngantuk mulai di rasa oleh ibunya
"Selamat malam ibu,jangan lupa baca do'a sebelum tidur.ckckkk" sambil berlalu ke kamar lia masih sempat menggoda sang ibu
Di pagi hari lia berkunjung ke rumah ana, kakak yang sangat di rindukannya. mereka berbagi cerita sampai sore
" Kak aku mau crita penting nih hihiii"
Ana hanya mengerutkan keningnya
"hmm" jawab nya singkat
"Aku punya temen deket,cowok kak. kakak mau liat gak" celotehnya lagi
Ana hanya menganggukkan kepala ketika melihat foto itu tanda dia setuju
"asalkan baik dan bertanggung jawab kakak mah ok ok aja" sambung kakaknya lagi
Setelah lama berbincang dan melepas rindu lia pun pamit pulang. dengan sedikit aksi nya yang menyebalkan dia tertawa lepas
"Kentut sembarangan, bau tau makan apa siy kamu tadi di rumah hahaa" mereka tertawa bersama seakan masalah hilang sekejap
"Biarlah kan wangi kentut ku, ya udah aku pulang dulu ya kak. jaga kesehatan dan jangan lupa...??"
terdiam dan tertawa itulah lia adiknya yang suka usil jika bertemu ada saja tingkahnya
" Jangan lupa apa" tanya ana heran dan mengerutkan keningnya
"Jangan lupa kalau kentut jangan di tahan kak nanti sakit perut hahahaaa ckckckk" dia berlari keluar dengan tawanya yang terpingkal pingkal
Setahun berlalu keluarga Avrian datang melamar dan menetapkan tanggal pernikahan. lia terlihat malu malu kucing, namun sesekali ia menoleh ke sosok pria tersebut
" Baiklah pak silahkan tentukan tanggal pernikahannya, kami akan menunggu kabar dari keluarga bapak" jawab pak Dika yang mewakili keluarga pihak mempelai pria
"Jantungku terasa mau copot kak" ucap lia yang mulai dengan tingkah nya yang polos
"Bersikap yang biasa jangan malu maluin, tahan dulu itu kentut waktu ijab qobul nanti. malu banyak orang ckckkk" sambil menatap adiknya yang cantik ketika di make up ana tertawa lepas hingga membuat san adik cemberut
"Calon pengantin harus selalu tersenyum jangan cemberut terus. kan kasian nanti tuh kentutnya juga takut mau keluar" tambahnya nya lagi meledek adinya
Setelah menunggu dua jam akhirnya mempelai pria tiba di kediaman keluarga bapak sayuti, penghulu juga sudah hadir di sana. dengan perasaan dag dig dug lia duduk di sebelah calon suaminya. tidak terasa air matanya jatuh ke pipi setelah semua orang mengatakan sah
"Alhamdulillah" ucap syukurnya pelan
mereka meminta restu dari kedua orang tua mereka lia menangis dan terus memeluk sang ibu tercinta, perlahan lia melepas pelukannya ketika seorang perias pengantin menepuk bahunya. dan lia di bawa ke kamar untuk berganti pakaian
"Subhanalloh, cantik sekali adik kakak ini. semoga jadi keluarga yang sakinah,mawadah, warohmah amin" sambil membelai rambut adiknya yang ikal dia mencium pipi dan kening lia. lagi lagi lia menangis di pelukan kakak nya
Setelah malam acara selesai lia bergegas ke kamar untuk mengganti pakaiannya, lalu dia duduk di sudut tempat tidur menunggu suami tercinta
" Mas kamu gak mandi dulu" tanya nya dengan memasang senyuman yang manis hihiii
Avrian pun bergegas ke kamar mandi dan duduk di samping lia. banyak yang mereke bicarakan tanpa di sadari avrian, lia sudah terlelap di sandaran kasur. perlahan Avrian membaringkan lia, dia mengerti jika istrinya lelah
'Kamu manis kalau lagi tidur gini' gumam nya lalu mengecup kening lia dan segera menyusulmya tidur di samping lia, mereka telalu lelah setelah seharian duduk di pelaminan. siang hari mereka baru terbangun karena suara brisik di luar yang masih banyak orang datang untuk membersihkan halaman rumah
"Pagi sayank, maaf aku lelah sekali jadi tidak bisa melayanimu" ucap lia malu malu
" Ia aku mengerti sayank, jangan di pikirkan ya aku mengerti. kenapa wajahmu memerah" tanya Avrian
Lia yang takut langsung berlari menuju cermin dia melihat wajahnya baik baik saja tidak ada yang aneh. Avrian pun mendekati lia lalu
Cuupp
Avrian mengecup bibir lia yang membuat wajahnya memerah karena malu
"Sudah siang malu banyak orang" ucap lia pelan sembari masuk ke kamar mandi
Setelah mandi mereka keluar bergabung dengan keluarga yang masih berkumpul di ruang tamu,Avrian duduk di samping lia dengan senyuman yang mengingatkan kecupan bibir yang batal hihii
Satu bulan menikah mereka pamit untuk melanjutkan pekerjaan yang sudah lama di tinggal, ayah dan ibu menitipkan lia pada suaminya. karena mereka tetap menganggap lia anak kecil yang selalu berceloteh dan usil
Tiba di kota mereka tidak langsung bekerja, melainkan menghabiskan waktu berdua.setelah beristirahat mereka berencana untuk jalan jalan di sekitar komplek yang mereka tinggali
Tak terasa usia pernikahan mereka hampir satu tahun, kini perut lia semakin membuncit. kehamilan lia merupakan kebahagiaan kami. ayah dan ibu meminta lia agar cepat pulang sebelum melahirkan
Lia pun berkemas dan Avrian membantu mengemas pakaian sesegera mungkin mereka harus tiba di loket sebelum jam 10 pagi. Avrian mengantarkan lia ke terminal bus
" Hati hati ya sayank, jaga kesehatan dan juga anak kita. maaf aku gak bisa ikut sekarang karena aku belum dapat cuti dari kantor" ucap Avrian sedih dan mengelus perut istrinya
" Iya sayank aku mengerti, yang penting sebelum aku lahiran kamu harus sudah datang" pinta lia sambil memeluk suaminya erat
Avrian hanya mengangguk " aku janji sebelum anak kita lahir aku akan menyusulmu" avrian mencium perut istrinya dan tidak lupa juga mencium pipi dan kening istrinya juga
Perjalanan menuju desa cukup jauh, apalagi dengan keadaan jalanan yang rusak. lia sudah merasa tidak nyaman di dalam mobil, lia terus mengelus perutnya dan mengingat senyuman suaminya. sampai di depan rumah, ibu langsung menghampirinya dengan cepat ayah juga membawakan tas milik lia
Setelah selesai makan malam lia pun tidur, mungkin karena lelah di perjalanan apalagi mengingat perutnya yang buncit
Mendekati hari kelahiran Avrian belum juga datang, pikiran lia tak menentu hingga lia mengalami kontraksi hebat. perutnya sakit dan ayah langsung membawanya ke rumah sakit
"Ini harus segera di tangani pak karena ada masalah pada bayinya. sebaiknya di bawa ke rumah sakit yang peralatannya lengkap, nanti saya buatkan surat rujukan nya" ucap dokter yang menangani lia
ayah dan ibu panik mereka bingung apa yang harus di lakukan jika harus oprasi cesar biaya darimana
Akhirnya tanpa memikirkan hal yang tidak baik mereka membawa lia menuju rumah sakit yang di tunjukkan dokter. dengan di temani seorang bidan mereka berangkat, sampai di rumah sakit dokter
langsung memeriksa kondisi lia setelah di periksa lia langsung di bawa keruangan oprasi
"Alhamdulillah oprasinya lancar, dan anaknya laki laki, selamat ya bu pak cucu anda lahir dengan selamat" ucap dokter yang menjabat tangan ayah
"Terimakasih dokter sudah membantu anak kami"
dokterpun kembali ke ruangannya sedangkan beberapa perawat terus bergantian memeriksa keadaan lia dan bayinya
"Dokter.. dokter.. pasien di kamar xxx kejang dokter" teriakan perawat membuat ibu menangis histeris. dan ayah melihat kondisi lia dengan menangis terisak, ayah mendekati lia dan membacakan do'a do'a terus di ucapkan di telinga lia. akhirnya lia membaik, suster memindahkan lia ke ruang rawat
"Ibu apakah Avrian sudah datang?" tanya lia pelan karena tubuhnya masih lemah akibat kejang beberapa jam lalu
ibu menggeleng "Sabar nak Avrian pasti datang. kamu pikirkan yang baik baik saja ya jangan memikirkan hal hal yang buruk" jawab ibu sambil mengusap keringat lia
10 menit berbincang lia kembali kejang, ibu langsung berlari memanggil dokter. dan mengganjal mulut lia debgan sendok agar lidahnya tidak tergigit
kejang yang kedua di sebabkan karena lia melihat orang yang penuh dengan darah di wajah dan tubuh seseorang akibat kecelakaan. lia mempunyai riwayat tekanan darah tinggi akibat terlalu banyak beban pikiran yang entah kami pun tidak tau
setelah sadar lia tersenyum melihat suaminya sudah berada di samping lia
"Keadaan anak ibu sudah membaik, dan hari ini sudah boleh pulang kerumah.tapi tetas harus jaga kesehatan,jangan kerja terlalu berat harus banyak istirahat dulu ya bu" ucap dokter menjelaskan pada ibu siti
Sampai di rumah lia kembali istirahat karena badannya masih lemas, dia menatap sekeliling kamarnya. lia tersenyum karena rindu dengan kamarnya
"Nak,kamu sehat sehat ya jangan nakal ya besok kalau udah besar, pinter ngaji,jadi anak soleh"
cup
Lia mencium kening dan pipi Al yang terlelap di sampingnya. sore hari suami lia berangkat ke kota terlebih dahulu karena tidak bisa meninggalkan pekerjaannya. sedangkan lia masih menunggu kesehatannya pulih
"Bunda,ayah berangkat dulu ya nanti kalau bunda udah sehat bunda nyusulin ayah ya" sambil memeluk lia suami tercintanya pamit untuk ke kota
setelah satu bulan dirumah semua keluarga berkumpul untuk memberikan syukuran untuk bayi laki laki yang lucu " Ahmad Muzaqqi Alhipni" itulah nama yang di berikan ayah nya al. yang tak lain adalah suami lia
Dua hari setelah acara, lia berencana menyusul suami tercinta ke kota. dia mengemas pakaiannya di bantu sang ibu, tidak lupa lia membawa sehelai baju al untuk obat rindu
"Lia pamit bu,tolong jaga Al kalau al nakal cubit aja hihiickckk" lia yang usil mulai berceloteh
"kamu aja yang ibu cubitlah,kan al cucu laki laki tersayang" jawab ibu yang membuat lia manyun
Ya al adalah cucu kedua ibu siti dan bapak sayuti, cucu yang pertama dari kakanya lia seorang putri cantik dan mempunyai mata yang indah
Lia sampai di kota sekitar pukul 05.00 subuh, suaminya sudah menunggu di terminal menanti istri tercintanya. setelah tiba mereka melepas rindu, lia memeluk suaminya erat dan suaminya meminta lia segera naik di atas motor. karena cuaca dingin dan Avrian takut istrinya sakit
Sampai di kosan,lia berbaring di tempat tidur dia memejamkan mata karena perjalanan yang begitu melelahkan. Avrian pun langsung memeluk istrinya dan mulai terpejam
Pagi hari lia sudah terbangun,dia bergegas mandi dan bersiap untuk bekerja. setelah sampai di tempat kerjanya lia pun menyempatkan untuk sarapan terlebih dulu, setelah sarapan lia kembali bekerja. semua teman temannya sangat merindukan celotehan lia yang selalu menghibur, semua teman memberikan selamat atas kelahiran putranya. tidak lupa mereka juga menggoda lia agar lia cepat memberikan adik untuk al
Waktu begitu cepat berlalu, tidak terasa sudah satu tahun usia putra lia dan Avrian. mereka pun pulang ke rumah untuk melepas rindu dan berkumpul bersama keluarga, tetapi mereka hanya mendapatkan cuti selama tiga hari saja. meskipun singkat namun mereka menggunakan waktu sebaik mungkin
Tiga hari berlalu lia dan suami kembali ke kota mereka bekerja seperti biasa dan selalu terlihat romantis setiap saat, suaminya pun terlihat begitu perhatian dia selalu mengajak lia liburan berdua. ya mungkin mereka sedang merencanakan adik untuk al ckckkk
waktu terus berlalu hingga tak terasa usia pernikahan mereka hampir dua tahun setengah mereka tetap terlihat bahagia dan romantis. mereka berencana untuk pulang menemui keluarga dan putra tercinta, mereka bergegas ke terminal karena takut tertinggal mobil dengan tergesa gesa mereka berangkat menuju terminal. masih beruntung mereka tidak terlambat
Sampai di rumah mereka langsung memeluk putranya yang masih diam karena jarang bertemu
"Al sudah besar ya sini peluk bunda. bunda kangen sama dede al sini nak bunda punya coklat mau nggak" rayuan lia berhasil membujuk al dan al pun memeluk sang bunda
" makasih nda"
cuupp
al mencium pipi bundanya dan langsubg berlari ke dapur dia sangat bahagia, karena begitu merindukan sang anak lia sampai menangis saat pertama kalinya al menyebut nama nda
seminggu di rumah mereka menghabiskan waktu bermain bersama, tidak lupa mereka membelikan beberapa mainan untuk putranya. dan sore hari mereka harus kembali ke kota
Awalan di kota setelah pulang dari rumah orang tua lia, Avrian langsung bergegas pergi keluar dia hanya mengatakan bahwa ingin bertemu dengan teman temannya. lia pun hanya mengangguk
' Apa dia tidak capek kenapa baru datang langsung pergi lagi, aahh mungkin saja dia sudah merindukan sahabat sahabatnya' gumam lia dalam hati
satu tahun tepat di usia lia yang bertambah, genap 24 tahun lia mengajak suami nya makan malam bersama
" Ayank kita mau makan di mana?" tanya lia pada suaminya
"terserah bunda saja mau makan di mana, ayah ikut aja" ucapnya namun matanya tetap tertuju pada ponselnya
"Ayank kenapa nggak liatin bunda siy, malah main hp terus" lia marah dan langsung berlalu
Namun bukannya mengejar sang istri Avrian malah meninggalkan tempat duduk dan berjalan entah kemana
Pagi harinya lia bekerja sampai sore dia baru pulang sesampai di rumah,lia langsung mengempaskan badannya di kasur. entah jam berapa lia terpejam, lia terbangun saat perutnya terasa lapar. dia melihat jam sudah malam,namun suaminya belum pulang. lia menelvon tapi tidak di angkat, lia hanya menghembuskan nafas kasar lalu beranjak dari tempat tidurnya
"Avrian... itu kan??" ucap lia kaget ketika melihat suaminya sedang makan di tempat yang sama
"Ayank kamu disini, dari tadi bunda telpon gak di angkat ternyata ayah lagi makan" lia pun duduk di samping avrian tapi ada yang aneh dengan gelagat avrian. setelah makan mereka pulang, lia langsung bertanya
"Ayang tadi pas makan sama siapa kok bunda liat tadi ayang sempat ngobrol sama cewek" tanyanya heran
" tadi aku lagi makan sama pacarku, kenapa memangnya" dengan santai avrian langsung bicara tanpa memikirkan perasaan istrinya
Degg
"Maksut ayang apa,? kenapa ayang ngomong begitu, ingat yah kita sudah punya anak" ucap lia air matanya mulai menitik
"Memang benar aku mempunyai pacar, sudah satu tahun kami berhubungan. bahkan kami sudah pernah tidur bersama"
Deggg
lagi lagi hati lia hancur ketika suami nya bercerita tanpa memikirkan perasaannya, di hati lia marah dan ingin sekali meluapkan emosinya. namun lia mencoba tenang, hingga di akhir cerita suaminya terdiam
"Sudahkah kamu membuat hatiku sakit dan hancur? kenapa kamu melakukan semua ini? apa salahku yah?" tanya lia dengan suara sesenggukkan
Avrian tidak menjawab, dia melangkah ke kamar mandi tanpa ada rasa bersalah sedikitpun. setrlah keluar kamar mandi avrian terkejut karena semua barang barangnya di lempar keluar oleh lia. bahkan hanya baju saja yang boleh di bawa avrian dan yang lainnya adalah milik putranya hak nya al. karena avrian yang bersalah maka dia harus angkat kaki dari rumah tanpa membawa barang barang yang pernah di pakainya, hanya beberapa helai baju saja yang ia bawa
sebulan kemudian lia menceritakan semuanya kepada ayah dan ibu. ibu siti langsung berangkat ke kota, ibu siti ingin maluruskan masalah mereka.sampai di kota ibu siti langsung menemui Avrian
tok tok tok
ibu siti menjetuk pintu dengan keras. di dalam avrian sedang tidur pulas, kos an nya yang terletak jauh dari kos an lia. amarah ibu siti tidak bisa di tahan
ceklek.. suara pintu di buka dari dalam, namun
plak
plak
Ibu siti menampar pipi avrian karena geram dan marah, avrian hanya diam dan menunduk
"Apa salah anakku, kenapa kamu membuat hatinya hancur. apa kamu puas sudah menyakiti anakku" ucapan ibu yang suaranya mulai serak karena menangis
avrian hanya diam
" Apa kurangnya anakku, apa kesalahanku sampai hati kamu buat anakku seperti ini. apa kamu marah sama ibu sehingga kamu membalaskan ke lia, kamu lihat ini darah dagingmu sudah besar. apa kamu gak mikir sebelum melakukan semua ini"
Tidak sepatah kata pun avrian berucap, bahkan dia hanya menunduk malu tidak berani menatap kemarahan sang ibu
" Baiklah sekarang kamu pilih, anak dan istrimu atau selingkuhanmu"
"Aku tetap memilih pacarku bu maaf, aku dan dia saling mencintai. sedangkan sama lia sekarang aku udah gak punya perasaan apa apa"
dengan wajah yang datar seakan dia tidak bersalah dalam hal ini dia banyak mengatakan tentang selingkuhannya, lagi lagi ibu menampar avrian namun avrian tidak perduli dengan kemarahan ibu siti
" Baiklah kalau begitu jangan pernah berharap untuk bertemu dengan anakmu, karena aku tidak rela kalau kamu menemuinya. dan mulai sekarang kamu bukan ayahnya al, al tidak punya ayah sepertimu dan suatu saat nanti kamu pasti akan menyesal"
" oo ya bu saya minta tolong, tolong kirimkan surat nikah kami karena aku akan mengurus surat cerai kami" dengan enteng dia mengatakan hal itu
" kalau kamu menginginkan surat cerai, datang saja ke rumah kalau kamu tidak punya malu dan siap menghadapi kemarahan bapakmu, silahkan datang saja kerumah" jawab bu siti tegas
Bu siti dan lia pun akhirnya pulang dengan terus menatap wajah anaknya ibu menangis da mengusap pipi ku
" kamu yang sabar ya nak suatu saat pasti dia kena karma nya, ingat alloh maha adil alloh tidak tidur ia tau semua yang di lakukan ciptaannya. kamu harus kuat dan tegar, demi al"
Lia hanya menangis semakin deras air matanya mengalir sampai tertidur. bu siti terus memandangi wajah putrinya, sampai pagi bu siti tidak bisa tidur semalaman ia terus memikirkan nasip anaknya yang begitu menyakitkan, namun beliau bisa apa jika semua nya sudah takdir dari ilahi
lalu bagaimana lia menjalani kehidupannya, akankah lia patah semangat? atau kejadian yang begitu menyakitkan hatinya akan terganti dengan kebahagiaan?
***
Lia berjuang untuk bangkit, dia tidak ingin terlarut dalam keterpurukan. lia hanya ingin melihat putranya selalu tersenyum, itu sudah cukupmembuat lia bahagia. lia menatap foto di ponsel nya, satu persatu foto di hapus begitupun dari memori ingatannya
" Sekali penghianat tetap akan menjadi penghianat selamanya, aku harus berusaha dan berjuang sendiri mulai dari sekarang. aku harus bisa bangkit demi anakku" lia bergumam sendiri sambil terus menghapus foto foto kenangn bersama Avrian
setelah sebulan kejadian yang lalu, lia bekerja seperti biasanya ia berjalan santai sambil menikmati udara segar di pagi hari. lia tersenyum saat menyapa orang" di sekitarnya
langkahnya terhenti di sebuah tempat yang dulu dia sering kunjungi bersama teman" nya, kini lia teringat ucapan salah satu temannya. dia mengatakan jika Avrian bukan laki" yang baik. seketika lia mengingat kembali perselingkuhan suaminya namun ia bercermin di air yang jernih tepat di depan nya ia tersenyum ketika membayangkan wajah putranya
" Trimakasih nak, kamu adalah penyemangat bunda. bunda janji bunda akan bangkit demi kamu, teruslah tersenyum sayang agar bunda mempunyai kekuatan untuk menerima takdir" ucapnya lirih
lia bergegas menuju tempat kerjanya dia bersemangat dan teman teman yang lainnya juga mendukung lia, hingga akhirnya lia benar benar menemukan kebahagiaannya usahanya untuk bangkit tidak sia sia. kini dia menjadi wanita tangguh yang di hormati semua orang, namun lia tetap rendah hati ia sadar apa yang ia miliki saat ini hanyalah titipan dari sang pencipta