“Sejujurnya, saya tidak begitu peduli dengan orang lain dan apa yang mereka pikirkan, karena di benak saya hanya ada kamu Chal..” Weli berkata sambil dengan berani menggenggam tangan Chalik erat-erat.
Kalimat Weli itu membekukan kalimat-kalimat yang sudah tersusun di pikiran Chalik. Tiba-tiba ia merasa meriang, terasa panas di tubuhnya namun juga menggigil pada waktu yang bersamaan. Chalik belum pernah merasakan hal ini sebelumnya.
Sebagai anak perempuan yang paling kecil, ia terbiasa mendapatkan segenap perhatian dari keluarga besarnya. Tinggal dalam komplek keluarga besar, membuat apapun yang Chalik perbuat, tidak pernah lepas dari pengamatan dan penghakiman seluruh anggota keluarga lainnya, terutama yang berjenis kelamin laki-laki. Dengan posesif, mereka selalu mengawal kemanapun Chalik melangkah bahkan mengekang keinginan-keinginan Chalik untuk mandiri.
Sikap keluarga besarnya sebenarnya hanyalah aplikasi dari keunikan Budaya Betawi, yang salah satunya adalah sifat silih asih, asuh dan asah.
“Silih Asih” artinya saling mengasihi, “Silih Asuh” artinya saling mengasuh, menjaga, memelihara, atau mengemong dan “Silih Asah” artinya saling mengasah (saling memandaikan/membuat pandai atau saling mencerdaskan). Sifat ini sesungguhnya sangat terpuji dan sekaligus sebagai konsekuensi logis dari nilai-nilai toleransi pada budaya mereka.
Namun sempat dirasakan Chalik menyesakkan pada waktu-waktu tertentu, terutama jika bersinggungan dengan keinginan untuk bebas dan hasrat jiwa mudanya.
Ya, memang ada standar perilaku tertentu yang diharapkan dari seorang Chalik dan tiba-tiba memperkenalkan seorang pria tanpa pemberitahuan sebelumnya bukanlah bagian dari standar itu. Tidak jadi soal apa alasannya.
Chalik menghela nafas, berpikir tentang betapa dia sudah berulang kali memimpikan hal ini, ada seorang pria yang sudah mengetahui kondisi keluarganya namun tetap memiliki niat memperjuangkannya.
Ketika ia memandang ke arah Weli yang sedang menatapnya secara intens, jantung Chalik berpacu kencang dan wajahnya memerah. Chalik berpikir bahwa isi hatinya pasti sangat transparan, bahwa Weli juga telah menyadari kalau ia memiliki tempat istimewa di dalam hidupnya. Weli tidak pernah menatap dan menggenggam tangannya dengan seberani ini sebelumnya.
“Btw..” Weli memposisikan duduknya semakin dekat, sampai-sampai Chalik dapat mencium bau cologne yang dikenakan Weli, sesuatu yang mengingatkannya akan kesegaran hutan dan sungai di pegunungan, “Chalik kelihatan manis sekali dengan pakaian gamis seperti ini.”
Chalik tau kedua belah pipinya pasti semakin bersemu merah karena ia dapat merasakan panasnya, namun ia berhasil mengatakan: “Terima kasih..” dengan perlahan sambil berusaha memulihkan keseimbangan dirinya.
Dalam hatinya Chalik memohon agar Weli dapat menghentikan pandangan memujanya, karena ia sadar hal tersebut hanya membuatnya mengharapkan hal-hal yang tidak akan pernah terjadi.
“Aku suka tempat ini.” ujar Weli akhirnya mengalihkan perhatiannya ke lingkungan sekitar, tepat pada saat itu pelayan datang membawa buku menu dan berkata: “Apakah sudah siap memesan sekarang mas dan mba-nya?”
***
Sepanjang menyantap makanan dan minuman, percakapan mereka relatif berlangsung dengan bersemangat.
Weli menceritakan pengalaman-pengalamannya sebelumnya. Dan dalam waktu yang tidak lama, Chalik mulai santai dan walaupun ia masih tidak bisa banyak berbicara, tetapi ia mendengarkan dengan penuh perhatian dan beberapa kali tertawa kecil dengan lelucon yang Weli ceritakan. Mata Weli tidak lepas dari mengamati sosok Chalik, yang pandangan matanya seakan berkilau dengan sinar yang memancar dari dalam dirinya.
Weli senang memandangi Chalik. Dan tanpa sadar membanting-bandingkannya dengan mantan-nya. Beberapa kali Chalik memeregoki Weli memperhatikan dirinya dan warna merah yang memikat itu sering mewarnai pipinya. Weli merasakan kesegaran yang luar biasa menyaksikan gadis secantik Chalik bersemu merah wajahnya. Mantannya yang selalu berpikiran logis dan menjaga sikap itu sudah pasti tidak ada apa-apanya dengan pesona Chalik. Weli tidak bisa membayangkan apapun yang dapat membuat mantan-nya bersemu merah seperti Chalik.
Kini mereka sudah menghabiskan makanan mereka. Ketika mata mereka kembali bertemu, warna merah di pipi Chalik kembali menguar. Weli tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menyentuh Chalik.
Mereka telah duduk berdekatan sekian lama tanpa mengucapkan apa-apa. Lalu Weli mengangkat tangannya perlahan-lahan dan dengan lembut mengusap pipi Chalik. Merasakan kelembutannya. Chalik tidak bergerak, tetapi Weli melihat tenggorokannya bergerak sewaktu menelan ludah dan ia dapat merasakan denyutan di leher Chalik dan gerakan naik-turun yang lembut di dadanya.
Bibir Chalik terbuka sedikit dan tatapan Weli tertarik ke sana. Weli sadar ia ingin mengecupnya dan kesadaran itu menyentaknya. Ia sadar seandainya saja mereka tidak sedang berada di tempat terbuka, ia pasti sudah menciumnya. Mungkin lebih dari sekali. Dan pastinya ciuman mereka tidak akan sedingin ciumannya dengan mantannya dulu.
Weli teringat ciumannya dengan mantannya dulu, yang seperti berciuman dengan topeng..
***