Aku menikmati keindahan alam kala itu, sinar mentari dan nyanyian burung juga tarian kupu kupu membuatku semakin nerasakan satu kedamaian yang indah.
Ku pejamkan mataku dan kulepaskan segala penat yang ada dipundakku. Segala beban pikiran yang menyeragku. Bisakah aku seperti ini, seandainya aku hidup dengan dama. Bisakah aku hidup seperti ini? Meniknati indahnya hari dan selalu bahagia.
Aku adalah anak satu satunya di kekuargaku. Aku terlahir di keluarga yang broken home. Papaku selalu memukuli mamaku saat sedang setres atau kalah dalam judi. Mamaku suka mabuk mabukan.
Mulai dari aku kecik, aku selalu melihat pertengkaran orang tuaku yang kupikir itu hal yang wajar. Papaku memukil mamaku sampai tubuhnya memar, kupikir itu semua salah mama,karena tidak bisa menjadi ibu yang baik, rumah selalu berantakan. Dan aku tidak pernah betah di rumah.
Sampai aku beranjak dewasa dan mampu mengjasilkan uang sendiri, aku masih melihat kedua orangtuaku bertengkar.
Aku sakit, aku selalu menangis di kamar mendengar teriakan kesakitan mamaku, mendengar suara cambukan yang begitu keras. Aku tidak bisa melakukan apa apa, kalau aku melerai, akulah yang menjadi sasaran papaku.
Bisakah kalian bayangkan betapa sakit dan menderitanya aku? Aku mendambakan hubungan yang harmonis, kehidupan normal dan damai. Bisakah aku mendapatkannya?
Saat ku lihat pasangan yang lanjut usia sedang bergandengan tangan dengan mesranya. Aku menangis, mengapa dunia tidak adil padaku? Mengapa harus aku yang merasakan semua ini. Aku tidak mernah merasakan kasih sayang orang tua. Aku tidak pernah hidup dalam keharmonisan. Tidak pernah ada damai di keluargaku.
Malam itu aku pulang kerumah, dan seperti biasa, papaku tidak ada dirumah, dan mamaku hanya bisa mabuk mabukan.
"Maya.. ambilkan mama bir di kulkas."
Aku melihat mamaku dengan tatapan kesal dan mengambil bir di kulkas.
"Mama. Berhenti mabuk dan jadilah seorang ibu yang baik"
Mamaku berdiri dan menamparku juga menjambak rambutku.
"Anak kurang ajar, berani kamu sama mama haa? Mama yang sudah melahirkan kamu tapi seperti ini balasanmu?"
Aku melepaskan diri dari mama dan masuk ke kamarku dan terus menangis. Aku berkali kali mencoba bunuh diri namun gagal, aku sempat minum obat nyamuk namun aku selamat.
Aku sempat menggantung diri namun ada saja orang yang menolongku. Aku sempat hampir meminum racun tikus namun ada saja orang yang mencegahku melakukan hal bodoh.
Kali ini. Aku berharap kali ini saja. Seseorang menyelamatkanku dari semua ini, apapun akan kulakukan asal aku keluar dari rumah ini.
Beberapa bulan kemudian, ada anak baru yang bekerja dikantor tempatku bekerja. Aku tidak memperhatikan atau menghiraukannya, rekan kerjaku akrab dengannya namun aku tidak. Aku hanya fokus bekerja dan pulang kerumah saat malam. Hanya itu yang kulakukan
Singkatnya, pria ini mendekatiku, mengajakku berbicara dan ingin melakukan pekerjaan kantor bersamaku.
Aku hanya mengiyakannya dan tidak menyadari arti dari semua itu.
Semakin lama, aku merasakan hal yang tidak biasa. Aku adalah anak broken home yang tidak tahu apa itu cinta dan kesenangan, namun selama aku dengan pria itu, dia memberikanku banyak kesenangan dan kebahagiaan, aku mengerti arti dari kata bahagia yang sering dikatakan orang orang. Aku mengetahui bagaimana harus tersenyum dengan tulus.
Segalanya kudapatkan bersama dengan Juna. Pria yang saat ini bersamaku.Dia mengajarkanku apa arti cinta yang orang tuaku sendiri tidak pernah berikan. Dia menunjukkan apa itu kasih sayang yang tak pernah kudapatkan dari orangtuaku.
Dan saat ini, dia telah menjadi suamiku. Kebahagiaanku telah datang. Aku bersama suamiku, aku merasakan damai yang selalu ku dambakan selama ini. Terimakasih telah membebaskanku dari masa masa kelamku. Terimakasih sudah memberikanku akbir yang bahagia.
~TAMAT~