Menghadiri pernikahan mantan pacar dengan kondisi baik - baik saja itu sudah biasa. Tapi, bagaimana kalau menghadiri pernikahan mantan pacar, namun sudah berbadan dua? inilah yang di alami seorang wanita bernama Raena Syah Yooan atau biasa di sebut Raena atau Rere.
Sebenarnya kehamilan ini, sangat dia tidak hendaki. Namun pria bernama Bagas Prasetyo, laki-laki yang sedang bersanding dengan sepupu Raena yang melakukannya.
Sejak di kabarkan Bagas akan di nikahkan dengan Shofa. Raena sudah antisipasi, dan siap merelakan Bagas untuk sepupunya itu. Walaupun Raena sangat cinta, dan sayang dengan Bagas. Namun melihat sepupunya jatuh cinta dengan Bagas. Membuat Raena mundur, dan akan mengakhiri hubungannya dengan Bagas.
Namun apa yang terjadi ketika, Raena mengatakan mengakhiri hubungannya. Dengan kalap, dan emosi yang meluap Bagas menyeret Raena ke Rumahnya dan membawanya ke kamarnya. Di sanalah Bagas melucuti, semua pakaian yang dipakai Raena dan pakaiannya sendiri. Sementara Raena, dia sudah memohon agar Bagas tidak melakukan hal itu kepadanya. Tapi apa yang di katakan Bagas kepada Raena sebelum malam panjang mereka di mulai?
"Lebih baik aku memilih menghamili mu, daripada menikah dengan sepupumu yang manja itu." ucapnya dengan senyum liciknya.
Raena hanya bisa menangis dan pasrah ketika Bagas sudah mulai menjamah tubuhnya sampai, ya kalian bisa pikir sendiri.
***
Kita kembali ke pernikahan yang di hadiri Raena. Raena datang dengan Bian yang tak lain sahabatnya yang sekaligus suami dari Raena. Bian tahu siapa yang menghamili sahabatnya itu. Mau berterus terang, nanti ada dua keluarga konflik di Keluarga besar Raena, dan akhirnya Bian maju di hadapan kakek Raena kalau anak yang di kandung wanita itu anaknya ketika semua bertanya anak siapa yang di kandung Raena. Pada saat itu juga, Bian langsung mengajak Raena ke KUA dan menikahi sahabatnya itu. Sejujurnya Raena sudah berencana akan pergi ke Korea saat bersama Bian saat akad nikah Shofa dan Bagas nanti. Namun Neneknya melarang untuk pergi dulu, karena beliau takut Kakek Raena marah lagi.
"Bocil, kelihatannya Bundamu sudah lelah, tuh." ucap Bian kepada perut buncit Raena berusia 5 bulan itu.
"Bocil, kayaknya Ayahmu mau di geplak sama sandal Bunda, deh. Dari tadi mengoda Bunda terus... " ucap Raena agak kesal dengan pria tinggi sedikit brewok dengan pakaian batik couple sama dengannya.
"Heh! heh! enak saja mau main geplak sandal. Nanti tampanku hilang bagaimana?" Protes Bian tidak terima.
Ya, ini cara satu - satunya Bian menghibur Raena selama acara pernikahan sepupunya berlangsung. Karena selama ini, Raena selalu tersenyum di balik kesedihannya. Ketika mereka menikah pun, Raena sering menangis saat tidur dan Bian dengan sabar memeluk istrinya itu agar sabar dan merelakan. Bian juga berjanji akan menjadi Ayah yang baik untuk anak Raena yang masih dalam kandungan.
Tanpa mereka berdua sadari, Bagas yang sedang duduk di bangku pengantin tiada henti memperhatikan Raena yang terus - terusan tertawa di goda oleh Bian.
"Seharusnya, aku yang membelai perutmu itu. Bukan orang lain, Raena." geramnya dalam hati.
Sementara Shofa, dia mengikuti kemana arah pandang suaminya kepada itu. Sebenarnya Shofa tahu, Bagas ada hubungannya khusus dengan kakak sepupunya itu. Namun Shofa terlalu cinta dengan Bagas, segala cara dia lakukan untuk mendapatkan Bagas.
"Mas, nanti malam. Kita buat seperti kak Raena, ya?" Shofa mencoba menghibur Bagas.
Namun apa yang dia dapatkan, tatapan tajam dan tidak suka dari Bagas. Seketika senyuman Shofa yang dia tunjukkan luntur juga.
"Ma.. maaf, mas. Aku hanya bercanda... " Shofa sampai gugup melihat tatapan tajam suaminya.
***
Beberapa hari kemudian...
Raena sedang membereskan bajunya, dan baju Bian ke dalam koper. Karena besok lusa, Bian dan Raena harus sampai di Seoul, Korea Selatan. Pekerjaan Bian sebagai photograper internasional mengharuskan mereka tinggal di Negeri Gingseng untuk beberapa tahun ke depan.
"Sepertinya kau sudah melupakanku, dan bahagia dengan sahabatmu. " ucap seseorang membuat Raena terkejut.
"Bagas, bukannya kau sedang bermain basket dengan Bian?" Raena mencoba tenang agar Bagas tidak mendekatinya.
Sejujurnya Raena, masih trauma dengan Bagas. Namun Raena mencoba tenang meskipun tanpa Bian di sampingnya.
"Jangan pernah mengalihkan pembicaraan ketika kita berduaan," ucap Bagas dingin.
"Gas, sekarang kita hidup masing-masing. Kau sudah jadi adik sepupuku, dan aku sudah menjadi istri Bian. Kita harus sama - sama merelakan satu sama lain." Raena mencoba menjelaskan kepada Bagas.
"Huh?! Merelakan? Tidak semudah itu, Raena. Jika kita sama-sama rela. Kenapa yang di dalam perut itu kau pertahankan, huh? Seharusnya aku yang berhak atas anak itu, " Bagas menunjuk perut Raena.
"Kalau kau berhak dengan anak itu, seharusnya kau bilang kepada keluarga besar Raena. Kalau kau yang menghamilinya, bukannya diam seribu bahasa." ucap Bian tiba-tiba datang.
Raena akhirnya menghela nafas lega karena suami segera datang.
"Hai! Kau bocah ingusan tahu apa kau soal kehamilannya Raena, huh?! Andaikan sepupunya tidak merengek minta menikah denganku. Aku sudah membawa Raena pergi dari rumah ini." ucap Bagas tidak mau kalah.
Untungnya Bian tidak tersulut emosi, dia langsung menghampiri Raena dan memeluk tubuh istrinya.
"Jangan hiraukan laki-laki itu, anggap saja dia sedang tidak waras. Lanjutkan saja packing koper kita," bisiknya kepada Raena agar istrinya selalu tenang.
"Hei! Bian Syah Reza! Kau jangan memeluk yang seharusnya hak ku!" Emosi Bagas berusaha melepaskan pelukan Bian ketubuh Raena.
Shofa yang sedari tadi masak di dapur bersama ibunya terkejut mendengar teriakan suaminya seperti membentak.
"Shofa, lihat suamimu sana. Dia pasti akan berkelahi dengan Bian seperti kemarin, " ucap Ibunya.
"Shofa takut, bu. Mas Bagas kalau marah seram." Shofa sedikit ketakutan.
Nyonya Ayu, ibu Shofa paham keadaan anak keduanya ini setelah menikah. Bagas tidak pernah menyentuh putrinya itu. Namun setiap kali, Bu Ayu memperhatikan Bagas memandang ke arah Raena yang sedang bersantai atau beraktivitas di Rumah. Apalagi tatapan Bagas seperti orang cemburu ketika melihat Bian menggoda Raena.
"Shofa, bagaimanapun juga Bagas itu tetap suamimu. Kau bisa menjadi air ketika Bagas menjadi api. Sudah, ya. Urusan masak, biar ibu yang urus. Nanti Raena kembali, biar dia bantu Ibu." pinta sang ibu.
Shofa menurutinya, dan keluar dari dapur. Dia berjalan menuju sumber suara tadi, ternyata di kamar Raena. Sesampainya di sana, dia terkejut melihat suaminya berusaha melepaskan Bian yang sedang memeluk Raena.
"Mas, sudah. Ingat posisimu di rumah ini, tolonglah..." Shofa menarik tubuh suaminya.
"Kau tidak tahu bagaimana orang yang kau cintai di peluk orang lain, Shofa! " bentak Bagas kepada Shofa.
"Siapa yang Mas Bagas maksud? Mbak Raena? Iya?" tanya Shofa mulai menitikan air matanya.
"Jangan ikut campur, dan bukan urusanmu.., " Bagas akan menghampiri Bian dan Raena kembali namun di tahan oleh Shofa.
"Sampai kapan Mas Bagas bisa merelakan Mbak Raena, huh? Mbak Raena bisa merelakanmu demi aku, kenapa kau tidak pernah sedikitpun?" Shofa berusaha sabar kepada suaminya.
"Karena kau tukang merebut segalanya, Shofa. Kau merebut Mas, ketika Mas akan menikahi Raena. Kau yang menyuruh Mas diam, ketika Mas akan mempertanggung jawabkan perbuatan Mas kepada Raena." jelas Bagas kepada Shofa.
"Semua aku lakukan, karena aku cinta sama kamu Mas. Biarkan Mbak Raena bahagia sama Mas Bian. Please..., " Shofa mulai menitikan air matanya.
"Hah! Cinta? Itu bukan cinta, tapi itu obsesi! " Bagas meninggikan suaranya.
"Mas, jangan keras - keras nanti Nenek dan Kakek bahkan semua tahu kalau kau sedang bertengkar. Kita baru saja menikah seminggu, " Shofa berusaha menenangkan suaminya.
"Biar semua oran tahu, Shofa! Bahwa aku ayah biologis bayi yang Raena kadung. Biar semua keluarga besar tahu, bahwa yang akan dulu aku nikahi itu Raena Syah Yooan. Bukan dirimu Shofa Syah Putri! " bukan menurunkan suaranya Bagas justru lebih meninggikan suaranya.
"BAGAS! Jaga bicaramu!" teriak kakek.
***
Setelah kejadian itu, sekarang di sinilah mereka berempat di ruang keluarga besar Tuan Purnawirawan Marinir Syah Abdul Anwar. Shofa di dampingin oleh kedua orang tuanya. Sementara Raena, hanya Bian yang mendampingi. Karena Raena tidak punya orang tua sejak lulus SMA di sebabkan kecelakaan maut yang menewaskan kedua orang tuanya. Sementara adik Raena sendiri, dia sedang sibuk kuliah di Oxford University.
"Sekarang, kakek yang akan memutuskan masalah ini. Raena tetap bersama Bian walaupun yang di kandungnya bukan anak Bian. Shofa tetap bersama dengan Bagas, karena kalian masih pengantin baru. Atas nama Nenek kalian, Kakek meminta maaf kepada Raena. Karena keegoisan Nenek, Raena menjadi seperti ini. " ucap Kakek setelah di ceritakan oleh
"Mas, ini bukan salahku. Raenanya aja ganjen kepada Bagas akhirnya begitu." protes sang Nenek memang dari dulu kurang menyukai Raena sejak lahir.
"Tutup mulutmu, nek. Kau saja yang selalu memanjakan Shofa. Kau tahu, gara-gara kau Shifa kakak Shofa lebih memilih pergi. Sekarang kau melakukan kesalahan lagi," Kakek memarahi Nenek.
"Kek, maaf. Gara-gara kami, pernikahan Shofa hampir hancur. Apa sebaiknya saya dan Raena, mempercepat keberangkatan ke Korea?" usul Bian merasa bersalah.
"Tidak bisa, Raena tetap tinggal di sini." protes Bagas.
"Mas, sudahlah." Shofa berusaha menenangkan suaminya.
"Lebih cepat lebih baik, bawa istrimu pembawa sial itu dari rumah ini. Biar tidak menganggu rumah tangga Shofa." balas sang Nenek ketus.
"Ratna tolong jaga ucapanmu itu!" bentak Kakek.
Kemudian kakek memandang ke arah Bian dan Raena, dengan penuh sendu.
"Terserah kalian, kalian mau berangkat sekarang atau besok lusa. Kakek hanya bisa mendoakan kalian, agar kalian tetap bersama, dan saling menjaga satu sama lain." ucap Kakek.
Bian memandang istrinya untuk memintai pendapat. Raena hanya menganggukkan kepalanya pelan dan memegang tangan Bian.
"Terima kasih, Bun." ucap Bian kepada Raena.
Setelah kejadian itu, Sore itu juga Bian dan Raena berpamitan kepada seluruh keluarga. Kecuali Bagas berusaha menahan Raena agar tidak pergi. Namun dengan sigap Bian melindungi Raena.
"Gas, ini sudah menjadi pilihanku dan takdir kita. Mungkin kita memang tidak berjodoh, namun aku tetap mengenalkan anak ini kepadamu sebagai ayah biologisnya." ucap Raena sebelum pergi bersama Bian.
Tidak ada lagi kata yang di ucapkan, Bagas untuk Raena.
Sejak Raena keluar dari rumah sampai masuk mobil hingga mobil itu hilang dari pandangannya tatapan matanya tetap kosong, dan terdiam. Shofa berusaha mengajak berbicara tetap diam, dan pandangannya lurus ke arah gerbang rumah sudah tertutup.
***
4 Bulan kemudian,
Shofa mendapatkan kabar dari Bian kalau Raena sudah melahirkan anak Perempuan yang berinama Eunbyul syah Yooan. Namun kebahagiaan itu sirna karena Bagas di bawa ke Rumah Sakit Jiwa karena depresi berat. Semua dokter angkat tangan, dan Shofa dengan sabar menemani sang suami meskipun hatinya sakit.
"Fa, Raena di bawa Bian pergi. Tolong hentikan dia, fa. Tolong..., " hanya itu ucapan yang di ucapkan Bagas.
Bahkan dia mengucapkan itu, sambil mengamuk dan melukai siapa saja ada di dekatnya. Sementara sang Nenek sedang sakit struk, hanya berbaring di kamar. Ketika Raena menghubunginya, dan menunjukkan cicitnya baru lahir. Sang Nenek hanya bisa menangis, dan melihat layar wajah Raena ketika video call.
Itulah hidup, harus bisa rela merelakan apa yang kita cintai demi orang lain yang lebih butuh. Takdir Tuhan, tidak akan kemana-mana. Walaupun kita mengejarnya sampai lelah. Mengapa harus di kejar.
~ Tamat~