Semua ini salahku.. Andaikan aku tidak egois.. Semua ini tidak akan terjadi.. Maafkan aku, Ayah.. Maafkan aku.. Aku menyesal..
~ Ryan
♬♩♪♩ ♩♪♩♬
"Kenapa Ayah mengingkari janji Ayah dulu? "
Seorang remaja lelaki, tampak menatap seorang pria paruh baya yang menyandang status sebagai Ayahnya dengan tatapan kecewa. Tersirat kekecewaan di manik kelabunya.
"Maaf, Ryan.. Maafkan Ayah, nak.. "
Sang Ayah, berusaha meminta maaf pada anaknya yang ia panggil 'Ryan'. Namun, tatapan kecewa lah yang ia dapatkan.
"Ayah, dulu Ayah berjanji tidak akan meninggalkan ku kan? Lalu, kemana Ayah selama ini? Kenapa baru kembali padaku setelah Ayah bangkrut? " Ryan mengetap gigi, berusaha menahan emosi yang bisa meledak kapan saja.
"Maaf.. "
"Haha, dengan mudahnya Ayah berkata 'maaf'? "
"Dulu saat aku masih kecil, masih berusia 8 tahun, Ayah dengan teganya meninggalkan ku di tepi jalan. Saat aku bersusah payah mencari sedikit saja makanan, Ayah justru bisa menghamburkan banyak uang. Tapi, tidak sekalipun Ayah menolongku. 10 tahun. 10 tahun aku menunggu Ayah datang, tapi Ayah tidak kunjung datang. " sambung Ryan dengan tatapan kecewa sekaligus marah.
"Maaf Ryan.. Ayah tau Ayah salah, maafkan ayah, nak.. " ujar sang Ayah berusaha mendapatkan maaf dari putra semata wayangnya itu.
"Heh, benar kata Ibu dulu. Ayah tidak bisa dipercaya. Bahkan Ibu meninggal, karena Ayah menceraikan Ibu dan menikah dengan wanita lain. Cih, menjijikkan. "
"Jangan berharap dapat maaf dariku! "
Ryan berlari menjauh dari sang Ayah, ia berlari ke arah jalan raya dengan niat ingin menyeberang. Tanpa ia sadari, sebuah truk melaju kencang ke arahnya.
Sang Ayah yang menyadari pun berusaha memberitahukan hal itu pada Ryan.
"RYAN! AWAS NAK! "
Ryan membeku, terlalu shock. Beruntung, sang Ayah mendorong sang Anak ke tepi jalan.
Namun..
BRAKK
Mata Ryan membulat, ia melihat sendiri bagaimana tubuh sang Ayah tertabrak truk hingga terpental, dan tergeletak bersimbah darah.
Ryan pun secara perlahan mendekati tubuh yang penuh darah itu. Ia tampak sangat shock.
"A-yah? "
Ryan jatuh bersimpuh, tak menyangka semua ini akan terjadi.
"Ke-napa? " tanya Ryan sembari menatap kosong sang Ayah yang terbaring lemah dengan bersimbah darah.
Sang Ayah tersenyum simpul. Mata sayunya menatap lembut anaknya.
"Bagaimana-pun juga.. Kau.. Anak A-yah.. Ayah.. Minta.. Maaf.. " ujar sang Ayah dengan terbata bata.
Setitik mutiara jernih jatuh dari pelupuk mata Ryan. Sesak, itu yang ia rasakan.
"Hiks.. Maafkan Ryan, Ayah.. Maaf.. Maafkan aku, Ayah.. " isak Ryan.
"Tidak.. Apa apa.. Nak.. Justru.. Ayah yang.. Minta ma-af.. "
"Hiks.. Ayah.. "
"Maafkan.. Ayah.. Nak.. " ujar sang Ayah. Matanya perlahan tertutup.
"Hiks.. Ayah.. Hiks.. AYAHHHH! " isakan Ryan berubah menjadi jeritan histeris saat mata sang Ayah tertutup untuk selamanya.
***
"Sejak saat itu, Ryan menjadi depresi. Bahkan ia sampai masuk rumah sakit jiwa karena mengalami depresi berat..
.. Ia sering meracau, ia sering berkata 'Aku menyesal.. Aku menyesal.. Ayah.. Ayah.. Maafkan aku, ayah.. '
.. Dan akhirnya.. Ia ditemukan bunuh diri di ruang rawatnya. "
"Begitulah ceritanya.. "
seorang pria paruh baya, tampak baru saja selesai menceritakan tragedi penyebab anak angkatnya bunuh diri.
Dia adalah Ayah angkat dari Ryan, dan dia menjelaskan pada polisi tentang kemungkinan penyebab Ryan bunuh diri.
"Jadi.. Dia depresi berat akibat penyesalan seumur hidup yang ia alami? " tanya polisi itu memastikan.
Ayah angkat Ryan mengangguk.
"Baiklah.. Terimakasih atas penjelasan nya, saya pamit undur diri dulu. Permisi. " pamit polisi itu lalu pergi.
"Sama sama pak.. "
Setelah polisi itu berlalu pergi, Ayah angkat Ryan pergi ke teras rumahnya. Ia memandang langit biru dengan tatapan sayu.
"Ryan.. Semoga kau bisa tenang di alam sana ya, nak.. " gumam pria itu.
~ TAMAT ~