Melihat diri di pantulan cermin yang besar, betapa cantiknya aku, memuji diri sendiri, hihihi.
Tapi, apa pantas aku bersanding dengannya yang rupawan, kaya raya, sempurna, lelaki yang sempurna, mapan dan berkharisma serta berwibawa CEO dari perusahaan ternama dan terbesar di Asia.
Bila di bandingkan dengannya, aku ini hanya butiran debu di matanya, hanya bermodalkan cantik, coba lihat siapa aku? latar belakang ku? hanya seorang anak buruh cuci yang hanya beruntung dengan wajah oriental ku ini.
"Apa yang kamu lakukan?" suara Pram mengagetkan kan ku saat masuk ke dalam kamar rias.
"Aku hanya sedang berfikir, rasanya seperti mimpi bisa bersanding dengan mu." ujar Layla.
"Teman hidup yang kehadiran mu selalu akan aku dambakan, tidak perlu kamu pikirkan pendapat orang lain, karena aku yang beruntung bisa memiliki mu, kekasih yang sempurna baik itu hati mu." ujar Pram.
Layla hanya tersipu malu mendengar kan penuturan calon imamnya. Orang yang sebentar lagi akan menjadi teman hidupnya.