Dipertengahan musim salju yang sangat dingin terdapat seorang bayi laki-laki yang baru saja lahir bernama Arthur. Dia terlahir sebagai seorang vampir kecil nan imut, namun dibalik keimutannya ia harus menjalani hidup dengan sebuah penyakit langka yang hanya dapat disembuhkan dengan sebuah darah manusia. Ayah dan ibunya pun mengupayakan segala cara agar anak semata wayangnya itu dapat sembuh dan menjalani hidup yang baik seperti anak-anak lain pada umumnya. Mulai dari bayi manusia, anak kecil, hingga manusia dewasa, mereka culik demi mendapatkan sebuah darah untuk memenuhi kebutuhan anaknya yang sakit. Namun, semua upayanya sia-sia karena tidak ada satupun darah yang cocok untuk Arthur minum, yang ada kondisi Arthur malah semakin memburuk saat ia mengkonsumsinya.
Bertahun-tahun Arthur menjalani hidupnya dengan sebuah penyakit yang dideritanya, ia tidak bisa mengeluarkan kekuatannya seperti vampir pada umumnya serta ia kebal terhadap cahaya matahari yang menyinarinya, jadi ayah ibunya memutuskan Arthur untuk bersekolah didunia manusia dan harus bersosialisasi dengan mereka agar identitasnya tak mudah diketahui oleh para manusia. Waktu terus berlalu sampai akhirnya Arthur tumbuh menjadi pria dewasa yang sangat tampan dan menjadi incaran bagi setiap wanita yang ada disana, Arthur memiliki sikap yang sangat dingin kepada setiap wanita yang berusaha mendekatinya, bahkan teman-teman manusianya itu berusaha membujuk Arthur agar bisa bersikap sedikit lebih baik kepada seorang wanita, namun Arthur menolaknya.
Setibanya dirumah, Arthur diajak oleh seorang teman vampirnya untuk pergi ke sebuah pesta darah disana. ada banyak sekali darah yang tersedia, mulai dari darah hewan hingga darah manusia, teman vampirnya mengajak Arthur untuk meminum segelas darah manusia segar yang baru dipanen, Arthur sadar bahwa ia tidak bisa meminum darah manusia secara sembarangan atau kondisinya akan memburuk saat harus meminumnya. Namun, temannya terus mendesak Arthur agar ia meminum darah manusia itu, sampai tiba-tiba seorang pangeran vampir datang dan menghampiri mereka berdua disana, sang pangeran mengajak Arthur untuk bertaruhan siapa yang dapat meminum segelas penuh darah manusia maka segala keinginannya dapat terpenuhi, Arthur pun mulai berubah pikiran, jika ia menerima tantangan itu dan menang maka ia berpikir bahwa penyakitnya akan mudah disembuhkan dan kembali menjadi vampir seutuhnya.
Dengan berani Arthur menerima tantangan itu dan mulai meminum segelas penuh darah manusia dengan sekali teguk, semua vampir yang menyaksikannya terkejut dan terkagum saat melihat Arthur meminum dengan sekali teguk. Namun, saat ditengah-tengah pertaruhan tiba-tiba tubuh Arthur mulai merasakan rasa panas dan sakit yang luar biasa sampai akhirnya Arthur tidak sanggup lagi untuk melanjutkannya, ia pun terjatuh dan berteriak kesakitan sambil meminta pertolongan agar seseorang dapat menolongnya namun tak ada satu vampir pun yang mau menolongnya bahkan teman dan pangeran sekalipun, wajah dan tubuh Arthur memerah dan mengeluarkan bintik bintik kecil yang jika dipegang dengan tangan kosong akan merasakan sensasi panas luar dalam. Arthur pun berpikir, dari sekian banyaknya vampir yang ada disana mengapa tak ada satu vampir pun yang mau membantunya? Mengapa mereka hanya mau menyaksikannya saja? dan saat itu juga Arthur mulai membenci para kaum vampir.
Arthur membuka matanya dan terkejut bahwa ia sudah berada dirumah. Ia pun bertanya kepada ibunya mengapa ia bisa sampai dirumah padahal ia sedang berada disebuah pesta, ibunya pun menjawab bahwa teman vampir Arthur lah yang membawanya sampai kerumah saat Arthur sedang pingsan. Arthur pun menyadari kembali bahwa tidak semua vampir adalah vampir yang jahat. jadi, saat itu juga ia memutuskan untuk tidak membenci kaumnya sendiri.
Ayah Arthur kemudian datang dan membawa Arthur pergi ke tempat dewa vampir untuk memohon agar putra semata wayangnya tersebut bisa sembuh dan menjalani hidupnya sebagai seorang vampir. Setibanya disana, mereka berdua pun bertekuk lutut dihadapan dewa vampir sambil memohon, mengapa dan bagaimana tentang penyakit yang diderita oleh Arthur. Kemudian dewa vampir menjawab bahwa penyakit Arthur terjadi akibat dari sebuah kutukan dewa vampir sendiri karena keturunan sebelumnya telah melanggar janji sebagai seorang pemimpin dari kaum vampir. Bahwa saat garis keturunannya hadir maka kutukan akan jatuh kepadanya dan hanya bisa disembuhkan oleh sebuah darah manusia yang suci, dan Arthur dapat menemukan manusia itu dengan cara berada didekatnya akan membuat Arthur merasa nyaman. Arthur dan ayahnya pun berterimakasih kepada dewa vampir karena sudah baik hati telah memberikan keringanan terhadap kutukan yang Arthur terima. Setelah mengetahui hal itu akhirnya Arthur memutuskan untuk pergi ke dunia manusia setelah ia berpamitan kepada kedua orangtuanya, Arthur berjanji bahwa ia tidak akan kembali ke dunia vampir sampai ia berhasil menemukan manusia itu, dan saat itu juga Arthur pun pergi meninggalkan dunia vampir.
Arthur sadar bahwa mencari manusia yang dia cari tidaklah mudah, jadi ia harus sering bersosialisasi dengan kaum manusia agar misinya dapat terlesaikan dengan cepat. Arthur yang memiliki sikap dingin tiba-tiba harus merubah sikapnya menjadi sosok pria yang hangat agar ia bisa menemukan manusia itu. Menjadi pria hangat tidaklah mudah bagi Arthur karena ia harus lebih berhati-hati dalam bersikap agar identitasnya tidak diketahui oleh para manusia.
Karena hidup didunia manusia sangat sulit dan membutuhkan biaya untuk hidup, jadi Arthur berusaha mencari pekerjaan disebuah perusahaan besar demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Arthur pun mulai diwawancarai oleh seorang HRD perusahaan dan tak lama, ia pun diterima sebagai pegawai perusahaan.
Seorang manager perusahaan mengutus seorang leader grup agar bisa membantu Arthur dalam menjalankan pekerjaannya, tak butuh waktu lama ternyata leader yang diutus oleh manager itu adalah seorang wanita muda yang cantik dan menawan. Disaat pria lain sibuk memuji dan menggoda wanita itu, Arthur malah menganggapnya sebagai seorang wanita biasa yang memiliki banyak kekurangan.
Wanita itu datang dan menghampiri Arthur disana. ia mengajak Arthur bersalaman sebagai tanda perkenalan mereka dimulai pada hari ini.
"Hai, namaku Ruby senang bertemu denganmu" ucap wanita itu dengan tersenyum senang.
Arthur hanya tersenyum memandangnya tanpa mengucapkan apapun.
"Apakah kamu bisu? Mengapa hanya diam saja?" Ucap wanita itu dengan sedikit marah karena merasa tidak dihargai.
Arthur pun akhirnya membuka sisi hangatnya agar bisa bersosialisasi kepada orang baru dengan mudah.
"Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu, aku harap senior dapat membantuku agar menjadi pegawai yang hebat seperti senior" jawab Arthur tersenyum ramah kepada Ruby.
Ruby pun tersenyum. Dan mereka akhirnya bekerja bersama sebagai senior dan junior diperusahaan. Ruby memberitahu semua yang ia tau kepada Arthur tentang bagaimana cara menjalankan tugas yang seperti ini. Arthur pun mengerti bahwa ia harus sering-sering berdekatan dengan wanita itu agar bisa menjalankan tugasnya dengan baik. Ini adalah pertama kalinya dalam hidup, Arthur bisa berdekatan dengan seorang wanita karena sebelumnya ia sangat membenci jika ia harus mendekat dan didekati oleh seorang wanita. Arthur mulai berpikir mengapa ia tidak bisa merasakan kenyamanan saat didekat dengan seorang manusia? Ia pun bingung dan pada akhirnya ia harus melupakan tujuannya demi sebuah pekerjaan.
Jam istirahat pun tiba, semua pegawai perusahaan pergi ke kantin untuk makan siang. Ruby pun mengajak Arthur ke sebuah kantin untuk makan siang bersama dengan para pegawai lainnya, Ruby menawari beberapa makanan manusia untuk Arthur cicipi namun Arthur menolaknya dengan alasan masih kenyang. Ia mungkin bisa membohongi orang lain namun tidak dengan perutnya yang lapar, Arthur pun izin pergi dengan alasan ingin buang air kepada ruby dan teman-teman kantornya. Namun Arthur tidak pergi ke toilet melanikan pergi kesebuah swalayan untuk membeli sebuah daging segar yang masih disertai dengan air darah agar ia bisa meminumnya.
Arthur berhasil mendapatkan 1 buah ekor bebek yang masih utuh dan segar, ia pun bersembunyi ditempat yang minim keramaian agar ia dapat meminum darah bebek dengan tenang tanpa perlu khawatir. Arthur mengeluarkan dua buah gigi taringnya yang lancip dan menusuki bagian daging bebek lalu menghisapnya sampai habis. Setelah semua darah didalam daging bebek itu telah habis, Arthur membuang daging bebek itu ditempat sampah dan membersihkan mulutnya dari sisa-sisa darah yang habis ia hisap.
Arthur pun sudah merasa kenyang dan akhirnya ia kembali ke kantornya dengan tenang dan kembali melanjutkan pekerjaannya bersama dengan Ruby. Waktu pun terus berlalu, Arthur dan Ruby sudah sangat dekat dan telah saling mengenal satu sama lain secara pribadi, Arthur sudah mulai merasakan adanya sebuah kenyamanan didalam diri Ruby dan ia tidak ingin berpisah dengan Ruby meskipun hanya sesaat.
"Senior Ruby, bisakah kamu tetap disini bersamaku?" Ucap Arthur dengan sedikit gemas.
"Ada apa denganmu? Apa kamu sakit?" Tanya Ruby dengan khawatir.
"Hari ini aku hanya ingin ditemani oleh mu dan aku tidak ingin ditinggal sendirian" jawab Arthur dengan sedih.
Ruby pun merasa khawatir dengan kondisi Arthur yang seperti itu, Jadi ia mengusap kepala Arthur dengan lembut sambil meletakkan tangannya didahi Arthur untuk mengecek suhu tubuhnya. Dengan sikap lembut Ruby yang seperti itu membuat Arthur merasakan sebuah kasih sayang tulus yang dimiliki oleh Ruby, yang belum pernah ia rasakan sebelumnya kepada manusia lain.
"Mengapa Tubuhmu sangat dingin sekali? Seperti bukan Suhu tubuh manusia pada umumnya" ucap Ruby dengan bingung. "Aku akan pergi mengambil pengecek suhu untuk mengetahui suhu tubuhmu" lanjut Ruby.
Langkah Ruby pun tertahan dengan tangan Arthur yang menggenggam tangannya. "Tidak perlu seperti itu, aku baik-baik saja jangan khawatir" jawab Arthur sambil menyakinkan Ruby.
"Apa kamu yakin? Itu tidak akan menganggu pekerjaanmu kan?" Tanya Ruby sekali lagi memastikan.
"Tenang saja, ini tidak akan menganggu siapapun. Terimakasih sudah mencemaskan ku, senior" jawab Arthur dengan tersenyum senang.
Ruby pun akhirnya menemani Arthur sampai mereka saling menyelesaikan pekerjaannya masing-masing.
Siang pun berganti menjadi malam yang dingin dan penuh dengan hembusan angin yang sangat menusuk ke tulang membuat Ruby tidak tahan dengan kondisi cuaca yang seperti itu, lalu dengan kepekaannya Arthur melepaskan jaket yang ia kenakan untuk diberikan langsung kepada Ruby agar ia tidak merasakan kedinginan.
"Aku pikir senior akan kedinginan malam ini" ucap Arthur dengan sedikit cuek.
Ruby pun tersenyum. Mereka pun pergi bersama menuju rumahnya masing-masing setelah seharian bekerja menggunakan mobil pribadi Ruby. Saat ditengah perjalanan Ruby bertanya kepada Arthur dimanakah ia berasal, namun Arthur tidak mungkin menjawabnya dengan jujur, jadi Arthur hanya berkata seperti orang gugup yang sedang kebingungan. Arthur tak sengaja melihat sebuah taman malam yang ramai yang ia lihat dijendela kaca mobil.
"Senior bagaimana jika kita pergi kesana sebentar" ucap Arthur untuk mengalihkan pembicaraan tadi.
"Oh.. boleh juga" jawab Ruby setelah melihat taman malam.
Akhirnya mereka memutuskan untuk berhenti ke sebuah taman malam. Disana terdapat sebuah banyak permainan yang cukup menarik untuk dimainkan sehingga Arthur dan Ruby pun memutuskan untuk mencoba semua permainan itu dengan senang. Mereka benar-benar sangat menikmati permainan itu ditambah dengan suasananya yang cukup mendukung.
"Bagaimana jika kita bertaruh?" Ucap Arthur tersenyum percaya diri.
"Oh? Apa kamu ingin bertaruh denganku? Baiklah.. tapi ingat ya, aku ini sangat pandai, jadi jangan sedih jika kau kalah" saut Ruby dengan kepercayaan dirinya.
"Baiklah kita mulai permainannya. jika salah satu dari kita ada yang kalah maka orang itu harus mentraktir si pemenang" ucap Arthur.
Merekapun mulai memainkan sebuah game yang cukup terkenal disana yakni sebuah game perang melawan zombie. Arthur dan Ruby sangat fokus dalam memainkan permainan itu sehingga mereka tidak bisa saling melirik satu sama lain karena mereka tipe orang yang tidak ingin dikalahkan oleh siapapun.
Arthur telah melupakan tujuannya datang kedunia manusia sehingga ia lupa akan jati dirinya sebagai vampir. Namun, Ia tidak menyadari bahwa malam itu adalah malam bulan purnama sempurna yang dimana jika ia terkena sinar bulan itu maka aura vampir yang selama ini dia sembunyikan akan keluar. Arthur telah merasakan didalam tubuhnya bahwa aura vampir akan keluar didalam dirinya, gigi taring yang semakin memanjang serta bahu yang semakin naik dan membesar. Permainan telah usai, Ruby pun menyadari ada sesuatu yang aneh didalam diri Arthur karena merasa khawatir Ruby mencoba untuk mendekatkan dirinya kepada Arthur.
Aura vampir telah muncul didalam diri Arthur, ia tidak dapat menahan diri untuk menghisap sesuatu yang ada didekatnya, Arthur berusaha untuk melawan nafsunya sebagai vampir namun nafsunya itu telah menjulang tinggi sehingga sangat sulit untuk dikendalikan, semakin Ruby mendekat semakin tinggi pula nafsunya sebagai vampir, namun Arthur berusaha untuk lebih keras dalam melawan rasa nafsunya itu sehingga wajah dan tubuhnya mulai memerah dan panas. Melihat kondisi Arthur yang sangat tidak baik Ruby pun mencoba untuk menyentuh bahu Arthur dan menanyakan tentang keadaannya. Arthur sadar bahwa nafsu nya sudah tidak mungkin untuk dikendalikan lagi jadi ia melepaskan tangan Ruby dengan kasar dan pergi begitu saja.
Keesokannya ditempat kerja, mereka pun saling bertemu satu sama lain dan keadaan menjadi sangat canggung setelah kejadian semalam yang menimpa mereka. Karena tidak ingin membuat seniornya marah, dengan berani Arthur menghampiri Ruby dan meminta maaf atas kejadian kasar yang ia lakukan kepadanya. Namun Ruby enggan menggubris perkataannya, membuat Arthur menjadi sedikit khawatir apakah Ruby telah marah kepadanya dan apa yang harus ia lakukan untuk menghilangkan amarahnya. Berbagai upaya Arthur pikirkan namun ia tidak dapat menemukan solusi, karena ia benar-benar tidak dapat memahami tentang wanita. Jalan pikiran Arthur telah buntu sehingga ia harus meminta bantuan kepada teman sekantor lainnya agar ia bisa lebih memahami lagi tentang wanita.
Salah satu teman sekantor yang sempat Arthur tanyakan pun terkejut usai mendengar Arthur yang tidak tau apa-apa dalam urusan berkencan dan juga tentang wanita. Semua orang yang berada disana termasuk Ruby pun ikut menoleh kepada mereka karena telah membuat kebisingan disaat yang lain sedang sibuk bekerja. Mereka pun meminta maaf atas keributan yang telah mereka buat dan mereka memutuskan untuk berbicara diluar ruangan.
"Ah mengapa kau harus berteriak seperti itu didepan mereka? Untung saja mereka mau memaklumi coba kalau tidak? Habis kita ditegur atasan" ujar Arthur pasrah.
"Maaf, Karena aku benar-benar terkejut setelah kamu berkata seperti itu, karna ku pikir kamu adalah tipe pria yang sangat senang menggoda dan mengencani banyak wanita" jawab salah satu teman sekantornya itu.
"Apa?" Ucap Arthur terkejut. "Bagaimana bisa kau mempunyai pikiran seperti itu yang bahkan tidak pernah aku lakukan sebelumnya" lanjut Arthur.
"Maaf sebelumnya, karena kau ini sangat tampan dan terlihat berwibawa bagaimana mungkin kau tidak paham dengan hal-hal seperti itu? Wah benar-benar tidak bisa ku percaya" ucap salah satu temannya yang terus-terusan terkejut.
"Ah berhentilah bersikap seperti itu, tolong beritahu saja apa yang harus lakukan" ujar Arthur dengan sedikit kesal.
Akhirnya salah satu teman sekantornya memberitahu apa saja yang ia tahu tentang setiap detailnya wanita.
"Bagaimana kau? Apa kau seorang wanita?" Ucap Arthur terkejut sambil meledek.
"Hei! Bisa-bisanya kau berkata seperti itu, aku ini Juga seniormu" jawab temannya setelah memukul lengan Arthur.
"Maafkan aku, senior" jawab Arthur mengelus lengannya yang kesakitan.
"Aku ini telah banyak berkencan dengan seorang wanita tentu saja aku paham setiap gerak-geriknya, sudahlah yang penting kau terapkan saja apa yang sudah aku beritahu kepadamu, semoga rencanamu tidak gagal" ucap teman sekantornya sambil mendukung dengan senang.
Setelahnya Arthur meninggalkan pesan tertulis dimeja kerja Ruby yang bertuliskan *temui aku saat jam istirahat ^_^* Ruby yang melihat hal itu merasa malu dan senang karena ia merasa Arthur sedang berusaha keras untuknya. Tak lama, Ruby pun datang menemui Arthur yang telah menunggunya disana. Ruby pun bertanya ada apa ia harus menemuinya disini. terlihat Arthur sangat canggung sekali saat coba berusaha untuk memberi dan menyampaikan sesuatu yang belum pernah ia coba sebelumnya. Arthur memberikan sekotak dessert lezat serta bucket bunga kepada Ruby sebagai tanda permintaan maaf atas kejadian semalam.
"Apa aku harus menerima hal semacam ini?" Tanya Ruby.
"Tentu saja, karena aku sudah berusaha untuk membuat senior senang dalam hal ini, aku harap senior mau menerimanya dengan senang" jawab Arthur dengan tersenyum malu.
Terlihat dikedua pipinya yang memerah menandakan bahwa Arthur sedang malu dan itu membuat Ruby sangat ingin menerima pemberiannya itu dengan senang. Pada akhirnya kesalahan pahaman pun telah terselesaikan dengan baik. Arthur dan Ruby pun pergi bersama menuju ruang tempat kerjanya, namun saat ditengah perjalanan ada sebuah kontraktor yang sedang bekerja membangun ruang kantor pribadi untuk manager yang baru itu tak sengaja menjatuhkan sebuah penutup atap dan hampir mengenai Ruby, semua pekerja sempat berteriak untuk menghindari namun tak sempat untuk menolongnya karena jarak kejatuhannya yang sudah hampir dekat, dengan kekuatannya yang sigap Arthur langsung menolong Ruby dengan memberikan badan agar Ruby tidak terkena benda berat itu. Ruby pun berhasil selamat tanpa cedera sedikitpun, namun Arthur yang harus merelakan dirinya demi menyelamatkan Ruby dari bahaya.
Semua orang yang melihatnya pun panik dan bergegas menghampiri Arthur untuk mengetahui kondisi Arthur yang tertimpa benda berat. Ruby pun terkejut setelah tau Arthur yang tertimpa benda itu, rasa cemasnya pun semakin bergejolak sehingga Ruby harus menjatuhkan kotak dessert dan bucketnya untuk segera menolong Arthur. Saat didekati Ruby dan sekelompok orang terlihat Arthur baik-baik saja tanpa cedera sekalipun, baju yang dikenakannya mungkin sobek tapi tidak dengan badannya yang tidak terluka sedikitpun. Semua orang yang menyaksikannya terkejut, bagaimana bisa ia terlihat baik-baik saja bahkan setelah dijatuhi benda berat sekalipun. Ruby pun sangat bingung dengan kejadian tersebut dan mulai mencurigai tentang siapa sebenernya Arthur itu?.
Ruby pun membawa Arthur ke klinik yang telah tersedia didalam perusahaan, saat dokter mengecek kondisinya ia mengatakan bahwa Arthur sangat baik-baik saja dan tidak mengalami cedera dalam sedikitpun. Dokter hanya memberi nasihat bahwa Arthur harus beristirahat diklinik sampai jam kerja usai.
"Hei! Kau ini sebenarnya siapa?" Tanya Ruby dengan bingung dan curiga.
"Apa maksudmu senior? Tentu saja aku Arthur memang siapa lagi?" Jawab Arthur dengan polos.
"Bukan itu maksudku.. aku bertanya apa kau benar-benar seorang manusia?" Tanya Ruby sekali lagi.
Arthur pun terdiam dan hanya bisa menatap Ruby karena ia tak ingin membuat kesalahan akibat ucapannya yang terlalu jujur.
"Aku? Tentu saja aku seorang manusia memang menurutku aku siapa? Vampir? Hahaha tentu saja bukan, aku ini benar-benar seorang manusia biasa" ucap Arthur untuk meyakinkan Ruby agar ia tak lagi curiga.
"Benarkah?" Jawab Ruby yang masih curiga.
Ruby mendekat kan wajahnya didepan wajah Arthur dan menatapnya dengan detail sambil memastikan apakah Arthur benar seorang manusia atau bukan. Karena Arthur terlihat risih saat ditatap secara detail seperti itu akhirnya Arthur memilih untuk memundurkan wajahnya kepada wajah Ruby.
"Jangan melihatku seperti itu, aku bukan seorang makhluk lain"
"Kau ini, selalu saja tidak ingin ditatap. Apakah semalu itu saat ditatap seorang wanita cantik seperti ku?" Ucap Ruby sambil mengibas rambutnya dengan percaya diri.
Arthur berdecih. "Aku tidak malu, hanya saja aku takut jika senior menatapku lebih lama akan membuatmu jatuh cinta kepadaku" jawab Arthur tersenyum percaya diri.
"Sangat percaya diri sekali dirimu? Aku tidak mungkin jatuh cinta hanya dengan tatapan mata"
"Senior sangat tidak mempercayaiku, apa perlu ku tunjukkan padamu?"
"Tentu saja, tunjukkanlah padaku"
"Baiklah jika kau jatuh cinta padaku jangan memintaku untuk bertanggung jawab ya" ucap Arthur meledek.
Arthur memegang pinggang Ruby serta mendekatkan dirinya kepada Arthur dan kemudian menatapnya dengan sangat dekat. Ruby pun sadar bahwa ucapannya bukan kebohongan belaka saat Ruby menatap matanya ia pun merasa bahwa ketampanan yang Arthur miliki seperti tidak nyata, matanya yang indah dan tajam, hidung mancung yang terlihat sangat sempurna serta bibirnya yang sexy membuat Ruby menjadi terpikat dengan pesonanya seorang Arthur. Dihari dan diwaktu itu juga Ruby telah jatuh cinta kepada Arthur lewat tatapan matanya.
Namun tidak semudah itu bagi mereka berdua untuk bisa saling mencintai dan bersatu. setelah Ruby menetapkan hatinya untuk jatuh cinta kepada Arthur, kini Arthur mulai tersadar akan tujuan utamanya datang kemari, bahwa apa yang selama ini ia cari sudah berada tepat didepan matanya . Namun Arthur tidak bisa langsung melakukannya saat itu juga, karena ia tidak mampu menyakiti Ruby hanya demi kepentingan pribadinya.
Arthur melepaskan tangan yang ia pegang dipinggang Ruby dan memasang wajah yang sedih dan kecewa.
"Sebelumnya aku ingin meminta maaf, bisakah senior tinggalkan aku sendirian disini? Aku sedang butuh waktu untuk sendiri" ucap Arthur dengan lembut.
"Tiba-tiba? Ada apa denganmu? Apa perlu ku panggilkan dokter?" Tanya Ruby cemas.
"Tidak, aku sudah merasa baik-baik saja sekarang, hanya saja aku ingin sendirian terlebih dahulu, senior tidak keberatan kan?" Tanya Arthur dengan tidak enak hati.
"Oh.. tentu saja.. aku akan pergi meninggalkanmu jika kamu yang meminta" jawab Ruby dengan sedikit kecewa.
"Maafkan aku senior" ucap Arthur dengan perasaan rasa bersalah.
"Tidak apa-apa, mungkin kamu butuh istirahat jadi aku maklumi.. aku pergi dulu" ucap Ruby tersenyum dan meninggalkan Arthur sendirian disana.
Saat Ruby telah pergi, Arthur pun langsung pergi meninggalkan klinik setelah meminta izin kepada dokter. Ruby mengetahui dari jauh bahwa Arthur pergi meninggalkan tempat kerjanya dan itu membuat Ruby bertanya-tanya didalam pikirannya.
Arthur kembali ke dunianya untuk menemui dewa vampir. Setelah berhasil menemuinya ia pun bertanya tentang banyak hal apa yang ia rasakan selama ini. Lalu dewa vampir pun menjawab bahwa semua yang ia rasakan terjadi akibat dari aura wanita itu yang membuat ia lupa akan jati dirinya sebagai vampir. Arthur harus segera menyelesaikan tujuannya demi keselamatan hidupnya karena ia tidak mengetahui bahwa penyakit yang ia derita akan memberikan efek yang luar biasa bagi kehidupan Arthur maupun kaumnya. sehingga kehidupan Arthur sebagai vampir tidak akan bertahan lama. jika kejadian itu sampai terjadi maka kehidupan manusia akan terganggu dengan kehadiran para vampir yang selalu menculik dan mengincar darah manusia. Maka dari itu dewa vampir memberikan Arthur pilihan apakah ia harus merelakan hidup wanita itu ataukah ia harus merelakan hidupnya sebagai vampir dan para kaumnya. Serta semua ingatan manusia yang pernah ia temuinya akan dihilangkan untuk selamanya.
Arthur pun sangat bimbang akan keputusan tersebut. Ia tidak mungkin melakukan hal itu kepadanya Karena ia paham sekali akan kehidupannya yang ingin Ruby jalani. Ruby sempat mengatakan pada Arthur bahwa ia adalah putri semata wayang dari keluarganya dan selalu menjadi kebanggaan ayah ibunya. Bahkan Ruby ingin selalu bekerja keras agar bisa menjadi wanita hebat yang sukses dengan hidup yang super mewah. Arthur sadar betapa berharganya hidup Ruby sebagai seorang manusia. Sehingga Arthur tidak ingin membuat semua harapan dan impiannya Ruby menjadi pupus akibat keegoisannya. Arthur pun diberikan waktu selama 3 hari dari sekarang oleh dewa vampir. dan jika ia tidak bisa menyelesaikan tugasnya maka takdir yang akan bertindak.
3 hari adalah waktu yang sangat singkat bagi Arthur untuk menyelesaikan tugasnya. jadi, ia harus kembali dan mulai memikirkan semua apa yang akan ia lakukan agar kedua kaum bisa hidup tenang dan damai tanpa salah satu dari mereka ada yang tersiksa.
Membuat sebuah keputusan bukanlah suatu yang mudah bagi Arthur. Ia membutuhkan waktu seharian agar bisa mencerna semua bagian-bagian yang harus ia putuskan.
2 hari Arthur menghilang tanpa kabar membuat Ruby merasa cemas akan kondisi Arthur saat ini. ia berusaha menghubungi Arthur lewat telepon rumahnya namun tak kunjung diangkat. ingin pergi mengunjungi rumahnya tapi Arthur tidak pernah memberi tahu alamat pastinya dimana, sehingga Ruby pun bingung harus lewat apa agar ia bisa bertemu dan berbicara kepada Arthur.
Semua waktu telah dewa vampir berikan ternyata telah disia-siakan oleh Arthur karena rasa bimbangnya yang tak kunjung mereda. sehingga mau tidak mau, takdirlah yang akan berkehendak tanpa adanya campur tangan dari dewa vampir. Seketika suasana didunia manusia tiba-tiba menjadi sangat dingin dan gelap. semua manusia yang ada dimuka bumi pun mulai cemas dan khawatir akan kejadian aneh yang sedang menimpa mereka. Arthur pun langsung tersadar bahwa waktu yang telah diberikan dewa vampir telah usai, sehingga tubuh Arthur sudah mulai mengeluarkan tanda-tanda yang akan membuatnya merasakan sakit yang luar biasa serta membuka gerbang dunia manusia kepada dunia vampir.
Kemudian Arthur pun pergi dan mulai mencari Ruby untuk memberi tahukan semua apa yang akan terjadi hari ini serta jati dirinya yang membuat Ruby penasaran selama ini. Arthur mencari ketempat kerja sampai kerumahnya namun tak ada tanda-tanda satupun dimana Ruby berada. Dan pada saat itu juga penyakit yang selama ini Arthur derita sudah menguasai dirinya serta gerbang yang selama ini ditutup rapat harus terbuka secara terang-terangan didepan kaum vampir.
Semua kaum vampir pun pergi berbondong-bondong menuju ke gerbang dunia manusia untuk mendapatkan sebuah asupan darah yang segar. Dan dunia manusia pun seketika sudah dikuasai oleh kaum vampir. Tapi Arthur tidak menyerah, ia tetap berusaha mencari Ruby demi menyelamatkan umat manusia dari para keegoisan kaum vampir. Arthur pergi mencari sambil menahan sakitnya yang luar biasa demi mencari keberadaan Ruby.
Berkat usahanya yang keras akhirnya Ruby berhasil ditemukan saat ia berusaha kabur dari kejaran para vampir. Kemudian Arthur membawa dan menyembunyikan Ruby didunia vampir saat semua vampir sedang beramai-ramai pergi ke dunia manusia.
"Arthur? Apa yang sedang terjadi saat ini?" Tanya Ruby dengan khawatir.
Arthur menggenggam kedua tangan Ruby dengan tenang serta menyuruhnya untuk menatap kedua matanya.
"Ruby.. tolong dengarkan aku, ada sesuatu yang harus aku katakan jujur kepadamu. Aku harap kamu tidak terkejut dan takut setelah mengetahui hal ini"
"A-apa itu?" Ucap Ruby.
"Sebenarnya aku bukanlah seorang manusia yang seperti kamu duga, akan tetapi aku adalah seorang vampir dengan kodratnya sebagai peminum darah" Ucap Arthur dan membuka semua auranya yang selama ini ia sembunyikan dari Ruby.
"Aku tau" Jawab Ruby tersenyum sedih sambil mengusap-usap bahu Arthur.
"Apa?" Tanya Arthur sedih dan penasaran.
"Aku sudah tau kalau kamu seorang vampir sejak pertama kali kita bertemu. setiap kali aku melihatmu tertawa aku selalu melihat gigi taringmu yang panjang dan lancip. Setiap kali kamu merasa kesakitan, kamu selalu berubah wujudmu sebagai sosok monster dengan tubuh besar dan menyeramkan. Serta mata merahmu yang selalu menunjukkan bahwa kamu sangat membutuhkan darah akupun tau itu. Akan tetapi aku tidak berani untuk menanyakan hal seperti itu kepadamu karna aku tau bahwa kamu sangat berusaha keras menyembunyikan identitas dan jati dirimu sebagai seorang vampir" Ucap Ruby tersenyum sedih.
Arthur benar-benar terkejut setelah mendengar apa yang baru saja Ruby katakan kepadanya. "Jika kamu sudah mengetahui hal itu apakah kamu tidak takut?" Tanya Arthur penasaran.
"Awalnya aku memang sangat takut setelah mengetahui kejadian itu tapi aku berusaha untuk menyembunyikan rasa takut itu karna aku tidak ingin membuatmu sedih dan kembali lagi menjadi pria yang sangat dingin" Jawab Ruby.
"Bagaimana kau tau sifatku?" Tanya Arthur sekali lagi.
"Karena kita adalah teman satu kampus. kamu mungkin tidak mengenalku tapi aku sangat mengenalmu dari teman-temanku dan aku masih ingat betapa populernya kamu saat itu hahaha aku bahkan tidak tertarik kepadamu disaat yang lain sibuk mengejar cintamu" ucap Ruby menghibur.
"Bahkan disaat seperti ini kamu masih tertawa seperti itu, aku sangat iri kepadamu" saut Arthur sedikit tersenyum berkat Ruby.
Rasa sakit yang Arthur alami semakin menjolak tinggi dan Arthur sudah tidak sanggup lagi menahan rasa sakitnya satu-satunya cara untuk menghilangkan sakit itu dengan pemberian darah dari Ruby. Kini Arthur pun sudah membuat keputusan untuk menyelamatkan dunia manusia dan dunia vampir. Arthur kini harus bercerita tentang semua yang Arthur alami mulai dari penyakitnya hingga sampai ke kaum vampir. Ruby yang mendengar hal itu sangat sulit membuat keputusan.
Ruby tidak mungkin merelakan dirinya sebagai vampir demi menyelamatkan semua manusia karena menurutnya itu adalah hal yang sangat tidak adil bagi dirinya.
Tapi Arthur tidak akan memaksakan apa yang harus Ruby lakukan. semua terserah kepada Ruby selagi itu tidak membuatnya menderita. Namun bagaimana bisa itu dibilang tidak menderita jika semua hal harus Ruby yang menjadi korbannya. Takdir sangat tidak adil bagi Ruby dan Arthur.
Karena Arthur yang sudah tak lagi sanggup akhirnya ia memutuskan untuk pergi menghilang dan kehadirannya tak akan pernah Terlahir kembali meskipun Ruby sebagai manusia mungkin bisa terlahir kembali berulang kali.
Ruby tidak rela jika ia harus kehilangan Arthur untuk selamanya. tak ada jalan lagi selain merelakan tubuhnya menjadi seorang vampir demi menyelamatkan Arthur dan jutaan manusia. Dengan terpaksa Ruby pun menuruti permintaan itu dan memohon pada Arthur agar ia bisa menggigit leher Ruby demi kesembuhan dirinya. Berulang kali Arthur menolak namun Ruby terus mendesaknya dengan tangisan yang tersedu dan sesak.
"Aku mohon lakukanlah demi aku" ucap Ruby terus memohon.
"Bagaimana bisa aku menyakitimu, aku tidak ingin menghancurkan hidupmu sebagai seorang manusia. Biarkan saja aku pergi, aku akan tetap disisimu meskipun nanti kau akan terlahir kembali sebagai manusia untuk kedua kalinya atau ketiga dan mungkin seterusnya" Jawab Arthur dengan tubuhnya yang sedikit demi sedikit berubah menjadi debu dan terbang menghilang dibawa angin.
"Aku sangat mencintaimu. Tolong jangan membuatku seperti ini, aku ingin bersamamu meskipun aku harus menjadi vampir untukmu" Ucap Ruby berteriak menangis.
"Aku juga sangat mencintaimu tapi aku tidak ingin hidupmu menderita sebagai seorang vampir" Jawab Arthur menahan kesakitan.
"Aaa-ah aku mohon lakukanlah" ucap Ruby dengan nada yang sama.
Ruby sadar bahwa debu tubuhnya sebentar lagi akan menghilang karena Arthur yang berulang kali menolak permintaan Ruby dengan terpaksa Ruby harus melakukan sebuah paksaan demi menyelamatkan Arthur dari kebinasaan yakni dengan menarik kepalanya dan memaksa menancapkan gigi taringnya kepada leher Ruby dan kemudian darah itu telah terhisap oleh gigi taringnya Arthur. Ruby harus menahan sakit akibat hisapan dari taring Arthur serta merelakan hidupnya sebagai vampir yang kekal.
Ruby terjatuh setelah tubuhnya mengalami kehabisan darah yang cukup banyak. Jasad Ruby sebagai manusia pun hilang tergantikan sebagai vampir. Debu-debu dari tubuh Arthur pun menghilang terbawa angin tanpa sisa, Ruby yang telah berusaha mengorbankan dirinya demi Arthur dan manusia lain pun merasa semua usahanya telah pupus karna Arthur yang sudah menghilang sepenuhnya terbawa oleh arus angin. Kehidupan manusia dan vampir sudah terpisah kembali dan mulai menjalani kehidupannya masing-masing. Ruby tak bisa lagi kembali ke dunia manusia karena ia sudah vampir, keceriaan serta kegembiraan yang dulu Ruby pancarkan perlahan mulai menghilang setelah ia kehilangan semua harapan hidupnya yaitu Arthur, orang tuanya, kehidupannya dan masa depannya yang sudah ia rencanakan sebelumnya.
Ruby pun menjalani hidup seorang diri sebagai vampir selama 150 tahun tanpa ditemani oleh siapapun. Raut wajah sedih terus terpasang diwajah Ruby tanpa sebuah senyuman sejak kepergian Arthur. Ruby melihat ada banyak sekali vampir yang bahagia serta sangat bersenang-senang dalam menjalani hidupnya, dan itu membuat Ruby sangat iri kepada mereka semua.
Ruby pun pergi menggunakan sayapnya ke tempat yang sunyi dimana ia bisa menikmati waktu sendiri tanpa gangguan dari siapapun. Tiba-tiba ada sosok cahaya muncul dibelakang tanpa sepengetahuan Ruby dan cahaya itu berubah menjadi sosok pria dengan senyumannya yang manis. Pria itu memanggil Ruby berulang kali.
Ruby pun menoleh setelah dipanggil dan ternyata pria yang memanggilnya itu adalah Arthur. Betapa senangnya Ruby setelah ia melihat kembali sosok wajah Arthur yang selama ini ia rindukan, ia pun menghampiri dan memeluk Arthur dengan perasaan sedih dan bahagia, begitupun Arthur yang akhirnya bisa hidup kembali dan mendampingi Ruby untuk selamanya.
Sang dewa vampir yang menyaksikannya dari atas pun berkata bahwa setiap pengorbanan serta cinta yang tulus akan memberikan sebuah kebahagiaan yang tak terduga. Berkat pengorbanan dan cinta yang mereka miliki akhirnya mereka dapat hidup bahagia untuk selamanya sebagai vampir.
TAMAT.