Hanya sebuah cerita pendek yang mungkin sedikit memberikan sebuah kesan dan pesan. Cerita ini tidak untuk menyinggung pihak mana pun.
『••✎••』
Rumah.. Kau tau arti rumah? Ya. Tempat tinggal. Tapi apakah benar jika rumah yang dianggap tempat tinggal itu sebuah bangunan? Menurut saya, Rumah adalah tempat dimana seseorang yang benar benar ada bersama diri kita disaat apapun dan dimana pun. Rumah menurut saya. tempat seseorang tinggal dan selalu ada.
Hujan. Itu yang terjadi malam ini. Angin sejuk dingin berhembus menerpa orang orang yang berlindung dari guyuran hujan. Tidak bagi seorang Halilintar.
Seorang yang keras kepala, yang membuat orang sekitarnya tidak habis pikir dengan tingkahnya. Dirinya saat ini hanya berlari dibawah derasnya guyuran hujan dan hembusan angin sejuk dingin itu. "Huft.."
Bukan apa apa. Hanya saja dirinya lelah menghadapi kenyataan baru yang menimpanya. Tidak, bukan baru saja, sudah sedikit agak lama dari malam ini. Sekiranya 1 bulan lalu. Dan sekarang dirinya tahu tentang sesosok ayahnya. "Dasar brengsek!" umpatan demi umpatan kekesalan Halilintar ucapkan ditengah deras hujan. Teriakan pun tidak ada seseorang yang mendengarnya dengan jelas.
"Sialan.. Kenapa harus aku yang tau tentang ini.. Haha.. Dasar! Dia memang seorang ayah yang sialan!" isakan disebuah taman kota hanya terdengar oleh dirinya sendiri. Duduk ditanah. menenggelamkan kepalanya ditengah lipatan badan dengan lutut pahanya. "Kenapa menikah kalau pada akhirnya saling selingkuh ha.."
"Dasar, kenapa harus aku.. Dan keluarga ku.." hujan terus mengguyurnya. Malam itu benar benar dingin, Halilintar tidak peduli dengan apa yang dipikirkan orang orang yang berlalu lalang. Hanya satu yang Halilintar pikirkan. "Kenapa semuanya harus berubah?"
Okey. Dimulai saat pertama Taufan masuk kelas 2 SMA. Taufan yang dikenal sebagai seseorang yang ceria, semangat, jahil. dan baik. Itu menjadi seseorang yang hobi menghabiskan waktunya diluar rumah. Padahal sebelum sebelumnya dirinya selalu di rumah, berceloteh ria menceritakan kisah di sekolahnya. Sekarang lebih suka keluar rumah berceloteh ria menceritakan kisah dirinya dengan temannya.
Gempa, masuk kelas 1 SMA. Dikenal sebagai seseorang yang disiplin, ramah, baik. Itu menjadi seseorang yang terlalu tegas, dan disiplin. Selalu mementingkan keadaan sekolahnya dibandingkan keadaan rumah dan keluarganya. Jarang pulang kerumah dengan alasan tugas OSIS sekolah. Jarang bercerita ria lagi dengan alasan ingin bertemu teman. Dan yang terakhir, dirinya selalu dianggap lebih dewasa dibandingkan Halilintar.
Bunda. Haha.. Sekarang sosok bunda tidak ada lagi artinya bagi Halilintar. Sosok bunda yang dia kenal baik, ramah, setia, dan penyayang. Berubah menjadi sosok yang tidak Halilintar kenal, dingin, pemarah, mudah benci, dan.. Berselingkuh. Haha. lucu bukan?
Ayah. Ya, itu yang baru saja Halilintar lihat dan tahu. Huh! Sama ternyata seperti sang bunda. Orang yang dulunya penyayang itu sekarang lebih suka marah. Suka menutupi kejujuran dengan kebohongan. Haha, ada udang dibalik batu, sama seperti ayah yang berselingkuh dan tidak diketahui bunda. Begitu pula sebaliknya.
Sekarang yang terakhir kakeknya. Hanya itu tujuan Halilintar.
"Pulau Rintis.." gumam Halilintar mengingat sang kakek tinggal sediriang disana.
'Buat apa aku perlu izin mereka? Toh, mereka juga tidak peduli..'
『••✎••』
"Assalamu'alaikum.. Kek" Halilintar mengetuk pintu rumah sang kakeknya. Kepalanya sudah semakin pusing, dirinya belum meminum satu tablet obat pun. Bahkan dirinya lupa tidak membawa minum.. Haha. sungguh penyiksaan yang menyenangkan..
"Waalaikumsalam.. Eh? Hali.. Apa kabar? Kakek rindu dengan mu.."
"Hali juga rindu dengan kakek.. Hali baik ko, keadaan kakek gimana?" tanya Halilintar balik, sebelum menjawab pertanyaan Halilintar. Sang kakek mempersilahkan Halilintar untuk duduk disofa, dan menghidangkan teh. "Kakek baik.. Dimana adik adik mu?"
"Mereka sibuk, jadi tidak ikut.."
"Ayah bunda kmu? Kemana?" sebuah pertanyaan diberikan begitu saja ke Halilintar. Bagai petir menyambar, hatinya serasa sakit mengingat kejadian kemarin malam tentang ayahnya yang berselingkuh. "Ayah bunsa sibuk juga.. Jadi hanya Halilintar saja yang pulang kesini.." jawab Halilintar sembari tersenyum sendu, mengingat semua kejadian kejadian miris yang terjadi pada keluarganya.
Kakek yang tahu dan peka terhadap senyuman yang Halilintar tampilkan, menepuk pundak Halilintar dengan lembut. Membalas senyuman Halilintar, menghela nafas sebelum benar benar mengeluarkan sepatah kalimat.
"Hali.. Kakek tau kmu ada masalah.. Katakan lah.. Kakek akan mendengarkannya.." ucap Kakek sekali lagi. Halilintar memeluk erat kakeknya. Menangis tersendu sendu, dirinya tidak bisa lagi mebendung air matanya. Benar kata orang, dunia ini tidak adil, dunia ini penuh dengan kekejaman.
"Hali.. Jika kau tidak mau cerita tidak apa apa.. Kakek akan menunggu kau siap saja.." hanya itu yang bisa kakek ucapkan pada Halilintar, selanjutnya hanya terdengar sebuah tangisan sendu Halilintar.
Hening setelah Halilintar menangis. Semburat merah dipipinya muncul. Malu. Itu yang sekarang berada dipikiran Halilintar. "Maaf.."
"Untuk apa?"
"Maaf.. Hali tidak bisa menjaga ayah dan bunda dari orang orang yang centil.. Maaf" ucap Halilintar. Sekarang berganti, yang dipikiran Halilintar hanya ada maaf dengan semua yang terjadi. Waktu tidak bisa diulang. Hanya bisa dijalankan.
"Taufan.. Dirinya jadi seorang yang nakal.. Gempa.. Dia mementingkan sekolahnya.." lanjut Halilintar. Masih dalam posisi pelukan, kakek mengelus lembut rambut Halilintar.
"Sudah.. Ini semua sudah terjadi.. Tidak bisa diulang.."
"Hali ingin tinggal disini bersama kakek.." kakek terdiam, mencerna kalimat yang baru saja Halilintar ucapkan. Tidak, bukannya tidak boleh. Hanya saja, bagaimana jika keempat anggota keluarganya mencari dirinya?
"Baiklah.. Besok akan kakek carikan SMA untuk mu.."
『••✎••』
Suara ketukan pintu terdengar. "Assalamu'alaikum.. Kek.." mendengar suara salam yang sangat familiar ditelinga, sang kakek membuka pintu. 2 orang berdiri tegap didepan pintu. Sesuai dugaan, Halilintar akan dicari oleh keduanya. "Waalaikumsalam.. Masuklah.."
"Terimakasih kek.."
Keadaan hening. Tidak ada satupun orang yang ingin membuka bicara termasuk Halilintar yang sudah berada disana. "Kak, pulang.. Dicari bunda sama ayah"
Kalimat yang pertama Halilintar dengar.“Pulang.”
"Untuk apa? Ini rumah ku" balas Halilintar dengan nada dinginnya. Tatapannya kosong, dan sekarang penyakitnya kambuh. "Tidak."
"Ini bukan Rumah mu. Rumah mu ada di Kuala Lumpur." jawab Gempa dengan nada yang sama seperti Halilintar. Sekarang prinsip hidupnya, tidak ada yang boleh membantah perintah dirinya.
"Rumah ku disini. Di Pulau Rintis. Bersama kakek." ucap Halilintar penuh tekanan.
{“Stadium akhir.. Maaf, ini sudah menyebar keseluruh tubuh.. Sudah tidak bisa disembuhkan kecuali dengan kemoterapi.” ucap sang dokter memberikan data penyakit Halilintar. Dengan data yang ada. Halilintar yakin hidupnya tidak akan bertahan lebih lama lagi. “Tidak terimakasih.. Biarkan saja seperti ini.. Aku menunggu waktu hidupku habis saja.. Lagipula hidup ku cukup tidak berguna bagi sebagian orang” dokter itu tertegun dengan apa yang baru saja dia dengar. Baru kali ini dirinya mendapatkan seorang pasien yang pasrah dengan kehidupannya.
“Eungh.. Baiklah.. Perlu obat?”
“Tidak akan aku minum walau kau berikan obat..” }
"Kak! Jangan merepotkan kakek!!" tegas Gempa, matanya membukat dengan pernyataan Halilintar. "Kakek tidak pernah merasa direpotkan! Lagipula apa gunanya aku kembali hah?! Ayah selingkuh! Bunda selingkuh! Kalian berdua sudah bukan sosok orang yang aku kenal!! Apa gunanya aku disana! Mulai sekarang disini tempat tinggal dan tempat mati ku!" balas Halilintar dengan penuh tekanan amarah. Gempa dan Taufan terdiam, mendengarkan kalimat “Tempat Mati.”
Rasa pusing, sakit, dan berat bercampur aduk dikepala Halilintar. 'Haha.. Mungkin ini hari terakhir ku melihat dunia.. Selamat tinggal dunia..'
Senyuman sendu terukir diwajah Halilintar. Dan itu jelas. Semakin lama rasa sakit itu semakin besar. "Maaf.. Dan terimakasih.." hanya 3 kalimat yang bisa Halilintar ucapkan. Senyuman, dan ucapan dirinya sekarang sudah tidak bisa didengar oleh orang lain. Senyuman, ucapan, pernyataan, mata indah, bentakan, dan amarah. Itu yang terakhir kalinya didengar oleh orang. Tidak akan lagi ada yang mendengar suara dan melihat senyuman ini. Senyuman dimana semuanya akan berakhir begitu saja.
Tubuh itu ambruk jatuh seketika ke lantai, mata tertutup sempurna, senyuman yang mulai pudar, terpampang jelas dimata mereka. Kakek menompang kepala Halilintar dipahanya, menepuk lembut pipi mulus Halilintar yang sudah banyak dibasahi oleh air mata, kini tidak ada yang membasahi pipi mulus itu.
"Kak Hali!!" air mata mereka, tidak bisa mereka bendung lagi. Semuanya terjadi begitu saja. Rasa penyesalan, amarah, dan juga bersalah tercampur aduk begitu saja. Lihatlah, seseorang yang sudah banyak jasa pada mereka, pergi begitu saja didepan mereka. Dan rumah itu, hanya terdengar suara sesegukan air mata mengalir. Sungguh, Halilintar benar benar merahasiakannya dengan rapat sampai tidak ada dari mereka yang tahu. Tidak ada. Hanya dia dan tuhan saja yang tahu.
Huh, tidak ada lagi gunanya menyesal. Ini sudah terjadi. Percuma kalian menyesal, waktu tidak bisa diulang. Seharusnya kalian sadar dengan kesalahan kalian sendiri. Dan ini yang terjadi pada akhirnya. Seseorang pergi meninggalkan mereka. Senyuman, amarah, bentakan, pernyataan, ucapan, dan tatapan kini hanyalah sebuah ilusi kenangan.
Sekarang yang bisa kalian lakukan hanyalah, ikuti saja waktu dan alur membawa. Penyesalan itu diakhir, kalian tidak akan ada rasa penyesalan sekali pun, kalau hal itu belum berakhir. Dan saat itu berakhir, menyesal barulah datang.
Halilintar. Meninggalkan semuanya. Tidak ada yang terganggu dengan kehadiran dirinya. Benar ucapan Halilintar sebelum meninggalkan dunia..
“Disini tempat tinggal ku dan tempat mati ku!”
Atau bisa saja kata kata terakhir yang diucapkan oleh Halilintar.
“Maaf.. Dan terimakasih..”
‘Maaf untuk waktu kalian yang terganggu karena adanya diriku.. Dan terimakasih atas luka bertubi tubi yang telah kalian berikan pada ku.. Luka ini tidak akan hilang selamanya layaknya penyesalan kalian terhadap diriku’ »Halilintar.
»»————> Tamat <————««
Author: Raa Cryss
Untuk para pembaca semua, terimakasih telah membaca cerita pendek ini..
Maaf jika ada yang tersinggung atau ada salah kata dalam cerita..
Saya akan menerima semua berbagai kritikan..
Terimakasih..
16.00
Senin, 7 Maret 2022