Siapa yang akan menyangka, bila pada akhirnya orang yang aku anggap menyebalkan, merusak hari ku di tempat kerja, mengganggu mood ku saat sedang menghadapi kerjaan yang menumpuk di tamabh keusilannya justru perlahan malah masuk ke dalam hati dan menggangu pikiran ku.
Awalnya dia itu menyebalkan, aku tidak suka dan tidak nyaman saat harus berhadapan dengan nya.
"Maen hape bae, istirahat mah makan." dengan usilnya Leo duduk di sebelah ku sambil membawa semangkuk mie instan.
"Dikit lagi juga makan, situ kalo makan, makan aja napa." aku menjawab dengan ketus.
Setiap hari harus menghadapi mulutnya yang bagi ku itu usil dan sok tahu.
"Ya ampun, rajin banget... j segini udah dateng." ujarnya saat melihat ku sedang memarkir sepedah motor.
"Iya."
"Jutek amat, udah nyarap belom?"
"Udah." aku langsung memasuki ruangan ku.
"Nih ngemil coklat." Leo meletak'kan sebatang coklat di atas meja ku.
"Makasih." ucap ku namun ada tanda tanya besar yang bersarang di kepala ku, tumben nih orang lagi bae, salah minum obat kali ya?
Saat jam istirahat tiba. Leo memberanikan diri mengajak ku bicara, pada hal mah tiap hari juga Leo selau berusaha mengajak ku bicara, tapi akunya aja yang sulit menerima kehadiran cowok tengil dan usil di mata ku.
"Nis, mau gak jadi calon bini aku?" pinta Leo.
"Apaan?"
"Aku selama ini berusaha deketin kamu, tapi kamu jutek banget, kamu heda dari yang lain, kamu juga bisa menghargai waktu, kamu gak kebanyakan tingkah, gak pecicilan, kamu ya kamu, aku mau ngelamar kamu Nis." ujar Leo.
"Kita temenan aja dulu, biar waktu yang menjawab." ucap ku.
"Tapi aku harup kamu bisa terima aku Nis." ucap Leo yang menyerahkan kotak merah kecil dalam genggaman tangan ku.
Aaaaah, siapa yang menyangka... di tempat kerja ku ini, aku menemukan belahan jiwa, saat Leo berubah sikap dan sedikit menjauh, aku merasa kehilangan.
Dalam sujud seperti malam ku, aku mendapat jawaban, pagi itu pun aku memakai cincin pemberian nya.
"Terima kasih sudah membuka hati mu untuk ku." ucap Leo saat melihat cincin tersemat di jari manis ku.