Suasana di Jepang sore ini sungguh dingin. Angin berhembusan menerbangkan debu debu dan langit terlihat sangat gelap.
"Hai, apa kau membawa payung?" tanya Keiya sambil memandangi suasana diluar kelas.
"Aku membawanya. Tadi pagi saja sudah terlihat teduh, pasti juga sebentar lagi hujan." jawab Kuro sembari menaikkan alisnya berkali kali.
Tak lama setelah itu, bel masuk berbunyi. Deng Dong Ding Dong...
Semua anak dikelas 10#2 itu berlarian mencari tempat duduk masing masing. Kemudian disusul oleh guru perempuan berbadan tinggi yang tiba tiba memasuki ruangan kelas.
"Selamat sore anak anak. Bagaimana kabar kalian?" sapa guru tersebut.
Semuanya pun menjawab dengan kompak. "Tidak baik, Bu."
Guru itupun terkejut kenapa muridnya bisa menjawab dengan kata kata itu.
"Kenapa? Apa ada masalah?" tanyanya penasaran.
"Langit sudah sangat gelap. Tapi jam pelajaran tidak selesai juga." Keiya menjawabnya dengan nada lesu dan wajah murung.
"Oh begitu, tidak masalah. Lagipula kalian berada didalam kelas yang pastinya aman." Guru itu mengelak.
Semuanya pun menjadi ribut dengan sikap guru perempuan itu. Namanya adalah Bu Ling Yi. Semua anak di sekolah sudah pasti tidak menyukai Bu Ling Yi karena dia memiliki sifat menyebalkan.
1 jam telah berlalu begitu cepat. Bel pulang akhirnya berbunyi dan semuanya langsung berlarian agar segera pulang.
Tapi hal yang tak diinginkan pun terjadi, hujan deras datang dan semua anak yang tidak membawa payung terpaksa harus menunggu hujan reda atau jika tidak mereka akan pulang tanpa payung.
Keiya merasa kebingungan karena dirinya termasuk dalam anak anak yang tidak membawa payung.
Namun satu persatu dari mereka yang tidak membawa payung itu di jemput oleh orang tuanya.
Lama kelamaan anak yang masih menunggu hujan reda berkurang. Dan kini tersisa Keiya dengan satu anak perempuan cantik yang berada di sekolah.
"Kenapa tidak pulang?" tanya Keiya pada gadis itu. Namanya Minami.
"A... Aku, aku tidak membawa payung." balasnya dengan suara kecil. Terlihat gadis itu adalah gadis yang pemalu.
"Aku juga sama tidak membawa payung." ucap Keiya sambil tersenyum pada Minami.
"Oh ya, ngomong ngomong.. kau anak kelas berapa?" tanyanya lagi.
"Aku anak kelas 11#4."
Sontak Keiya langsung terkejut saat mengetahui bahwa ternyata anak perempuan yang sedang diajak bicara olehnya adalah kakak kelas.
"Kau sendiri?" kini Minami memberanikan diri bertanya.
"Ma.. maaf, aku anak kelas 10#2." Keiya menjawab dengan gugup.
Minami pun tersenyum padanya kemudian pergi karena orang tuanya sudah menjemputnya dengan mobil mewah.
"Aku pergi dulu," ucap Minami sambil beranjak menaiki mobilnya.
Keiya pun mengangguk sambil tersenyum ragu.
"Sudahlah, daripada harus menunggu sampai hujan reda, aku pulang saja! Lagipula sekolah ini sudah sepi." ucapnya dalam hati.
Keiya pun perlahan keluar dari area sekolah itu dan pulang tanpa memakai payung. Ia terpaksa harus kehujanan daripada menunggu terlalu lama sampai hujan reda.
Malamnya, Keiya tak tau kenapa tubuhnya terus menggigil dan dahinya terasa panas.
"Aduh, kenapa denganku? Kenapa badanku rasanya tidak enak seperti ini.." keluhnya sambil berkali kali memegang dahinya.
"Kakak? Kau kenapa?" tanya adik perempuan Keiya. Namanya Kotori.
Keiya hanya tinggal berdua bersama Kotori di rumah. Orang tua mereka sudah meninggal karena kecelakaan saat Kotori masih berusia 2 tahun.
"Aku tidak tau kenapa. Tapi rasanya sangat dingin." jawab Keiya.
Kotori kemudian mendekati Keiya dan memegang dahinya.
"Kau masuk angin..." ucap Kotori dengan nada tinggi.
Keiya yang mendengarnya pun kaget kenapa dirinya tiba tiba masuk angin.
"Mungkin karena sore tadi aku kehujanan.." gumamnya dalam hati.