Vanessa mencoba konsen pada gambar desain rumah minimalis. Ada tender dengan perusahaan besar yang diikuti oleh perusahaan tempat ia bekerja. Sudah dua tahun dia berusaha bangkit dari keterpurukannya, Dia bercerai setelah menikah dua tahun. Dia sudah muak menjadi alat pemuas nafsu sang suami, yang begitu posesif. Dan alat pencetak uang bagi keluarganya, toh ayahnya sudah meninggal sudah tidak ada hubungannya dengan mereka, toh perusahaan juga sudah direbut oleh anak kesayangannya. Memikirkan saja sudah cukup bikin emosi.
Dia sudah menyelesaikan desain nya kurang penyempurnaan saja. Dia melirik ke arah jam.9 malam. Dia bangkit dan mematikan lampu dan lain-lain. Berjalan ke parkiran perusahaan dan mulai melajukan mobilnya ke jalanan menyusuri jalanan kota. Hari-hari sunyi sudah menghinggapinya beberapa bulan ini, Berbanding terbalik dengan dulu mertuanya selalu menyuruh ini dan itu, bahkan dia juga jadi juru masak di rumah tantenya. Benar-benar mental nya direndahkan karena dia hanya anak kecil yang masih kuliah. Suaminya hanya diam saja, lebih-lebih pada saat mereka menyindir tentang kehamilan. Bagaimana cara hamil jika mereka tidur pun terpisah. Dia melarang masuk ke dalamnya jika ada dirinya. Belum lagi aturan lain.
Vanessa menghela nafasnya. Ia pun turun menyusuri mall untuk berbelanja untuk kebutuhan sehari-hari. Dia mendorong troli belanja dengan perlahan. Brukk. Troli belanja miliknya terbentur oleh seseorang. " Wah, kamu lagi belanja ya?" Masih suka jadi koki dadakan? Kebetulan besuk aku ada party, gimana jika kamu jadi koki dirumahku? Aku bayar dech", kata Rebecca terkekeh kecil dan ekspresi wajah yang menyebalkan dimatanya. Dan disamping nya adalah sang mantan suami. Pasangan sempurna.
"Maaf, kamu siapa? Apa kita saling mengenal?" sakarse Vanessa diapun melenggang pergi yang sebelumnya mendorong kuat troli belanja nya yang sengaja dibenturkan pada troli belanja milik dia.
"Sayang.." rajuknya manja. Lelaki itu hanya tersenyum tipis. Dia sudah berubah dan bertambah cantik.
Vanessa segera mempercepat acara belanja diapun bergegas pergi dari sana. Melakukan mobil pulang ke apartemen. Brengsek kemana saja pasti bertemu, sial. Dia memukuli stir mobil. Kesal.
Akhirnya hari pengajuan tender telah tiba, Vanessa didampingi Amalia yang mengajukan presentasi. Para peserta nya begitu banyak, dibagi tiga sesi dan temanya sesuai keinginan Perusahaan Group RCC Company. Benar-benar melelahkan. Untung dia sudah terbiasa, ia sudah menyukai gambar sejak kecil. Ayahnya yang mengajarkannya, namun menginjak usia remaja ayahnya sakit-sakitan dan perusahaan diambil alih oleh kakak tirinya itu dan satu tahun kemudian dia dijodohkan dengan pria dewasa dan dengan segala aturan dari dia. Menyebalkan.
Jam istirahat mereka antri di kantin RCC Company.
"Wow keren, lihatlah mereka antri tertib. Dan suasana enak dan bersih." Bisik Amalia.
Vanessa hanya tersenyum dan mengangguk setuju.
Mereka mengambil tempat duduk disudut ruangan yang jauh. Karena jujur Vanessa cenderung tertutup pasca perceraiannya. Ia banyak menyendiri dan membunuh waktu dengan bekerja part time sesudah kuliah. Dia berpisah di akhir semester kelulusannya.Dan ia banyak bekerja part time. Tinggal di pemukiman kumuh. Dia tidak menerima uang kompensasi dan yang lain, yang diinginkan hanya menjauhi orang-orang itu secepatnya.
"Kudengar CEO nya masih lajang dan dia masih muda dan tampan." bisik Amalia.
"Tahu dari mana?" tanya Vanessa acuh.
"Gosipnya dari para karyawan ". sahut nya cepat.
Mereka duduk bersebelahan dan tidak mengerti jika orang yang digosipkan mendekati mereka dengan membawa baki makanan. Amalia melongo terpesona melihat sang CEO duduk di depannya.
Sewaktu Vanessa minum ia mendongak menatap tajam ke arah depan. "Apa yang kakak kerjakan di sini?" tanyanya dingin. Ekspresi wajah Vanessa begitu datar.
"Makan sama seperti kamu. " Jawabnya santai. Dia adalah Leonard Horowitz. Sang mantan suami.
Disampingnya ada Daffy Miller sang asisten.
"Rupanya ini perusahaan tempat kakak bekerja?" gumamnya lirih.
"Apa kau lupa perusahaan keluar .." belum selesai dia berkata sudah diselanya.
"Yah. Aku yang bodoh. Maafkan mengganggu aktivitas Anda." Vanessa berdiri mengangguk sopan lalu dia pun mengangkat baki makanan dan berlalu secepatnya. Amalia mengikutinya dan melakukan hal serupa. Leonard Horowitz hanya mendesah. "Dia masih membenci aku."
Kegiatan presentasi tender berjalan lancar dan Vanessa mampu menyajikan desain interior dan eksterior yang unik dan berbeda. Damian Marley selaku penyelenggara proyek sangat antusias dengan Vanessa apalagi wanita itu selain cantik juga pintar dan hangat jika berbicara, walaupun sepintas lalu terlihat dingin dan pendiam.
Dia merekomendasikan desain milik Vanessa ke Leonard Horowitz tampa dia mengetahui kebenaran bahwa Vanessa adalah istrinya. Vanessa mengira jika dia sudah bercerai, padahal dia sama sekali belum resmi bercerai. Karena Leonard tidak pernah menandatangani surat perceraian itu. Amplop coklat tua itu hanya berisi surat tanah dan rumah lama Vanessa. Dan wanita itu tidak mengetahui nya.
Benar-benar gadis cilik yang lugu, ia menyewa seseorang untuk menjaga dia, gadis itu memilih tinggal di tempat kumuh dan bekerja di malam hari hingga pagi. Paginya ia kuliah hingga siang hari, setelah itu ia kerja part time hingga subuh. Dan ia masih lulus dengan coumlaude dan nilai terbaik. Sungguh luar biasa.
Proyek pembangunan sudah mulai ia meminta bos nya agar diwakilkan temannya saja, dia bekerja di balik layar saja dan si bos tak keberatan. Asal uang terus mengalir masuk menambah kas perusahaan.
Leonard Horowitz uring-uringan karena istrinya tidak muncul pada presentasi terakhir dan diwakili dua rekannya. Kemana dia ? Dia bahkan ke minimarket dekat apartemen nya juga tidak pernah bertemu Lagi. Dia bertanya pada pengawalnya mencari tahu. Ternyata ia berbelanja online dan menitipkan ke rekannya dan dia juga
Kenapa dia kembali seperti semula menutup dirinya serapat mungkin. Momy nya meminta agar dia segera memiliki anak atau dia harus bercerai. Tidak ia tak mau bercerai,ia sudah berpisah selama 3 tahun. Memberikan kebebasan sang istri agar tidak dipojokkan terus di keluarga karena ulah saudara tirinya yang tidak tahu malu meminta uang kepada keluarga mengatasnamakan investasi
Vanessa akan tidur setelah menata semua pekerjaan nya di tas kerja. Bel apartemen berbunyi. Ia berjalan ke pintu dan membukanya. "Kami?" Masih dalam kebingungannya Leonard meringsek maju dan menutup pintunya yang otomatis terkunci dia merengkuh tubuh istrinya dan mencumbui dirinya. "Kau! Lepaskan!" Vanessa memukul dadanya. Diangkatnya tubuhnya seperti memanggul beras dan melemparkannya di kasurnya. Leonard sudah buntu. Dia bermaksud pelan-pelan mendekati lagi istrinya. Namun sang momy ingin cucunya. Dengan buas ia menuntut haknya sebagai seorang lelaki. Vanessa ketakutan dan menjerit keras melakukan perlawanan terhadap serangan Leonard. Akhirnya pergumulan itu terjadi dan Vanessa merasakan kesakitan dan merasa seperti wanita murahan yang tidak memiliki harga. Di akhir persetubuhan Leonard mencium puncaknya dan mengucapkan "Terimakasih sweetie". Vanessa membelakanginya menangis tergugu. Menahan suaranya. Leonard memeluknya erat dari belakangnya.
Entah berapa lama Vanessa menangis semalaman ia terjaga saat matahari mengintip dari balik jendela. Ia bangkit dan merasakan nyerii dan badannya terasa pegal-pegal. Ia terjatuh ke lantai karena badannya loyo seperti jelly. Bersamaan Leonard masuk setengahnya berlari kecil ia mengangkat ala bridal style langsung ke bathtub dan mengisi air hangat. "Mungkin agak tidak nyaman jika kita melakukan terus lama-kelamaan akan terbiasa."
"Kau gila! Kita sudah bercerai. Aku akan melaporkan bahwa kamu memperkosa aku!"
"Laporkan saja toh kita memang suami istri." Leonard asyik saja menyabuni tubuhnya Vanessa. Wanita cantik itu memukuli lengannya emosi.
Mereka terdiam saat sarapan. Vanessa berjalan perlahan menuju mobilnya. Leonard Horowitz hanya tersenyum lebar melihat tingkah lakunya istrinya. 'Nanti siang kita makan ya?' ajaknya.
"Pergilah bajingan!" Makinya lantang.
"Tidak boleh kasar sama suami". Nasehatnya.
Vanessa masuk dalam mobilnya dan dengan kasar ia keluar dari parkiran meninggalkan Leonard Horowitz yang hanya tersenyum melihat tingkah laku istrinya.
Dua hari berlalu Vanessa tak menghiraukan deringan telepon atau bahkan bel pintu apartemen. Puluhan SMS juga tidak dibacanya. Masa bodoh, pikirnya.
Dikediaman Horowitz semua berkumpul acara makan malam. Leonard hanya terdiam sedangkan momy lagi-lagi mengungkitnya lagi. Braakkk. Leonard menggebrak meja. "Momy. Aku masih mencintai Vanessa. Dia memang aku biarkan sendiri karena aku muak Mom selalu menghinanya. Keluarga tirinya yang serakah mom. Bukannya Vanessa. Asal mom tahu, dia kerja part time dari siang sampai malam. Dia lulus ujian dengan nilai terbaik dan ia bekerja sebagai desain sekarang ini dia ikut menang tender bukan karena statusnya, namun prestasi dia. Daddy tahu perusahaan Daviandra ?" Leonard menatap ayahnya tajam.
" Yah kreatif dan inovatif aku suka karyanya. " jawabnya.
"Itu hasil karyanya Daddy. jika tidak percaya? Datanglah ke kantor tempat dia bekerja." Leonard menatap momynya dan semua yang duduk bersama.
"Tolong hargai dia. Dia selalu menangis diam-diam mom. Kalian menghina nya karena ulah saudara tirinya. Ingat Saudara tirinya. O,ya aku sedang proses progam hamil. Tolong jangan membuat perjodohan lagi. Ok?" Leonard pun keluar dari rumah menuju apartemen Vanessa. Sementara itu semua yang dimeja makan hanya terdiam, namun sang momy tersenyum tipis meneruskan makan malamnya.
Leonard tidak dibukakan pintu lagi. Namun ia tak kehabisan akalnya. Ia membawa tukang kunci dan membukanya. Ia pun masuk dan menemukan sang istri yang dalam kondisi marah berdiri di pantry. Dan dia hanya tersenyum tipis. Vanessa mengambil map coklat tua yang dia bawa dari rumah lama kemudian melempar kedadanya Leonard. "Lelaki brengsek! Kau menipuku selama ini !" Makinya nyaring.
"Aku hanya memberikan waktu sama kamu sayang. Maaf, aku tidak dapat mengekspresikan rasa sayangku padamu. Aku juga belajar untuk itu. Mulai sekarang kita akan bersama. Hingga masa tua kita. Mempunyai anak dulu baru menantu dan cucu. Mhmm?" jelasnya.
"Ngimpi kamu " Vanessa mencebikkan mulutnya dan berlalu ke dalam kamarnya. Diikuti oleh Leonard. Braakkk. Pintu kamarnya ditutup dan dikunci dari dalam. Benar-benar liciknya, makinya kesal. Leonard hanya pasrah karena tindakan sang istri.
Sudah dua bulan Leonard pulang ke apartemen Vanessa dan lelaki itu di diamkan saja tampa menegur ataupun mengajaknya mengobrol. Seolah-olah dia manusia kasat mata. Vanessa memasak masakan lebih dia juga. mencuci piring mereka namun dia sama sekali tidak merespon pertanyaan atau pun obrolannya. Vanessa merasakan dirinya dipermainkan dan dilecehkan serta tidak dihargai. Benar-benar ia marah.
Tiba waktunya perayaan hari jadi RCC Company. Perusahaan mitranya juga diundang, Vanessa mendapatkan kiriman gaunnya dari Leonard. Gaun yang anggun dan cantik. Ia mengenakan gaun tersebut. Gaun berwarna biru dan putih dengan taburan mutiara menambah kesan mewahnya. Amalia berdecak kagum saat mereka bertemu di lobby lounge. Mereka masuk ke ballroom hotel dan MC membawakan acara demi acara hingga tiba waktunya acara dansa. Yang pertama kali membuka dansa adalah sang CEO. Dia menghampiri Vanessa yang sedang mengobrol asyik dengan Amalia di sudut ruangan. Dengan bantuan sekuriti dia menemukan sang istri. Ditariknya tubuh Vanessa tanpa bicara ia langsung mengajaknya berdansa. Karena disoroti Vanessa terpaksa mengikuti pergerakannya. Hingga akhirnya mereka menutup dansa. Namun ia masih ditahannya. Leonard meminta pengeras suara. Dia mengumumkan bahwa dirinya sudah menikah 3 tahun lalu, dan menunjukkan bahwa Vanessa adalah istrinya. Dia sengaja mengijinkan sang istri bekerja di perusahaan tersebut sebagai bentuk dukungan untuk karirnya dan memberikan kebebasan dalam dia berkarya. Karena dia ingin mewujudkan impian ayahnya. Vanessa terharu mendengar penuturan suaminya.
Seusai acara dansa Vanessa dibawa ke kamarnya Leonard. Lelaki itu sengaja menyewakan kamar honey moon untuk mereka.
"Maafkan aku sayang. Aku sudah kasar padamu. Kamu membuat aku kehilangan akal sehat. Dan aku sangat mencintaimu. Bisakah kita memulai lagi dari awal?" Leonard memberikan sebuah cincin batu permata. Dan langsung dikenakan di jari manis Vanessa. Juga cincin kawinnya dulu yang dikembalikan Vanessa di sematkan lagi di jarinya. Dikecupnya kening Vanessa. Wanita cantik itu hanya tersenyum melihat tingkah laku suaminya. "Kita akan menua bersama dan aku sangat mencintaimu". Bisiknya serak. Aroma maskulin menyeruak di Indra penciuman nya Vanessa. Mereka saling menatap, Leonard mengambil inisiatif dengan mencium bibir Vanessa sepintas. Di ulang kembali hingga beberapa kali dan di saat Leonard hendak menghentikan aksinya Vanessa menyambut ciumannya. Langsung direngkuhnya tubuh nya erat-erat dengan menekan ke bawah menuju ke kasur. Leonard tidak melepaskan ciumannya. Mereka terhenti dan melepaskan pakaiannya dan mulailah percintaan mereka.
Satu tahun berikutnya Leonard dan Vanessa dikaruniai anak kembar. Mereka berbahagia hingga anak mereka besar dan berkeluarga. Sesuai rencana awal mereka ,yakni menua bersama.