19:47 malam
"lu percaya gak sama hantu?"
"Iya, kalo menurut lu gue percaya gak? "
"Ya kalo di liat dari rumah lu yang jadi rumah duka, And bapak lu tukang mandiin jenazah plus lu jadi dokter yang demen ngebedahin jenazah gue rasa persentase lu percaya hantu 0,000 dan 0"
"Tuh tau, masih di tanya. "
"Kenapa sih, lu mo kenalan ama hantu? pake nanya-nanya. "
"Gila ya lu, di jitak setan baru tau lu "
"Yeh, orang mati mana bisa jitak orang. adanya lu yang jitak dia, nih... " kata John sambil mukul kepala jenazah yang berada di depannya.
"Gila lu ,stres... "
"Santai aja, bentar lagi gue selesai ini Jahit jenazah ini"
"Ya udah cepetan, merinding gue lama-lama di sini"
ucap Ryan teman Jhon yang sedang bersama-sama di ruang jenazah di rumah duka milik keluarga Jhon yang berada tepat di samping rumah Jhon.
ia telah mewariskan bisnis pemakaman, kremasi, autopsi dan pengawetan jenazah turun temurun dari kekek buyutnya.
"Ati-ati, jan sembarangan pegang" ucap Jhon
"Iya tau gue, ogah juga gue megangnya"
"Yeh, lu gak tau, Ade nya presiden perserikatan bandar obat pilek pernah di autopsi di sini. "
"Gak mao tau juga gue, lagian hapal banget lu "
"Dia mati kena azab tau, pilek sampe mati "
"Bercandanya suka konyol orang... "
Kemudian, sebuah telepon berdering dari salah satu ruangan di sebelah kamar autopsi itu. Ryan yang melihat Jhon sedang tidak bisa mengangkat telepon itu kemudian berinisiatif mengangkatnya.
"Halo? "
Ucap Ryan menyapa seseorang yang berada di ujung telepon itu. namun tak ada suara yang menjawabnya.
"Halo, ini siapa ya? "
"Halo... "
Masih tanpa jawaban tiba-tiba, Jhon memanggil Ryan yang sedang memegang gagang telepon di ruangan administrasi tersebut.
"Oy, Bambang. lu ngapain make telpon mati. "
" Hah?? Ini ada yang nelpon tadi. Makanya gue angkat"
" Dih, stres itu telepon aja udah lama mati, udah rusak. pengen gue autopsi juga ,tapi gak ngerti aja gue. wkwkwkwk "
" Tapi serius Jhon, ada yang nelpon tadi, masa lu gak denger sih? "
" Mana ada, lagian sekarang gue telponan pake Why-app . Emang masih jaman pake telepon kuno gitu. "
Lalu sebuah panggilan kemudian masuk ke handphone Jhon, dan itu adalah Christopher, Penyidik kepolisian yang menangani kasus kematian orang yang baru saja ia autopsi. Jhon
untuk melakukan pemeriksaan juga terhadap barang milik korban tersebut yang berada di rak penyimpanan khusus untuk barang korban. Jhon di minta memberikan hasil pemeriksaan barang korban dan juga hasil autopsi kepada Christopher paling lambat besok pagi.
Hal itu jelas tidak dapat di tolak oleh Jhon. Ia terpaksa menyanggupi permintaan Christoper tersebut. Ryan yang kemudian mengetahui hal itu, tak dapat berkomentar lebih. Ia tahu bahwa itulah pekerjaan Jhon, sahabatnya.
20:19 malam
" Ya, mungkin besok pagi selesai gue kasih laporan ke polisi gue langsung ke rumah Cindy. "
" Gue pulang dulu deh kalo gitu, besok kabarin aja kalau jadi. " kata Ryan dengan wajah penuh kekecewaan yang tak dapat ia tutupi.
" Ryan, Sorry ya gue jadi gagalin rencana lu nembak Cindy. "
" Gak perlu di pikirin, lu kelarin dulu aja kerjaan lu. Besok telpon aja gue kalo udah bisa. Gue balik. "
Kata Ryan sambil melajukan mobilnya meninggalkan Jhon di depan rumah duka itu.
Jhon kemudian masuk ke dalam ruang pemeriksaan, ia kemudian memakai masker dan sarung tangan sekali pakai miliknya untuk membuka barang milik korban. Ia kemudian mematikan lampu di ruang autopsi dan hanya menyisakan sebuah lampu meja kecil di ruangan tersebut.
Jhon kemudian membuka tas Ransel milik korban, sebelumnya ia mengambil beberapa sempel sidik jari dengan bahan khusus yang dapat memperlihatkan sidik jari dengan jelas. Kemudian ia mulai membuka tas ransel tersebut.
" Korban adalah seorang anak perempuan berumur 16 tahun, penyebab kematian dari hasil autopsi sementara ini adalah karena bunuh diri. " Kata Jhon dalam rekaman yang ia buat dengan sebuah kamera yang berada di hadapannya.
20:27 malam
" Saya Dr. Jhon Peterson akan memulai pemeriksaan terhadap barang milik korban"
Sementara itu dari ruang autopsi yang berada di ujung lorong , lampu meja yang tadi menyala tiba-tiba di matikan oleh tangan seorang perempuan dan membuat ruangan itu gelap gulita.
Bersambung..