Mentari pagi, menyinari hari yang cerah, secerah suasana hati Mirawati pagi itu.
Berbagai Aktifitas dilalui dengan penuh kesempurnaan tanpa ada yang terlewatkan. Semangatpun kian membara, wajah merona nampak terpancar menambah kegairahan dalam melakukan rutinitas setiap paginya.
Mirawati kembali bergelut dan menyibukan diri dengan berbagai Agenda perkuliahannya. Raut wajahnya yang cantik bak gadis spanyol membuat para pria kian terpikat padanya. Dimanapun Mirawati berada tentu saja akan menjadi pusat perhatian, siapapun yang mencoba mendekatinya akan terbuai dan sulit melupakan sosok Mirawati. Bahkan di buru kaum laki laki bukanlah hal yang aneh bagi Mirawati dirinya sudah kebal dengan semua itu, bahkan segelintiran orang yang mengenalnya tentu tidak menampik kalou sosok Mirawati benar benar bisa membuat para pria jatuh cinta. Namun untuk Mirawati sendiri tidak mudah baginya untuk bisa menerima laki laki di hatinya, itu sebabnya meskipun banyak yang menyukainya Mirawati tidaklah termasuk wanita yang banyak memiliki pacar, itu karena kpribadiannya yang selalu tertutup dan tidak mudah jatuh cinta.
Di sebuah kampus tempatnya Miranda menimba ilmu, ada seorang pemuda yang sangat populer, ketua BEM, tampan, tubuhnya menjulang tinggi dan orangnya selalu terlihat tersenyum, rambut lurusnya sedikit gondrong hingga berkali kali menutupi kelopak matanya dan membuat pemuda tersebut sering mengibaskan rambutnya tersebut, terlihat risih memang, namun hal itu menjadi daya tarik tersendiri, bahkan Mirawati pun tergugah hatinya melihat pemuda tersebut yang selalu melayangkan senyuman ke arahnya, sebuah senyuman yang menarik simpati kaum hawa yang memandangnya.
Di dalam hati Mirawati, dirinya harus mengakui akan pesona ketampanan pemuda tersebut, bahkan kalau harus jujur sejujur jujurnya dirinya sangat tertarik, secara kasat mata pemuda itu memiliki tubuh ideal dan teramat sempurna. Siapapun yang menjadi pasangannya, tentu saja pemuda itu akan menjadi kekasih yang sempurna.
Pemuda itu menatap tajam kearah Mirawati berada , ketampanannya semakin memukau tatkala raut wajahnya nampak selalu menebarkan senyuman dan keceriaan.
Mirawati tidak menampiknya, kalau lama kelamaan hatinya tersentuh dengan prilaku pemuda itu, hanya saja Mirawati memiliki masa lalu yang pahit, yang membuatnya merasa jera dan lelah, hingga kehilangan rasa percaya terhadap sosok laki laki.
Mirawati dengan diam, dirinya mengutak ngatik ponselnya di dalam kelas.
Dibukanya pesan masuk yang sudah berlalu, namun tetap dirinya simpan, rasa penasarannya sesekali membuatnya selalu ingin membaca pesan yang di simpannya tersebut.
* Haiii cewek cantik, boleh kenalan dong?*
Sebuah pesan masuk, saat pertama kali dirinya menjadi mahasiswi di kampus tersebut.
* wajahmu sangat cantik, membuatku ingin menjadi kekasihmu*
* Cantik,, apakah kamu sudah punya pacar?*
* Boleh kah diriku yang mengagumimu ini menjadi pacarmu?*
*mungkin kamu tidak percaya, kalau melihatmu aku jatuh cinta, kamu telah mencuri hatiku*
Mirawati sejenak tersenyum senyum sendiri, dan menggelengkan kepalanya seakan keheranan dengan sikap pemuda itu, begitu mudahnya menyatakan cinta padahal belum saling kenal.
" Gombal", gumannya penuh keheranan dan penuh tanya, namun hatinya merasa ada sedikit rasa senang.
" Hai cantik,,, sendirian saja," pemuda itu menghampirinya tanpa sepengetahuan Mirawati, seketika Mirawati di buat kaget dan reflek dirinya menutup ponselnya , dengan segera dirinya menyimpan ponsel tersebut ke dalam tasnya.
" Bagaimana cantik", bisiknya pelan, sambil celingak celinguk mencari sesuatu.
" Belum bisa"
" kenapa?, masih ragu y?", bisiknya lagi.
" kapan kapan jalan yuk?" kata katanya begitu pelan, dan masih celingukan, bahkan sesekali tersenyum ke arah orang yang melihatnya.
" Hai Vin,,, ngapai kamu dekat dekat, sana pergi jauh jauh, jangan jangan kamu merayu nya ya?, gurau seseorang yang datang tiba tiba, sambil sedikit mendorong tubuh Vino.
" kamu rese, ganggu saja", balas Vino.
" Defaz,,,", aku menyeringai mengkerutkan alisku dan mengarahkan tatapanku ke arah Defaz.
" Sayang, kamu selingkuh ya sama Vino, awas loh kalau kamu berani selingkuhin aku, kita putus," cerocosnya Defaz sambil memberi gerakan tangan menandakan putus.
* Defaz adalah teman dekatku, untuk pertama kalinya dirinya berani mengajaku kesebuah tempat pernikahan temannya, semenjak itu kami selalu trrlihat bersama baik dalam kegiatan perkulihan maupun diluar perkuliahan.
Defaz selalu mengajakku ke acara acara tertentu, bahkan makan bareng, ngajakin Shopping, jalan jalan sekedar melepas kepenatan dan mencari suasana yang dapat memberi ketentraman.
Hubunganku sangat dekat lebih dari pertemanan, bisa di bilang hubungan tanpa setatus, teman tapi dekat, mungkin julukan itu yang lebih pantas disematkan untuk hubunganku dengan Defaz.
Defaz begitu terbuka, mau tidak mau akupun bersikap terbuka terhadapnya termasuk masalah pribadi, hingga aku dan dirinya sudah saling mengenal satu sama lain, Defaz sepertinya mengerti dengan harapanku, yang tidak ingin membuang buang waktu untuk pacaran, Defaz seakan mengerti kalou aku mencari sosok untuk ku jadikan pendamping.
Begitu sebaliknya, aku mengerti kenapa dirinya tidak ingin mengingat seseorang dalam sebuah ikatan percintaan, baginya dia tidak ingin memberikan sebuah harapan semu untuk orang yang di cintainya, dirinya tidak ingin membuat seseorang menunggunya yang pada akhirnya meninggalkannnya karena Defaz tidak bisa memberikan kepastian, jika Defaz pernah ditinggalkan oleh kekasihnya menikah dengan alasan Defaz tidak bisa menikahinya, sementara aku di tinggalkan karena sebuah penghianatan, waktu pacaran terbuang sia sia tiada berguna dan meninggalkan luka yang berkepanjangan. Adapun Defaz tidak bisa menikahi kekasinya, karena terhalang restu orang tuanya ysng tidak menghendaki Defaz menikah sebelum kakak tertuanya menikah. Aku bisa memahaminya kenapa dirinya enggan menyatakan prasaannya terhadap orang yang disukainya, sehingga aku pun tidaklah merasa khawatir dekat dengan Defaz*
Vino sendiri pada mulanya sempat mengira kalao kami pacaran, termasuk para dosen.
Mereka yang menganggapku pacaran selalu mengatakan kalau aku dan Defaz pasangan serasi.
Defaz sendiri tidaklah kalah tampan dari Vino, bahkan dari paras bisa dibilang lebih tampan, hanya saja fostur tubuh Defaz tidak se ideal Vino, jika Vino memiliki fostur tubuh yang tinggi sehingga nampak sempurna, sementara Defaz fostur tubuhnya setandar saja. Namun Defaz memiliki warna kulit sangat putih bersih dan mulus, bahkan aku ( Mirawati ) pun kalah putih.
Tampilan Defaz slalu rapi dan keren, tak sedikit kaum hawa memujinya bagai seorang aktor, bahkan dari mulut beberapa wanita kerap terdengar gurauan bernadakan kalao mereka sangat iri padaku dan sakit hati, bagaimana tidak, karena mereka menganggap Defaz lebih memilih dekat denganku ketimbang dengan salah satu dari mereka.
" Vino,,, Sorry ya aku mau ngajakin my love jalan jalan", celotehnya.
Vino tersenyum, bukan hal yang aneh lagi bagi dirinya melihat Mirawati dan Defaz jalan bareng, walaupun jauh dari lubuk hatinya ada sedikit rasa cemburu.
" Baiklah, selamat bersenang senang", seloroh Vino sambil berlalu pergi.
" Apaan sichhh beb", balas Mirawati bernada gurauan mengikuti gaya daripada Defaz.
" Ci,, ci ci ciiieehhhh kekasih yang sempurna, mau kencan ya ?, kapan dong Lisa di ajakin?," sahut Lisa mendekatiku dan Defaz
" Kamu tahu aja cihhh Lisa,,, kapan kapan ya hehehee," ucap Defaz.
" Hmmm,,Sebentar lagi juga kamu pasti ada yang ngajakin mojok", ucap Defaz lagi nyeleneh sekenanya.
* Aku dan Defaz bergegas keluar kelas, setelah memastikan kalao hari ini memanh tidak ada mata kuliahan. Defaz sudah terbiasa mengajakku keluar kampus jika tidak ada Dosen yang masuk kelas, walau hanya sekedar untuk makan makan.
" kami pergi dulu ya, tolong kabarin kami kalao ada informasi penting," pintaku ke teman teman yang ada di sekitar kelas.
" Hati hati Mira",sahut Lisa.
" Ok,, trimakasih Lisa", balasku sambil tersenyum.
* Aku dan Defaz pergi makan siang di sebuah kedai, setelah duduk dan memesen pesanan, kami pun berbincang.
" Tadi kamu sama Vino kelihatnya asyik sekali, ngobrolin apa sihhh?, celotehnya sok tahu. "Jelas jelas aku dan Vino cuman bicara sebentar dan agak canggung, ko di bilang asyik", bathinku.
" Nggak ngobrolin apa apa, cuman,,,". ucap Mira terhenti sejenak nampak dirinya berpikir.
" Cuman apa Mir?" tanyanya lagi.
" Biasa cuman penasaran kali nanyain jawaban," ucapku.
" Jawaban soal ujian ya heheheeee" guraunya.
" Hmmm ya gitu lah " singkatku.
" Tidak mau cerita ya?" tanyanya.
" Ihhhh kamu kepo juga ternyata, apa pura pura tidak tahu," ucapku mulai agak kesal, karena seingetku aku pernah crita tentang Vino.
" Kenapa nggak crita aja lagi biar jelas," pintanya.
" Ok, baiklah,,, Vino minta jawaban, apakah aku mau jadi pacar dia atao tidak," gerutuku.
" Ooohhh soal itu, kenapa tidak langsung jawab aja!" pintanya lagi.
" Bingung harus jawab apa, " sambil ku usahakan otakku tuk berpikir.
" kamu sepertinya menyukai Vino Mir" Entahlah sekenaku.
" Lantas apa yang membuatmu bingung Mir?" tanyanya.
" Aku belum bisa percaya kalao orang seperti Vino tidak punya pacar" ucapku merenung sejenak.
" Dasar buaya darat" gerutu Defaz pelan, namun masih terdengar dengan jelas di telingaku.
" Apa Defaz, coba ulang, aku tadi dengar dirimu menyebut buaya darat, maksud kamu siapa yang buaya darat?" titahku penuh kewaspadaan.
" Apa kamu tahu sesuatu tentang Vino, sepertinya kamu sengaja menyembunyikan sesuatu dariku, atao kamu mau kalao aku dibohongi Vino?" cerocosku minta penjelasan Defaz.
" Bukan itu maksudku, aku hanya tidak ingin ikut campur, kamu tahu hubunganku dengan Vino bisa dibilang akrab, sebaiknya kamu cari tahu dulu kebenarannya, jangan sampai nanti kamu menyesalinya." nampak Defaz terdiam penuh tanda tanya.
Tak terasa haripun nampak sudah sore, aku dan Defaz bergegas kembali ke kampus, ada berkas yang tertinggal disana.
Sesampainya di kampus aku melihat orang berlalu lalang, ada yang pulang dengan tergesa gesa, ada yang santai santai saja, bahkan sebagian masih melakukan kegiatan perkuliahannya.
Disaat aku dan Defaz hendak memasuki area parkiran, aku begitu terkejut melihat pemandangan yang sebelumnya hampir aku lewatkan, Defaz tertegun di sampingku. Aku dan Defaz memergoki Vino dan Lisa saling berbincang terlihat nampak keduanya sangat dekat, mereka begitu serius. Entah kenapa ada rasa sesak menyeruak dalam dadaku, ada hawa panas yang berkobar di hatiku.
Sontak mereka terlihat kaget, saat mengetahui keberadaanku dan Defaz.
Lisa yang awalnya nampak serius, kini mimiknya berubah, dia seolah membuyarkan apa yang sedang aku pikirkan, sementara Defaz terlihat santai saja.
" Haiii kalian suami istri rupanya sudah kembali" celotehnya terkesan agak bergurau, dan meninggalkan Vino begitu saja. Vinopun akhirnya ikut pergi, sempat menyapaku sekedarnya dan tersenyum.
" Mir, semakin hari kalian terlihat semakin romantis saja, aku jadi iri loh pada kalian," sahut Lisa, namun nadanya seakan di buat agak keras dan aku melihat sorot matanya tidak fokus, dirinya mencoba melirik ke suatu tempat, hingga membuatku penasaran, lantas aku mengamati pergerakan matanya.
Deg deg Srrrr,,, darahku seakan berbuih, hatiku terasa teriris, ku lihat Vino di sebrang sana mencoba berbaur dengan kawannya, Lisa rupanya melirik ke arah Vino, aku semakin yakin kalau diantara mereka ada sesuatu, hatiku mulai menyelidiki mencari sebuah jawaban.
Sempat ku lihat keduanya saling memandang, entah mereka sedang memainkan drama apa, yang pastinya keduanya bersikap munafik.
" Mir, kamu sama Defaz sangat cocok loh, yang satu cantik, satunya lagi tampan, aku iri loh pada kalian, kemana mana selalu berdua, kalian cocok sebagai pasangan kekasih yang sempurna", lagi lagi kata kata Lisa terkesan dibuat sengaja, nadanya agak tinggi seakan ingin terdengar seseorang.
" Lisa sepertinya kamu cemburu ya heheheee" seru Defaz.
" Kamu sichhh mau aja di ajak ngumpet, kaya kita dong heheee" selorohnya lagi sambil memandang ke arahku.
" "Sok tao kamu Defaz", raut wajah Lisa berubah agak gimanaaa gito.
" Aku pulang duluan ya " sahut Lisa.
" Tidak ada yang ngantar pulang beb", guraunya lagi.
"Tidak ada", sambil berlalu.
" Sama yang ada aja beb" suara Defaz lantang sambil terkekeh.
" Kelaut", jawab lisa agak kencang.
Sesudahnya, Vino menghampiri kami.
" Mir, Defaz aku pulang duluan ya" sambil tersenyum, senyuman maut, namun kali ini aku seperti tidak respek lagi.
" Ok", sahutku penuh kecurigaan, sementara itu aku dan Defaz bergegas mengambil berkas di kelas. Setelah semua nya selesai akupun pulang dan di antar Defaz sampai rumah.